Skip to main content

Ulasan Puisi “Tasbih” Karya Befaldo Angga (FAMili Padang)

Puisi “Tasbih” karya Befaldo Angga bercerita tentang semesta bertasbih, membuat manusia menemukan jatidirinya. Puisi ini juga menceritakan dinamika jiwa manusia yang menghadapi berjuta tantangan, godaan, hambatan dari nafsu dan setan.

Bait pertama bertutur tentang semesta bertasbih. Akibat dari aktivitas semesta bertasbih ini, manusia menjadi menemukan Tuhannya dan mengingat jatidirinya.

Bait kedua berkisah tentang berbagai dinamika jiwa manusia di dalam menghadapi nafsu dan setan. Konon perang terdahsyat yang dialami umat manusia adalah perang melawan dirinya sendiri. Benar, perang melawan hawa nafsunya.

Bait ketiga bercerita tentang akhir yang indah, di mana manusia menemukan langkah dan prinsip hidup untuk berbakti serta mengabdi kepada Tuhan Yang Mahasuci.

Awal yang indah, biasanya berakhir dengan indah pula.

Berikut sedikit kritik konstruktif agar puisi ini menjadi lebih indah dan bernuansa.

Orkestra kata di kalimat berikut ini:

Semesta bertasbih, mengingatNya pagi dan petang

Sebaiknya digubah menjadi:

Semesta bertasbih, mengingatNya hari demi hari senantiasa abadi

Atau: Semesta bertasbih, mengingatNya hari demi hari

Sedangkan melodi makna pada untaian kalimat ini:

Nafsu membuat kelam akal perbuatan,

Akan lebih indah bila dibuat:

Nafsu mengelamkan akal perbuatan

Atau: nafsu menenggelamkan akal perbuatan.

Secara penulisan, puisi ini sudah bagus. Terus ditingkatkan dengan menggarap tema-tema yang lebih universal lainnya.

Salam santun, salam karya.

TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

[BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

TASBIH

Karya: Befaldo Angga

Semesta bertasbih, menggiring manusia ingat diri,
Semesta bertasbih, memenuhi alam tiga dimensi,
Semesta bertasbih, menangis haru ketika lupa jati diri,
Semesta bertasbih, mengingatNya pagi dan petang,

Jalan awal dan jalan akhir,
Banyak persimpangan hingga ragu segala pikiran,
Nafsu membuat kelam akal perbuatan,
Syetan bergentayangan, merusak cinta menjadi laknat,
Jalan lahir dan jalan ajal,
Awal hingga akhir,

Semesta bertasbih, bergema hingga sudut-sudut jiwa,
Hanya "Segala puji bagi-Nya"
Menetapkan langkah dan prinsip hidup 'tuk berbakti,
Hanya Maha Suci DiriNya, segala daya dan upaya berserah,
Hingga,
Semesta berhenti bertasbih...

[www.famindonesia.com]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…