Skip to main content

Pengumuman FAM Indonesia

Diumumkan kepada para penulis buku surat "Proses Kreatifku, Suka Duka Menulis”, bahwa deadline pengiriman biaya pembelian 1 (satu) eks, telah berakhir hari ini. Namun, beberapa penulis meminta keringanan perpanjangan waktu. Maka, FAM memberi kelonggaran hingga tanggal 5 Mei 2013.

Inilah nama-nama penulis yang naskahnya layak untuk diterbitkan dalam proyek penerbitan buku surat ini:

1. Abdul Kadir Halimin (Makassar)
2. Abi Yazid Bastomi (Nganjuk)
3. Ahmad Saadillah (Pekanbaru)
4. Andalusiana Cordoba (Trenggalek)
5. Arif Hifzul (Medan)
6. Arinny Ulfa Rahmawati (Lampung)
7. Denni Meilizon (Padang)
8. Desmarini (Bengkalis)
9. Dodi Saputra (Padang)
10. Efri S Bahri (Bogor)
11. Erwan Hermawan (Malang)
12. Febrieza Rahmadani (Padang)
13. Firdaus (Aceh)
14. Fitri Yanisha (Bandung)
15. Fredi Setiyono (Klaten)
16. Gita Leviana Putri (Lampung)
17. Iqbal Hariadi Putra
18. Koizora Hana (Samarinda)
19. Ken Hanggara (Pasuruan)
20. Lin Hana (Jember)
21. Lina Saputri (Banjarmasin)
22. Mardhiyan Novita (Pariaman)
23. Melly Wati (Jakarta)
24. Moh. Ghufron Cholid (Madura)
25. Mulyani (Tangerang)
26. Nuni Rahmawati (Surabaya)
27. Nur Hatima (Bandung)
28. Nuridasari (Bukittinggi)
29. Puji Dandelion (Cilegon)
30. Rahimah Ib (Medan)
31. Refdinal Muzan (Bukittinggi)
32. Rrahmania Zahra (Depok)
33. Sandi Iswahyudi (Malang)
34. Santi Sumiati (Cianjur)
35. Suffi Azizi (Pasuruan)
36. Switz Rahayu (Jakarta)
37. Syafrudin (Pekanbaru)
38. Titi Haryati Abbas (Sinjai)
39. Warno Adi Susilo (Jakarta)
40. Yudha Hari Wardhana (Surabaya)
41. Yunita Sepryana
42. Zul Hasibuan (Padang)

FAM Publishing menanggung proses biaya penerbitan buku ini (namun tanpa bukti terbit untuk penulis). Penulis hanya diharuskan registrasi pembelian 1 eksemplar buku. Buku tersebut telah kami tentukan harganya, sebesar Rp41.000,- per eksemplar dan ongkos kirim disamakan untuk setiap kota, yaitu sebesar Rp20.000. Jadi, biaya pembelian 1 eksemplar buku yang harus dikirim masing-masing penulis, adalah sebesar Rp61.000 (enam puluh satu ribu rupiah).

Biaya pembelian buku tersebut dikirim selambat-lambatnya 30 April 2013. Tidak ada paksaan untuk melakukan registrasi penerbitan buku surat ini. Jika sampai tanggal tersebut tidak ada konfirmasi dari penulia, maka naskah yang bersangkutan gugur untuk diterbitkan.

Untuk informasi lebih jelas, dapat menghubungi email FAM: forumaktifmenulis@yahoo.com atau call center 081259821511.

Demikian informasi ini kami sampaikan. Atas perhatian dan kemaklumannya disampaikan terima kasih.

Salam santun, salam karya.

FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…