• Info Terkini

    Thursday, March 28, 2013

    [Resensi Buku] Flamboyan Senja, Flamboyan Bertasbih

    Judul Buku: Flamboyan Senja
    Penulis: Aliya Nurlela
    Kategori: Kumpulan cerpen
    Penerbit: FAM Publishing
    Terbit: Desember, 2012
    Cetakan : Pertama
    Tebal: 139 halaman
    ISBN: 978-602-17143-5-5
    Harga: Rp. 38.000,-


    Sebuah kemantapan pilihan, itulah yang disampaikan dalam buku ini. Flamboyan Senja mengajak kita untuk bisa mengarungi hati dan pemikiran. Kita diajak dalam memilih jalan yang diridhai, mencari hidayah dan menetukan manakah pilihan yang benar menurut hati, pikiran dan jiwa kita. Membacanya seolah-olah kitalah pemainnya, kita bisa mengikuti alur yang turun naik pada saat membaca dan menyelaminya.

    Cerita yang paling menarik yang saya temukan di dalam buku ini adalah cerita dalam cerpen yang berjudul ‘Tak Mencintai Bukan Berarti Membenci’ dan ‘Geu Saram’, yaitu di mana dalam cerita ‘Tak Mencintai Bukan Berarti Membenci’ diceritakan kisah tentang seorang penulis yang dari awal dia selalu menceritakan tentang dirinya sendiri dan segala hal yang berbau tulis menulis. Lalu pada satu waktu di mana penulis sangat merasakan hari yang sepi dan cocok sekali untuk dirinya. Dia ingin dalam hari yang sepi itu hanya ada waktu khusus untuk menulis saja. Tak peduli ada urusan yang sangat penting sekalipun, dia berharap satu hari ini dia bisa merasakan ketenangan dalam menulis.

    Setelah itu dia mulai menceritakan tentang tulisan-tulisannya yang sangat jauh dari keindahan sastra, namun ia tetap berusaha untuk menulis dengan baik, dia berharap tulisannya dapat menggoyahkan dan merobohkan semua bangunan-bangunan hingga mereka bergetar dan terpana ketika menyelami dan membacanya. Lalu Aliya Nurlela juga bercerita tentang keprihatinannya terhadap orang-orang yang selalu menghujat karya orang lain dan selalu berkoar-koar mengkritik karya mereka, padahal ketika dia sendiri merangkai kata belum tentu bisa sehebat karya yang sudah dikritik dan dihinanya. Oleh karena itu, janganlah pernah kita menghina ataupun mengkritik karya orang lain sebelum kita benar-benar bisa terjun ke dalamnya, mungkin itulah pesan yang bisa saya dapatkan dari cerita yang telah disampaikan oleh Aliya Nurlela ini.

    Dan, mungkin sampai di sini, kita akan menganggap bahwa cerita ini biasa-biasa saja, tapi siapa sangka keahlian Aliya Nurlela dalam merajut kisah sangatlah indah, hingga pada di tengah-tengah cerita datanglah seorang laki-laki yang sangat mengganggu ketenangannya dalam menulis, padahal di waktu yang sepi itu ia tak ingin sedikitpun mengharapkan kehadiran siapa pun juga, sekalipun orang itu datang dengan membawa sebakul sanjungan yang bisa melemparkannya ke langit luas, dia tetap tak akan tergoda. Tapi anehnya, justru dengan laki-laki ini dia malah menjadi sangat terpesona, hingga ia berujar, ‘Tuhan, pantaskah rasa ini muncul padaku di hari menyendiri ini’, dan “Tolong jangan hadir di hari ini, aku tak sanggup.” Lalu diceritakanlah semua tentangnya, tentang kepribadian laki-laki itu, laki-laki yang sangat memesona dan tak ada alasan untuk menolak kehadirannya. Hingga si penulis pun menjadi bimbang. Tapi pada akhirnya si penulis memberanikan diri juga untuk menyampaikan apa yang terpendam di dalam hatinya, dan berikut inilah kutipan kata-katanya:

    “Maafkan aku, tak bisa kupaksakan hati ini untuk mencintaimu. Kuakui kau memesona dan memikat banyak orang di sekitarku. Tapi entahlah, dinding hatiku tak memiliki ruang untuk kau berlabuh. Bagiku cinta itu misteri, mungkin bagimu juga. Tak semua yang memesona bisa kucintai, termasuk dirimu. Sekali lagi maafkan aku, pergilah, labuhkan cintamu pada hati yang mencintaimu. Kau akan menemukan kebahagiaan di sana. Jangan kau paksa untuk mencintaiku. Aku tak mencintaimu, tapi aku juga tak membencimu. Maafkan aku.” Itulah kata-kata yang terlontar dari lisan si penulis. Dan di hari yang menyendiri itu ia telah menolak seseorang. Membuat luka hati seseorang. Mengatakan tak mencintainya, tapi juga tak membencinya. Suatu keadaan yang sangat tak jelas tentunya bagi si laki-laki itu. Ketika membacanya kita pasti menjadi bingung, tapi jangan khawatir di akhir cerita kita akhirnya dapat menangkap dengan jelas perkataan si penulis tadi, yaitu inilah kata-katanya:

    “Tuhan, maafkan aku atas kelancangan ini. Bukan aku tak mengikuti seruanMu untuk mencintai sesama makhluk. Bukan aku membenci ciptaanMu. Bukan tak menghargai kehadirannya di dunia ini dan takdir kehadirannya di hadapanku. Tapi satu alasanku, semoga Kau mengampuniku. Hingga hari ini, diri ini tak kuasa menatap apalagi membelai makhluk ciptaanMu yang satu ini. Ya, si hitam yang mengkilat licin dan selalu berjalan dengan santun itu. Dialah CACING! Makhluk ciptaanMu yang dicari banyak orang. Entahlah tapi bagiku tidak. Maafkanlah aku, Tuhan.”

    Sampai di sini kita pun pasti akan langsung tertawa geli membacanya, ternyata laki-laki yang memesona itu adalah seekor cacing. Sungguh cerita yang disajikan sangatlah menarik, benar-benar membuat senyum di bibir kita jadi mengembang saat mengetahui ternyata akhir ceritanya seperti itu. Benar-benar berbeda jauh dari apa yang telah disampaikan di awal cerita.

    Lalu alur cerita menarik yang kedua adalah cerita yang disuguhkan dalam cerpen yang berjudul ‘Geu Saram’. Siapakah Zahda Amir itu? Dan siapa sesungguhnya Zahda Amir itu sendiri? Saya yakin para pembaca juga pasti akan bertanya-tanya dalam cerita ini. Alur yang dibuat sangatlah rumit untuk diterima dengan nalar kemanusiaan kita secara nyata. Namun sekali lagi Aliya Nurlela membuktikan bahwa menulis itu sangatlah menyenangkan, apalagi dapat membuat para pembacanya terbawa suasana dalam cerita itu. Dalam Geu Saram diceritakan ada seorang gadis yang sedang diculik oleh sutradaranya sendiri yang bernama Joe. Sang gadis itu dipaksa untuk memainkan sebuah peran dalam pementasan karyanya, namun sang gadis menolak hingga jadilah ia diculik dan dikurung dalam suatu ruangan yang dijaga ketat oleh anak buah si sutradara, singkat cerita sang gadis pun mulai menerawang ke masa-masa di mana dia dulu selalu didoktrin dengan kata-kata yang selalu didengung-dengungkan oleh Sutradara Joe pada saat mereka latihan hingga jadi mendarah-daging di otaknya. Dan di situlah awal mula, sang gadis dapat mengenali tokoh Zahda Amir, di mana Zahda Amir selalu diolok-olok dan dicemooh oleh si sutradara sebagai penulis lembek, penulis yang terlalu menyanjung nilai-nilai kebaikan dengan bahasa yang santun. Jelas sekali kalau Sutradara Joe sangat tidak menyukai si Zahda Amir, semua para pemain-pemainnya pun dilarang untuk bertemu, melihat ataupun membaca karya buku-bukunya.

    Tapi itu pulalah yang membuat hati si gadis menjadi penasaran dengan Zahda Amir dan ingin sekali rasanya ia bisa bertemu dengannya. Singkat cerita kembali, sampai di situ sedikitpun tidak diceritakan si gadis benar-benar pernah bertemu dengannya, walaupun si gadis pernah bertemu Zahda Amir namun hanya di mimpinya saja karena sang gadis terobsesi oleh karya-karyanya tapi tanpa pernah bertemu di dunia nyata, dan mereka tidak memiliki hubungan sama sekali di dalam cerita itu. Lalu yang menjadi pertanyaan juga, adalah bagaimana akhirnya Zahda Amir itu bisa tahu kalau pada waktu itu ada ‘seorang gadis’ yang sedang diculik, bahkan si gadis itu sendiri pun benar-benar bingung dan tidak tahu bagaimana dan dari mana Zahda Amir bisa mengetahui kalau dirinya sedang diculik? Lalu bisa menyelamatkannya dari penculikan. Membaca cerita ini benar-benar membuat kita harus berpikir keras dan penasaran, bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Dalam cerita ini Aliya Nurlela benar-benar bisa meramu pikiran pembaca dan membuat pembaca harus dapat mencerna dengan keras bagaimana gambaran ceritanya, serta bagaimana proses semua itu bisa terjadi. Si gadis yang sangat ingin bertemu dengan Zahda Amir dan tiba-tiba saja dia datang menolongnya, si gadis pun bingung dan tidak percaya, bahwa orang yang ingin ditemuinya bisa menolongnya. Membacanya membuat kita benar-benar bisa berdecak kagum. Apakah itu benar-benar kisah nyata ataukah hanya sekadar rekayasa penulis? Kalau iya, sungguh Tuhan maha menentukan takdir.

    Untuk cerita-cerita yang lainnya pun tak kalah seru dan menarik untuk dihayati, tinggal bagaimana kita bisa memilih dan menentukan sikap yang benar dalam menentukan pilihan tersebut. Dan itu teramu dalam cerpen ‘Flamboyan Senja’ itu sendiri, lalu cerpen yang berjudul ‘Impian yang Terhapus’, ‘Tak Ada Keranjang di Matanya’, ‘Air Mata Lelaki’, ‘Pekat’, ‘Benalu’, dan ‘Bulan Merindu’. Semua sangat diramu dengan baik dan asyik untuk dihayati.

    Adapun kekurangan-kekurangan dalam buku ini adalah ada beberapa ketikan-ketikan EYD yang tidak sama seperti penulisan ‘di sana’, kadang ada yang ditulis ‘di sana’ ada juga ditulis ‘disana’ dan beberapa kata lainnya yang ada kesalahan dalam pengetikan. Tapi tentu saja kesalahan-kesalahan itu tak mengurangi isi cerita yang dapat menggugah hati para pembaca. Karena manusia memang tak luput dari kesalahan. Tak ada makhluk yang sempurna kecuali hanya Allah saja yang memiliki segala kesempurnaan. Itu pula yang saya dapatkan dalam cerpen ‘Kelopak Flamboyan itu Bertasbih’ pesan-pesan moralnya sangatlah mengena terutama bagi kita-kita yang haus akan ilmu agama, serta impian-impian yang harus diraih dengan hati yang lapang dan penuh kerinduan terhadap Tuhan Sang Pencipta, benar-benar disuguhkan di dalam satu cerpen yang sangat berbobot dan bermutu, inilah cerpen ‘Kelopak Flamboyan Itu Bertasbih’ sebagai keunggulan cerita di dalam buku ini. Cerita yang disampaikan benar-benar membuat kita sadar bahwa hanya Allah sajalah yang patut kita sembah dan kita harus selalu mengingatnya, bertasbih, bersyukur dan berzikir kepadaNya. Bahkan kelopak flamboyan itu pun selalu bertasbih bersama seluruh semesta alam yang tak pernah lelah dan berhenti untuk terus bertasbih kepadaNya, menyebut asmaNya. Subhanallah.

    Persensi:
    PUJI DANDELION
    Anggota FAM1055M, Cilegon
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: [Resensi Buku] Flamboyan Senja, Flamboyan Bertasbih Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top