• Info Terkini

    Sunday, March 3, 2013

    Tut... Tut... Tut... Kereta Api Padang-Pariaman Bawa FAMili ke Pantai Gondoriah

    Kereta api ini membawa FAMili Sumbar ke Pariaman
    Pariaman, 3 Maret 2013. Tak terbilang betapa resahnya Humas FAM Wilayah Sumatera Barat, Befaldo Angga ketika tepat pukul 8.00 WIB FAMili (sapaan untuk anggota FAM Indonesia—red) yang akan ikut menandai Milad FAM yang Pertama via Kereta Api jurusan Padang-Pariaman masih belum menampak batang hidungnya. Gelegak setasiun Simpang Haru yang mulai sesak oleh penumpang wisata serta perebutan tiket sekali jalan menambah resah di hatinya. Namun kemunculan Muhammad Abrar beserta Istri dan putranya yang kemudian disusul kedatangan saya, beserta putriku Alya, menaburkan sumbringah di bibir pemuda itu. Apalagi ketika terjadi sedikit insiden, di mana saya yang jarang ke stasiun dan naik kereta api ini mengambil jalur penumpang yang salah. Seharusnya melalui koridor depan, malah langsung meluncur saja dari tempat parkir motor menuju kereta api yang berada di tengah peron. Petugas langsung melabrak saya, untung saya punya ilmu “pengendalian” diri, jadi insiden itu berakhir dengan tawa.

    Perjalanan yang sangat ramai memang, dan itu di luar dugaan kami. Otomatis, niat untuk meniup lilin ulang tahun di atas kereta api tidak mungkin kami laksanakan karena Kereta Api yang kami tumpangi adalah jenis Kereta Api tanpa asap dan dilarang menghidupkan api di atasnya. Akhirnya disepakati saja, tiup lilin bakal diadakan di pantai Gandoriah Pariaman, di mana sang Kakanda Korwil FAM Wilayah Sumatera Barat Nuh Rafi sudah menunggu sebagai tuan rumah. 

    Kue Milad ke-1 FAM Indonesia
    Di atas kereta api, kami laksanakan diskusi penulisan. Mulai dari cara menulis, pemilihan diksi, kata, kalimat dan pemilihan judul agar sebuah buku dapat menjual. Saya sengaja membawa tiga contoh buku terbitan FAM Publishing untuk menjadi bahan diskusi kami. Tiga buku tersebut berjudul “Mozaik Matahari” karya Bang Refdinal Muzan, “Kidung Pengelana Hujan” karya Denni Meilizon dan “Kejora yang Setia Berpijar” karya 50 penyair muda Nusantara. Di samping itu, kami juga sedikit memperbincangkan calon novel Befaldo Angga yang kalau tiada aral melintang insya Allah akan segera diterbitkan dalam waktu dekat. Nah, yang paling menarik adalah diskusi mengenai rencana mengundang Kang "Abik" Habiburrahman El Syrazi dalam workshop yang sedang digodok oleh tim FAM Wilayah Sumatera Barat berdasarkan keputusan rapat di Taman Budaya Sumatera Barat beberapa hari lalu.

    Kereta Api wisata jurusan Padang - Pariaman ini sangat nyaman. Cocoklah untuk embel-embel wisatanya. Tak ada penumpang yang berebutan naik ke atas atap. Atau dorong-dorongan saat antri tiket. Perjalanan antara Padang - Pariaman berarti juga bernostalgia sejarah, karena Kereta Api ini bakal melewati beberapa gedung dan tempat peninggalan kolonial yang masih serupa bentuknya, namun beralih fungsinya.


    Bendi di Pariaman
    Gandoriah adalah sebuah pantai di Pariaman. Penyebutan namanya berasal dari cerita legenda Putri Gandoriah. Lama tidak berkunjung ke sini membuat hati saya membekas kesan. Begitu apiknya Pemda Kota Pariaman memoles destinasi wisata ini, lihatlah kini begitu ramainya. Mulai dari permainan sampai kuliner yang menyita perhatian. Termasuk juga mengemas produk lokal yang sudah meng-internasional, seperti Nasi Sek (Sebungkuih Kanyang) berpadu dengan imbauan peyek udang, peyek kepiting dan aneka kerupuk lainnya. Lebar-lebar tampilannya menggoda selera pula dengan aromanya. Termasuk pula tawaran renyah sala lauak yang bulat-bulat kecil membuat air liur tak bisa menahan diri, apalagi untuk orang seperti saya, pecinta makanan sejati, ha-ha-ha.

    Milad ke-1 FAM Indonesia “ala FAM Sumatera Barat” akhirnya kami peringati di bibir pantai Gandoriah. Di tengah kesyahduan embusan angin yang sepoi. Dibelai panas lautan yang menyiangi ubun. Serta suara debur ombak yang meningkahi perahu biduk nelayan, bertujuh FAMili hadir merayakannya. Bukan tumpeng yang kami potong, sebab sungguh tidak sampai hati buat menyaingi selebrasi yang sudah diselenggarakan di Kantor FAM Pusat Jalan Mayor Bismo Pare Kediri sana, jadi kami cukup memotong Kue Ulang tahun bikinan FAMili Amika Feetluck yang sejenak pada pandangan pertama aku langsung bisa mengidentifikasi permainan warnanya dengan bentuk logo FAM Indonesia. Sungguh kreatif sekali. Tentu saja ada juga yang mesti kami tiru dari penyelenggaraan helat tasyakur FAM di Pare yaitu tentang masalah “KOOR DI NASI”. Bagaimanapun masalah “KOOR DI NASI” ini akan menjadi keharusan manakala detak jam sudah tegak lurus di angka 12 tepat. Maka setelah kue Ultah habis berpindah tempat ke dalam perut tujuh FAMili yang hadir, maka saatnya makan hidangan nasi bersambal khas Pariaman.


    Muhammad Abrar, Befaldo Angga, Irwan Hasan
    FAMili yang terhormat di mana saja berada, tiada kata yang dapat melukiskan bagaimana kenikmatan makanan nasi plus lauk pauk khas Pariaman ini. Kalau kalian ‘kepengen’, silakan kunjungi kami di Sumatera Barat, dengan senang hati nanti akan kami antar buat menikmati hidangan asli Nusantara ini. Sebagaimana tulisan Mas Yudha Prima terkait masalah “KOOR DI NASI” ini, maka saya dalam hal ini sependapat bila masalah ini nanti akan menjadi perbincangan yang menarik apabila kita diskusikan nanti di Jln. Mayor Bismo Pare di suatu saat nanti... he-he-he.

    Di siang itu saya bacakan sebuah puisi untuk Milad FAM Indonesia berjudul SELEBRASI TAPAK AWAL yang kemudian disambut dengan alunan merdu lagu Selamat Ulang Tahun dan tiup lilin oleh Koordinator Wilayah Sumbar, Uda Nuh Rafi. Selanjutnya kami bertujuh menulis dan menyusun puisi bertema Gondoriah yang dipersembahkan untuk Milad FAM Indonesia yang pertama ini. Lalu kemudian puisi-puisi itu dibaca ulang satu persatu (Video akan menyusul diunggah).

    Nah, begitulah perjalanan FAM Wilayah Sumatera Barat hari ini. Merayakan Milad FAM di tengah alunan bunyi tut... tut... tut... kereta api yang bersambung dengan suara debur ombak dan tingkah camar. Semuanya itu memang diniatkan sebagai suatu persembahan, walau sederhana namun diharapkan dapat dimaknai lebih kepada bentuk keikhlasan dan persaudaraan di tengah keluarga besar FAMili Indonesia. Semoga kita semua jaya selalu dan sukses, aamiin.

    Salam santun,  salam karya !!

    DENNI MEILIZON
    Sekretaris FAM Wilayah Sumbar
    FAM906U-PADANG
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    Item Reviewed: Tut... Tut... Tut... Kereta Api Padang-Pariaman Bawa FAMili ke Pantai Gondoriah Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top