• Info Terkini

    Wednesday, March 20, 2013

    Ulasan Cerpen “Orange” Karya Arum Tri Handayani (FAMili Semarang)

    Apakah mereka tahu, pagi ini aku sedang jatuh cinta? Bukankah setiap pagi aku memang selalu jatuh cinta? Aku selalu saja jatuh hati, pada suasana dan nuansa pagi seperti ini. Dengan sinar mentari yang membuatku selalu teringat dan terbuai oleh satu demi satu kenangan itu.

    Tapi pagi ini.... adalah pagi yang baru. Aku bertekad untuk menutup dan menyimpan semua kenangan itu, dalam sebuah kotak brankas besi di sudut hati.

    Demikian kutipan cerpen “Orange” yang kita bahas pada kesempatan kali ini. Tokoh Aku ingin menutup kenangan lama. Kenangan di mana ia merasakan cinta yang dalam di sudut hatinya. Cinta yang kemudian ditinggalkan oleh orang yang dicintainya. Cinta yang tak dapat ditolak ketika ia datang, cinta yang hinggap di mana ia ingin tanpa memilih. Manusia juga tidak dapat memilih pada siapa ia harus jatuh cinta. Cinta yang tidak memandang usia, jarak dan waktu.

    Cerita mengalir manis. Penulis mampu melukiskan alam dan suasana yang indah. Berikut juga suasana hati yang porak-poranda dan marah. Suasana yang tidak lagi berwarna, berbaur dan kusam inilah yang dimaksud penulis dengan orange.

    Penulis juga mampu memilih diksi yang bagus. Tapi, ini hanya berupa goresan diary dan gambaran suasana hati tokoh “Aku”. Belum dalam bentuk cerita utuh. Penulis dapat membuat tulisan ini menjadi sebuah cerpen. Menceritakan sebab separuh hati yang hilang. Bagaimana cinta meninggalkan “Aku”, bagaimana pula cinta bisa singgah di hatinya. Penulis dapat pula menceritakan sosok orang yang selalu mengisi ruang hatinya, sehingga dia mampu hadir kapan pun dan di mana pun.

    Kesalahan pada penulisan tidak banyak ditemukan, hanya pada beberapa bagian, di antaranya: “burung pipit” seharusnya ditulis “burung Pipit”. “Hal nya” seharusnya tidak dipisah (“halnya”). “Cinta ku” seharusnya ditulis “cintaku” (tidak menggunakan spasi). Untuk kata asing “Sunrise” dicetak miring “Sunrise.”

    Kepada penulis, teruslah menulis. Kembangkan cerita sehingga menjadi sebuah cerpen yang  layak dikirim ke media massa. Biasanya, media menerima tulisan cerpen 4-6 halaman A4, huruf Times New Roman 12 dan 1 setengah spasi (tergantung media).

    Tetap semangat, ya?

    Salam santun, salam karya

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    ORANGE

    Karya: Arum Tri Handayani (FAMili Semarang)

    Suatu pagi, dibulan Agustus 2012.

    Aku duduk disebuah bangku panjang yang bertuliskan ”Sunrise” dengan cat berwarna orange. Dengan pemandangan disekitarku....yang pagi ini seolah-olah semuanya berwarna jingga. Dimulai dari sinar mentari, tanah tempat kedua kakiku berpijak, rerumputan, dahan-dahan kering, serta kelopak bunga Flamboyan.

    Burung-burung pipit kecil berterbangan dari satu dahan Flamboyan, ke dahan pohon Flamboyan yang lain. Hingga dahan salah satu pohon bergoyang, dan sehelai kelopak Flamboyan rontok lalu melayang jatuh diatas halaman buku diari yang sedang aku tulis. Mengagetkanku, dan membuatku sedikit kehilangan konsentrasi.

    Apakah mereka tahu, pagi ini aku sedang jatuh cinta?
    Bukankah setiap pagi aku memang selalu jatuh cinta?
    Aku selalu saja jatuh hati, pada suasana dan nuansa pagi seperti ini.
    Dengan sinar mentari yang membuatku selalu teringat dan terbuai oleh satu demi satu kenangan itu.

    Tapi pagi ini.... adalah pagi yang baru. Aku bertekad untuk menutup dan menyimpan semua kenangan itu, dalam sebuah kotak brankas besi disudut hati.

    Aku tak membuang hatiku yang lama, tapi aku ingin memperbarui dan menata kembali isinya. Dimana isinya adalah: Peristiwa kesedihan, kekecewaan, kemarahan, kegelisahan, segala warna-warna kacau masa lalu yang membaur tidak rata.  Juga sebagian hal... yang berisi tentang dirinya. Dia. Entahlah. Aku tak ingat kapan mulai mencintainya. Memikirkannya, dan menempatkannya ke dalam salah satu ruang hati. Mulai mengingat namanya, dan hingga akhirnya selalu ingat wajah, senyum, dan kerlingan matanya saat diam-diam mencuri pandang untuk melihatku. Tiba-tiba dan ajaib, dia selalu ada dimana pun aku berada. Tapi aku yakin itu hanya sampai dengan tahun 2012. Setelah dia pergi, dan memutuskan untuk mencoba melupakanku selamanya. Aku kehilangan separuh hatiku, yang tiba-tiba mengering lalu berterbangan tertiup angin dan tak mungkin kembali. Aku protes kepada kenyataan,

    ”Semudah itukah hati bisa berpindah? Semudah itukah yang disebut cinta? Pergi tanpa pamit seenaknya, dan mudah dilupakan begitu saja?”

    Untuk beberapa lama, aku tak bisa bedakan mana air hujan dan air mata. Mereka sama-sama turun dan mengalir begitu deras. 

    Kini, tinggallah separuh hati yang kosong. Ini bukan mimpi, tapi seperti mimpi. Ini mimpi yang cukup panjang, mendebarkan, sekaligus melelahkan. Aku tersesat. Dalam keyakinan pada sesuatu yang disebut cinta. Cinta yang ternyata dikemudian hari dengan mudah pergi meninggalkanku. Aku tak bisa berbuat apa-apa, dan mulai bertanya-tanya pada hati. Lalu mulai menemukan satu kata yang kurasa cocok dan pas untukku. “TERLALU YAKIN, TERLALU PERCAYA.”

    “Cinta, tak pernah mengucapkan kata maaf”. Petikan kalimat dialog dari sebuah serial yang beberapa hari lalu kulihat. Ya, aku rasa itu memang benar. Bukankah cinta, adalah suatu anugerah? Sebuah sinar kebahagiaan, gift spesial dari Tuhan? Siapapun takkan mampu menolaknya saat dia datang. Siap ataupun tidak siap, dalam keadaan apapun dan dimanapun kita berada. Tak ada kata ”Maaf, belum siap” untuk cinta. Dia datang, takkan memandang usia, jarak ataupun waktu. Dia ada dimana-mana.

    Sama hal nya yang pernah kurasakan untuknya. Meski aku tahu dia bukanlah cinta pertama, tapi dia lebih berkesan dari pada cinta ku yang pertama. Aku, belum pernah menyimpan perasaan yang cukup lama seperti yang kurasakan untuknya. Bertahun-tahun, dalam waktu yang lama. Jika akhirnya dia pergi meninggalkanku, haruskah aku membencinya? Bila selama ini hatiku selalu dipenuhi oleh rasa bahagia. Saat aku sedang sedih, marah, atau frustasi dengan suatu hal, hanya dengan mengingat wajah dan senyumnya saja bisa menjadi pengobat hatiku yang mujarab.

    Ada juga pepatah yang mengatakan, ”Cinta dan Benci itu hanya berbeda tipis”. Aku takut, kalau membencinya maka aku akan semakin menyukainya. Aku tidak akan pernah membencinya. Menurutku itu sungguh buruk. Maka aku harus melepaskannya pergi. Aku akan melepaskannya, dengan sepenuh hati. Seperti aku yang dulu pernah mencintai dan dicintainya dengan sepenuh hati. Saat ini, aku masih ingat dengan senyumnya. Perlahan-lahan tapi pasti aku akan menghapus lukisan wajahnya dari pikiranku.

    Aku membayangkan semua itu sangat sulit. Pertama-tama alisnya, kedua matanya, bibirnya, lalu senyumnya. Itu semua harus kuhapus, setelah sekian lama terlukis dengan begitu luar biasa indah dalam benakku. Aku tahu, kenangan cintaku ini takkan mungkin hilang dari dalam hidupku. Ini adalah sejarah dalam buku riwayatku selama aku hidup didunia. Menjadi salah satu kenangan dimasa tuaku nanti. 

    ”Maaf.” Tuhan, aku minta maaf.  Maafkan aku karena benar-benar telah jatuh cinta. Tulus. Aku tulus menyukainya. Aku selalu yakin, cintaku tak pernah salah. Sudah sekian lama, dan aku menikmatinya. Perasaan-perasaan aneh dan asing yang merasuk lalu menjalar ke seluruh tubuh, hingga menggetarkan hati. Degup jantung yang penuh irama ketika bertemu kembali dengannya, sensasi kehangatan lewat senyumnya yang memelukku sekian lama.

    ”Maaf”. Cinta tak pernah mengucapkan kata maaf. Cintaku menderita terlalu banyak kesedihan, karena terlalu banyak menanggung ”Maaf”.

    ” Lalu, inikah yang harus kuterima? Aku takkan sanggup berdiri kembali dengan kedua kakiku bila kelak harus kehilangan lagi untuk kesekian kalinya. Coba rasakan kedua lenganku yang gemetar, dan hatiku yang lelah. Kenapa Tuhan memberikan perasaan ini, jika kami tak bisa berjalan seirama? Inikah proses pendewasaan yang Tuhan maksud? Inikah yang disebut takdir dan jalan terbaik ? ” 

    Sekarang dan selamanya ....
    Aku harus yakin, aku bahagia meski harus tanpa dirinya. Aku masih bisa tersenyum, melakukan hal-hal yang menyenangkan dan luar biasa tanpa dirinya. Aku dapat melangkah tegak, tanpa dirinya. Karena aku harus tetap yakin dan percaya, cinta yang Tuhan anugerahkan padaku takkan mati. Cintaku masih ada, meski bukan lagi untuk dirinya.

    Menikmati keindahan mentari pagi, dan mencintai hangat sinarnya dari balik tirai jendela kamar. Kehidupanku kembali membaik. Seperti luka hatiku yang sedikit demi sedikit mulai pulih. Apapun yang terjadi, hidup terus berjalan. Meski sulit, dijaman yang serba sulit, tetap terimakasih…. Untuk cinta.

    Arum Tri H, IDFAM978U, Semarang

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Orange” Karya Arum Tri Handayani (FAMili Semarang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top