Skip to main content

Segera Terbit, Novel “Menjemput Impian di Keukenhof” Karya Rahimah Ib

SINOPSIS:
Petir, menjalani hidupnya dengan penuh perjuangan. Hidup bersama ibu yang membesarkannya sendirian. Berjuang melewati masa kecil yang pahit, masa puber yang nakal dan masa dewasa yang hampir putus asa.

Ibu, adalah segalanya baginya. Karena keringat ibu ada dalam aliran darahnya dan ia harus membahagiakan ibunya. Petir merancang hidup dengan sempurna, tapi dia harus menghadapi kenyataan yang berbeda. Ketika Zahwa mengajaknya menikah, Petir benar-benar tak punya nyali. Rasa apatis, rendah diri sangat melekat di jiwanya. Sikap yang akhirnya membuat Zahwa menepi dari hidupnya.

Karena tak juga mendapat pekerjaan yang layak, Petir hijrah ke Rotterdam dan menjadi TKI. Petir harus rela meninggalkan ibu sendirian, demi kehidupan yang lebih baik. Keputusan yang berani dan kelak mengubah jalan hidupnya. Petir berjuang menjalani kehidupannya  di Rotterdam dan kemudian pindah ke Canberra. Menemukan kenyataan di sekitar yang membuatnya banyak bersyukur dan merasa beruntung. Petir menemukan kembali sosok wanita idaman. Tapi, semua berakhir dengan tragis.

Lalu, bagaimana perjuangan Petir meraih impiannya di Medan, Rotterdam, dan Canberra? Impian masa depan, impian membahagiakan emak dan impian menemukan si tulang rusuk? Temukan jawabannya di novel inspiratif ini “Menjemput Impian di Keukenhof”.

ENDORSEMENT:

Petir adalah sosok pemuda yang digambarkan penulis sebagai sosok yang bertekad kuat meraih impian dan cita-citanya. Tekad mulianya ingin membahagiakan sang ibu. Ada perjuangan mempertahankan hidup, kesedihan atas cinta yang hilang, kejadian tragis dan kebahagiaan di akhir cerita. Rahimah menyuguhkan bacaan menarik yang mengundang rasa penasaran pembaca fiksi.

Hidup adalah skenario Allah. Banyak hal yang terjadi di luar dugaan, dan untuk mendapatkan apa yang diharapkan itu perlu perjuangan. Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga mereka mengubahnya sendiri (QS. Ar-Ra’du: 11). Agaknya, inilah yang ingin disampaikan penulis dalam novel “Menjemput Impian di Keukenhof” ini. Penulis cukup apik menyajikan perjuangan Petir di tiga negara berbeda. Perjuangan mencapai cita-citanya, membahagiakan ibunya dan perjuangan mencari cinta sejatinya. Cukup inspiratif dan layak dibaca oleh para pemuda. Tetaplah mencintai ibu, sebagai wanita pertamamu.

~Prof. Dr. Ir. H. Bustami Syam, MS, ME., Dekan FT-USU/Ketum YPIM Medan

[Info pemesanan dan penerbitan buku di FAM Publishing, hubungi Call Centre FAM Indonesia Hp 0812 5982 1511, atau via email: forumaktifmenulis@yahoo.com, dan kunjungi www.famindonesia.com]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…