Skip to main content

Berawal dari Tulisan Status di Dinding Akun Facebook

Oleh: Aliya Nurlela*)

Mungkin, bagi sebagian orang, menuliskan status di dinding akun facebook merupakan kegiatan menulis harian, hitung-hitung pengganti buku diary yang sekarang mulai jarang dipakai. Bagi saya pun demikian. Menulis di dinding akun facebook di samping menyalurkan hobi menulis, membiasakan menulis setiap hari, juga sedikit berbagi dengan teman-teman dunia maya. Jika ada manfaat yang bisa diambil oleh orang lain dari tulisan dalam status tersebut, alhamdulilah. Namun jika tak ada, maka anggaplah sedang melatih diri sendiri membiasakan menulis setiap hari. Bukankah kemampuan menulis didapat ketika selalu membiasakannya? Sehebat apa pun teori yang dimiliki, jika tak pernah membiasakan menulis, maka teori itu akan menguap satu persatu, hingga lupa sama sekali.

Sebisa mungkin saya tak menulis keadaan diri sendiri yang sedang “galau,” misalnya. Saya kira untuk galau, semua orang punya. Tapi ketika galau itu dibagi, akan menimbulkan suasana yang mendorong diri sendiri semakin tidak bersemangat menjalani hidup. Untuk galau, mungkin ada baiknya dibuat mihrab khusus yang bisa ber”galau-galau” di sana. Eit, tapi jangan salah. Mihrab itu bukan dipakai untuk berteriak-teriak histeris atau memaki-maki Tuhan yang dianggap tak adil memberi keputusan. Justru mihrab galau itu sebagai tempat muhasabah diri dan memohon petunjuk dariNya agar diberi kemudahan menyikapi masalah yang dihadapi. Atau, dalam menuntaskan resah, gelisah dan galau tersebut bisa juga berkomunikasi dengan keluarga atau sahabat yang benar-benar bisa menyumbangkan solusi terbaik.

Ternyata, status di dinding akun facebook juga bisa menjadi ide untuk menulis berikutnya. Ketika saya menulis Buku Cerpen “Flamboyan Senja” target jumlah cerpen yang saya patok harus 10 cerpen. Ketika sembilan cerpen telah terpenuhi, belum ada ide sedikit pun untuk menulis cerpen yang kesepuluh. Wah, jika dipaksakan 9 cerpen juga akan terlihat tipis setelah jadi buku. Sementara cerpen-cerpen lama, tak ada yang berkenan di hati untuk dimasukkan dalam buku cerpen ini.

Tapi, saya selalu yakin akan pendapat bahwa, “masa krisis adalah masa yang paling baik untuk bersikap kreatif.” Benar, ketika tak ada ide menuliskan cerita apa pun juga, terlintaslah dalam benak untuk membongkar status harian di dinding facebook dari mulai Juli hingga Oktober 2012 dan yap, saya susun tulisan-tulisan pendek tersebut. Status yang berbicara semangat, dikelompokkan dengan tulisan lain yang membangkitkan semangat juga. Demikian pula status sedih, cinta, dan impian dikelompokkan dengan yang sama. Alhasil, 14 halaman sudah didapat. Wah, itu artinya tinggal memberi judul dan tambahan-tambahan kalimat untuk merangkai tulisan-tulisan status itu agar terkesan sebuah cerita yang sambung-menyambung. Tiba-tiba terlintaslah dalam benak, memberi judul “Kelopak Flamboyan itu Bertasbih.” Jadilah ia cerpen yang kesepuluh dengan jumlah halaman 14 halaman, menjadi jumlah halaman kedua terbanyak setelah cerpen “Flamboyan Senja,” mengalahkan jumlah halaman cerpen-cerpen lainnya dalam buku tersebut.

Bagi Anda yang sudah membaca buku “Flamboyan Senja” silakan cermati cerpen yang berjudul “Kelopak Flamboyan Itu Bertasbih” dan cocokkan dengan tulisan status harian di dinding akun facebook Aliya Nurlela mulai Juli  hingga Oktober 2012. Ya, saya menjadi lebih semangat lagi menyusun tulisan-tulisan pendek lainnya agar tidak sia-sia. Ternyata tulisan-tulisan pendek di status facebook yang awalnya tak terpikir untuk diterbitkan dalam sebuah buku, ketika masa “kepepet” itu datang, bisa menjadi cerpen yang diterbitkan.

Saya justru tak menyangka, ketika buku “Flamboyan Senja” telah terbit, dari semua cerpen yang terangkum di dalamnya, yang paling banyak mendapat respon positif justru cerpen ini. Seperti pendapat Puji Dandelion, Penulis Buku “Jogja Oh Jogja” dalam lomba resensi buku-buku terbitan FAM Publishing:

“Itu pula yang saya dapatkan dalam cerpen ‘Kelopak Flamboyan Itu Bertasbih’ pesan-pesan moralnya sangatlah mengena terutama bagi kita-kita yang haus akan ilmu agama, serta impian-impian yang harus diraih dengan hati yang lapang dan penuh kerinduan terhadap Tuhan Sang Pencipta, benar-benar disuguhkan di dalam satu cerpen yang sangat berbobot dan bermutu, inilah cerpen ‘Kelopak Flamboyan itu Bertasbih’ sebagai keunggulan cerita di dalam buku ini. Cerita yang disampaikan benar-benar membuat kita sadar bahwa hanya Allah sajalah yang patut kita sembah dan kita harus selalu mengingatNya, bertasbih, bersyukur dan berdzikir kepadaNya. Bahkan kelopak flamboyan itu pun selalu bertasbih bersama seluruh semesta alam yang tak pernah lelah dan berhenti untuk terus bertasbih kepadaNya, menyebut asmaNya. Subhanallah.”

Demikian juga testimoni Winda Arfah  (FAMili Palangkaraya) yang diposting di dinding akun facebooknya:

“Pertama kali melihat daftar isi bukunya, yang saya baca langsung pada bagian ‘Kelopak Flamboyan Itu Bertasbih’, tertarik dengan judulnya. Dan ternyata di bagian ini malah yang paling saya suka, ada motivasi semangat hidup di sana. Apa lagi pada halaman 133: “Dengarlah suara rintik hujan malam ini, mengajakmu menuliskan impian yang tertunda dan meraihnya kembali sedikit demi sedikit upaya yang kau tempuh dalam meraih impianmu akan membasahi hati dan pikiran, bahwa kau masih ada dengan segudang harapan dan upaya. Seperti rintik hujan itu. Setetes demi setetes yang tercurah, namun mampu membasahi tanah gersang. Menandakan bahwa Pemilik Alam ini ada. Jangan lelah meraih impianmu meskipun kau menggapainya selangkah demi selangkah.” Tapi setelah dibaca semuanya ‘Flamboyan Senja’, memang bagus,menarik dan banyak motivasi didalamnya terutama bagian ”Flamboyan itu bertasbih”.

Saya tidak mengatakan bahwa tulisan saya tersebut sangat menarik hingga memikat sebagian pembaca, di sini saya hanya ingin berbagi soal ide menulis saja. Intinya, ide menulis cerita bisa kita dapat dari mana saja, termasuk dari tulisan-tulisan pendek di dinding akun facebook. Tentu, tidak semua orang akan berpendapat bagus dengan hasil karya yang telah kita buat. Jangankan hasil karya manusia yang penuh kekurangan, untuk hasil karya Sang Pencipta saja banyak orang yang berani mengkritik dan menggugat.

Saya juga sangat berterima kasih kepada Fatimah Zahra, FAMili Palembang yang telah terinspirasi membuat cerpen dari tulisan status harian di dinding facebook akun “Aliya Nurlela”. Ia telah berhasil menyusun tulisan status harian saya dalam cerpen berjudul “Kunang-Kunang.”

Selamat menulis. Salam santun, salam karya.

*) Pengurus Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia

JIKA BERMANFAAT SILAKAN SHARE



Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…