Skip to main content

Tentang Buku “100% Insya Allah Sembuh”

Sebelum buku saya yang berjudul “100% Insya Allah Sembuh” diterbitkan oleh sebuah penerbit konvesional, saya disarankan oleh salah satu penerbit untuk mengganti judulnya menjadi “100% Pasti Sembuh.” Alasannya, judul baru tersebut lebih menjual. Tapi terus-terang saya menolak.

Saya juga punya alasan, pertama, saya tidak ingin memastikan sesuatu yang di luar wilayah kekuasaan saya. Sesuatu yang pasti itu hanya milik Allah. Kedua, saya tidak sedang jualan obat. Isi buku ini bukan tentang racikan obat-obatan yang harus diminum orang sakit. Ketiga, posisi saya saat menulis buku ini bukan sebagai dokter, tabib atau seorang terapis. Posisi saya adalah pasien yang baru sembuh dengan menjalankan pengobatan komprehensif. Bahkan, posisi saya saat itu baru sembuh dari penyakit parah yang saya derita hingga mengalami kelumpuhan selama 3 bulan dan saya sedang menjalani takdir sakit lainnya.

Intinya, tulisan tersebut dalam rangka bercerita, berbagi, siapa tahu ada yang mengalami nasib yang sama. Hingga tergerak membacanya dan mengambil manfaat darinya. Jika pun tak ada yang merasa mendapat manfaat dari tulisan itu, setidaknya saya telah menuliskan kisah nyata dalam hidup saya, pengobatan yang saya tempuh dan kesembuhan yang Allah berikan. Kisah sakit itu telah saya rangkum dalam sebuah buku. Alhamdulilah, di awal penjualan buku ini di Toko Gramedia seluruh Indonesia terjual 1.300 eksemplar meskipun judulnya tetap memakai kata “insya Allah.”

Sekarang, buku ini akan diterbitkan ulang oleh Penerbit FAM Publishing dengan melalui beberapa revisi isi naskah terlebih dulu.

Aliya Nurlela


*) Pengurus Forum Aktif (FAM) Indonesia

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…