Skip to main content

[Resensi Buku] Pergerakan Mahasiswa Menentukan Masa Depan Bangsa

Judul Buku: Hari-Hari Mahasiswa; Kiprah dan Agenda Pergerakan Mahasiswa
Penulis: Efri S. Bahri
Penerbit: FAM Publishing
Tahun Terbit: Februari, 2013
Tebal: xiii + 119 halaman
ISBN: 978-602-17404-9-1
Harga: Rp 38.000,-


Mahasiswa disebut juga sebagai generasi penerus bangsa. Karena di tangan merekalah setir bangsa ini dipegang. Akan diarahkan ke mana setir itu? Tergantung mereka. Membaca, adalah hal pertama yang disajikan dalam buku ini. Dengan mendisiplinkan membaca, para mahasiswa akan mengetahui peta yang menggambarkan seluk-beluk kehidupan bangsa ini dalam berbagai aspek. Dan jika sudah menguasai peta tersebut, mereka dapat dengan mudah mengarahkan setirnya ke jalan yang benar.

Pembaca sepertinya akan terkecoh dengan judul buku ini, di mana pembaca akan mengira bahwa buku ini adalah sebuah catatan harian mahasiswa yang sedang menjalani kuliah dari awal masuk sampai dengan lulus. Seperti halnya buku ‘Catatan Mahasiswa Gila’ karangan Adhitya Mulya (2011), juga buku ‘Negeri 5 Bahlul; Catatan Mahasiswa Galau’ karangan Hendra Veejay & R. Santika (2012). Dan kenyataannya jauh lebih menarik dan berbobot dari itu.

Isi buku ini yaitu gagasan-gagasan yang berhubungan dengan mahasiswa, dan sudah dipublikasikan di media cetak maupun online sejak tahun 1992, yaitu sejak sang penulis Efri S. Bahri masih duduk di bangku perkuliahan.

Dengan menulis buku ini, terlihat bahwa penulis ingin mengajak pembaca untuk membangkitkan tradisi intelektual mahasiswa dalam menjaga ritme pergerakan mahasiswa dengan empat cara, yaitu: (1) mengembalikan iklim yang kondusif di dalam dunia kemahasiswaan; (2) menyediakan fasilitas dan media yang dapat memberikan kebebasan bagi mahasiswa untuk mengutarakan gagasan-gagasannya; (3) mengembangkan institusi buffer dalam bentuk grup diskusi terbatas; (4) dan mengembalikan budaya membaca, menulis dan berdiskusi (M2B).

Pergerakan mahasiswa itu sendiri adalah penentu masa depan bangsa. Seperti yang ditulis dalam buku ini bahwa dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, mahasiswa telah berperan sebagai pelopor. Pertama, pada tahun 1908 mahasiswa telah membangkitkan kesadaran bangsa melalui budi utomo. Kedua, lahirnya sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928. Ketiga, menjelang tahun 1945, mahasiswa ikut berperan dalam memproklamasikan kemerdekaan indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Keempat, mahasiswa tergabung dalam tentara pelajar (TP) bahu membahu bersama rakyat dan TNI untuk melawan belanda pada masa perang kemerdekaan tahun 1946-1949. Kelima, mahasiswa dan ABRI secara aktif berperan dalam melahirkan orde baru yang mengakhiri keberadaan PKI di Indonesia pada tahun 1966. Keenam, tahun 1974 yang terkenal dengan peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari). Ketujuh, pada 21 Mei 1998 yang dikenal dengan peristiwa Reformasi, di mana pergerakan reformasi mahasiswa telah mengakhiri rezim Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun.

Buku ini memang memiliki pembahasan yang sangat komplit dan menarik. Selain membahas mengenai mahasiswa itu sendiri, hampir segala aspek kehidupan negeri ini dibahas lengkap, mulai dari kewirausahaan, politik, demokrasi hingga konflik. Seperti yang diutarakan oleh Dr. Yulhendri (mantan aktifis mahasiswa angkatan ’98), “Buku ini sangat menarik karena ditulis oleh mantan aktifis mahasiswa yang kaya dengan pengalaman emperis. Pengalaman emperis tersebut juga didukung oleh kajian filosofis yang kuat sehingga menjadikan buku ini penuh makna.”

Dengan isi buku yang begitu menarik, ditambah fisik buku yang juga tidak kalah menariknya, cover dengan perpaduan warna merah dan hitam yang melambangkan bahwa keberanian mahasiswa tidak akan pudar walau diterjang badai masalah, menjadikan buku ini layak selalu berada dalam genggaman para mahasiswa.

Namun sayangnya, ada setitik hal yang mencederai kesempurnaan buku karangan Efri S. Bahri ini, yaitu adanya kata-kata yang salah, kekurangan dan kelebihan huruf. Sebagai contoh, tertulis ‘po;a’ seharusnya ‘pola’, tertulis ‘mahasisa’ seharusnya ‘mahasiswa’, tertulis ‘kebuutuhan’ seharusnya ‘kebutuhan’ dan masih banyak yang lainnya. Sekecil apa pun kesalahannya, jangan pernah dianggap wajar, karena jika masih mengenal kata ‘wajar’ jangan harap ke depannya akan menemukan buku-buku yang benar-benar sempurna. Tentu ini adalah PR bagi penulis juga editor atau penyunting.

Pendapat atau komentar Hendra Farma Johar, M.Si yang menyatakan bahwa bahasa dalam buku ini mudah dimengerti sepertinya perlu dipertanyakan. Karena pada kenyataannya dalam buku ini banyak kata-kata yang mungkin sulit dicerna oleh mahasiswa yang baru menginjakkan kakinya di dunia perkuliahan. Perlu membaca setidaknya dua sampai tiga kali untuk memahami makna di balik kata-kata di dalam buku ini.

Secara keseluruhan, buku ini baik dan layak ada di hati para pembacanya. Karena pembaca akan mendapatkan pencerahan setelah membaca buku setebal 119 halaman ini.

Peresensi:
WILLY RAMADHAN
Sukabumi
Email: lyram1991@gmail.com

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…