• Info Terkini

    Wednesday, March 20, 2013

    [Resensi Buku] Ketika Problema Datang Menyapa, Hanya Allah Sandaran yang Nyata

    Judul Buku: Flamboyan Senja
    Jenis Buku: Kumpulan Cerpen
    Penulis: Aliya Nurlela
    Penerbit: FAM Publishing
    Tahun Terbit: Desember 2012
    Cetakan: I
    Tebal Buku: 139 halaman

    Kehidupan di dunia ini merupakan salah satu fase yang harus dilalui oleh setiap insan untuk menuju kehidupan yang sesungguhnya di akhirat kelak. Satu fase kehidupan yang sungguh menuntut kedewasaan berpikir, kematangan emosional, dan kearifan yang sangat luar biasa agar bisa memilah dan memilih model hidup yang bakal dijalani sebagai lahan untuk mendapatkan bekal menuju keabadian hidup.

    Setiap orang pasti mempunyai mimpi. Dengan mimpi, kita mempunyai semangat untuk terus menjalani rutinas dan berkarya. Namun apakah setiap mimpi yang kita amini bisa dipastikan membawa pada kebahagiaan yang sesungguhnya? Hidup bahagia dunia akhirat?

    Adalah tokoh aku, yang berambisi menjadi artis terkenal. Seorang gadis yang cantik, berkulit putih, tinggi semampai, berambut ikal panjang, lincah, dan cerdas. Namanya sudah tersohor di dunia seni. Setiap orang mengelu-elukan namanya. Memuja kepiawaiannya dalam berakting. Namun, nur Ilahi menemuinya justru pada saat namanya sedang mengorbit. Tokoh aku bertekad meninggalkan sosok dulu yang penuh dengan gemerlap duniawi yang selama ini menjadi impian tunggalnya, menjadi sosok kini yang islami. Kebulatan tekadnya mampu menghalau kebimbangan dan mengantarkannya untuk mengambil keputusan yang tepat. Hijrah. Harapannya hanya satu, ridhaNya semata. Dunia akhirat.

    Selalu ada yang harus dikorbankan ketika kita berbicara tentang penghambaan, kesetiaan, ataupun kepatuhan. Tokoh aku dalam cerpen “Flamboyan Senja”, mengorbankan mimpinya sendiri, membenamkannya dalam-dalam keinginannya menjadi orang terkenal di dunia seni, demi menggapai impian baru, yaitu menjalani kehidupan sesuai dengan kalamNya. Begitu juga yang tersirat dalam cerpen “Impian yang Terhapus”. Tokoh Amanda mengikhlaskan derita batinnya demi menjaga keutuhan mahligai rumah tangganya, kemurnian cintanya, juga kasih sayangnya terhadap keluarganya. Yang ada dalam benaknya hanya kebahagiaan hidup anak semata wayangnya, hasil pernikahannya dengan suami yang sejak menikah tidak pernah menganggapnya ada. Kekerasan fisik, ketidakpedulian, bahkan cemoohan yang kerap diterima dari suami, tidak pernah membuatnya berpikir untuk meruntuhkan bangunan istana cintanya. Bagi Amanda, cukup Allah saja yang memberi belas kasih dan belaian lembut pada derita raga serta batinnya. Bukankah hanya Allah saja yang memiliki kasih yang sesungguhnya?

    Hal senada juga tersirat dalam cerpen “Tak Ada Keranjang di Matanya”. Dengan jelas cerpen ini mengungkap bahwa cinta dan kebahagiaan itu bukan semata-mata terletak pada materi, ketenaran nama, ataupun rupa fisik yang memikat. Tetapi muthlak pada kepribadian yang baik. Tokoh Raini yang semula membeci semua lelaki karena trauma gagal menjalin asmara, tiba-tiba menjadi sosok yang lembut. Seorang sahabat pena yang belum pernah bertemu, berkomunikasi hanya melalui surat, telah mampu mencairkan kebekuan hatinya. Raini  telah jatuh hati pada sahabatnya itu. Tutur kata yang tergores dalam setiap surat yang dikirim sahabatnya, memberi gambaran bahwa sahabat penanya itu adalah lelaki yang berkepribadian baik. Raini  telah berani berharap, kelak sahabat penanya itulah yang akan menjadi imam keluarganya. Walau mungkin fisiknya tidak seperti foto yang selama ini dilihatnya, namun Raini yakin bahwa dialah lelaki yang dikirim Tuhan menjadi jodohnya. Pelabuhan cinta sejatinya.

    Setiap orang pasti mendambakan kesempurnaan dalam hidup. Apa pun itu. Pertanyaannya adalah, bagaimana jika yang kita dapatkan jauh dari harapan? Kenyataan berkata lain. Bisa dipastikan akan kecewa,  putus asa, dan merasa sebagai manusia paling sial di muka bumi. Lantas, apakah kita bisa hidup hanya dengan mengutuki semua yang telah terjadi? Cerpen “Bulan Merindu” memberi teladan yang cerdas bahwa semua yang terjadi pada diri anak Adam adalah sudah takdirNya. Jika petaka menghampiri kita, itu bukan akhir dari segalanya. Orang yang bijak akan mengisi hidupnya dengan hal-hal yang jauh lebih bermanfaat daripada sibuk menyesali semua yang telah didapati. 

    Melalui kumpulan cerpen yang bertajuk “Flamboyan Senja” ini, Aliya Nurlela, penulis buku tersebut, mengajak kita untuk merenung, menimbang, menilai, lalu memutuskan cara kita dalam meniti kehidupan untuk mencapai kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Mengasah diri agar berkepribadian yang santun, lembut, sabar, namun tetap tangguh dalam menghadapi berbagai problematika kehidupan. Semua itu terangkum cantik dalam sepuluh cerpen yang ditulisnya.

    Gaya tuturan dalam kumpulan cerpen Flamboyan Senja ini sungguh memikat. Sederhana tetapi sarat makna. Semua bermuara pada bagaimana kita menghargai waktu yang sudah diberikan oleh Allah kepada kita. Sibuk menebar kebaikan itu jauh lebih baik daripada sibuk memburu kesenangan diri sendiri.

    Resensiator:
    WAHYU PRIHARTINI
    IDFAM 1240U, Pasuruan
    Email: hartiniwahyu.p@gmail.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: [Resensi Buku] Ketika Problema Datang Menyapa, Hanya Allah Sandaran yang Nyata Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top