Skip to main content

[Resensi Buku] Ketika Problema Datang Menyapa, Hanya Allah Sandaran yang Nyata

Judul Buku: Flamboyan Senja
Jenis Buku: Kumpulan Cerpen
Penulis: Aliya Nurlela
Penerbit: FAM Publishing
Tahun Terbit: Desember 2012
Cetakan: I
Tebal Buku: 139 halaman

Kehidupan di dunia ini merupakan salah satu fase yang harus dilalui oleh setiap insan untuk menuju kehidupan yang sesungguhnya di akhirat kelak. Satu fase kehidupan yang sungguh menuntut kedewasaan berpikir, kematangan emosional, dan kearifan yang sangat luar biasa agar bisa memilah dan memilih model hidup yang bakal dijalani sebagai lahan untuk mendapatkan bekal menuju keabadian hidup.

Setiap orang pasti mempunyai mimpi. Dengan mimpi, kita mempunyai semangat untuk terus menjalani rutinas dan berkarya. Namun apakah setiap mimpi yang kita amini bisa dipastikan membawa pada kebahagiaan yang sesungguhnya? Hidup bahagia dunia akhirat?

Adalah tokoh aku, yang berambisi menjadi artis terkenal. Seorang gadis yang cantik, berkulit putih, tinggi semampai, berambut ikal panjang, lincah, dan cerdas. Namanya sudah tersohor di dunia seni. Setiap orang mengelu-elukan namanya. Memuja kepiawaiannya dalam berakting. Namun, nur Ilahi menemuinya justru pada saat namanya sedang mengorbit. Tokoh aku bertekad meninggalkan sosok dulu yang penuh dengan gemerlap duniawi yang selama ini menjadi impian tunggalnya, menjadi sosok kini yang islami. Kebulatan tekadnya mampu menghalau kebimbangan dan mengantarkannya untuk mengambil keputusan yang tepat. Hijrah. Harapannya hanya satu, ridhaNya semata. Dunia akhirat.

Selalu ada yang harus dikorbankan ketika kita berbicara tentang penghambaan, kesetiaan, ataupun kepatuhan. Tokoh aku dalam cerpen “Flamboyan Senja”, mengorbankan mimpinya sendiri, membenamkannya dalam-dalam keinginannya menjadi orang terkenal di dunia seni, demi menggapai impian baru, yaitu menjalani kehidupan sesuai dengan kalamNya. Begitu juga yang tersirat dalam cerpen “Impian yang Terhapus”. Tokoh Amanda mengikhlaskan derita batinnya demi menjaga keutuhan mahligai rumah tangganya, kemurnian cintanya, juga kasih sayangnya terhadap keluarganya. Yang ada dalam benaknya hanya kebahagiaan hidup anak semata wayangnya, hasil pernikahannya dengan suami yang sejak menikah tidak pernah menganggapnya ada. Kekerasan fisik, ketidakpedulian, bahkan cemoohan yang kerap diterima dari suami, tidak pernah membuatnya berpikir untuk meruntuhkan bangunan istana cintanya. Bagi Amanda, cukup Allah saja yang memberi belas kasih dan belaian lembut pada derita raga serta batinnya. Bukankah hanya Allah saja yang memiliki kasih yang sesungguhnya?

Hal senada juga tersirat dalam cerpen “Tak Ada Keranjang di Matanya”. Dengan jelas cerpen ini mengungkap bahwa cinta dan kebahagiaan itu bukan semata-mata terletak pada materi, ketenaran nama, ataupun rupa fisik yang memikat. Tetapi muthlak pada kepribadian yang baik. Tokoh Raini yang semula membeci semua lelaki karena trauma gagal menjalin asmara, tiba-tiba menjadi sosok yang lembut. Seorang sahabat pena yang belum pernah bertemu, berkomunikasi hanya melalui surat, telah mampu mencairkan kebekuan hatinya. Raini  telah jatuh hati pada sahabatnya itu. Tutur kata yang tergores dalam setiap surat yang dikirim sahabatnya, memberi gambaran bahwa sahabat penanya itu adalah lelaki yang berkepribadian baik. Raini  telah berani berharap, kelak sahabat penanya itulah yang akan menjadi imam keluarganya. Walau mungkin fisiknya tidak seperti foto yang selama ini dilihatnya, namun Raini yakin bahwa dialah lelaki yang dikirim Tuhan menjadi jodohnya. Pelabuhan cinta sejatinya.

Setiap orang pasti mendambakan kesempurnaan dalam hidup. Apa pun itu. Pertanyaannya adalah, bagaimana jika yang kita dapatkan jauh dari harapan? Kenyataan berkata lain. Bisa dipastikan akan kecewa,  putus asa, dan merasa sebagai manusia paling sial di muka bumi. Lantas, apakah kita bisa hidup hanya dengan mengutuki semua yang telah terjadi? Cerpen “Bulan Merindu” memberi teladan yang cerdas bahwa semua yang terjadi pada diri anak Adam adalah sudah takdirNya. Jika petaka menghampiri kita, itu bukan akhir dari segalanya. Orang yang bijak akan mengisi hidupnya dengan hal-hal yang jauh lebih bermanfaat daripada sibuk menyesali semua yang telah didapati. 

Melalui kumpulan cerpen yang bertajuk “Flamboyan Senja” ini, Aliya Nurlela, penulis buku tersebut, mengajak kita untuk merenung, menimbang, menilai, lalu memutuskan cara kita dalam meniti kehidupan untuk mencapai kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Mengasah diri agar berkepribadian yang santun, lembut, sabar, namun tetap tangguh dalam menghadapi berbagai problematika kehidupan. Semua itu terangkum cantik dalam sepuluh cerpen yang ditulisnya.

Gaya tuturan dalam kumpulan cerpen Flamboyan Senja ini sungguh memikat. Sederhana tetapi sarat makna. Semua bermuara pada bagaimana kita menghargai waktu yang sudah diberikan oleh Allah kepada kita. Sibuk menebar kebaikan itu jauh lebih baik daripada sibuk memburu kesenangan diri sendiri.

Resensiator:
WAHYU PRIHARTINI
IDFAM 1240U, Pasuruan
Email: hartiniwahyu.p@gmail.com

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…