Skip to main content

Kopdar ke-8 FAM Cabang Surabaya di Kota Udang Sidoarjo

"Berkesan Mas, tambah ilmu dan teman-teman baru.” Itulah komentar apa adanya dari Reffi Ephy yang pertama kali berinteraksi langsung dengan FAMili Surabaya dan Sekitarnya dalam Kopdar ke-8 FAM Indonesia Cabang Surabaya dan Sekitarnya, beberapa hari lalu.

Meski Mbak Reffi belum secara resmi bergabung menjadi anggota FAM Indonesia, namun sahabat kita yang luar biasa ini tampak antusias dan bisa langsung menyatu dalam semangat belajar dan berkarya serta ikatan kekeluargaan FAMili yang hadir.

Demikianlah FAMili. Meski kita tampil dengan kesederhanaan, apa adanya, namun jika dibalut dengan ketulusan dan kerendahan hati untuk saling berbagi kemaslahatan dalam bingkai persaudaraan, maka segalanya akan berkesan dan perjuangan akan jadi terasa indah.

Secara keseluruhan, Kopdar ke-8 yang dihadiri beberapa anggota FAM Surabaya, di antaranya Ken Hanggara, Vivid Habib, Mbak Reffi Dhinar Seftianti, Mbak FirTia Ayu Lintasari, dan juga Mbak Hanum Hiyanumz, ini berjalan hangat sehangat suasana pagi menjelang siang itu.

Diawali dengan obrolan mengenai FAM Indonesia, Kopdar kali ini kembali mengajak yang hadir untuk beriqra' terhadap segala realita yang terpampang di sekitarnya dan menjadikannya sebagai inspirasi terciptanya sebuah tulisan singkat. Dari pembelajaran 30 menit ini kembali semua sepakat bahwa “tidak ada yang salah dari sebuah kesederhanaan. Sesederhana apa pun karya kita, selama bisa memberi kemanfaatan, maka karya itu akan bernilai.”

Tetap semangat, salam santun, salam karya.

YUDHA PRIMA
Humas FAM Indonesia Cabang Surabaya dan Sekitarnya
www.famindonesia.com

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…