Skip to main content

Hima Bindo UMSB Padangpanjang Gelar Seminar Sastra

PADANGPANJANG – Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia (Hima Bindo) Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat Kampus Perguruan Muhammadiyah Padangpanjang, Ahad (28/4) menggelar Seminar Sastra.

Kegiatan yang dihadiri sekitar 100an mahasiswa itu, menurut Sekretaris Panitia Nora Anggraini, dalam rangka memperingati Hari Sastra Nasional dan mengenang wafatnya penyair Chairil Anwar.

Hima Bindo UMSB menghadirkan dua narasumber, yaitu Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn, seorang penyair, dosen dan sutradara teater yang dalam materi berbicara tentang riwayat hidup Penyair Chairil Anwar yang melegenda lewat puisi-puisi modern yang dicipatakannya.

Sementara narasumber kedua adalah Muhammad Subhan, seorang jurnalis dan penulis novel yang juga Ketum Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Dia akan berbicara tentang kiat menembus media massa dan menerbitkan buku.

“Sebagai mahasiswa jurusan bahasa dan sastra Indonesia acara seperti ini perlu kami angkat untuk mengenang apa yang telah ditorehkan para sastrawan,” ujar Nora.

Dikatakan, selama ini banyak orang mengenal sosok penyair Chairil Anwar lewat puisi-puisinya yang terkenal, seperti “Aku”, “Tuhanku”, dan lainnya, tetapi kehidupan Chairil yang lebih mendalam sedikit yang mengetahui. Maka, lewat seminar ini diharapkan terjadi dialog dua arah, antara peserta dan narasumber untuk mengupas tuntas sosok penyair Chairil Anwar.

Sementara, tambahnya, banyak mahasiswa yang juga punya karya tulis (sastra) tetapi bingung cara menerbitkan karya itu di media massa. Lewat materi yang diberikan, diharapkan peserta yang mayoritas mahasiswa UMSB akan terpancing untuk aktif menulis dan menerbitkan karya-karya mereka.

“Semoga sesudah seminar ini akan banyak lahir karya sastra dari teman-teman mahasiswa di kampus kami,” tambahnya. (*)

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…