Skip to main content

Proyek Menulis Buku Antologi Esai “Solusi Masalah Bangsa”

Bismillahirrahmanirrahim…

Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia Wilayah Jabodetabek akan menerbitkan buku antologi esai perdana karya anggotanya. Namun proyek antologi ini juga terbuka untuk umum yang bukan anggota FAM Indonesia.

Adapun tema yang diangkat dalam proyek antologi esai ini adalah “Solusi Masalah Bangsa” ditinjau dari berbagai aspek antar lain: pendidikan, sosial, budaya, dll. Kita sangat menyadari bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang dianugerahkan Yang Maha Kuasa dengan sumberdaya yang begitu besar. Namun, sumberdaya yang begitu besar itu belum mampu didayagunakan untuk mensejahterakan rakyat. Hal ini disebabkan karena berbagai permasalahan yang masih mendera bangsa ini. Sebagai generasi anak bangsa kita ingin bangsa ini menjadi maju dan sejahtera.

Kenapa antologi esai ini bertema “Solusi Masalah Bangsa”? Sebagai komponen anak bangsa kita berharap agar Anggota FAM dapat berkontribusi dalam memajukan bangsa. Dan setiap diri kita dapat menjadi solusi. Untuk itu, kami berharap Anggota FAM dapat menorehkan gagasan-gagasan kedalam bentuk esai yang insya Allah akan menjadi Solusi Masalah Bangsa.

Demikianlah penerbitan antologi ini digagas. Harapannya dari gagasan-gagasan yang terurai memberi pesan-pesan solusi dapat dipetik dan bermanfaat bagi pembaca dan pengelola bangsa ini.

Lalu, apa syarat mengikuti proyek antologi artikel ini? Adapun ketentuan/kriteria naskah yang diterima adalah sebagai berikut:

1. Penulis adalah anggota Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia yang mengantongi Nomor ID keanggotan FAM Indonesia, maupun non-anggota.

2. Naskah esai harus asli karya sendiri, bukan jiplakan atau terjemahan dan sedang tidak diikutsertakan pada event lomba menulis dimanapun.

3. Esai bertema: “Solusi Masalah Bangsa”.

4. Bentuk tulisan esai populer, maksimal 3 halaman.

5. Esai ditulis/diketik dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)

Syarat Pengiriman Naskah:

1. Tulisan diketik rapi di kertas HVS A4/kuarto.

2. Menuliskan Biodata (ditulis dalam bentuk narasi) disertai foto diri di lembar terakhir artikel.

3. Jumlah peserta/penulis dibatasi hanya 30 orang, masing-masing calon peserta boleh mengirim maksimal 2 naskah, naskah yang terpilih 1 naskah per peserta

4. Naskah esai sesuai tema.

5. Naskah dikirim via email: efrisb@gmail.com (selambat-lambatnya tanggal 10 Juni 2013).

6. Naskah esai yang diikutsertakan dalam antologi ini menjadi milik panitia (hak cipta tetap pada penulis).

7. Buku terbit pada bulan Agustus 2013.

Keterangan tambahan:

1. Biaya penerbitan buku antologi cerpen ini ditanggung bersama-sama, masing-masing penulis menginfakkan biaya Rp85 ribu (khusus anggota FAM Indonesia) atau Rp100 ribu (non-anggota FAM Indonesia).

2. Biaya tersebut akan digunakan untuk proses cetak buku, meliputi pembuatan cover, layout halaman isi, pengurusan ISBN, dan biaya kirim buku ke alamat masing-masing penulis.

3. Masing-masing penulis akan mendapat 1 (satu) buku antologi sebagai tanda penerbitan. Bila penulis ingin memiliki buku dalam jumlah lebih, maka dapat membelinya kepada FAM Indonesia.

4. Buku dicetak dalam jumlah terbatas yang diniatkan untuk memotivasi anggota FAM Indonesia aktif menulis dan berkarya.

Demikian informasi ini kami sampaikan, hal-hal yang kurang jelas dapat ditanyakan kepada panitia penerbitan lewat email: efrisb@gmail.com.

Salam santuin, salam karya
Efri S. Bahri
FAM INDONESIA
Wilayah Jabodetabek

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…