• Info Terkini

    Sunday, March 17, 2013

    Ulasan Cerpen “Radio di Ufuk Timur” Karya Debby Amalia Briliansari (FAMili Jombang)

    “Radio di Ufuk Timur” sebuah cerpen yang menceritakan tentang seorang gadis mahasiswa kedokteran yang sangat mengidolakan kakeknya. Kakek yang hidup penuh semangat dan cinta, kakek yang mengajarkannya cinta.

    Kakek pula yang meninggalkan sebuah radio kecil yang setia menemaninya, radio yang diam jika baterai habis. Cerita kemudian mengalir, bercerita tentang ‘aku’ yang mencari cinta. Cinta pertama yang sia-sia karena ‘aku’ pindah ke lain hati. Perjalanan cinta belum selesai karena kemudian ‘aku’ pindah lagi ke hati seorang pemuda yang bernama Billy. Billy yang tidak begitu memperhatikannya sebagai sesuatu yang istimewa. ‘Aku’ mulai merasa bahwa ia menyia-nyiakan cinta pertama. Cinta seorang lelaki yang sangat melindunginya. Akhirnya, ‘aku’ menjauh dari Billy. Cinta, memang rumit.

    Cerpen “Radio di Ufuk Timur” disajikan cukup menarik. Sebuah kisah yang dibumbui siaran radio. Radio yang setia menemani ‘aku’, radio warisan kakek. Nilai pembelajaran yang didapat dari cerpen ini bahwa jangan pernah menyia-nyiakan orang yang dengan tulus menyayangi kita. Kelemahan pada cerpen ini ada pada penulisan bahasa asing yang seharusnya menggunakan cetak miring. Kata sapaan langsung harus menggunakan huruf kapital kalimat “Mau ke mana emang, kek?” seharusnya ditulis “Mau ke mana emang, Kek?” Penggunaan tanda baca juga harus diperhatikan, di mana seharusnya meletakkan titik dan koma. Seperti kalimat, “Hari-hariku tak pernah sepi karena kehadiran si mungil.Ya. Radio ini begitu istimewa”, pada tanda titik setelah Ya sebaiknya menggunakan tanda koma.

    Untuk penulis cerpen “Radio di Ufuk Timur” teruslah menulis dan asah pena agar semakin tajam. Jangan lupa untuk mengirimkan karyamu ke media, ya? Sebelum mengirim, jangan lupa untuk melakukan editing dan gunakan bahasa sesuai kaedah EYD (kecuali dialog, tentu saja). Biasanya, untuk tulisan ke media tidak perlu menggunakan PDF, cukup di MS Word saja. Dengan jenis huruf Times New Roman 12, kertas A4 dan jumlah halaman 5-7 (tergantung kebutuhan media bersangkutan).

    Teruslah menulis, tetap semangat.

    Salam santun, salam karya, salam semangat

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Radio di Ufuk Timur


    Karya: Debby Amalia Briliansari

    Oooh, jiwa muudaaa,
    Mudah bercintaaaa, mudah putus juga
    Hidup di dunia sementara
    Pencarian cinta di hati, janganlah berhenti
    Hei jiwa muda, cepat kejar cinta
    Indahnyaaa bercinta saat muda
    Indahnyaaa bercinta di dunia
    Indahnyaaa bercinta sampai tua
    Cinta masa mudaaa, cinta paling indaaaah

    Pagi yang indah diawali dengan lagu Nidji dari radio kesayanganku. Inilah hidup. Penuh dengan cerita cinta. Semua insan di bumi ini tahu, cinta itu rumit. Lebih rumit dari rumus fisika atau matematika manapun. Lebih rumit dari menemukan piala Triwizard di labirin Harry Potter and The Goblet of Fire, yang ternyata pada ujungnya harus melawan Voldemort, dan Cedric Diggory menjadi korban. Yang jelas, cinta itu lebih rumit dari mata kuliah anatomi, mata kuliah yang paling tidak mudah dimengerti oleh hati siapapun, khususnya hati para mahasiswa kedokteran.

    Begitu juga dengan radio ini. Aku begitu cinta dengan benda kotak mungil ini. Meski setiap hari aku kurung berjam-jam dalam kantong jaket, tetapi si mungil ini tak pernah protes. Beginilah hari-hariku selalu ditemani si mungil. Aku bisa mendengarkan si mungil bernyanyi, mengobrol, saling bercerita –karena memang radio. Walaupun tak jarang juga si mungil diam –karena baterai habis.

    Hari-hariku tak pernah sepi karena kehadiran si mungil. Ya. Radio ini begitu istimewa. Seseorang memberikan si mungil ini kepadaku 2 tahun yang lalu, sebelum ia pergi meninggalkan dunia ini –demi cinta.

    Dari orang inilah aku belajar banyak hal, tentang kejujuran, cinta, kesetiaan, kepercayaan, tanggungjawab, sahabat, logika, impian, kesabaran, rasa bersyukur, dan orang-orang yang baik. Semua kenangan bersamanya takkan pernah terhapus. Terima kasih Tuhanku.

    Seseorang itu adalah kakekku. Usia yang hampir mencapai kepala 7 tak membuatnya berhenti hidup. Ia begitu muda, bersemangat, dan selalu tersenyum. Aku begitu sayang padanya, melebihi kedua orang tuaku yang entah sekarang sedang merantau ke mana –demi cinta.

    Aku ingat, saking merasa selalu muda, kakekku keukeuh menyemir rambutnya menjadi hitam.

    “Kalau putih ya biarin putih. Kakek ini ada-ada aja.”

    “Haha, kamu ini, udah, jangan cerewet. Biar nenek jatuh cinta lagi sama kakek gitu lho, nduk.”

    Kakek bersiul di depan kaca. Tangannya menyisir rambut. Ia mengambil foto nenek sambil berlalu pergi. “Aku tampan kan, sayang?” Ia bergumam sendiri. Terlihat senyumnya mengembang. Matanya tak lepas dari foto seorang wanita yang telah mengambil hatinya, yang telah mendampingi hidupnya –meski tak lama.

    Tubuhnya menghilang di balik pintu. Tiba-tiba serasa ada yang menusuk di hatiku. Aku terenyuh. Tak terasa air mataku mengalir. Kakekku begitu cinta pada istrinya. Tak pernah letih ia memikirkan nenek. Aku tahu, wanita itu benar-benar telah mengisi hatinya. Dan takkan ada yang bisa menggantikan nenek di hatinya.

    Dulu, teras rumah adalah tempat favoritku dan kakek. Setiap sore, aku, kakek, dan si mungil selalu bersantai ria di teras rumah. Dulu, teras rumah tak pernah sepi. Tawa, senda gurau, dan nyanyian si mungil selalu menghiasi rumah kami di sore hari. Tapi itu dulu, 2 tahun yang lalu.

    ***

    Muuungkin inilah rasanyaaa
    Cinta pada pandang pertamaaa
    Senyuman manismu ituuu
    Buat akuuuu, dag dig dug meluluuu
    “Yak, lagu bagus dari boyband cilik Coboy Junior udah diputer. Ayo yang mau request masih banyak waktu lho sampe jam 5 sore nanti, so masih ditunggu requestnya ya.....”

    Tanganku masih memeluk boneka Teddy Bear biru besar, kado dari Billy. Billy, Billy, dan Billy. Seorang calon dokter yang telah mencuri hatiku. Seorang calon dokter yang berjanji akan menikahiku. Seorang calon dokter yang sangat sangat sangat tidak bisa kumengerti. Dan aku tetap bertahan, meski hatiku telah tergores luka karenanya. Sudah setengah tahun aku bersamanya –bersama Billy. Dia baik –cukup itu kurasa. Tapi ya, sepertinya aku salah memilih. Hei hei! Sebentar, aku tahu, Tuhan pasti punya banyak alasan mempertemukanku dengannya. Everythings happens for a reason. Kudengar hatiku mulai berbicara. Semua begitu rumit.

    Entah, aku tak bahagia bersamanya –tepatnya mungkin belum bahagia. Aku ingin lepas darinya. Jauh darinya. Tapi ah, kenapa aku masih mempertahankannya? Apakah aku memang sayang padanya? Pikiranku menerawang jauh, jauh ke langit-langit kamar. Kakek, andai saja engkau di sini. Akui ingin cerita banyak padamu, kek...

    Cinta pertama. Untuk pertama kalinya aku menaruh hati pada seorang laki-laki. Masa-masa sekolah, masa putih abu-abu. Masa-masa yang paling indah, begitu kata orang. Ya, memang benar –dan itu bukan Billy.

    “Jatuh cintaaa, berjuta rasanyaaa, nananaaa...” Kakek bernyanyi waktu itu. “Siapakah laki-laki yang sudah mengambil hati cucuku ini?? Siapa yaaa??” Tak henti-hentinya kakek menggodaku.

    “Sssstt, kakek jangan rame-rame ah, maluuu...”

    “Hahaha. Sini-sini, nduk. Ngobrol sama kakek.”

    Lantas aku beranjak, aku duduk di depan kakek. Senyumnya begitu mengembang, terlalu mengembang malah. “Kakeeek, jangan senyum-senyum gitu dong.” protesku.

    “Oke oke, hahaha.” Tawanya terdengar senang. “Eh nduk, kamu tau kenapa Tuhan menciptakan kita beda-beda?”

    “Eh?” Heran sebenarnya. “Gak tau, kek. Kenapa emang?”

    “Itulah alasan kenapa Tuhan menciptakan cinta. Karena dengan cinta, semua yang beda-beda bisa menyatu.”

    Kakek tersenyum. Seulas senyuman yang begitu tulus.

    Astaga, ternyata kakekku ini romantis sekali, hatinya begitu bijak. Tak salah nenek memilih kakek. Dan aku hanya bisa terdiam. Nek, kakek mencintaimu, ia benar-benar membutuhkanmu....

    Dan cinta pertamaku, ternyata tak bertepuk sebelah tangan. Aku bahagia. Dia begitu baik dan benar-benar menyayangiku sepenuh hati. Perjuangannya mendapatkan diriku takkan pernah aku lupakan, bahkan sampai detik ini. Maafkan aku, Billy sayang.

    Dia, cinta pertamaku, berjuang selama 3 tahun untuk mendapatkanku. Di manapun aku, dia selalu ada. “Biar aku bisa jagain kamu..” katanya. Dan sekali lagi, aku hanya bisa diam. Ya Tuhan...

    3 tahun yang lalu. 13 Oktober 2009.

    Aku ingat bagaimana raut wajahnya kala itu, begitu pucat, dan berkeringat dingin. Untuk pertama kalinya, dia berkata kepadaku, tepat di depanku, di depan mataku, “Emmm, a-akuu, akuu..”

    “Ya?”

    “Yang aku su-suka itu kamu...”

    Seperti ada buah kelapa yang jatuh di atas kepalaku, rasanya dunia ini berputar-putar. Aku ingin pingsan karena begitu bahagia. Aku bersyukur sekali karena Tuhan telah mengenalkanku dengan seorang adam seperti dirinya.

    Cinta pertamaku, sosok laki-laki yang tidak mudah putus asa, bertanggungjawab, pandai, dan selalu punya mimpi. Dia tampan, kurus, tinggi, bak tiang bendera di depan rumah. Namun bukan itu semua yang membuatku jatuh hati padanya. Entah apa aku juga tak pernah tahu. Yang aku tahu, setiap di dekatnya aku selalu merasa nyaman. Seperti ada yang menjagaku, melindungiku.

    Cinta pertamaku, dia itu aneh, hiperaktif, dan paling tidak bisa diam. Aneh ya, aku bisa jatuh cinta pada orang aneh. Tapi jauh dari relung hatiku, aku memang mencintainya. Aku mencintai dia apa adanya. Dan ia mencintaiku apa adanya.

    “Nduk, mau ikut kakek gak?”

    “Mau ke mana emang, kek?”

    “Temenin kakek ke makam nenek yuk?”

    Sejenak kakek diam. “Kakek udah kangen berat sama nenek.” Lagi-lagi kakek tersenyum.

    “Ayo, dengan senang hati, kakekku sayang.” Aku tersenyum, lalu menggandeng tangannya.

    Dulu, hampir setiap minggu kakek selalu mengunjungi makam nenek. Di makam ini lah, kakek selalu bersenda gurau dengan nenek, bercerita, tertawa bersama, seakan semuanya nyata, meski kenyataannya hanya sebongkah batu. Dan setiap kami ke makam, aku hanya bisa tersenyum, sesak dada ini menahan air mata yang terus mendesak keluar. Mungkin tak akan pernah kutemukan lagi sosok laki-laki seperti kakek. Seperti cinta pertamaku.

    Kemesraan iniiiii
    Janganlah cepat berlaaluuu
    Kemesraan iniiii
    Inginku kenang selaaluuu

    Ah, lagu ini. Kakekku suka sekali dengan lagu lama yang satu ini. Setiap si mungil menyanyi lagu ini, rumahku selalu ramai. Ini lagu kenangan, nduk. Begitu katanya. Umm, jadi kangen nyanyian kakek. Pelukanku semakin erat, mungkin boneka Teddy-ku sudah tidak bisa bernafas sekarang.

    “Lanjuutt. Ada Billy lagi di kamar aja. Ini salamnya buat temen-temenku semangat ya buat ujian besok, moga dokter yang jaga gak ketat-ketat amat. Terus buat cewekku, aku kangen banget sama kamu. Lanjut lagi di bawah Billy ada --- ”

    Eh? Billy? Ini Billy-ku kah?

    Telfon aja lah, pikirku. Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. “Tuh kan, mesti deh, ini anak hobinya ngilang, ke mana coba? Dari kemaren gak aktif mulu.” Aku mengomel sendiri. “Seneng banget sih bikin aku khawatir?” Omelanku belum berhenti. “Heran deh.”

    Radio kumatikan. “Ah sudahlah, terserah kamu deh, Bil. Capek lama-lama mikirin kamu. Kalo lagi butuh aja, baru sms, langsung telfon. Aku gak ngerti

    sama kamu.” Dan aku hanya bisa mengomel pada boneka Teddy darinya. Maaf ya Teddy. Aku memutuskan untuk tidur sejenak, melupakan segala hal tentangnya.

    ***

    Aku menyia-nyiakannya. Aku menyia-nyiakan cinta pertamaku. 3 tahun bersama, sampai akhirnya jarak yang memisahkan kami. Kami kuliah di universitas berbeda, di kota berbeda, di fakultas yang berbeda.

    6 bulan sudah aku tak bertemu dengannya. Sepanjang perjalanan waktu, aku dipertemukan Tuhan dengan seorang kakak yang sangat baik hati. Bukan, ia bukan Billy. Kakak itu benar-benar sangat baik. Seorang calon dokter yang baik di masa depan. Ia seperti menggantikan peran cinta pertamaku di sini.

    Hingga tiba saatnya kakak yang baik itu mengungkapkan perasaannya padaku. “Jujur, aku suka kamu. Maukah kamu jadi calon istriku?”

    Deg! Ya Tuhan, tolong aku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, seorang laki-laki dewasa, calon dokter, memintaku menjadi calon istrinya. Cinta pertamaku, aku harus bagaimana? Aku takut, aku tak mau menduakanmu, aku tak mau menyakitimu.

    Hatiku meluluh. Egoku memilih kakak yang baik itu, dokter di masa depan. Dan aku melepaskannya. Maafkan aku cinta pertamaku, aku harus melepaskanmu. Semua ini demi kita, demi kamu, demi aku, demi masa depan...

    Kakak yang baik itu tak pernah tahu. Aku menangis.

    Si mungil diam. Terlalu sepi. Rumah ini sepi. Kunyalakan kembali radio di kamarku. “Pendengar, cuaca hari ini di sini tidak terlalu baik. Mendung dan---“

    Mendung seperti hatiku hari ini.

    Andai kakek di sini sekarang, mungkin akan terdengar lagi kata-kata itu.

    “Ingat nduk, jangan menyia-nyiakan orang yang menyayangi kita, sebelum kita menyesal, karena kita tak akan pernah menemukan orang yang sama untuk kedua kalinya...”

    Ah kakek, aku menyesal sekarang. Ego memang tak pernah sejujur hati.

    Sebulan aku bersama kakak yang baik itu. Ia benar-benar tulus kepadaku.

    Ia selalu ada untukku, kapan pun. Tak pernah sekalipun ia menyentuhku dengan tangannya, bahkan dengan gulungan kertas sekalipun. Ia benar-benar menjagaku, menghormatiku sebagai seorang hawa. Aku senang sekali punya kakak yang baik itu di sini, di dekatku. Aku bahagia.

    Sampai aku tersadar.

    Ya Tuhan, aku tak punya perasaan apapun padanya. Kenapa seperti ini? Kenapa? Ya, aku baru tersadar, aku tak mencintainya seperti ia mencintaiku.

    Dan sekali lagi aku menyia-nyiakan seseorang yang benar-benar menyayangiku. Aku melepaskannya. Untuk kedua kalinya. Maafkan aku, kak. Maafkan aku...

    Sekarang yang ada hanya seorang Billy. Aku menyesal, sangat menyesal. Ia berbeda. Sangat berbeda hingga aku tak bisa mengerti.

    Aaakuu mencoba memberikan segala yang telah aku punya
    Namun semuanya hanya sia-siaa, percumaa
    Akuuu t’lah coba untuk memahamimuu
    Tapi kau tak peduliii

    Si mungil bernyanyi lagi. Saat ini hanya si mungil yang selalu di dekatku. Hanya radio ini yang selalu mengerti diriku, hatiku. Aku lebih rela melepaskan Billy daripada melepaskan si mungil ini.

    Sampai kapan bisa membuatmu mengertiii
    Membuat aku bermaknaa
    Di hatimuuuuu, di matamuuu
    Sayaaangg..

    Andai kamu mau mengerti. Andai kamu mau memahami semuanya. Kamu pernah berjanji mau berubah demi aku. Ingatkah kamu? Ah Billy, aku tahu kamu sayang padaku. Tunjukkan itu padaku, karena aku ada. Aku ada di sini.

    Langit subuh terlihat masih gelap dari jendela kereta api jurusan Jogja, meski matahari sudah mulai bangun. Aku ingat semuanya. Ya, tapi itu dulu, setahun yang lalu. Billy sayang, maaf aku pergi. Aku tak meninggalkanmu, aku hanya menjauh darimu.

    Terima kasih Tuhanku.

    Dua tahun aku berjuang untuk menggapai impianku, akhirnya aku menjadi seorang calon dokter. Impian itu tidak dapat ditunggu, impian itu tidak akan datang sendiri. Tetaplah berusaha sekuat mungkin. Kita tak pernah tahu semua hikmah di balik kegagalan.

    Terngiang kalimat itu di pikiranku. Terima kasih cinta pertamaku.

    Untuk kakak yang baik, terima kasih telah mengajariku banyak hal tentang cinta, keberanian, dan persahabatan. Terima kasih kak.

    Aku telah mengubur semua kenangan itu. Billy, meski aku masih menjadi miliknya, tapi aku tak peduli lagi. Biarlah semua mengalir. Entah bagaimana akhirnya, kita tak pernah tahu.

    Kakek, aku berhasil. Aku berhasil, kek. Aku jadi calon dokter sekarang. Terima kasih kakekku sayang. Aku yakin engkau bahagia melihatku dari sana.

    Aku tersenyum. Aku rindu padamu, kek...

    “Kata Spongebob, tak akan ada bersih jika tidak ada kotor, tak akan ada kotor jika tak ada bersih. Seperti halnya kita, tak akan ada orang baik jika tak ada orang yang buruk, dan tak akan ada orang buruk jika tak ada orang baik...” Ah, kakek...

    Mimpiii adalah kunciii
    Untuk kitaaa menaklukkan dunia
    Berlarilaaah tanpa lelaah
    Sampai engkauuu meraihnyaaa
    Laskaaar pela----

    Eh? Kok berhenti?

    Ternyata si mungil diam lagi. Oh, tidak. Dan aku lupa tak membawa baterai cadangan.

    ***

    With love,
    Bee

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Radio di Ufuk Timur” Karya Debby Amalia Briliansari (FAMili Jombang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top