Skip to main content

[Resensi Buku] Bukittinggi, Setapak Tanah Surga

Judul Buku: Bukittinggi, Ambo Di Siko
Penulis: 39 Penyair Nusantara
Kategori: Buku Puisi
Penerbit: FAM Publishing
Tahun Terbit: Februari, 2013
Tebal: 154 halaman
ISBN : 978-602-17404-7-7
Harga: Rp 41.000,-


Ketika disebut Bukittinggi, maka orang akan segera teringat Jam Gadang. Tak bisa dipungkiri bahwa Jam Gadang memang dikenal sebagai ikonnya Kota Bukittinggi. Jam berukuran besar yang terletak di jantung Kota Bukittinggi ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur (Sekretaris Kota) pada masa kolonial. Seperti terlihat di kover buku ini, gambar Jam Gadang terpampang begitu jelas, apalagi dengan judul buku “Bukittinggi, Ambo di Siko”, maka semakin jelaslah tentang apa yang ingin disampaikan oleh para penulis di dalam buku ini.

Ismet Amziz sebagai orang nomor wahid di Bukittinggi memberikan apresiasi mendalam kepada para penulis dan penerbit buku ini. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa kehadiran buku ini menjadi kado ulang tahun terindah bagi Bukittinggi di usianya yang ke-228 tahun.

Bahkan bagi seorang penyair senior Sumatera Barat, Rusli Marzuki Saria, dalam prolognya menyatakan bahwa meskipun membaca sajak-sajak di dalam buku ini cukup melelahkan mata, namun ada rasa penasaran yang begitu mendalam untuk menuntaskan membacanya. Lebih lanjut Rusli mengatakan bahwa Kota Bukittinggi merupakan kota penulis yang telah melahirkan cerita-cerita perjuangan dalam bentuk sajak dan puisi.

Tidak hanya dari Bukittinggi, para penulis di buku ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan ada yang bermukim di Hull, Inggris. Bukittinggi tampil utuh dalam goresan pena para penulis buku ini.

Menceritakan tentang seorang yang begitu terpesona mendengar cerita sahabatnya mengenai keindahan Kota Bukittinggi. Gambaran sahabatnya itu tentang kotanya yang sejuk, asri dan penduduknya yang begitu bersahabat telah membius sahabatnya itu dengan sebuah rasa penasaran yang begitu mendalam untuk segera berkunjung ke Kota Bukittinggi.

Dulu dia sering ke Bukittinggi, namun tidak pernah sekalipun menginap agak semalam di kota itu. Dan sekarang dia punya waktu yang begitu panjang untuk menikmati berbagai pesona yang dihidangkan kota wisata itu. Bukittinggi memang pantas dijadikan sebagai daerah tujuan wisata kuliner karena menawarkan berbagai macam makanan dan masakan.

Bukittinggi menawarkan beragam objek wisata yang menarik, di antaranya Ngarai Sianok dengan keindahan alamnya dan Jam Gadang yang berdiri megah menyihir mata kita seolah memasuki negeri dongeng tapi nyata.

Pergaulan muda-mudi yang semakin hari semakin menjadi-jadi juga tidak luput dari sorotan penulis. Jilbab yang dikenakan seolah hanya sebagai simbol saja, tidak menggambarkan akhlaq islami pemakainya. Sikap dan tingkah bobrok mereka hanya akan mengotori sejarah Bukittinggi yang dikenal sebagai negeri yang religius dan berbudaya.

Bukittinggi memang pantas untuk selalu dirindui. Setidaknya itulah yang ingin disampaikan oleh penulis yang berdomisili di tanah rantau ini. Terlahir dan dibesarkan di kota ini telah menggoreskan kenangan yang tak terlupa. Walau sekarang merantau di negeri orang namun pesona Kota Bukittinggi selalu memanggil-manggil untuk pulang.

Setapak tanah surga. Dia ingin menggambarkan begitu banyaknya nikmat yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada negeri ini. Sebagai contoh, dari sebuah batupun bisa hidup tumbuhan. Penulis ingin mengajak pembaca sekalian untuk mensyukuri nikmat Allah yang begitu besar ini.

Bagi Anda yang ingin mengetahui setiap sudut Kota Bukittinggi dengan berbagai pesonanya maka selayaknyalah untuk memiliki dan memaknai isi buku ini, sehingga bisa dipastikan pikiran anda akan terbius untuk segera menjadwalkan kunjungan ke Bukittinggi.

Secara umum buku ini bagus untuk dibaca. Namun terlihat beberapa kelemahan dari buku ini. Rata-rata penulis hanya mengulas Bukittinggi dari sisi kelebihannya saja. Sedikit sekali yang menyoroti kekurangan Kota Bukittinggi. Di samping itu ada beberapa kesalahan penulisan, seperti: tertulis “Bukit Tinggi” yang seharusnya digabung menjadi “Bukittinggi”(Hal 93), tertulis “dirumah gadang” seharusnya ditulis “di rumah gadang”, dan kesalahan penulisan “tampelong” seharusnya ditulis “talempong” dan kesalahan yang sama kembali terulang pada bait di bawahnya. Padahal di bagian judul sudah betul ditulis “talempong”. (Hal 45).

Peresensi:
MUHAMMAD ABRAR
IDFAM1174U, Padang, Sumatera Barat

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…