• Info Terkini

    Sunday, April 28, 2013

    Semangkuk Kata Cinta untuk Para Sahabat Tercinta

    Telah kulalui beberapa kali tanggal kelahiranku pada setiap tahunnya. Beraneka kejadian, hadiah, ucapan dan ungkapan telah mewarnai hari penting itu. Semua berkesan. Namun, Juni 2012 menjadi momen milad yang paling berkesan dari sebelumnya. Mengapa? Pada milad Juni 2012 banyak hadiah berharga yang datang dari para sahabat penulis yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara, bahkan luar negeri. Tak pernah terpikir sebelumnya akan ada Juni ini dan hadiah luar biasa ini. Sungguh, tak pernah terpikir dalam benak, namun terwujud nyata.

    Bukan permata, uang atau bunga yang mereka persembahkan. Bukan juga sebuah tiket perjalanan ke sebuah negara yang kuimpikan seperti yang ditawarkan seorang teman dari Dubai. Mereka mempersembahkan rangkaian kata menarik yang dituangkan dalam bentuk surat, cerpen dan puisi. Sungguh, mereka rela menyisihkan sebagian waktunya untuk menuliskan rangkaian kata ini di momen hari bahagiaku. Mereka rela tangan-tangannya sejenak menari menyusun kalimat indah dan mempersembahkannya untukku. Mereka rela mencari ide, hingga pikiran harus melayang-layang ke udara demi menemukan kalimat apa yang cocok untuk menyampaikan ungkapan itu. Jika bukan karena hati yang ikhlas, tangan-tangan itu tak mungkin bergerak menuliskannya. Jika bukan karena hati yang bersih, tak mungkin ungkapan “cinta” yang tulus itu akan terangkai. Kasih sayang, cinta hanya keluar dari hati yang tulus ikhlas, bukan hati yang terpaksa. Sungguh, mereka sangat luar biasa bersedia menyematkan rasa cinta itu di momen bahagiaku.

    Kue bisa habis dalam sekejap. Bunga bisa layu dalam sekejap. Namun tulisan tetap awet sepanjang masa. Kapan pun bisa dibaca kembali. Kado yang tak lekang di makan waktu, tak habis dimakan usia. Inilah kado terindah dari para penulis yang berhati “indah.”

    Jujur, saya malu dengan apa yang mereka tulis melalui surat, puisi dan cerpen. Tak pernah kuminta mereka menuliskan sosok Aliya Nurlela “sesempurna” itu. Entah dari mana mereka mendapatkan gambaran tentang sosok yang mereka tulis. Mungkin dari sekilas sosok yang tampil di dunia maya dengan aktifitas yang mereka lihat. Berulangkali harus menggelengkan kepala, berdecak kagum, bulu kuduk meriding hingga mata berkaca-kaca. Bagaimana saya tidak terharu? Yang mereka tulis sungguh indah. Seakan mereka berhadapan dengan sosok wanita hebat yang menawan. Sungguh, saya malu membacanya. Saya hanyalah wanita sederhana yang sangat biasa. Rasanya “terlalu tinggi” kata yang mereka rangkai untuk mengangkat seorang wanita sederhana ini. Saya bukan siapa-siapa. Bukan penulis hebat, sastrawan, motivator atau wanita cantik yang layak dipuja. Saya hanya seorang pembelajar yang sedang menuntut ilmu merangkai kata lewat jalan tak terduga yang dihadirkan Tuhan. Tuhan Maha Baik, telah memberiku guru yang luar biasa juga.

    Terselip juga rasa syukur yang dalam, apa yang ditulis para sahabat penulis tentang diriku dalam karya mereka, semuanya positif. Mereka memandang dari sisi positifnya. Semua pandangan positif itu memacu semangatku untuk menjadi yang lebih baik melebihi yang mereka sebutkan. Tentu, bukan sebentuk sikap yang dibuat-buat, tapi benar-benar sikap pribadi yang sudah mendarah daging. Pandangan positif mereka juga sekaligus doa yang berulangkali kuamini. Semoga saya bisa sebaik yang kalian tulis, baik dalam kenyataan, dalam pandangan lahir manusia, terlebih dalam pandangan Allah Swt.

    Meskipun mereka menulis dalam rangka berpartisipasi dalam event Lomba Menulis Milad Sekjen FAM, tapi entah mengapa hati kecilku berkata, tujuan utama mereka bukan semata-mata untuk memboyong hadiah yang harganya tidaklah seberapa. Hal ini dapat terbaca dari tulisan Rahimah Ib, pemenang surat terbaik dalam event ini. Inilah kutipan surat Rahimah Ib: “Aliya sahabatku, surat ini tulus aku haturkan untukmu. Bukan karena aku ingin menang dalam lomba yang sedang digelar, karena sahabat FAM kita sangat hebat, semua punya kata yang indah untukmu. Aku tulus, karena Allah. Ah…sudahlah, aku sudah cukup menulis, mataku mulai basah. Teman kantor mulai bertanya apa yang aku tulis sehingga aku begitu terharu. Nanti, aku akan menceritakan pada mereka, tentangmu tentu saja.”

    Kubisikkan padamu sahabat, jika niat persahabatanmu tulus, maka seperti apa pun keadaan diriku, tak akan mengubah niatmu itu. Sungguh, saya terharu membaca karya kalian semua. Kalianlah motivator hebat itu, bukan saya. Sebab, berkat karya-karya kalian tersebut semangatku membara lebih dari sebelumnya. Kepercayaan diriku bisa kembali, rasa optimis semakin meningkat dan semangat berkarya semakin menggebu. Kalianlah penyemat kasih, sayang, cinta di hati seorang insan yang biasa. Kalian hapus air mata perih ini dengan untaian kata yang memikat jiwa.

    Tanpa bermaksud mengesampingkan bahkan meniadakan ukiran bahagia dari orang-orang terkasih di sela-sela ujian berat yang pernah hadir, kehadiran kado tulisan dari para penulis ini telah menghadirkan semangat “jatuh cinta” dalam banyak hal. Seperti bisikku pada organ penyemangat: "Aku ingin jatuh cinta setiap hari!”

    Ketika cinta itu bersemayam di hati, semangat akan meningkat berlipat, badan sakit seakan sehat, bibir selalu mengembangkan senyum dan mata selalu berbinar terang. Pekerjaan berat terasa ringan dan waktu berputar demikian cepat. Cinta menumbuhkan semangat, keindahan, kesehatan dan kebahagiaan. Kuserap dahsyatnya semangat jatuh cinta agar semangat selalu stabil, badan selalu sehat, semua yang di depan mata terlihat indah dan kebahagiaan mewarnai hari-hariku. Aku belajar jatuh cinta pada semua hal yang menjadi tugasku sebagai seorang hamba."

    Mungkin terselip tanya di hati pembaca, apa manfaat membaca tulisan yang isinya ditujukan kepada satu orang saja? Bagiku, tak ada yang sia-sia dari sebuah hasil karya positif. Mungkin memang benar secara maksud tulisan tersebut ditujukan kepada satu orang saja, tetapi coba kita lihat cara mereka menulis, bukankah itu akan mengispirasi siapa pun?
    Bahwa menulis bukan sekadar corat-coret tanpa nilai. Menulis dalam momen apa pun harus memerhatikan estetika dan etika. Mereka, para penulis yang tergabung dalam buku ini telah menghadirkan itu.

    Hal positif lain yang bisa dipetik pembaca dari tulisan mereka, kreatifitas tulisan mereka yang demikian menarik, bisa menuliskan sosok satu orang dari kacamata mereka masing-masing dalam sebuah momen. Otomatis semua karya mereka adalah karya baru yang disiapkan hanya dalam beberapa waktu saja selama event itu berlangsung, tak semua penulis mendapat ide baik dalam momen tertentu.

    Lihat pula cara mereka menulis dengan ikhlas. Tak mudah menuliskan yang “mengangkat kelebihan” seseorang jika tak disertai hati yang ikhlas. Apalagi di ranah publik. Karena semua karya yang mereka tulis, syaratnya harus diposting di grup “Forum Aishiteru Menulis.” Tentu saja, akan dibaca banyak orang. Oleh karena itu, karya mereka ini patut mendapat apresiasi.

    Terima kasih yang teramat dalam kupersembahkan kepada sahabat-sahabatku para penulis yang tergabung dalam buku ini. Mereka adalah: Rahimah Ib, Ken Hanggara, Rahmat Herdiansyah, Nadia Regina Martanti, Refdinal Muzan, Abdul Kadir Halimin, Irwan Hasan, Gathut Bintarto. Haryanii Tsaqieb, Maarifa Akasyah, Muhammad Syam, Hendra Setyawan, Joey Pengganti Wiro, Titi Haryati Abbas, Vina Rohmatul Ummah, Tosa Poetra, Nuryaman Emil Hamzah. Ervyta Sari, Akaha Taufan Aminuddin, Arif Hifzul, Muhammad Reifendy. Nuh Rafi, Nurida Sari, Aisyah Al Hinduwan, Yori Tanaka, DP Anggi, Rendra Pirani, Smith Rain, Iqbal Tawakal, Erka Ninok, Mawar Rovita Sari, Husnul Mawaddah, Fatimah Azzahra dan Mia Mutiara.

    Salam santun, salam karya.

    Aliya Nurlela

    *) Pengurus Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Semangkuk Kata Cinta untuk Para Sahabat Tercinta Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top