• Info Terkini

    Thursday, April 11, 2013

    [Resensi Buku] Bukittinggi, Setapak Tanah Surga

    Judul Buku: Bukittinggi, Ambo Di Siko
    Penulis: 39 Penyair Nusantara
    Kategori: Buku Puisi
    Penerbit: FAM Publishing
    Tahun Terbit: Februari, 2013
    Tebal: 154 halaman
    ISBN : 978-602-17404-7-7
    Harga: Rp 41.000,-


    Ketika disebut Bukittinggi, maka orang akan segera teringat Jam Gadang. Tak bisa dipungkiri bahwa Jam Gadang memang dikenal sebagai ikonnya Kota Bukittinggi. Jam berukuran besar yang terletak di jantung Kota Bukittinggi ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur (Sekretaris Kota) pada masa kolonial. Seperti terlihat di kover buku ini, gambar Jam Gadang terpampang begitu jelas, apalagi dengan judul buku “Bukittinggi, Ambo di Siko”, maka semakin jelaslah tentang apa yang ingin disampaikan oleh para penulis di dalam buku ini.

    Ismet Amziz sebagai orang nomor wahid di Bukittinggi memberikan apresiasi mendalam kepada para penulis dan penerbit buku ini. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa kehadiran buku ini menjadi kado ulang tahun terindah bagi Bukittinggi di usianya yang ke-228 tahun.

    Bahkan bagi seorang penyair senior Sumatera Barat, Rusli Marzuki Saria, dalam prolognya menyatakan bahwa meskipun membaca sajak-sajak di dalam buku ini cukup melelahkan mata, namun ada rasa penasaran yang begitu mendalam untuk menuntaskan membacanya. Lebih lanjut Rusli mengatakan bahwa Kota Bukittinggi merupakan kota penulis yang telah melahirkan cerita-cerita perjuangan dalam bentuk sajak dan puisi.

    Tidak hanya dari Bukittinggi, para penulis di buku ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan ada yang bermukim di Hull, Inggris. Bukittinggi tampil utuh dalam goresan pena para penulis buku ini.

    Menceritakan tentang seorang yang begitu terpesona mendengar cerita sahabatnya mengenai keindahan Kota Bukittinggi. Gambaran sahabatnya itu tentang kotanya yang sejuk, asri dan penduduknya yang begitu bersahabat telah membius sahabatnya itu dengan sebuah rasa penasaran yang begitu mendalam untuk segera berkunjung ke Kota Bukittinggi.

    Dulu dia sering ke Bukittinggi, namun tidak pernah sekalipun menginap agak semalam di kota itu. Dan sekarang dia punya waktu yang begitu panjang untuk menikmati berbagai pesona yang dihidangkan kota wisata itu. Bukittinggi memang pantas dijadikan sebagai daerah tujuan wisata kuliner karena menawarkan berbagai macam makanan dan masakan.

    Bukittinggi menawarkan beragam objek wisata yang menarik, di antaranya Ngarai Sianok dengan keindahan alamnya dan Jam Gadang yang berdiri megah menyihir mata kita seolah memasuki negeri dongeng tapi nyata.

    Pergaulan muda-mudi yang semakin hari semakin menjadi-jadi juga tidak luput dari sorotan penulis. Jilbab yang dikenakan seolah hanya sebagai simbol saja, tidak menggambarkan akhlaq islami pemakainya. Sikap dan tingkah bobrok mereka hanya akan mengotori sejarah Bukittinggi yang dikenal sebagai negeri yang religius dan berbudaya.

    Bukittinggi memang pantas untuk selalu dirindui. Setidaknya itulah yang ingin disampaikan oleh penulis yang berdomisili di tanah rantau ini. Terlahir dan dibesarkan di kota ini telah menggoreskan kenangan yang tak terlupa. Walau sekarang merantau di negeri orang namun pesona Kota Bukittinggi selalu memanggil-manggil untuk pulang.

    Setapak tanah surga. Dia ingin menggambarkan begitu banyaknya nikmat yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada negeri ini. Sebagai contoh, dari sebuah batupun bisa hidup tumbuhan. Penulis ingin mengajak pembaca sekalian untuk mensyukuri nikmat Allah yang begitu besar ini.

    Bagi Anda yang ingin mengetahui setiap sudut Kota Bukittinggi dengan berbagai pesonanya maka selayaknyalah untuk memiliki dan memaknai isi buku ini, sehingga bisa dipastikan pikiran anda akan terbius untuk segera menjadwalkan kunjungan ke Bukittinggi.

    Secara umum buku ini bagus untuk dibaca. Namun terlihat beberapa kelemahan dari buku ini. Rata-rata penulis hanya mengulas Bukittinggi dari sisi kelebihannya saja. Sedikit sekali yang menyoroti kekurangan Kota Bukittinggi. Di samping itu ada beberapa kesalahan penulisan, seperti: tertulis “Bukit Tinggi” yang seharusnya digabung menjadi “Bukittinggi”(Hal 93), tertulis “dirumah gadang” seharusnya ditulis “di rumah gadang”, dan kesalahan penulisan “tampelong” seharusnya ditulis “talempong” dan kesalahan yang sama kembali terulang pada bait di bawahnya. Padahal di bagian judul sudah betul ditulis “talempong”. (Hal 45).

    Peresensi:
    MUHAMMAD ABRAR
    IDFAM1174U, Padang, Sumatera Barat
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: [Resensi Buku] Bukittinggi, Setapak Tanah Surga Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top