• Info Terkini

    Friday, March 22, 2013

    Ulasan Cerpen “Tokek” Karya Mardhiyan Novita M.Z (FAMili Sumatera Barat)

    Adalah tokoh Aku, seorang yatim piatu yang sudah sembilan tahun menutup diri. Tapi dia kemudian menemukan suasana baru setelah ia tinggal satu kamar kos dengan seorang perempuan yang dipanggilnya Kak Fira. Kak Fira yang tulus memberinya kasih sayang, yang membuatnya sadar bahwa ia masih membutuhkan orang lain dan tidak bisa hidup sendiri. Tapi, ‘Aku’ masih belum mampu untuk mengontrol emosinya dan masih sangat egois. Sehingga Kak Fira meninggalkannya, merajuk. Terjadilah dialog dengan seekor Tokek yang selama ini rajin ‘berkicau’ di depan kamar mereka. Dan, ketika dialog dengan Tokek selesai dan Aku mulai ingin merubah keegoisannya, Kak Fira pulang.

    Cerpen yang berjudul Tokek ini, ditulis Mardhiyan Novita M.Z (IDFAM1078M). Cerpen yang kaya diksi, permainan kata yang apik dan manis, juga puitis. Tapi, ada beberapa kekurangan yang harus menjadi catatan bagi penulis. Penggunaan kata “Perempuanku” diulang sebanyak dua kali, “Perempuanku, yang paling mengerti ke-aku-an-ku” dan “Perempuanku, lebih tepat seperti itu”. Penggunaan kata “Perempuanku” dapat menimbulkan konotasi pasangan kelamin, sama seperti “Lelakiku”. Maka, berhati-hatilah karena dapat menimbulkan konotasi negatif, perempuan yang menyukai perempuan.

    Selain itu, dalam sebuah cerpen alur cerita itu harus jelas dan tuntas, tidak mengambang. Dalam cerpen Tokek, masih menyisakan pertanyaan, “Tugas kelompok apa yang menyebabkan ‘Aku’ berkata kasar kepada kak Fira? sehingga kak Fira begitu marahnya.” Penggunaan kata dan kalimat puitis bagus, asal jangan kehilangan makna dari cerita. Perhatikan pula penggunaan EYD dan penggunaan huruf kapital. Pada kata “kak Fira” sebaiknya ditulis “Kak Fira”.

    Bagi penulis, teruslah menulis. Tulisan akan semakin bagus jika terus diasah, seperti mengasah pisau agar semakin tajam. Tetap semangat, ya? Ayo, menulis lagi.

    Salam santun, salam karya.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    TOKEK

    Karya: Mardhiyan Novita M.Z (FAM1078M )

    Kipas kecil berwarna biru menggeleng-geleng pelan sambil menghembuskan napasnya yang hambar. Sore telah mewarisi kecerahan siang, hingga tiada abu-abu bersama awan. Aku menatap ujung pulpen dengan geram. Ingin kugoreskan bibirnya pada putih kertas. Menorehkan tinta dengan kejam dan keras. Sebuah bukti, aku sedang dikuasai raja marah berpengawal iblis-iblis. Hanya seorang penipu ulung yang berpura-pura menuliskan kata manis sementara hatinya meringis. Aku bukan penipu. Bukan juga si cupu yang akan menangis. Mungkin betinaku akan berubah menjadi jantan, tetapi  garangku juga bisa berubah menjadi putri pemalu. Tinggal pilih, kertas yang akan kuhujam, atau setan yang menghunus imanku secara perlahan?

    Aku masih memainkan sebuah pulpen baru, hadiah dari seorang kakak. Perempuanku yang paling mengerti ke-aku-an-ku. Dia berpesan supaya pulpen ini menari gemulai di layar permai, jangan sampai mencipta gaduh yang mengerang aduh. Lima detik kutatap dengan sorot mata tajam, seolah-olah siap untuk menyedot tinta hitam. Aku perhatikan semakin dekat. Posisi dudukku dijajah pembaringan, aku rebah. Titik bibir pulpen sejajar dengan titik hitam bola mataku, dua detik berlalu, bibir pulpen merayu puncak hidungku, dua detik berikutnya mendarat di merah bibirku. Kukecup manis dan aku segera bangkit mencari kertas, kutulis satu kalimat singkat:

    Aku bukan si Tokek yang meragukan.

    ***

    Senja baru saja melambai. Bulan yang tak akan pernah diringkihkan anai-anai, bersinar permai. Aku menerima aba-aba untuk bersantai. Usai salam fardhu Maghrib, kunadakan ayat-ayat al-Qur’an. Aku tersenyum elok sebagai seorang perempuan. Sajadah memang tempat tepat untuk memadu kasih antara seorang insan dengan sang tuan, Ar-Rahman. Lima menit kudiamkan diri menatap lembaran tugas yang harus kuselesaikan malam ini. Tugas kuliah yang sempat menguji ketangguhanku sebagai seorang muslimah. Tugas kelompok yang akan kutuntaskan secara individual. Dan masalah dengan si pemberi pulpen pun menambah beban.

    Dingin menyepoi rambut-rambut halus di tanganku. Rembulan membeku, kehilangan aura si gadis ungu. Ungu warna janda, anggapan banyak orang. Pantaslah kusukai, ungu menepikan hadirku pada lembah plin-plan kehidupan.

    Menit waktu tak cukup menguras marahku, butuh berjam-jam kubongkar benih setan yang ditanam seseorang dalam tubuhku, si teman satu kelompok. Berkali-kali kuhirup napas panjang, berharap udara surga menstabilkan kerja paru-paruku, aku tidak ingin sesak. Bukankah hidupku yang kini sejatinya memang menyesakkan? Ah! Gadis buta, bisu, dan tuli sepertiku harus segera terjaga dari mimpi yang kuskenariokan. Aku tidak melihat bahwa ada dunia luar yang menyediakan manusia jadi-jadian berwatak singa si raja hutan, ganas. Aku tidak sanggup berteriak saat kera-kera dunia mencabik batinku, nahas. Bahkan, aku tidak mendengar gonggongan anjing berbuku yang menyoraki garis singgung amanah yang diberikan padaku, tugas kelompok yang mengorek watak-watak jin bertopeng, menakutkan. Hanya suara tokek yang menyelamatkan kebisuanku semenjak aku mendiami sebuah kosan sepi.

    Al-Hayyu memberi jeda ruang antara aku dengan ayah ibu. Sembilantahun kusandang gelar yatim piatu. Semenjak aku hijrah ke kota ini demi ilmu, aku berupaya menutup diri, mengunci hati, rapat-rapat. Tetapi, seseorang dengan bijaksananya menyeretku dalam sebuah kehidupan yang membuatku meyakinkan hati, bahwa dunia bukan milikku. Tokek saja selalu ribut mencari kawan untuk bernyanyi, apalagi aku yang ditakdirkan sebagai manusia.

    Si kakak. Dia memenuhi segala ruang imajinasiku, berbagi rasa sekaligus dia yang mengenalkan rasa yang kini mendominasi hati.Siang tadi aku membentaknya sebagai luapan rasa kesal terhadap tugas dan teman satu kelompok. Ada kata kasar yang tak seharusnya kungiangkan di telinganya, sehingga membuatnya terdiam dan menampakkan wajah dengan sinar redup. Ya! Wajahnya yang selalu bercahaya ceria di depanku tiba-tiba  padam dan mencipta hening. Aku pun terdiam, mengutuk lidah yang tak bisa diam, memarahi hati yang tak bisa menempatkan posisi kemarahan.

    Perempuanku, lebih tepat seperti itu. Namanya Fira, kakak angkatan di jurusanku. Banyak belajar dariku dan aku pun banyak belajar darinya. Bukankah indah ukhuwahku dengannya? Tapi, ada satu hal yang selalu kusesali, jiwaku yang keras selalu gagal untuk memahami kelembutan hatinya. Kami satu ruang kamar kos, satu kasur. Kelancanganku menyayangi si bungsu merubah segala prosedur rancangan hari-hariku. Si biru yang mencoba melebur bersama ungu, lagi-lagi kupastikan, dia perempuanku.

    Selain dia, ada seekor sahabat yang paling setia mengikuti alur kebersamaanku dengan Kak Fira. Tokek. Binatang yang hanya kudengar suaranya itu baru hadir di depan kamar kos setelah kehadiranku sebagai orang baru di kamar ini, itulah pengakuan Kak Fira. Menurutku biasa saja, tidak ada keistimewaan tokek, tetapi bagi Kak Fira, tokek menjadi hakim di antara kami. Si tokek hanya bersuara saat aku dan Kak Fira sedang bercerita di atas kasur ketika menjelang tidur dan saat aku dengan Kak Fira berdebat serius. Tokek mengadili kebahagiaan dan permasalah kami.

    Hari-hariku bersama Kak Fira sangat bermakna, susah kuuraikan betapa erat kasih sayang ini. Aku perempuan normal yang memiliki seorang perempuan. Kemesraan terbingkai di atas sajadah dan di meja belajar. Sesekali bermanja di atas kasur, menjelang dan bangun tidur. Kemanjaan seorang adik pada kakaknya, juga kakak pada adiknya yang terkadang lebih kekanak-kanakkan.

    Ah! Malam ini aku ingin fokus pada tugas. Sedangkan dia? Dimana dia? Gara-gara keegoisanku, malam ini dia izin tidur di ruang lain, kos kawannya. Terpaksa aku sendiri di ruangnya.

    Seminggu permasalahan kami mengundang bisu. Kak Fira pulang ke kosan hanya saat darurat, menjemput pakaian, atau sekedar mengambil buku pelajaran. Merajuk. Itulah yang ia tunjukkan pada sang dinda yang terlalu lemah mengontrol ego, bahkan marahku saat itu hanya beralasan tugas kelompok, sial!!!

    ***

    Semenjak Kak Fira tidak menemaniku seperti biasanya, selera makanku berkurang, kampus terasa jauh, aku pun mulai tidak peduli pada jasad tempat ruhku bernaung. Kini aku duduk bersila di atas kasur, mengatur napas yang semakin berantakkan keluar-masuk. Beberapa helai pakaiannya masih tergantung di balik pintu, gelas biru kesayangannya terbiar kosong, tidak ada white coffe yang wangi di malam hari, tidak ada tangan lembut mengusap rambutku menjelang tidur, tidak ada bibir cinta yang mendarat di dahiku saat menyambut pagi, tidak ada bujukan yang merayuku untuk makan, tidak ada tawa yang terlempar seusai perdebatan, bahkan si Tokek berhenti mengikuti kisahku, dan kini hanya ada satu rasa di qolbu si ungu: HAMPA!!! Ruang ini sangat miris oleh kehampaan.

    “Emosimu dikurangi, Dek.” Kalimat yang sangat rutin masuk ke gendang telingaku. Sayangnya aku sangat jarang mengindahkan kalimat itu. Ah, aku bukan tidak butuh, hanya saja terlalu sering kalimat jimat itu dilontarkannya.

    “Ya...yaa..yaa... Sholat jamaahku terhenti karena ketiadaannya.” Aku sedang mengamati sajadah.

    “Tidak ada pembahasan tafsir atau shirah. Ah! Tidak mungkin aku berbicara sendiri, menerangkan pada dinding tuli.” Aku menatap dekat pada kitab-kitab yang mulai berdebu.

    “Bagaimana dengan diskusi terjemahan al-Qur’an? Sendirian? Diskusi konyol. Ah!” Aku terjebak rindu.

    “Dhuha dan tahajud masih bisa sendirian, tanpa diingatkan pun!”

    Aku ingin berteriak. Setidaknya mengadu pada si hakim Tokek. Dimana Tokek berisik itu? Apa dia mengikuti jejak warna langkah Kak Fira? Oh, Tuhan. Kembalikan dia. Kembalikan dia. Tokek itu! Ya, tokek saja.

    Tuhan menyulap senja menjadi malam. Tetapi kosan sepi tetap bertahan demikian. Cuaca buruk mengunci langkahku agar tidak meninggalkan kamar kos, mungkin saja Tokek pulang. Dan aku ingin menjadi orang pertama sekaligus satu-satunya yang akan menyambut kepulangannya, agar dia tidak merajuk lagi.

    “To...kek... To..kek... To...kek.... pulang... cepat pulang...”

    Aku lebih memilih membaca mantra agar tokek pulang daripada tiba-tiba berganti profesi menjadi pawang hujan.

    Dua menit aku bernyanyi memanggil Tokek. Berselisih dengan kilat, tokek datang menatapku curiga. Tanpa ragu dan tanpa malu, aku jujur pada Tokek.

    “Kau pasti tahu sudah seminggu lebih Kak Fira pergi. Selama itu juga aku merana di balik jeruji kamar yang tidak berbesi. Jika bukan karena aku selalu mengagungkan bahwa aku mencintainya karena Allah, mungkin saja aku akan rela mencintainya karena jin. Namun, itu mungkin akan membuatnya berbulan-bulan tidak pulang.”

    Aku pura-pura bodoh agar si Tokek mengasihaniku. Walaupun aku sadar kebodohanku telah tercium olehnya dari jauh hari.

    “Jadi begini, aku selalu egois dalam anggapannya. Waktu sebelum dekat, penilaiannya bahwa aku egois sudah mengerubungi hatinya. Awal-awal dekat, logat bicaraku yang keras juga dianggap egois. Akhir-akhir ini dia selalu menasihatiku tentang meredam keegoisan.”

    Aku menggaruk-garuk kepala, memang sedikit gatal.

    “Menurutku, dia keterlaluan. Fir’aun dihukum karena dia raja yang kejam, bukan egois. Hmm...” aku bergumam sejenak, “Aku tidak tahu apakah kejam dan egois itu bersangkutan. Anggap saja tidak saling terkait. Lalu, para Nabi tidak pernah menyelesaikan masalah keegoisan ummat. Aku juga tidak tahu apakah antara pembangkangan ummat mereka dengan sifat egois berhubungan. Anggap saja tidak. Dan satu contoh lagi, ibadah utama manusia di permukaan bumi ini adalah sholat, bukan mencegah keegoisan. Walaupun sejatinya orang-orang yang tidak sholat itu adalah mereka yang egois terhadap dirinya.” Aku terdiam sejenak.

    “Mengapa seolah-olah semua contohku tadi tidak terlepas dengan keegoisan? Aaaahhhhhhhh, To..kek!!! itu artinya, Kak Fira benar, andaikan aku bisa menuntaskan perangai burukku itu, Kak Fira akan pulang. Iya! Tepat! Aku memang egois, tapi tidak seegois Tokek yang asal memamerkan suara.”

    Aku membaca istighfar berkali-kali. Lagi-lagi egois.

    “Tokek, mulai detik ini aku tidak akan mengikuti keegoisanmu. Mohon hargai keputusanku. Jangan ganggu aku saat belajar dan beribadah. Simpan suaramu. Jangan egois!”

    Lima detik kututup pintu kamar, terdengar langkah mendekati pintu kamar.

    “Dek, kakak pulang.”

    Aku melongo melihat pintu dibuka perempuan berkerudung biru.

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Tokek” Karya Mardhiyan Novita M.Z (FAMili Sumatera Barat) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top