• Info Terkini

    Tuesday, April 9, 2013

    FAM Indonesia dan Terbentuknya ‘Citizen Journalism’ yang Bertanggung Jawab

    Oleh: Nuryaman Emil Hamzah

    Citizen Journalism atau sering disebut Pewarta Warga mulai menampakkan geliatnya. Tetapi ibarat pisau bermata dua, Citizen Journalism yang bisa dianggap sebagai terobosan informasi di mana masyarakat terlibat aktif menjadi citizen reporter, kebebasan itu melahirkan banyak pelanggaran kode etik bahkan cenderung rasis dan provokatif.

    Kompasiana yang cukup populer misalnya, saat terjadi dualisme kepengurusan PSSI dan dualisme kompetisi IPL dan ISL, oleh sebagian member yang sudah terdaftar dijadikan sarana yang paling efektif untuk saling menghina dengan kata-kata yang tidak sepantasnya. Padahal idealnya, dalam menyikapi dualisme kepengurusan PSSI, akun tersebut lebih baik digunakan sebagai sarana membangun opini yang positif agar dualisme segera berakhir.

    Tak ayal lagi, ulah segelintir Kompasianer tersebut turut memengaruhi kredibilitas Kompasiana. Timbul kesan negatif bahwa tulisan atau berita yang dimuat di Kompasiana tidak bisa dipercaya bahkan sebagian orang menganggap berbahaya bagi tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.

    Mengapa Muncul Posting tidak Etis?

    Citizen reporter sangat berbeda dengan jurnalis di media massa yang terikat oleh kode etik jurnalistik dan tunduk pada peraturan pers, sedangkan citizen reporter atau reporter warga bisa dilakukan oleh siapa saja walaupun sama sekali tidak mengenal ilmu jurnalistik dan berbagai peraturan yang berhubungan dengan pers.

    Penyelenggara Citizen Journalism sendiri tidak bisa mengontrol sepenuhnya posting tulisan yang dimuat di halamannya serta komentar yang menanggapi postingan tersebut. Semua seolah dibiarkan seperti air mengalir. Etika Jurnalis Warga pun hanya diketahui oleh orang-orang yang telah mengantongi kartu keanggotaan sebagai Citizen Reporter yang dikeluarkan PPWI.

    Adakah Kode Etik Citizen Journalism?

    Sejak dideklarasikan pendirian Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) pada tanggal 11 Nopember 2007, organisasi yang dipimpin oleh Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc, MA., ini telah menetapkan sebuah kode etik yang terdiri atas 10 poin. Sepuluh poin yang ditetapkan sebagai kode etik tersebut mengatur agar setiap pemberitaan atau tulisan dapat dipertanggungjawabkan baik dari segi etika maupun norma yang berlaku di masyarakat.

    Hal yang menarik dari kode etik PPWI ini terdapat pada poin 3 yang berbunyi : “PEWARTA WARGA tidak diperkenankan menerima imbalan yang dapat memengaruhi obyektivitas beritanya.” Sisi ini memang rentan untuk dimanfaatkan pihak tertentu untuk “membeli” seorang citizen reporter agar membuat pemberitaan yang menguntungkan pihaknya.

    Mungkinkah FAM Indonesia membentuk Citizen Journalism yang bertanggung jawab?

    Misi dakwah bilqalam yang diusung FAM Indonesia dan motto “Membina dengan Hati Calon Penulis Islami,” akan memberikan implikasi yang sangat positif terhadap etika anggota FAM dalam menjalani peran sebagai Citizen Reporter. Di samping kode etik sebagai citizen reporter yang ditetapkan PPWI akan memberikan gambaran secara detail apa-apa yang mesti dipatuhi.

    Dua sisi etis inilah yang akan membuat anggota FAM Indonesia bisa menjadi citizen reporter yang akan melahirkan tulisan atau pemberitaan yang etis dan bisa dipertanggungjawabkan. Sikap positif citizen reporter FAM Indonesia akan menjadikannya sebagai sumber rujukan baru yang bisa dipertanggungjawabkan bagi masyarakat.

    Dipilihnya kata “hati” sebagai landasan pembinaan oleh FAM Indonesia, merupakan suatu langkah strategis, di mana “hati” merupakan sumber kontrol untuk setiap perbuatan yang akan dilakukannya. Maka bila “hati” sudah terbina sesuai dengan kehendak Sang Pemilik Hati, akan lahirlah perilaku-perilaku positif. Inilah yang akan menjadi self kontrol setiap anggota FAM Indonesia ketika menjadi seorang citizen reporter.

    Definisi Citizen Journalism dalam Wikipedia:

    Jurnalisme warga (bahasa Inggris: citizen journalism) adalah kegiatan partisipasi aktif yang dilakukan oleh masyarakat dalam kegiatan pengumpulan, pelaporan, analisis serta penyampaian informasi dan berita. (http://id.wikipedia.org/wiki/Jurnalisme_warga)

    *) Penulis adalah anggota FAM Indonesia, IDFAM255U Pandeglang


     
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    Item Reviewed: FAM Indonesia dan Terbentuknya ‘Citizen Journalism’ yang Bertanggung Jawab Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top