• Info Terkini

    Sunday, March 17, 2013

    Ulasan Cerpen “Catatan Cinta pada Pusara” Karya Yuliana Bakti Pertiwi (FAMili Jakarta)

    Cerpen ini berkisah tentang dua remaja yang saling mencintai, yaitu Simfoni dengan panggilan Oni dan Daniel. Suatu hari, Daniel pamit pada Oni untuk menimba ilmu di luar negeri. Oni sedih bukan kepalang. Ia sedikit meragukan kesetiaan Daniel setelah tinggal berjauhan. Oni harus berurai air mata melepas kepergian Daniel. Sementara Daniel terus menghibur sang kekasih, ia meyakinkan Oni bahwa meski berjauhan masih bisa saling berkirim pesan.

    Namun ketika Daniel telah berada di luar negeri, pesan dari Oni tak dibalasnya. Bahkan ketika Oni menelepon, jawaban dari seberang seperti tak pernah saling mengenal sebelumnya. Hati Oni hancur. Namun kekuatan cinta yang dimiliki Oni lebih kuat dari rasa apa pun. Baginya, cinta itu sakral. Beberapa bulan kemudian, barulah terungkap hal sebenarnya, ternyata Daniel tidak kuliah di luar negeri, melainkan melakukan pengobatan atas penyakit kanker otak yang dideritanya dan kembali ke tanah air dalam kondisi parah dan lemah. Akhirnya Daniel pun meninggal dunia.

    Cerpen ini disajikan dengan gaya bahasa yang memikat. Penulis cukup piawai dalam pemilihan kata. Sehingga cerpen ini enak dibaca, tidak membosankan karena pembaca disuguhi pemilihan kata yang tepat.

    Yuliana juga cukup mampu menyelipkan beberapa rangkaian kalimat puitis yang menjadi pemanis dalam cerita. Bahkan ada satu puisi yang diselipkan di tengah-tengah cerita. Rangkaian kalimat yang cukup menarik, “Cinta. Berawal dari sebuah keindahan dan harus berakhir dengan keindahan pula” dan “Kata akhir itu memang ada, namun kata itu tak akan muncul pada kisah manis yang kita jalani ini.”

    Penulis ingin menyampaikan pesan kepada pembaca bahwa rasa cinta itu sakral. Kekuatan cinta akan mendorong seseorang untuk terus mencintai meski maut memisahkan.

    Namun demikian ada beberapa hal yang perlu dikoreksi dari cerpen ini, terutama dalam percakapan (dialog). Dalam beberapa percakapan, di akhir kalimat, penulis tanpa menuliskan tanda baca sama sekali. Contoh, “aku akan tetap menyayangimu” lelaki itu mencium kening Oni dan meninggalkan gadis itu sendiri di sana. Seharusnya di akhir kalimat diberi tanda titik (.) dan pada kata “lelaki” huruf “l” harusnya huruf besar. Seperti ini, “aku akan tetap menyayangimu.” Lelaki itu mencium kening Oni dan meninggalkan gadis itu sendiri di sana.

    Kesalahan lain pada penulisan kata “nafas” dan “apapun”. Seharusnya ditulis “napas” dan “apa pun.” Penulisan “pun” seharusnya terpisah dari kata “apa” sebab pun di sini mengandung arti juga, yang merupakan adverbia.

    Untuk penulis teruslah asah kemampuan menulis dengan cara sering berlatih menulis dan memperbanyak membaca.

    Salam santun, salam karya.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Catatan Cinta pada Pusara

    Karya: Yuliana Bakti Pertiwi

    Malam perpisahan sebuah sekolah menengah atas.

    Sepasang muda-mudi berbincang di salah satu sudut ruangan yang riuh oleh siswa-siswi yang merayakan kelulusannya. Simfoni, atau yang akrab disapa Oni, berdiri dengan wajah muram di hadapan sang kekasih.

    “Jangan sedih, sayang…” ucap Daniel, lelaki tampan yang berhasil memenangkan hati Oni sejak beberapa bulan yang lalu, seraya memegang dagu dan menengadahkan kepala gadis yang dikasihinya tersebut.

    “Kamu serius?” tanya Oni. Mata yang menampung bendungan emosi itu menatap tajam lawan bicaranya.

    “Iya, aku sudah bilang sebelumnya bukan? Aku ingin melanjutkan kuliahku di Jerman. Maafkan aku…” diusapnya pipi gadis itu.

    Namun sang gadis menepis tangan yang mendarat di pipinya seraya berkata, “tapi kamu tidak bermaksud untuk mengakhiri hubungan ini bukan?” tanyanya penuh harap.

    Daniel tersenyum seraya mengusap rambut Oni yang tergerai indah menyempurnakan penampilannya yang dibalut gaun pendek berwarna putih. “Tentu tidak. Kita masih dapat berkirim pesan melalui jejaring sosial bukan? Aku harus pergi sekarang, aku harap kamu mengerti dan dapat bersabar menanti aku kembali. Jangan takut, sayang. Aku akan tetap menyayangimu” lelaki itu mencium kening Oni dan meninggalkan gadis itu sendiri di sana.

    Ditatapnya punggung lelaki yang semakin menjauh itu. “Aku juga sayang kamu” ucapnya lirih. Tak kuasa menahan segala rasa yang tumpah ruah dalam dada, maka Oni pun mengalihkan pandangannya. Matanya lurus menembus jendela dan menatap langit di luar sana. Kumpulan bintang seolah tersenyum menghibur satu hati yang gundah. Sebutir air mata dari sudut mata kanannya meluncur dengan sempurna membasahi pipinya. Dipejamkan matanya sejenak, ditariknya nafas dalam-dalam, lalu dihembuskannya perlahan. Mencoba menenangkan gejolak dalam hatinya, namun tampaknya tak cukup berhasil.

    Di satu sisi dia tak ingin kehilangan orang yang sangat disayanginya, namun di sisi lain dia harus meredam keegoisannya agar tak berkuasa. Terjadi pertempuran hati di dalam sana. Seandainya waktu dapat dihentikan dengan mudahnya, dia ingin tetap berada di saat dia masih dapat menggenggam erat tangan sang kekasih dan tak akan pernah dilepaskannya lagi. Saat-saat yang amat tak diinginkannya pun akhirnya datang menghampiri. Dia telah terbiasa menjalani harinya bersama Daniel, sanggupkah dia ditempatkan dalam keadaan seperti ini? Biarlah waktu yang menjawabnya. Satu hal yang terus dia tanamkan dalam dirinya, “tugasku sekarang adalah menjaga supaya perasaan ini tetap begini dan tidak berubah”.

    ***

    Berpijak pada satu titik, menanti sebuah senyuman
    Berdendang alunan nada menjemukan di balik kesunyian
    Gemericik air buyarkan sebuah lamunan
    Semu seolah nyata
    Aku berdiri menopang satu harapan yang tak kunjung datang
    Tetap bertahan atu kembali ke peraduan?
    Hening…
    Duniaku hilang entah kemana
    Ingin mencari namun tak tau tujuan
    Langkah kaki yang ku rindukan telah lama tak ku dengar
    Bahkan hembusan angin pun dapat menyemarakkan hariku
    Terlalu sunyi…
    Hanya aku dan semua anganku yang melambai-lambai di atas awan
    Aku…
    Pemimpi kecil yang menantikan sang pangeran

    Setahun berlalu setelah pertemuan terakhirnya dengan Daniel. Oni berdiri menghadap jendela kamarnya menatap langit malam yang datang merangkak diiringi dengan senyuman hangat sang rembulan. Ditutupnya tirai jendela itu dengan wajahnya yang lesu. Lalu langkah gontainya tertuju pada satu titik di hadapannya, meja belajar. Duduklah dia di belakang meja itu berhadapan dengan laptop kesayangannya. Jemari lentiknya menari dengan lincah membuka sebuah akun facebook miliknya. Tak ada kabar apapun dari sang pujaan hati. Dia mengingkari janjinya.

    Ditulisnya sebuah pesan untuk lelaki itu:

    Satu tahun tanpa hadirnya kamu dan tanpa kabar apapun dari kamu. Mana janji kamu? Apa kamu sudah melupakan aku?

    Hhh… adakah yang lebih menyesakkan lagi daripada mengakhiri hubungan indah tanpa sebuah kepastian bahkan tanpa sepatah kata pun? Oni merebahkan tubuhnya yang terasa amat lelah. Lama… Lama… Dan dia pun mulai terlelap. Membuka sebuah gerbang alam bawah sadar dengan harapan yang sama, mendapat sebuah kepastian.

    ***

    Pukul 09:43, Oni berlari menyusuri koridor kampus yang tampak lengang dengan sesekali melirik jam di pergelangan tangan kirinya. Berharap detik jam dapat berhenti dan waktu membeku saat itu juga. Langkahnya terhenti tepat di depan sebuah ruangan yang begitu hening. Masih dengan nafasnya yang terengah-engah itu, dia mengintip ke dalam ruangan tersebut melalui jendela. Tak lama kemudian dia mendengus kesal dan memalingkan wajahnya untuk beranjak pergi dari ruangan itu. Terlambat. Pak Umar, dosen yang mengagung-agungkan kedisiplinan itu, telah berdiri tegak berceloteh di depan para mahasiswa yang tampak acuh tak acuh. Percuma berusaha untuk masuk karena tak akan diperbolehkan.

    Langkah kakinya itu menuntun sang pemilik menuju ke suatu tempat. Taman kampus. Dia duduk di bawah pohon besar yang dengan sukarela melindunginya dari cuaca yang terik. Pikirannya melayang melewati waktu demi waktu ke belakang. Lagi-lagi Daniel muncul dalam benaknya. Saat-saat indah dengan seragam putih abu-abunya. Ingin kembali pada masa itu tanpa harus berhadapan dengan perpisahan. Namun gadis itu tak memiliki kuasa, waktu terus bergulir dan dia telah menanggalkan seragam kebanggaannya. Kenangan masa lalu yang indah namun begitu menyakitkan.

    Sesak. Dia berusaha mengalihkan pikirannya. Dibukanya laptop yang selalu menemaninya itu dan kembali dibukanya akun facebook miliknya. Satu pesan! Harap-harap cemas, dibukanya pesan tersebut. Dari Daniel! Tapi…

    Kamu siapa?

    Deg! Apakah Daniel benar-benar telah melupakan Oni? Mungkinkah? Air matanya luruh secara tiba-tiba tanpa harus diperintah. Jemarinya bergetar seolah kehilangan daya untuk bergerak. Nafasnya tertahan, jantungnya seolah berhenti berdetak. Hatinya mulai bergemuruh, sesuatu yang lain dirasakannya sekarang. Tidak beres! Dia membuka daftar obrolan dan didapatinya nama Daniel di sana. Setelah sekian lama, akhirnya Daniel muncul juga. Oni memberanikan diri untuk membuka obrolan terlebih dahulu.

    “Daniel?”

    “Kamu siapa?”

    “Oni, kamu lupa?”

    “Maaf, Oni siapa?”

    “Aku pacar kamu, kamu benar-benar lupa? Mana janji kamu dulu?”

    Lima menit… Sepuluh menit… Lima belas menit… Tak ada balasan. Inikah kepastian yang dinantikannya itu? Beginikah? Hancur! Bongkahan harapan itu seolah melebur seiring dengan terbukanya sebuah tabir misteri yang lama tak terungkap. Daniel off dan kembali menghilang.

    Ini bukan kepastian, bukan! Dan ini juga bukan akhir! Ada sesuatu di balik semua ini, pasti! Daniel itu pelangi yang selalu menghiasi hari-harinya. Dan simfoni yang indah tak kan sempurna tanpa hadirnya warna-warni sang pelangi. Entah dari mana datangnya kekuatan besar tumbuh dalam dirinya. Mungkin karena rasa itu. Rasa yang begitu sakral. Cinta. Berawal dari sebuah keindahan dan harus berakhir dengan keindahan pula.

    ***

    Waktu berjalan seiring dengan gerak tubuh yang semakin lunglai. Tak ingin dan tak pernah ingin menyalahkan takdir atas pertemuan di masa yang lalu. Entah disadari ataupun tidak, namun penyesalan itu datang menyapa. Semuanya terasa samar-samar. Memori masa lampau yang perlahan pergi menjauh dan semakin menjauh.

    Daniel telah kembali setelah hampir dua tahun menjalani pengobatan di luar negeri. Wajahnya pucat pasi, tatapan matanya kosong seolah tak memiliki harapan apapun. Sang kakak, Nindy, menopang tubuh yang lemas itu dan membaringkannya di tempat tidur. Daniel terpejam dan sang kakak hanya memandangi wajah adiknya itu dengan sesekali menyeka air matanya yang hampir terjatuh.

    “Kamu pantas bahagia” ucap sang kakak seraya mengusap lembut rambut ikal di hadapannya.

    Nindy pergi dengan satu tujuan, menemui Oni. Dihubunginya beberapa sahabat Daniel semasa SMA untuk mencari keberadaan Oni. Beruntunglah karena tak sulit rupanya untuk menemui gadis tersebut. Sesampainya dia di rumah Oni, tanpa basa-basi Nindy pun segera mengutarakan maksud dan tujuannya.

    “Maaf, saya datang ke sini dengan tiba-tiba. Saya Nindy, kakaknya Daniel, pacar kamu”

    Oni pun tersentak kaget mendengar nama Daniel. Inikah jawaban dari pertanyaannya? “Daniel di mana? Kenapa dia tidak mengingatku? Ada apa dengannya?” air matanya luruh perlahan dan terus membanjiri pipinya.

    Nindy mengusap punggung Oni untuk mencoba menenangkannya. “Selama ini dia di luar negeri untuk menjalani pengobatan. Dia mengidap kanker otak. Dan sekarang dia kembali ke sini karena dokter telah angkat tangan”

    Bagaikan tersambar petir ribuan volt, Oni mematung tak percaya dengan pendengarannya. Kekasihnya itu… Pelanginya itu perlahan akan memudar dan kehilangan warna.

    “Dia sempat bercerita bahwa ada seseorang yang mengaku sebagai pacarnya. Maaf jika dia tidak ingat pada hubungan kalian, namun yakinilah cintanya itu tetap ada dan terus tumbuh. Saya ingin Daniel bahagia di saat-saat terakhirnya, kamu mau membantu?”

    Dengan cepat Oni menganggukan kepalanya untuk menyatakan persetujuannya. Dan tepat saat itu juga, hari baru dimulai.

    ***

    Beberapa bulan terakhir dalam hidup Daniel.

    Oni senantiasa menemani detik demi detik yang berjalan seiring dengan kepedihan yang semakin mendalam. Waktu yang barjalan menakutkan, namun harus tetap dijalani dengan segaris senyuman. Hadir sebagai sahabat yang memberi limpahan semangat dan cucuran harapan untuk orang yang tersayang. Hingga saatnya tiba…

    Suasana haru di pemakaman terlihat amat jelas. Sekumpulan orang-orang berpakaian hitam tertunduk berdoa dengan khusyuk. Mengantar jasad Daniel ke tempat peristirahatan terakhirnya. Hukum alam, setiap yang bernyawa pasti akan mati. Percuma menangisi kepergiannya, karena manusia tak kuasa mengubah takdir hidup dan mari. Oni terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sebutir air mata menetes di balik kacamata hitamnya. Satu persatu para pelayat itu pergi meninggalkan pemakaman, hanya tertinggal Nindy dan Oni.

    “Kamu kuat, jangan menangis. Karena Daniel pasti akan ikut bersedih” ucap Nindy meguatkan Oni. Butuh waktu sendiri untuk meredam pukulan berat itu, Nindy pun mengerti dan kemudian meninggalkan Oni yang masih terdiam di sana.

    Karangan bunga yang sedaritadi digenggamnya itu pun akhirnya dia letakkan di atas pusara sang kekasih. Karangan bunga yang cantik dengan satu catatan kecil yang tersemat di antaranya:

    Kata akhir itu memang ada, namun kata itu tak akan muncul pada kisah manis yang kita jalani ini.

    Tak kuasa terbawa suasana, Oni memalingkan perhatiannya ke pemandangan di sebelah kanannya. Jauh di sana, terlihat Daniel yang berdiri dan tersenyum memandangnya. Dibukanya kacamata hitamnya itu untuk memperjelas apa yang dilihatnya, namun Daniel telah menghilang. Senyuman terakhir dari Daniel yang dapat dilihatnya.

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Catatan Cinta pada Pusara” Karya Yuliana Bakti Pertiwi (FAMili Jakarta) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top