• Info Terkini

    Saturday, April 20, 2013

    [Resensi Buku] Berdakwah Lewat Tulisan yang Indah



    Judul Buku: Kumpulan puisi
    Penulis: Denni Meilizon
    Penerbit: FAM Publishing
    Cetakan: I, November 2012
    Tebal: xviii + 116 halaman
    Harga: Rp. 38.500,-
    ISBN: 978-602-18971-7-1

    Berdakwah tidak harus dilakukan oleh seorang ustad, kiyai, ataupun ulama, juga tidak melulu harus dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan Al-Hadist. Cukup dengan imajinasi yang tinggi lalu menuliskan imajinasi itu menjadi puisi sederhana namun sarat akan makna. Dengan begitu kita sudah bisa berdakwah melalui tulisan. Seperti halnya Denni Meilizon yang menyuguhkan tulisan indahnya dalam buku “Kidung Pengelana Hujan” yang isinya kumpulan puisi yang sarat akan makna keislamannya.

    Di dalam buku ini penulis menjelaskan lebih jauh tentang hubungan makluk dengan penciptanya, juga hubungan makhluk dengan makhluk lainnya. Seperti dalam puisi yang berjudul “Memeluk Takdir”, di mana sang penulis berharap kepada Sang Pencipta (Allah SWT) agar ia dapat menerima takdir yang sudah digariskan dan bisa menghargai dirinya sendiri. Penulis juga menggambarkan secara jelas tentang hubungan makhluk dengan makhluk lainnya, seperti dalam puisi yang berjudul “Aku dan Kamu”, di mana sang penulis mengajak kekasihnya untuk selalu bersama dalam keadaan senang maupun susah. Karena memang begitulah hidup, harus ada keharmonisan antara Pencipta dengan ciptaanNya dan antara sesama makhluk ciptaan. Selain dua hal di atas, penulis juga menceritakan liku kehidupan pribadinya melalui beberapa puisi yang lain. Seperti pada puisi yang berjudul “Aku dan Surga Itu” penulis menceritakan kesedihan yang teramat sangat ketika ditinggal dua orang perempuan yang ia sebut sebagai pemilik surga, yakni ibu dan ibu mertuanya. Jadi, ketika kita selesai membaca buku “Kidung Pengelana Hujan”, kita akan tahu bagaimana hidup yang benar-benar hidup sekaligus menyelami kehidupan pribadi sang penulis.

    Sepertinya sang penulis dalam memainkan kata-kata tidak diragukan lagi, terbukti dari tulisan-tulisannya yang menggunakan bahasa diksi dan sedikit sulit dipahami, hingga membuat siapa saja yang membacanya terus meraba-raba arti dari bait demi bait yang tertoreh dalam puisi-puisi tersebut. Meskipun saya menemukan ada beberapa kesalahan dalam penulisan kata baik dalam isi maupun judul. Seperti penulisan judul yang menggunakan huruf kapital seluruhnya juga dalam penulisan kata sambung atau penghubung dan kata depan pada beberapa judul yang tidak sesuai dengan EYD. Salah satu contoh penulisan judul dan penggunaan kata sambung yang tidak sesuai adalah judul puisi “AKU DAN SURGA ITU” yang harusnya ditulis “Aku Dan Surga Itu” lalu diubah lagi menjadi “Aku dan Surga Itu”. Karena kata “dan” merupakan kata sambung yang harus ditulis menggunakan huruf kecil meskipun dalam judul. Juga dalam judul lain “EMBUN DIATAS KACA” yang harusnya ditulis “Embun di Atas Kaca”. Karena kata “di” merupakan kata depan yang juga harus ditulis menggunakan huruf kecil meskipun dalam judul. Juga masih ditemukan kesalahan yang sama pada beberapa judul yang menggunakan kata sambung atau penghubung dan kata depan.

    Lain halnya dengan kesalahan pada judul yang terjadi dalam penulisan dan penggunaan kata sambung dan kata depan, pada isi saya menemukan beberapa kesalahan dalam penggunaan tanda baca. Semisal dalam bait “Kawan, ingatkah kalian saat kampung kecil itu teramat sempit bagi kita” dalam puisi yang berjudul “Kawan, Ternyata Dunia Tidak Seperti yang Kita Kira” yang seharusnya diberi tanda baca berupa tanda tanya (?) pada akhir kalimat, karena kalimat tersebut merupakan sebuah kalimat pertanyaan dikarenakan adanya kata “ingatkah”. Kesalahan yang sama juga saya temukan pada kalimat “Jadi kenapa kita mendikte cinta mesti menuruti maunya kita” dalam puisi yang berjudul “Ku Defenisikan Cinta”.

    Kesalahan lain juga saya temukan pada nomor halaman sebuah puisi di daftar isi tidak sesuai dengan tata letak puisi tersebut, bahkan seluruhnya. Kesalahan ini bermula dari puisi ketiga yang berjudul “Tulang Rusukku”. Di mana dalam daftar isi nomor halaman yang tertera adalah nomor 8, sedangkan yang benar adalah nomor 7 begitu seterusnya hingga sampai pada puisi terakhir. Bahkan dalam daftar isi nomor halaman yang tertera sampai 116, sedangkan yang benar hanya sampai 112. Dan catatan “Tentang Penulis” terdapat pada halaman 114 bukan 118. Memang ini kesalahan sepele, namun ketika pembaca ingin membaca puisi dengan judul tertentu dan mencarinya pada daftar isi, tapi ketika dilihat pada halaman yang nomornya tertera pada daftar isi dan tidak menemukan puisi tersebut, maka pembaca mengira bahwa puisi tersebut tidak ada. Padahal terdapat pada halaman sebelumnya atau sesudahnya. Dan inilah alasan saya menulis jumlah halamannya adalah xviii + 116, bukan xviii + 120. Karena setelah saya hitung ulang pun hasilnya 116.

    Satu masalah lagi saya temukan pada tulisan di bagian belakang cover yang kurang jelas dibaca terutama nomor ISBN dan alamat penerbit yang sama sekali tidak bisa dibaca, juga plastik tipis yang membalut cover mudah mengelupas. Namun, terlepas dari semua itu buku “Kidung Pengelana Hujan” masih sempurna dalam penyampain makna-makna yang terkandung dalam setiap baitnya. Yang bisa membuat pembaca ikut terhanyut dalam imajinasi sang penulis. Jadi, apa kalian harus berpikir dua kali untuk membeli buku ini? Saya rasa tidak!

    Peresensi:
    ROHYULI
    FAM1603U, Serang
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: [Resensi Buku] Berdakwah Lewat Tulisan yang Indah Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top