Skip to main content

[Resensi Buku] Kehidupan dalam Rangkulan Puisi

Judul Buku: Ijab Kabul Pengantin
Jenis Buku: Kumpulan Puisi
Pengarang: Hafney Maulana
Penerbit: FAM Publishing   
Cetakan: Pertama, 2012
Tebal: 94 Halaman
Harga Buku: Rp 28.600,-

   
Puisi dikatakan puisi apabila bentuk sastra ini memiliki ikatan-ikatan visual pada jumlah kata, bait, larik, dan juga alunan. Puisi merupakan salah satu karya sastra yang mengandung unsur keindahan, sesuatu yang unik dan sering menjadi buah bibir kalangan sastrawan pada umumnya. Puisi terlahir dari segala renungan, dan pengalaman yang dialami, dilalui, maupun dilihat oleh sang penyair yang kemudian mereka curahkan ke dalam kata demi kata yang mengandung makna hingga membentuk suatu kesatuan dalam puisi. Kata dalam puisi bagi seorang penyair, mengalir begitu saja bagaikan air dengan hukum alam. Jika mereka sudah mendapat penyakit candu puisi maka kata-kata akan lahir begitu saja. Itulah puisi. Manusia butuh puisi. Puisi juga dapat sebagai penghibur, ilmu pengetahuan, pembelajaran, dan pengetahuan lainnya karena tiap kata dalam puisi sedikit banyaknya memiliki makna tersendiri. Sebagaimana yang diungkapkan oleh pengarang bahwa, hidup adalah manifestasi puitis, karena pada dasarnya puisi bukanlah untuk dipahami atau untuk dimengerti tapi, puisi adalah manifestasi kehidupan karena ia seni dari segala seni.

“Ijab Kabul Pengantin” adalah kumpulan puisi yang terkemas dalam bentuk puisi-puisi berkekuatan religuisitas yang tinggi dan menarik. Di dalam karya tersaji perenungan atas hubungan manusia dengan Sang Penciptanya dan perenungan mengenai alam semesta sebagai ciptaan yang kuasa. Untuk mengetahui hal tersebut, dapat terlihat dari struktur batin sebuah puisi yang terdiri dari perasaan (feeling) yaitu; sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya, tema/makna (sense) media puisi adalah bahasa, tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan, amanat (intention) yaitu pesan yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca, dan nada (tone) yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Secara keseluruhan strukur batin ini cukup koheren dalam kumpulan puisi “Ijab Kabul Pengatin”. Secara umum tema dan amanat yang disisipkan seorang penyair di dalamnya mengandung unsur religuisitas terhadap Sang Pencipta. Salah satu contohnya adalah puisi yang berjudul “Dalam Kata”, “Seruling Jiwa”, “Ada Keranda”, dan masih banyak puisi lainnya yang sarat dengan makna religuisitas, kedekatan manusia dengan Sang Pencipta. Puisi memiliki makna, baik itu perkata, perlarik, maupun tiap baitnya tergantung pembaca memaknainya.

Kedekatan manusia dengan Sang Pencipta juga tampak jelas pada kutipan potongan puisi yang berjudul “Seruling Jiwa” berikut;

……………….
Seruling jiwa mengantarkan-Mu
dalam jarak nadiku
di mana hidup dan matiku
bagi-Mu
dan dalam tahyat pun
ku pungut nama-Mu
satu demi satu. 


(Hafney Maulana)

Dari kutipan penggalan puisi tersebut seorang pengarang memperlihatkan bagaimana pengharapan seorang manusia sebagai makhluk ciptaan untuk mendapatkan ketenteraman dengan selalu mendekatkan diri pada Sang Penciptanya.    

Selain struktur batin, puisi juga memiliki bentuk fisik yaitu; Diksi (diction) yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi. Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Kata konkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Gaya bahasa, yaitu penggunaan bahasa yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu. Rima/Irama adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Pesan dalam puisi disebut amanat. Pesan merupakan anjuran atau nasihat penyair kepada pembaca puisi. Anjuran atau nasihat tersebut berupa perbuatan-perbuatan baik atau berhubungan dengan nilai moral. Pesan atau amanat penyair disampaikan lewat kata demi kata dalam puisi.

Baris-baris pada puisi dapat berbentuk apa saja (melingkar, zigzag dan lain-lain). Hal tersebut merupakan salah satu cara penulis untuk menunjukkan pemikirannya. Puisi kadang-kadang juga hanya berisi satu kata/suku kata yang terus diulang-ulang. Selain itu ada juga puisi yang terdiri dari dua baris dan bahkan ada puisi untuk satu judul memiliki beberapa halaman isi. Bagi pembaca hal itu mungkin membuat puisi tersebut menjadi tidak dimengerti. Tapi penulis selalu memiliki alasan untuk segala 'keanehan' yang diciptakannya. Tak ada yang membatasi keinginan penulis dalam menciptakan sebuah puisi. Dalam kumpulan puisi “Ijab Kabul Pengantin” juga terdapat puisi panjang dan puisi pendek atau puisi yang hanya ditulis dalam satu bait saja, dan bahkan juga ada puisi panjang yang memuat beberapa bait hingga lebih dari satu halaman kertas. Hanya saja dalam kumpulan puisi ini susunan untuk bagian puisi panjang dan puisi pendek tidak tersusun rapi, dalam artian puisi panjang disusun dengan puisi panjang pada halaman yang berdekatan begitu juga dengan puisi pendek kalau dapat dipajang pada halaman yang berdekatan agar terkesa rapi. Namun, di balik semua itu hal ini tidak terlalu berpegaruh. 

Banyak orang berpikir bahwasanya puisi hanyalah persoalan imajinasi. Persoalan puisi merupakan hidangan estetika hati yang terkadang mengabaikan kebutuhan rasionalitas pesan yang disampaikan melalui hidangan karya. Karya-karya religius keagamaan ini mempertemukan kekuatan pesan dan imajinasi (estetika karya sastra) dapat ditemukan secara kental dalam beberapa puisi yang tersampul dalam kumpulan puisi “Ijab Kabul Pengantin”.

Puisi-puisi yang tersampul dalam kemasan “Ijab Kabul Pengantin” sangat sarat dengan kehidupan antara manusia dengan Sang Penciptanya, alam dengan apa yang telah menciptakannya. Mengambil hikmah dari butiran kata perkata yang tersusun rapi dalam susunan larik dan bait sajak sungguh sangat luar biasa. Bacaan-bacaan puisi yang terdapat dalam kumpulan puisi ini tidak begitu sulit untuk dipahami, tergantung bagaimana si pembaca memaknai kata perkata dengan membacanya berulang-ulang kali dan memakai kata perkata hingga menemukan tema, makna utama secara menyeluruh. Setiap pembaca akan menemukan dan memiliki makna tersendiri dalam menghayati suatu puisi. Saya sebagai pembaca dan penikmat puisi merasa puisi ini sangat menarik karena kita diajak oleh penyairnya untuk mengambil hikmah dan memaknai hidup yang digambarkan atau disalurkan dalam bentuk kata tersusun hingga menjadi sebuah puisi.  

Ketertarikan seorang pembaca terhadap sebuah karya adalah melihat sepintas dari judulnya kemudian mengintip sedikit latar belakang atau di sini bisa dikatakan sebagai kata pengantar dari si pengarang, apa yang menjadi latar belakangnya dalam menulis karya tersebut. Jika judulnya menarik, maka si pembaca akan tertarik dan adanya rasa ingin tahu dan penasaran untuk membaca dan menyantap kata demi kata, kalimat yang tersusun di dalamnya untuk mendapatkan kekenyangan dengan merenggut satu persatu hikmah, pesan dan manfaat yang disuguhkan oleh si pengarang atau seorang penyair. Karena isi puisi yang secara umum sarat dengan religuisitas, atau kedekatan antara manusia dengan Sang Pencipta, barangkali ada baiknya judul yang dipersembahkanpun lebih ke arah kedekatan manusia dengan Sang Pencipta. 

Peresensi
EKA SUSANTI
FAM 685U-Padang Panjang
Email: ekasusanti07184017@yahoo.co.id

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…