Skip to main content

Ulasan Cerpen “Mungkin Sebuah Adzab” Karya Joey Pengganti Wiro (FAMili Bandung)

Masjid di sebuah kampung, sepi jamaah. Ketika waktu salat datang, masjid hanya diisi dua orang, satu imam dan satu makmum. Suatu magrib, datang seorang jamaah asing dan bukan penduduk kampung itu. Dia memperkenalkan diri sebagai Pak Ahmad. Imam masjid, Pak Amin, dan Julian menghabiskan waktu bersama Pak Ahmad di masjid malam itu, sambil menunggu waktu isya. Tapi, ketika mereka ingin pulang selepas salat isya, mereka terkejut karena kampung mereka sudah habis disapu banjir bandang. Yang tersisa satu-satunya hanya masjid tempat mereka berteduh malam itu. Dan, Pak Ahmad tiba-tiba hilang dari pandangan.

Cerpen “Mungkin Sebuah Adzab” ini memiliki nilai pelajaran yang terungkap jelas, bahwa Allah akan menolong orang-orang yang ada di jalanNya. Pak Amin dan Julian yang berlindung di rumah Allah, terhindar dari musibah yang mengerikan. Sementara orang-orang kampung yang jauh dariNya mendapat azab dari Allah berupa banjir bandang.

Kelemahan pada penulisan cerpen ini didapati dari segi penulisan yang belum memenuhi kaidah EYD. Penggunaan ungkapan asing seperti alhamdulillah, subhanallah, harus dicetak miring. Tanda koma dan titik diikuti spasi, dan perhatikan juga penggunaan huruf kapital. Pada penulisan cerpen ini, huruf kapital tidak digunakan pada awal kalimat dan huruf pertama petikan langsung.

Untuk penulis, teruslah menulis dan belajar. Penulis yang baik, ia akan selalu mengerakkan pena hari demi hari sehingga tulisannya semakin baik. Bukankah hari esok harus lebih baik daripada hari ini? Tetap semangat!

Salam santun, salam karya, salam semangat.

TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

[BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

MUNGKIN SEBUAH ADZAB


Karya: Joey Pengganti Wiro

Semarak lembayung senja menghias  angkasa,membuat alam kelihatan sangat indah.Pepohonan seakan berdzikir  memanjatkan pujian ke sang pencipta alam semesta.Hewan-hewan berhenti bersuara,Cuma kelelawar yang kelihatan berterbangan memang  diwaktu senja menjelang mahgrib kelelawar waktunya keluar mencari  makan.waktu magrib telah datang saat ini.

Iqomah saja jul ,mungkin  yang lain ngak sholat berjamaah walaupun kita tunggu ,keburu akhir waktu!”kata  pak Amin kepada  Julian yang tadi adzan.Biar kita sholat berjamaah berdua saja katanya lagi.Tanpa disuruh dua kali Julian langsung berdiri  Iqomah dilanjutkan sholat berjamaah Cuma berdua ,satu imam satu makmum.

Aneh memang ,masjid yang megah dan besar tapi yang sholat Cuma berdua,padahal di kampong itu seratus persen beragama islam,tak ada yang mengaku agama lain disitu.Mesjid yang dibangun bergotong royong atas swadaya masyarakat seakan sia-sia b erdiri.atau sebagian warga sudah merasa cukup dengan ikut membangun mesjidnya saja tanpa harus mengisinya,jangankan yang rumahnya jauh ,yang rumahnya hampir berdempetanpssun tak pernah datang untuk ikut sholat berjamaah.Mungkin mereka karena cape habis bekerja seharian jadi sholat di rumah atau ngak pernah sholat sama sekali.wallahualam tak ada yang tahu.

Rakaat ke dua ,pundak Julian ada yang menepuk pelan ,Dia paham benar kalau  ada yang mau ikut berjamaah ,segera dia mundur selangkah agar sejajar dengan orang yang baru datang.Setelah semua selesai Sholat mereka bersalaman,ada yang aneh dibenak Julian orang yang ikut sholat berjamaah asing baginya,bukan penduduk kampung itu,bagaimanapun juga  dia tahu dan kenal semua  orang kampung .”nama saya Ahmad  yang kebetulan lagi dalam perjalanan ,bolehkan ikut sholat sekalian istirahat sebentar disini? Orang itu seakan tahu  apa yang ada dalam hati Julian.”ooohh tentu saja boleh ,malah kami berdua sangat berterima kasih anda telah sudi ikut sholat di mesjid kami”. Pak amin menjawab dengan wajah penuh ramah.Sambil menunggu waktu isya tiba , mereka ngobrol ,keliatan Julian banyak bertanya pada orang baru itu,sesekali  Julian mengangguk angukan kepala seakan mengerti apa yang dijelaskan  oleh pak Ahmad.

Pak Amin yang hidup sebatang kara,bahkan rumahpun dia tak punya,adalah orang yang suka mengurus dan membersihkan mesjid.tiap hari dia berada di mesjid itu bahkan tidurpun disana karena tanahnya di wakapkan untuk mendirikan mesjid ,dia pikir lebih bermanfaat tanahnya dibanggun mesjid karena dia sadar hidup sendiri dan umurpun tak bakal lama lagi , mending tanah yang tidak begitu luas dipake membangun  surga untuk  dia tempati diakhirat kelak.begitulah tujuannya ,dan separuh usianyapun dia pakai  buat memelihara mesjid,sayang mesjid itu tak banyak yang suka mengisinya,Cuma dia dan Julian. Sedangkan Julian seorang anak muda yang tidak begitu mujur hidupnya ,apalagi setelah kedua orang tuanya meninggal,dia hidup seadanya berusaha seadanya dan dia juga yang suka berbagi dengan pak Amin kalau kebetulan dia mendapat rejeki.Pak Aminlah yang telah membimbingnya dengan ilmu agama,dan mereka seakan sudah menjadi satu keluarga.Teman sekampung mereka,para tetangga mereka seakan tak peduli dengan semua yang terjadi sama mereka berdua ,walaupun tak kurang  orang kaya di kampung itu.Pak Amin dan Julian menjalani hidup dengan rasa penuh ikhlas dan selalu sabar dalam menjalani hidup,tak ada kata mengeluh karena prinsipnya hidup ini Cuma sementara dan hidup untuk beribadah pada Allah.

Tak terasa waktu sholat isya sudah datang ,seperti biasa Julian menjadi  muadzin tapi saat ini yang menjadi imam yaitu pak Ahmad,pak Amin sengaja ngasih kesempatan .Terasa sangat khusyuk sholat isya itu suara pak Ahmad terasa menyejukan hati bagi Julian ,baru kali ini Julian merasakan betapa indahnya sholat.

Selesai salam ,satelah bersalaman Pak Ahmad berpamitan mau meneruskan perjalanan.”sengaja saya ajak kalian ngobrol menunggu waktu isya  coba aja lihat apa yang terjadi di luar mesjid  “ kata pak Ahmad.Julian dan Pak Amin setengah berlari menuju teras mesjid daaann  Allahuakbar ! subhanallah Cuma itu kata yang keluar dari mulut mereka ,melihat kampung mereka sudah luluhlantak diterjang banjir bandang ,tak ada yang tersisa ,rumah-rumah sudah tak ada yang berdiri lagi,tetangga mereka entah dimana tak ada yang kelihatan,padahal waktu mereka berada di dalam mesjid tak merasa tak mendengar bencana dasyat itu datang.

Mereka berdua saling pandang ,berlari masuk mesjid lagi dan kagetnya kian bertambah Pak Ahmad yang mereka yakin masih ada di dalam mesjid sekarang sudah tak ada ,entah kemana raibnya.Wallahualam !!

Bandung, 28-03-2011

Sumber gambar: google.com

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…