Skip to main content

[Resensi Buku] Menilai Buku dari Kualitas, Bukan Sekadar Popularitas

Judul Buku: Kidung Pengelana Hujan
Jenis Buku: Kumpulan puisi
Penulis: Denni Meilizon
Penerbit: FAM Publishing
Cetakan: I, November 2012
ISBN: 978-602-18971-7-1
Tebal: xviii + 120 halaman
Harga: Rp. 38.500,-


Marak sekali pelbagai buku kumpulan puisi yang beberapa tahun belakangan ini mulai kembali bermunculan. Entah itu yang diterbitkan melalui penerbit indie (self publishing) ataupun melalui penerbit mayor. Memang bisa dibilang untuk menerbitkan buku di saat seperti sekarang ini, menjadi sangat mudah dan cukup efisien, karena menjamurnya penerbit-penerbit indie yang hadir dan bersedia menampung karya kita. Namun terlepas dari itu semua, tentunya kehadiran buku puisi berjudul “Kidung Pengelana Hujan” (Penerbit FAM Publishing) ini, akan sedikit mengobati para pecinta sastra yang telah lama ‘haus’ serta rindu akan karya tulis literasi yang memuat banyak  bahasa kesusastraan yang indah serta eksotis.

Denni Meilizon adalah penulis tunggal buku kumpulan puisi “Kidung Pengelana Hujan”. Dia yang mampu mengejawantahkan sesuatu hal yang ada di sekitarnya melalui rangkaian kata dan kalimat, hingga menjadi sebuah karya sastra berupa puisi dan prosa yang berestetika tinggi. Kepekaannya dalam mengartikan alam semesta, kedekatan hubungan antara Pencipta dan hambaNya, hingga kehidupan sosial sehari-hari mampu dia ramu menjadi karya yang patut diperhitungkan. Pemilihan diksi dalam buku ini, cukup luas dan mampu membuat siapa saja yang membacanya dapat menangkap pesan di balik keindahan setiap puisinya itu.

“Pergilah ke toko buku. Perhatikan, banyak buku ‘kacangan’ tidak bernilai di etalase depan laris ludes dibeli banyak orang, sementara buku-buku yang bernilai malah tidak laris. Contohnya adalah buku-buku puisi. Lantas, mengapa kita masih menulis dan menerbitkannya?” Begitulah pernyataan yang saya kutip dari prolog buku kumpulan puisi “Kidung Pengelana Hujan” yang disampaikan Izharry Agusjaya Moenzir seorang penulis dan juga wartawan. Beliau mengungkapkan hal yang pelik, yang memang benar adanya. Di sana dia mengatakan bahwa, “mengapa kita masih menulis dan menerbitkan puisi?” tanyanya, dan dia jawab sendiri dengan mudah, “bahwasanya penulis puisi adalah orang-orang yang masih percaya kepada kekuatan kata. Masih menghargai detak-detak rasa dan mampu berdialog dengan diri sendiri.”. Beliau percaya bahwa Denni Meilizon mengiyakan pernyataannya itu, dan mengajak kita untuk menghargai keyakinannya.

Desa Silaping Kabupaten Pasaman Barat, pada Umumnya sering memunculkan banyak penyair dan penulis handal, tepatnya di Provinsi Sumatera Barat. Denni Meilizon tidak melupakan tempat kelahirannya itu, terlihat dari caranya menyelipkan beberapa bahasa Minangkabau yang kental dan berciri khas pada beberapa puisinya. Bahkan, Denny S. Batubara seorang jurnalis di beberapa surat kabar juga mengungkapkan hal yang serupa. Ketika membaca puisi goresan tangan Denni Meilizon, beliau merasa seolah dibawa bernostalgia, terlebih tentang keindahan Ranah Minang yang mampu digambarkan secara apik oleh penulis. Beliau merasa kembali diingatkan akan tempat kelahirannya yang kebetulan sama dengan penulis yaitu di Provinsi Sumatera Barat lebih tepatnya daerah yang didiami mayoritas suku mandailing. Salah satu penulis endorsement dalam buku “Kidung Pengelana Hujan” ini, berbagi wejangan terhadap penulis serta pembaca semua untuk saling menghormati dan menghargai. Serta menjunjung tinggi semboyan “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”

Buku kumpulan puisi “Kidung Pengelana Hujan”, memang jika dieja secara bahasa, kata perkatanya penuh dengan bahasa yang sarat akan kesusastraan. Penulis menggunakan dan memilah kata hujan sebagai bagian dari judul buku ini, mungkin karena di dalam buku ini memang banyak mengulas tentang makna hujan itu sendiri. Dengan bahasa dan ciri khasnya, serta dengan pandai penulis mengartikan kata hujan ke beberapa hal yang lebih luas lagi dalam puisinya, yang mungkin orang lain kurang ketahui.

Kepiawaian penulis dalam melukiskan sesuatu hal melalui puisi memang tidak perlu diragukan lagi. Intuisinya yang tajam, mampu menggoreskan penanya menjadi sebuah karya tulis yang penuh dengan makna. Namun, ada beberapa hal yang perlu ditinjau lebih jauh. Penulis kurang memerhatikan penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dengan baik di beberapa karya puisinya. Seperti penulisan judul, cara penempatan partikel-partikel “Pun, Nya/Mu, Ku dan Di.” Lalu penulisan bahasa asing yang seharusnya bercetak miring, serta beberapa kata yang kurang tepat dan tidak sesuai dengan apa yang sudah tertera dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Sebagai contoh, saya mengutip bait serta judul dari beberapa buku kumpulan puisi ini seperti dalam puisi yang berjudul: “EMBUN DIATAS KACA (hal.16)”. Pada kata “DIATAS” seharusnya ditulis “DI ATAS” sebab kalimat itu sebagai judul, lalu kata “di” bila ada di bagian awal kata juga harus terpisah. Seperti bait: “Ditiap persimpangan jalan itu (Hal. 30),” yang lebih tepat kata “ditiap” harusnya ditulis “di tiap.” Dan masih ada beberapa kesalahan yang sama dalam buku ini yang ditulis bersambung dengan kata yang mengikutinya. Serta kata “di” harus ditulis terpisah bila kata yang mengikutinya menunjukkan tempat. Contohnya; “di sana, di sini, di rumah, di masjid, di jalan, di bibir,” dsb. Lain halnya dengan partikel “di” yang ditulis tidak terpisah bila kata yang mengikutinya berupa kata sifat, seperti; “dimakan, dilihat, disayang, diambil, ditiru, dilakukan, diisinya, dll.”

Berlanjut ke partikel “pun” yang saya temukan dalam beberapa puisi yang ada di buku ini, yang penempatannya dirasa kurang tepat, semisal dalam puisi yang berjudul “Bapak Tua dan Becaknya (Hal. 36),” di sana ada kata yang seharusnya tidak disambung dengan partikel “pun,” seperti pada bait; “Yang tak bisa dimiliki Bapak Tua ini sampai kapanpun,” kata “Kapanpun” semestinya ditulis terpisah menjadi “kapan pun.” Sebab, penulisan “pun” yang benar harus terpisah dari kata yang mendahuluinya, karena “pun” mengandung arti juga yang merupakan adverbia.

Ada beberapa kata “pun” yang memang harus ditulis bersambung atau tidak dipisah, yaitu “adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, walaupun, sungguhpun.” Dan ini terbatas jumlah katanya yaitu hanya 12 kata. Selain kelompok 12 kata yang telah disebutkan, pemakaian “pun” sebagai pengganti harus ditulis terpisah.

Sekarang berlari kepada penulisan “Nya/Mu” yang dimaksudkan sebagai kata ganti Tuhan atau menunjukkan kepada Sang Maha Pencipta. Ada beberapa puisi yang saya temukan cara penulisannya salah. Sebagai contoh, bisa kita lihat pada puisi yang berjudul: “SUJUD” (Hal. 11). Pada bait yang berbunyi:

Melekatkan kening di atas sajadah
Melekatkan hati kepada-Nya
Pada kata “Kepada-Nya” seharusnya ditulis “KepadaNya.”
Lalu, pada puisi berjudul : “Mengeja Hujan (Hal.35).” Pada bait yang berbunyi :
Dalam derai hujan aku mengeja
Membiasakan diri dengan menyebut nama-Mu

Sama halnya dengan penulisan “Nya” di atas, penulisan “Nama-Mu” tidak benar. Yang sesuai dan yang tepat yaitu “NamaMu.” Tanpa menggunakan setrip (-) sebagai penghubung. Adapun kata yang menggunakan setrip (-) adalah kata yang menggunakan singkatan, sebagai penghubung kata dan dua suku kata yang sama dls. Semisal: KTP-mu, kupu-kupu, mobil-mobil, dll. Kemudian saya temukan penulisan “ku” singkatan dari “aku” sebaiknya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Contoh: Bukuku, punyaku, puisiku. Serta “ku” yang diikuti oleh kata kerja sebaiknya ditulis serangkai pula, karena “ku” tidak dapat berdiri sendiri. Sebagai contoh ada dalam puisi berjudul: “Pada Pias Padam Gerhana,” dalam bait syair yang bertuliskan “Ku tasbihkan,” seharusnya ditulis “Kutasbihkan.” Sebab begitulahmenurut EYD penulisan kata yang benar.

Penulisan cetak miring pada kata dan  frasa bahasa asing sering kali terlupa ataupun terlewatkan. Dalam beberapa puisi yang ada pada buku Kidung Pengelana Hujan ini, ada kata asing yang tidak bercetak miring serta tanpa keterangan—tidak semuanya hanya sebagian.

Penggunaan bahasa yang tidak baku juga di temukan dalam beberapa puisinya. Seperti pada puisi berjudul: “Kudefenisikan Cinta” (Hal. 53), sedangkan dalam KBBI penulisan yang benar adalah Definisi yang berarti kata, frasa, atau kalimat yang mengungkapkan makna, keterangan, atau ciri utama dari orang, benda, proses, atau aktivitas; batasan (arti). Dan sering saya temukan dalam beberapa puisi dengan kata serta penulisan yang sama. Lalu penulisan “Nafas” pada puisi berjudul: “Merindu” (Hal. 32), dalam KBBI penulisan yang benar adalah “Napas” yang bermakna udara yang diisap melalui hidung atau mulut dan di keluarkan kembali dari paru-paru.

Terlepas dari itu semua, saya ingin memberikan apresiasi pada gambar jilid (cover) yang ilustrasinya dapat melukiskan judul buku puisi “Kidung Pengelana Hujan” secara baik. Namun sedikit kritikan, bahwa hasil cetakannya kurang maksimal/tidak sempurna. Terlihat dari gambarnya yang agak buram. Lalu, tulisan dalam buku yang menggunakan ukuran font terlalu kecil sehingga dibacanya sedikit samar dan kurang jelas (ngeblur).

Denni Meilizon mampu meluapkan dan menuangkan emosi serta bakat menulisnya melalui goresan pena hingga menghasilkan puisi yang begitu indah dan berestetika tinggi. Namun dalam setiap puisinya sering saya dapatkan, penulis terlalu banyak menggunakan majas perulangan, seperti: majas antanaklasis (klub-klub, kertas-kertas, debu-debu, dsb), repetisi (Tidak berpawang tidak berkawan), dan pararelisme (Melekatkan kening di atas sajadah, Melekatkan hati kepadaNya).

Memang pada dasarnya semua kembali lagi kepada selera diri penulis masing-masing dalam menciptakan karya, namun alangkah baiknya jika saya boleh menyarankan, penulis menambahkan pula majas-majas lainnya, untuk menambah khazanah serta wawasan para pembaca dan penulis itu sendiri.

“Kidung Pengelana Hujan” adalah buku kumpulan puisi tunggal karya Denni Meilizon, yang berisi 120 halaman ini, saya sarankan wajib dimiliki oleh setiap pencinta sastra dan pegiat literasi khususnya karya tulis puisi. Bentuknya yang tidak terlalu tebal dengan ukuran yang sedang, buku ini mudah dibawa dan disimpan di mana pun.

Tak ada ruginya membeli dan memiliki buku apa pun itu, asalkan yang berbau ilmu pengetahuan, terlebih di dalamnya mengandung unsur kebaikan.

Segera penuhi rak bukumu dengan koleksi-koleksi buku yang berkualitas, bukan ditilik hanya dari segi popolaritasnya saja, tetapi juga dalam segi isi dan kandungannya yang bermutu.

Peresensi:
ADE UBAIDIL
FAM1198M, Cilegon-Banten
Adeubaidil@yahoo.co.id

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…