• Info Terkini

    Friday, March 15, 2013

    Ulasan Puisi “Bagaimana Kabarmu” Karya Lisnatul Hasanah

    Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987: 83).

    Ya, bentuk bahasa figuratif memang merupakan bagian dari sturktur fisik sebuah puisi. Hingga banyak kita temui penulis puisi menggunakan kiasan-kiasan untuk menggambarkan suatu maksud dalam puisinya, apakah mengumpamakan dengan isyarat alam, atau ke dalam bentuk-bentuk kalimat lain yang memakai gaya bahasa atau majas untuk melengkapi keindahan dan maksud sebuah puisi.

    Menyelami puisi “Bagaimana Kabarmu” yang ditulis Linatul Hasanah ini, sepertinya bahasa figuratif sangat bermain di sini. Mari kita simak:

    Maaf,
    jika aku menyapamu terlalu siang
    Ketika embun yang kau cintai
    Telah pulang ke pangkuan matahari
    Dan panas mendidih peluh
    Mengasinkan keringat rindu bersama garam yang pekat
    Dari suara-suara hati yang rapat

    Bagaimana kabarmu di siang ini?
    Jawabmu, aku tak ‘kan sebaik yang dulu.

    Sapaan yang diberikannya ini mungkin tertuju pada seseorang yang telah cukup dikenalnya dekat namun telah lama tak bertemu dan  pada saat itu ada perubahan yang dialami oleh orang yang dimaksud tadi dan membuat suatu suasana yang berbeda dari biasanya.

    Siapa embun yang dimaksud? Kita akan merasakan sebuah kesejukan ketika membaca atau mendengar sebuah kata embun. Di sinilah penulis akan terlihat matang dalam memilih kata untuk sebuah puisi bila situasi sebenarnya yang digambarkan mampu terwakili dengan bentuk-bentuk figuratif yang dicarinya.

    Kontradiksi sekali antara embun dan matahari. Karena kedua hal ini tidak akan pernah bersamaan, selalu ada yang mengalah. Dengan kegagahan sinar terik matahari, embun yang tadi dirasa sejuk akan mulai sirna ditelan panasnya. Kiasan yang bagus sekali kita temukan pada alam sekitar kita, banyak yang bisa dipelajari di setiap fenomena yang ada.
    Lisanul Hasanah telah cukup mampu mencari kiasan tersebut dalam puisi ini bila kita simak dan menyelami hingga baris terakhirnya.

    Lalu, sejauh mana kita rasakan pesan atau maksud yang ada dalam untaian kata-kata indah ini?

    Sepertinya penulis berada di pihak ketiga yang mencoba merasakan suatu kedukaan pada seseorang karena kehilangan sesuatu yang biasa dekat atau dicintainya. Ini dapat kita tangkap bila dengan lebih dalam lagi menyimak bait:

    Ingin sekali aku mendekap wajahmu
    Melepaskan jerat, dari bibirmu yang pucat

    Embun, kekasihmu akan baik-baik saja di sana.

    Sebagai orang yang dirundung duka memang akan memasuki situasi yang mungkin labil karena ada semacam ketidakpercayaan dengan apa yang dihadapi.

    Memang sebagai kerabat, orang pernah dekat, selayaknya mendatangi dengan kata-kata yang menghibur sebagai bentuk kepedulian dalam persahabatan, dalam kebersamaan
    Dan seorang Lisnatul Hasanah sepertinya memang seorang yang peduli dan selalu menyejukan dengan kelembutan.

    Dari segi bahasa puisi ini sudah cukup bagus dan semoga dapat terus ditingkatkan.

    Salam santun, salam karya.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Bagaimana Kabarmu

    Karya: Lisnatul Hasanah

    Maaf,
    jika aku menyapamu terlalu siang
    Ketika embun yang kau cintai
    Telah pulang ke pangkuan matahari
    Dan panas mendidih peluh
    Mengasinkan keringat rindu bersama garam yang pekat
    Dari suara-suara hati yang rapat

    Bagaimana kabarmu di siang ini?
    Jawabmu, aku tak ‘kan sebaik yang dulu.

    Sudah kutahu dari matamu
    Yang memapar kabar tentangmu, di malam-malam yang beku
    Saat air langit berbondong-bondong meniris gerimis
    Di atap-atap hatimu yang meratap. Miris.

    Ingin sekali aku mendekap wajahmu
    Melepaskan jerat, dari bibirmu yang pucat

    Embun, kekasihmu akan baik-baik saja di sana.

    Tapi, aku hanya mampu menghela lelah lebih panjang
    Dalam getir degup jantung di ujung desah nafasmu yang galau

    Linatul Hasanah FAM879M, anggota FAM Jember
    Lubri, Annuqayah 2012

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi “Bagaimana Kabarmu” Karya Lisnatul Hasanah Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top