• Info Terkini

    Saturday, March 2, 2013

    Ulasan Artikel “Kejujuran di Tahun Baru” Karya Guy Le Fleur (FAMili Riau)

    Guy Le Fleur mengirimkan sebuah artikel berjudul “Kejujuran di Tahun Baru”. Jika dilihat, penulis mencoba menjelaskan tentang pentingnya kejujuran dalam menyongsong tahun baru. Di mana dalam kenyataannya, nilai-nilai kejujuran sudah mulai luntur di tengah masyarakat. Orang sudah tidak peduli lagi dengan nilai yang satu ini, khususnya dalam upaya mendapatkan apa yang mereka inginkan. Contoh paling sederhana dapat dilihat di lingkungan sekolah, di mana para pelajar menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai yang tinggi.

    Secara sederhana, opini yang baik itu terdiri dari tiga hal yaitu fakta, analisa dan solusi. Fakta berisi hal-hal yang menjadi dasar kita dalam mengemukakan suatu pendapat atau pandangan. Fakta itu umumnya adalah sesuatu yang dianggap sebagai masalah sehingga butuh unuk diselesaikan. Ada baiknya, jika fakta ini memiliki sumber yang valid sehingga dalam penulisannya bisa dicantumkan sumbernya. Analisa menjelaskan tentang fakta itu baik dari sudut pandang masyarakat secara umum, pakar, maupun diri sendiri. Analisa ini mencoba mengupas lebih dalam mengenai fakta yang kita kemukakan. Solusi adalah pandangan atau pendapat subjektif kita mengenai fakta yang kita paparkan. Akan sangat baik jika pandangan itu bersifat solutif. Namun jika tidak bisa, setidaknya pandangan itu menggambarkan sikap subjektif kita terhadap fakta yang kita angkat. Pandangan ini bisa diambil dari pandangan masyarakat secara umum atau pakar. Jadi kita setuju dengan pandangan mereka terhadap hal yang kita angkat. Atau bisa pandangan pribadi yang berbeda dengan pendapat mainstream.

    Secara umum artikel ini bagus. Meski begitu penulis diharapkan untuk terus berlatih agar kualitas karya semakin meningkat. FAM mengingatkan kepada penulis untuk melakukan proses editing terlebih dahulu setelah selesai menulis agar tidak terjadi salah ketik dan kesalahan yang tidak perlu lainnya. Tetap semangat dan teruslah berkarya!

    Salam aishiteru..

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT ARTIKEL PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    KEJUJURAN DI TAHUN BARU

    Oleh: Guy Le Fleur

    Untuk beberapa hari ke depan, kita akan meninggalkan tahun 2012. Banyak kisah atau pun cerita yang bisa kita bagi bersama orang-orang terdekat perihal tahun yang akan kita tinggalkan yakni tahun 2012. Suka maupun duka. Menyenangkan maupun tidak. Terlampau penuh  memori yang kita tinggalkan di tahun 2012. Sehingga rasanya tak cukup waktu untuk kita paparkan semuanya pada sebuah kesempatan yang terbuka. Sengaja atau tidak, kita pasti telah meninggalkan jejak-jejak sejarah  pada tahun lalu.  Semuanya menjadi sebuah nostalgia yang tak bisa kita lupakan begitu saja.

    Pergeseran tahun yang tidak terasa, mengindikasikan bahwa waktu tak bisa menunggu dan di ulang kembali. Ianya bukan cerita Cinderella yang bisa kita baca berkali-kali selagi kita menyenanginya.  Catatan-catatan akhir tahun selayaknya membuat kita bertambah dewasa dalam menghadapi permasalahan hidup demi setiap langkah yang akan diambil untuk tahun berikutnya. Sehingga dengan itu kita memperoleh sebuah pengalaman yang tak ternilai harganya. Tak bisa dibayar dengan apapun. Kesalahan-kesalahan kecil yang kita lakukan di tahun lalu selayaknya tak terulang kembali di tahun baru yang tak lama lagi ini. Itikad ini selayaknya sudah merupakan sebuah janji yang harus kita patenkan. Agar kesalahan yang pernah kita lakukan di tahun lalu tak terulang kembali. Karena memang tak ada orang yang mau jatuh pada lubang yang sama, kan!

    Kejujuran adalah salah satu nilai yang berharga. Sebuah nilai pribadi manusia yang tetap harus dipertahankan. Nilai ini  memang tak bisa ditawar-tawar, meski tahun bergulir seperti kilat. dan tak terelakkan. Tak ada jaminan bagi kita bahwa pergantian tahun yang terjadi otomatis menjamin makin tingginya nilai kejujuran yang kita miliki itu.  Karena memang kejujuran adalah sebuah ‘value’ yang dibentuk melalui proses panjang sejak dini. Ia tak terikat oleh waktu, tempat dan suasana. Oleh sebab itu pembentukkan nilai ini bukan dari cara kita merayakan pergantian tahun itu sendiri, melainkan  bagaimana kita menyikapi secara sadar proses dari perubahan tahun itu.

    Penulis merasakan sendiri nilai ini makin hari makin menipis.Seolah-olah sudah tak ada bentuk. Kejahatan,sifat dengki,iri, serta sifat negatif lain yang dibawa manusia karena pengaruh   lingkungan serta suasana yang berubah setiap saat membuat nilai kejujuran kita makin tercermar. Hendaknya pergantian tahun tidak bermaksud untuk mengikis nilai-nilai itu. Tapi sayangnya kenyataan yang kita hadapi jauh dari apa yang kita harapkan. Kemelaratan hidup,persaingan     dalam memenuhi kehidupan sehari-hari,korupsi,sifat tamak serta tingginya sifat konsumtif masyarakat adalah merupakan beberapa sebab yang bisa menghilangkan nilai kejujuran itu di dalam komunitas kita hari ini. Dengan lain perkataan, kita menjadi asing pada diri kita sendiri. Apalagi dengan orang lain. Terkadang, meski  kita bicara jujur, lawan bicara kita justeru menganggap hal itu bermakna  sebaliknya. Kita dianggap berbohong dengan apa yang telah kita bicarakan. Apa yang mau di kata! kepercayaan masyarakat sudah mulai luntur terhadap sebuah kebenaran maupun kejujuran itu.

    Tahun memang akan terus berganti, tak bisa tidak. Seperti roda pedati, tahun akan tetap berganti dan berputar. Tak ada yang dapat menolak atau merubah pola perubahan waktu seperti itu. Sama halnya dengan pergantian musim, siang dan malam. Ini adalah kodratnya alam. Siapa yang merubah berarti ia mendustai kekuasaan Yang Maha Esa. Sampai kiamat pun hal  ini tak terbantahkan. Kita tak mau berdosa dengan ini kan! Satu hal yang bisa kita rubah adalah dengan menyikapi setiap perubahan dan pergantian tahun itu. Menjadi buruk atau bertambah lebih baik. Maju atau mundur. Hanya itu yang  bisa kita lakukan agar perjalanan hidup jadi lebih bermakna! Penuh warna-warna. Mengapa kita begitu antusias menyambut pergantian tahun itu! sedangkan akhir daripada perayaan itu tak ada perubahan sama-sekali terhadap sifat maupun sikap kita. Kita sama seperti tahun-tahun terdahulu, hanyut dalam dilema ketidakpercayaan.

    Sebagian orang-orang menganggap perubahan tahun adalah sesuatu yang mengembirakan sekaligus mengerikan. Mengembirakan kalau kedudukan. jabatan maupun posisi mereka makin bertambah baik dan tahun depan. Hal ini sekaligus menaikkan derajat karena kekayaan yang diperoleh  untuk tahun baru akan bertambah-tambah. Sedangkan sebagian orang beranggapan bahwa perubahan tahun akan menindas dan memperburuk kehidupannya kelak. Karena barangkali jabatannya akan turun karena masa pensiun yang akan tiba di depan mata. Atau mungkin karena sakit yang dialami tidak juga kunjung sembuh di tahun  depan. Untuk masyarakat kecil, pergantian tahun adalah upaya untuk terus bergulat dalam hidup. Mencari sesuap nasi demi anak-anak dan masa depannya. Semua seperti sebuah rutinitas yang itu-itu saja.  Tak ada pengaruh bagi mereka sedikipun terhadap perubahan tahun yang silih berganti itu.  Mereka seolah-olah sudah tak mampu berpikir hal-hal diluar daripada itu. Yang penting anak-anak mereka bisa hidup dan sehat. 

    Banyak sekali analisa maupun ramalan yang datang setiap menghadapi tahun baru. Bahkan ada yang tak masuk akal sama-sekali! Hal ini adalah sesuatu yang biasa mengingat tabiat manusia yang  diberkahi rasa ingin tahunya yang besar itu. Salah satu ramalan yang mengempar dunia saat ini menjelang pergantian tahun kali ini adalah adanya ramalan yang datang dari suku Inca. Tanpa alasan yang jelas, mereka mengatakan bahwa dunia akan kiamat pada tanggal 23 Desember 2012 tahun ini.  Isu ini banyak mendapat  perhatian oleh bangsa-bangsa dunia. Mereka mempercayai ramalan itu. Mereka sibuk membuat perencanaan untuk menghadapi kiamatnya orang Inca tersebut. Seolah-olah itu memang benar-benar terjadi. Tapi! Nyatanya kan…. tidak! Itulah sikap ketidakpercayaan dan ketidakjujuran. Orang-orang mudah saja percaya akan ramalan yang serba ‘absurd’ dan tak bertanggung-jawab itu!

    Kembali kepada pokok pembahasan tadi, Ralph Waldo Emerson pernah mengatakan bahwa “kejujuran adalah kepercayaan pada diri sendiri,” Dengan definisi ini kita bisa menarik kesimpulan bahwa kebenaran adalah nilai kejujujuran yang hakiki. Orang yang jujur itu adalah orang yang dipercaya karena kebenarannya. Kepercayaan adalah sesuatu yang sakral. Ketidakpercayaan kita terhadap nilai kebenaran berarti kita menafikan kekuasaan Yang Maha Kuasa. Maka dari itu nilai ini menjadi sebuah pegangan buat kita semua. Selama kita erat memegang sebuah kebenaran selagi itu pula kita melaksanakan nilai kejujuran itu dalam hidup. Kepercayaan pada hakekatnya juga terimplikasi terhadap nilai kejujuran itu sendiri.  

    Sejak otonomi daerah sampai kini banyak sekali masyarakat di seluruh pelosok Nusantara mengadakan demo dan aksi protes terhadap pemerintahan. Baik secara berkelompok maupun secara individu. Di pusat maupun di daerah-daerah. Mereka seolah=olah digerakkaan oleh sebuah kekuatan maha dasyat, untuk melakukan itu. Padahal itu murni dari kekuatan pribadi masing-masing. Demi sebuah perbaikkan ke depan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Apa yang membuat mereka begitu antusias melakukan aksi itu? Jawabannya karena masyarakat sudah kehilangan kepercayaan terhadap para pejabat pemerintahan. Mengapa tidak percaya! Karena mereka tidak jujur dalam melayani masyarakat. Jabatan yang dipegang sering disalahgunakan oleh mereka demi untuk memperkaya diri,golongan dan kaum kerabatnya selagi punya kesempatan. Artinya bahwa pergantian tahun yang terjadi serta ditunggu secara bersama-sama dalam berbagai kesempatan, dimanapun kita berada bahkan upaya apresiasinya sangat kelihatan  berlebihan sekali, nyata tidak membawa pengaruh apa-apa bagi kita semua. Terutama bagi perubahan sikap dan cara kita berpikir. Mindset kita tak pernah berubah sedikitpun walau tahun sudah silih berganti! Kita hidup seolah-olah kembali ke zaman jahiliyah! Dimana sang penguasa menjadi kuku besi terhadap kekuasaan yang ia miliki. Menjadi raja kecil di daerah kedudukannya masing-masing!

    Perubahan tahun pasti menjanjikan sebuah tantangan baru dan penuh dengan ‘risky.’ Baik terhadap pemerintah, golongan masyarakat maupun individu-individu. Kita tak bisa meramal secara pasti apa yang akan terjadi ke depan. Semua masih kelihatan tampak samar-samar. Kita hanya bisa mengukur apa yang terjadi di masa depan hanya dengan berbagai asumsi berdasarkan indikasi yang terjadi saat ini. Dan itu tetap tidak memberikan sebuah jawaban pasti. Jadi jikalau kita mau secara jujur melihat kondisi saat ini maka sudah selayaknya sebuah kebenaran serta nilai kepercayaan yang dimiliki oleh kita saat ini dapat dianggap sebagai sesuatu yang aneh di mata masyarakat. Kejujuran menjadi barang mahal di negeri yang dulunya disanjung-sanjung sebagai surganya para dewa! 

    Bengkalis, 29 Desember 2012

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Artikel “Kejujuran di Tahun Baru” Karya Guy Le Fleur (FAMili Riau) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top