Skip to main content

Ulasan “Sempurna Bukan Jaminan Kebahagiaan” Lina Saputri (FAMili Banjarmasin)

Kali ini, FAM mengulas cerpen yang bercerita tentang jodoh. Ini memang hal yang tidak akan pernah usang. Bagaimanapun, setiap orang ketika sampai masanya, akan dilanda kegalauan tentang siapa jodohnya.

Siapa pun itu, pasti ingin mendapatkan jodoh yang terbaik. Setiap orang mempunyai cara yang berbeda dalam mencari dan menentukan siapa jodohnya. Akan tetapi, jarang yang memerhatikan kualitas diri sendiri. Banyak yang ingin mendapatkan pasangan hidup yang baik, bertanggung jawab, jujur, mapan, dan segala sifat positif lainnya, namun dirinya sendiri tidak menjadi orang seperti itu. Bagaimana mungkin bisa? Prinsipnya, orang yang baik akan berpasangan dengan orang yang baik, begitu pula sebaliknya.

Cerpen ini bicara soal jodoh dalam sudut pandang yang lain. Kebanyakan orang, akan berpikiran jika pasti bahagia rasanya ketika mendapat jodoh yang sempurna. Tampan atau cantik orangnya, mapan, kaya, dan sebagainya. Namun belum tentu demikian. Penulis mencoba menyampaikan jika yang terpenting dari seorang calon pasangan adalah iman dan hatinya, bukan sekadar dari tampilan fisik dan kekayaan semata.

Cerpen ini minim dialog, lebih banyak narasinya. Hal itu tidak menjadi masalah, sebab sebuah cerpen tidak harus banyak dialognya. Penulis yang cerdas adalah yang tahu kapan saat yang tepat menggunakan dialog, kapan saatnya narasi. Dari segi teknik penulisan yang digunakan cukup bagus, begitu juga dengan pemilihan diksi. Dari segi EYD juga tidak ada masalah yang berarti. FAM berharap penulis terus berlatih agar kualitas karya yang dihasilkan semakin meningkat.

Salam santun, salam karya.

TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

[BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]


Sempurna Bukan Jaminan Kebahagiaan

Oleh LinaSaputri (Anggota FAM Banjarmasin)

Jodoh. Bicara soal jodoh tak akan pernah ada habisnya, kecuali tiba saatnya. Bahkan langit pun tetap diam saat kutanya, siapa jodohku kelak? Aku tak pernah memahami artikel kehidupan, yang memvonis seseorang bisa mati hanya karena masalah cinta. Dan aku serupa merpati, yang terbang berkelana mencari jodohku. Sampai aku lelah, aku hanya siap menatap langit. Mestinya jodoh tak perlu dicari, ia akan datang sendiri. Layaknya tulang rusuk yang telah ditempatkan Tuhan, pada jodohnya masing-masing. Yang tak mungkin dirubah atau tertukar pada orang lain. Tuhan, telah menuliskan itu semua pada sebuah takdir, aku percaya itu. Pertanyaan tentang jodohku yang belum terjawab, aku menari bersama rumput-rumput kecil di taman hijau, bahkan ilalang yang bergoyang pun tetap membisu.

***

Bumi berpayung bahagia. Langit menuntun awan yang arak berarak. Dedaunan bertasbih, bersenandungkan butiran-butiran do’a. Seiring langkah kakiku yang menaiki kursi pelaminan. Barakallahulaka, akhirnya terjalin ikatan suci di antara aku dan dia.

“Dewi, apa kamu yakin dengan pilihanmu?” Pertanyaan itu seakan mengundang ketidak yakinan dari teman, saudara, bahkan orang tua, hingga menjelang hari perkawinan. Seakan mereka ragu dengan pilihanku. Mas Arya, lelaki yang hanya bisa berjalan di atas kursi roda sebagai pendamping hidupku.

Pernikahan adalah sesuatu yang sakral di mata Tuhan dan semua orang. Bukan permainan, pelampiasan atau sekedar ingin coba-coba. Banyak yang merasa prihatin dengan pilihanku. Bukan karena aku tak laku. Sebelumya, banyak lelaki yang menawarkan cinta padaku bermaksud untuk menjadikanku istri, tapi aku tak pernah tersentuh untuk membuka pintu hati yang pernah tertutup rapat, karena trauma pada cinta pertama sekaligus cinta buta. Entah mengapa semenjak mengenal Mas Arya, hatiku begitu ringan untuk mengenalnya lebih jauh. Memberi lampu hijau dalam setiap langkah yang kami lewati bersama, sebelum memasuki jenjang pernikahan. Sehinga ia memberanikan diri untuk melamarku, akupun tak menolak untuk hidup bersamanya.

***

Secara vertikal dan horizontal, cinta memilih dari hati, bukan fisik. Cinta memilih kelembutan, bukan ingin dikasari. Cinta memilih bahagia, bukan larut dalam kesedihan. Sosok sepertiku, yang sebelumnya mengenal sederet nama lelaki yang pernah singgah di hatiku, kini lebih meyakini bahwa kebahagiaan itu akan benar-benar abadi jika diawali dengan ketulusan.

Cinta punya selera tersendiri. Secara fakta, cinta boleh memilih melalui kondisi fisik atau ketenaran seseorang. Siapa yang tak ingin hidupnya dikeretakan mobil mewah. Siapa yang tak inginpunya pendamping mapan, pengusaha muda atau pengejar dollar yang namanya terkenal di mana-mana. Tapi buat aku, itu tidak penting. Aku mengutamakan hatinya yang sejalan dengan imannya. Beriman itu mencakup segalanya. Lelaki beriman, dijamin pasti mempunyai cinta yang mulia dan rasa setia yang besar pada pasangannya.

Buat apa hidup punya segalanya. Punya suami berwajah tampan, bertubuh etlites, dan bergelar kerena segudang prestasi, tapi buaya darat yang suka mengobral cinta ke sana ke mari. Buat apa menjadi istri seorang pengusaha, tapi hidupnya digatung dua pilihan. Jadi yang pertama yang selalu diduakan? Atau jadi yang ke dua alias istri simpanan? Walau tidak semua lelaki suka neko-neko, tapi zaman sudah tua, mencari lelaki yang setia itu langka.Ibarat mencari jarum di tumpukan jerami, tapi jeraminya satu Indonesia. Wajah tampan rupawan atau kesempurnaan orang-orang berpangkat, buat aku bukan jaminan kebahagiaan. Aku tak ingin hidup bahagaia berkedok topeng kebahagiaan palsu. Kupilih lelaki yang beriman, karena mencari suami itu untuk dunia dan akhirat. Lelaki beriman pasti bertanggung jawab, juga pas untuk pilihan imam yang menuntun jalan ke surga.

Lantas, kenapa kupilih dia?

Meski sebelumnya aku pernah menimbang rasa akan pilihanku. Aku dan dia ibarat langit dan bumi yang tak mungkin bersatu. Banyak perbedaan di antara kami, terutama fisik. Aku sempurna dan dia berjalan dengan kursi roda. Mas Arya, duduk di bangku SLTP  pun harus bersekolah di sekolah luar biasa. Dia juga biasa-biasa saja, bukan keturunan raja atau pengusaha. Hidupnya sederhana, menjadi orang yang pandai bersyukur ternyata hidupnya lebih mudah dari pada kebanyakan manusia sempurna, tetapi suka mengeluh. “Tak mempunyai kaki normal, mungkin itu sudah janji Tuhan” katanya dengan penuh ketulusan. Ia tak pernah menyesal dilahirkan sebagai anak penyandang cacat. Ia tidak pernah mengeluh dengan keterbatasaanya. Menurutnya, cacat bukan alasan untuk tidak bisa bekerja. Ia membuka usaha toko kue yang sederhana dan dibantu oleh dua orang karyawan, salah satunya adalah aku. Mas Arya, tipe pemimpin yang tidak suka memerintah bawahannya secara kasar. Hatinya lembut, tetapi sangat berwibawa. Cinta tak pernah punya alasan, tapi mungkin ini adalah alasanku untuk jatuh cinta kepadanya.

Kami memulai semua dari nol. Awalnya, aku tidak yakin kami bisa bertahan melawan kejamnya hidup dalam kondisi  keuangan yang pas-pasan. Cinta bisa saja diuji melalui kekurangan dan keterbatasan. Tapi aku harus yakin, tak ada gading yang tak retak, dan tak laut yang tak bergelombang, begitu pula hidup. Dua tahun pertama, kami mengontrak di sebuah rumah yang sederhana.Tapi siapa yang menyangka untuk dua tahun ke depan. Usaha toko kue kami berkembang pesat, toko yang ia bangun mulai masih sendiri, kini terkenal di mana-mana. Hingga akhirnya, kami punya orang-orang kepercayaan untuk menjalankannya.

Kami semakin menikmati kebahagiaan, bersama dengan lahirnya putra semata wayang kami yang sempurna. Kesempurnaaan tak menjanjikan kebahagian. Tapi lelaki yang beriman menjamin kebahagiaan. Percayalah, hidup itu akan benar-benar terasa bahagia, jika kita mampu menerima kekurangan sebagai kelebihan. Cinta yang sempurna adalah cinta yang tak mengharap kesempurnaan dari orang yang dicintai, melainkan lebih mengutakan iman dan ketulusan. Karena buat aku, cinta adalah pembuktian kebahagiaan diri kita sendiri. Kita yang memilih untuk bahagia kerena ketulusan, atau lebih mengutamakan kebahagiaan semu demi meniru kebahagiaan jiwa-jiwa yang bertopeng.

[www.famindonesia.com]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…