• Info Terkini

    Wednesday, March 13, 2013

    Ulasan Cerpen “Bingkisan untuk Negeri” Karya Martha Zhahira El-Kutuby (FAMili Bukittinggi)

    Cerpen berjudul “Bingkisan untuk Negeri” bercerita tentang Dodi, anak seorang pemahat patung yang membuat patung perdananya untuk diikutkan dalam lomba. Hasil karyanya diejek oleh teman-temannya, namun hal itu tidak menjadi masalah yang berarti baginya.

    Beberapa catatan yang FAM berikan untuk perbaikan cerpen ini dan untuk pelajaran ke depannya bagi penulis adalah tentang konflik dan ‘ending’ cerita. Cerpen ini datar-datar saja. Tidak ada konflik yang bisa membuat pembaca menikmati kisah yang disajikan.

    Begitu juga dengan ‘ending’ yang masih belum berkesan. Hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah penggunaan bahasa Inggris yang masih terdapat kesalahan. Berbeda dengan pengucapan yang akan dimaklumi orang saat terdapat kesalahan asalkan maksudnya tersampaikan, dalam penulisan bahasa Inggris tidak bisa seperti itu. Secara tekstual, susunan kata dan grammar harus tepat.

    Hal lain yang harus diperhatikan adalah penggunaan kata yang tepat dalam sebuah kalimat. Dalam cerpen ini ada penggunaan kata yang kurang pas penempatannya seperti kata ‘inter lokal’ dan ‘membau’.

    FAM berharap penulis terus berlatih agar kualitas tulisan semakin membaik. Tetap semangat dan terus berkarya!

    Salam aishiteru.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Bingkisan  Untuk Negeri

    Karya: Martha Zhahira El-Kutuby (FAMili Bukittinggi)

    Keindahan negeri Ubud, Bali, mencorakkan keadaan budayanya yang sungguh kental dengan budaya yang lembut. Beragam kesenian terukir di sepanjang negeri itu. Tak salah orang Indonesia bahkan dunia internasional mendambakan negeri ini. Berbagai turis banyak mengunjungi negeri ini.

    Begitu pula dengan I Ketut Dodi Wantera. Dia adalah anak seorang pemahat patung yang ada di Bali. Berbagai patung telah dipahat ayahnya untuk dijual pada pengunjung lokal maupun interlokal. Ayahnya bernama I Ketut Gusti Bartera. Sebagai seorang ayah, Pak Bartera tak pernah melihat kebodohan pada anaknya.

    Dodi semenjak kecil sudah diajarkan untuk memahat kayu yang ukurannya juga kecil. Ketika kecil juga, Dodi mulai memahat kayu dengan seni yang sungguh padat. Dodi sangat senang menolong ayahnya setelah pulang sekolah. Disamping memberikan pernis pada patung yang telah dipahat. Dia juga memahat patung anak-anak dan remaja. Berbagai corak patung telah diselesaikannya dalam waktu singkat.

    Dalam keramaian negeri Ubud, seorang pengunjung dari Australia sempat singgah di toko patung Dodi. Nama tokonya adalah Toko Pahatan Patung Gusti Bartera. Orang Bali menyebutnya Toko Pak Bartera.

    “Welcome in our store, Sir! What can I help you?” sapa Dodi dengan ramah.

    “Thanks you. I want to looking for a statua for I bring to Sidney.”

    “Owh. I have a statua which so nice for you. Let follow me into the store.”

    Dodi mengajak orang asing itu masuk ke tokonya. Dia seakan-akan menjadi pelayan toko yang profesional di zamannya. Dengan cermat dan ramah Dodi memberikan patung pahatan dia sendiri. Orang asing itu melihat dengan mengangguk-anggukkan kepalanya. Nampaknya dia suka.

    “How about this, Sir?”

    “That’s so nice! I take it. Please, packing that statua.”

    “Okay.”

    “How much is it?”

    “That’s two hundred thousand rupiahs.”

    “Okay. But, I will give you more, that’s three hundred thousand rupiahs.”

    “Thanks you! Please come again for our store.”

    “Okay.”

    Orang asing itu meninggalkan tokonya. Dia membawa patung itu ke Sidney. Dodi senang dengan penjualan hari itu. Dia dengan senang hati melaporkan kepada ayahnya kalau patung yang dia bikin sendiri telah terjual interlokal.

    “Yah, lihat ini! Aku sudah dapat pelanggan hari ini.”

    “Bagus sekali kamu, Semoga kamu berhasil dengan cepat ya.”

    “Makasih, Ayah! Ini berkatmu juga.”

    Hari berganti dengan cepat. Saatnya penyambutan ulang tahun Proklamator Republik Indonesia, yaitu Muhammad Hatta. Hari kelahiran Bung Hatta ini dimeriahkan dengan lomba membuat patung torso Bung Hatta atau patung setengah dada. Penduduk negeri Ubud dengan semangat mengikuti lomba ini. Semua orang telah bersiap-siap. Tak terkecuali Dodi. Dia juga ikut. Walaupun dia baru kali ini untuk mengikuti lomba ini, dia yakin untuk mengikuti ini dengan niat yakinnya.

    “Yah, aku dapat brosur dari sekolah tadi. Guru kesenianku menawarkan aku untuk ikut lomba membuat patung setengah dada Bung Hatta. Aku boleh ikut nggak?”

    “Boleh-boleh saja! Tapi, kamu harus selesaikan semua tugasmu sebagai pelajar dulu, baru kerjakan patung itu.”

    “Oke, Ayah! Aku akan ingat pesan ayah.”

    “Kamu ganti baju dulu. Bantuin ayah untuk menyusun patung-patung ke dalam etalase.”

    “Sip, Yah!”

    Dodi beranjak ke kamar untuk ganti baju. Selesai makan siang, Dodi membantu ayahnya. Mereka hanya tinggal berdua saja. Lantaran Ibu Dodi sudah meninggal setahun yang lalu. Nampaknya mereka sangat bahagia walaupun bergantung seperti sekarang ini. Selesai menyusun patung-patung itu, Dodi meminta kayu spesial kepada ayahnya untuk dikin patung torso Bung Hatta.

    “Yah, cariin aku kayu yang bagus dong. Biar hasil pahatan aku juga bagus buat lomba itu.”

    “Ini, ayah sudah siapkan ketika kamu ganti baju tadi. Silahkan dimulai.”

    Dodi mengambil kayu itu. Dia mulai memperhatikan kayu itu dengan seksama. Kayu mahal itu seakan-akan membuat Dodi grogi untuk langsung memahatnya. Dia juga pertama kali untuk membuat patung torso itu. Tapi, dia yakin kalau dia bisa melakukannya.

    Dodi memulai memahat wajah Bung Hatta. Dia menikmati pahatan itu dengan penghayatan seni yang tinggi. Mata Bung Hatta menggambarkan tajamnya penglihatannya terhadap Indonesia. Hidungnya membaukan sebuah keharuman merah putih sejati. Dadanya menggambarkan sebuah keyakinan yang bersumber dari hati Bung Hatta untuk tetap membuat Indonesia merdeka.

    Sedikit demi sedikit, pahatan itu selesai dengan gagah. Rapi. Hanya amplas yang akan menghaluskan patung itu. Dia mengerjakannya dengan penuh keyakinan dan kemantapan. Selesai sudah patungnya. Dodi menemui ayahnya yang sedang mengamplas patung yang dibuatnya.

    “Yah, lihat ini! Bagus nggak?”

    “Bagus sekali. Kamu memang pintar.”

    “Aku akan kirim ini ke Jakarta untuk lomba itu yah!”

    “Baiklah. Selamat berjuang dan semoga menang ya, Nak!”

    “Makasih, Ayah!”

    Dodi masuk rumah dan dia istirahat. Esoknya, dia membawa patung itu ke sekolah untuk dilihatkan kepada guru keseniannya. Dia minta saran dan guru keseniannya mengatakan bahwa patung itu bagus sekali. Tiba-tiba, seorang teman Dodi, Made. Dia mencemooh patung itu.

    “Hey, anak tukang pahat! Itu tuh patung yang kau buat kemaren? Jelek amat!” teriak Made.

    “Iya, patung apaan tuh? Kayak tampang bapak kau aja. Haha!” sambung Gusti.

    “Jangan asal ngomong kau. Aku bikin ini dengan hati nuraniku bukan seperti kau yang hanya punya emosi aja.”

    “Apa kau bilang? Dasar anak kampungan.”

    “Kau boleh saja memaki patungku ini, tapi kau tak akan bisa memaki patung ini dengan mulut besarmu, karena ini akan aku hadiahkan untuk negeriku tercinta, Indonesia!”

    Made terdiam. Dia kesal dan berlalu. Nampaknya, caciannya tak mempan untuk Dodi. Dodi dengan senyum manisnya menemui Bu Sri, guru keseniannya. Dengan sedikit grogi, dia menyapa Bu Sri yang berada di kantor.

    “Selamat pagi, Bu!”

    “Pagi, Dodi! Ada apa?”

    “Ini, Bu! Saya sudah bikin patung ini dari kemaren. Seharian penuh saya mengerjakan patung ini. Saya harap ini bisa dijadikan bahan lomba kemaren, Bu!”

    “Coba ibu lihat. Waw! Bagus sekali, Nak! Kamu pasti akan menang. Pahatanmu halus sekali.”

    “Jangan terlalu tinggi memujinya, Bu! Ini patung torso saya yang perdana. Saya masih ragu, tapi keyakinan saya menunjukkan semangat saya, Bu!”

    “Bagus sekali. Kamu memang bagus.”

    “Bu, saya mau patung ini diberikan kepada panitia lomba dengan nama “Bingkisan Untuk Negeri”. Saya menghadiahkan ini untuk Bung Hatta.”

    “Iya, Nak! Terima kasih ya sudah mau mengikuti lomba ini. Ibu akan doakan kamu menang.”

    “Iya, Bu! Sama-sama.”

    Dodi kembali ke kelas dengan rasa puas. Dia tersenyum melihat Made dan Gusti kekesalan karena patungnya ditolak Bu Sri. Dodi bangga dengan dirinya sendiri. Tidak hanya bisa bikin patung yang biasa saja dia, bikin patung yang luar biasa ternyata dia lebih mantap.

    Baru saja pagi berlalu. Sekarang sudah siang. Waktunya pulang sekolah. Dia pulang dengan perasaan yang sangat senang. Gembiranya tak lupa dia ceritakan kepada ayahnya. Dia dengan semangat berbagi curhatan dengan ayahnya. Ayahnya tersenyum dan mengecup kening Dodi.

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Bingkisan untuk Negeri” Karya Martha Zhahira El-Kutuby (FAMili Bukittinggi) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top