• Info Terkini

    Sunday, April 28, 2013

    Ulasan Cerpen “Déjà vu” Karya Hanna Zakiya (FAMili Depok)

    Awan sedang menyelesaikan penelitian dibantu Pramono, untuk mendapatkan gelar doktor. Profesor Win, pembimbingnya juga meminta Awan untuk bergabung dan sekaligus membantu Fatira karena bidang mereka sama. Mendengar nama Fatira, Awan merasa pernah mendengar nama itu, sebuah nama yang serasa tidak asing. Dan Fatira, merasa senang dan ingin sekali bertemu dengan Awan.

    Fatira tidak menyadari bahwa Awan adalah Jaya, orang yang sama yang pernah dijumpainya beberapa waktu lalu karena buku mereka tertukar. Fatira masih belum menyadari hal itu, walau ketika ia menekan nomor telepon Awan, di monitor handphone yang muncul adalah nama Jaya Filsafat .

    Cerpen “Déjà vu” karya Hanna Zakiyya, terinspirasi dari Déjà vu (gambaran suatu kejadian yang seakan-akan pernah dialami, tapi sebenarnya tidak pernah terjadi). Penulis menyajikannya dengan cukup baik dan cerdas, tapi sebenarnya itu bukanlah Déjà vu yang utuh, karena Fatira si gadis apel pernah bertemu dengan Jaya Filsafat yang sebenarnya sama dengan Awan. Ini dibuktikan dengan munculnya nama Jaya filsafat ketika ia menekan tombol nomor yang sama dengan nomor ponsel Awan.

    Beberapa kesalahan penulisan masih ditemukan, seperti kata “menghulurkan” yang seharusnya ditulis “mengulurkan”, “fikir” yang seharusnya ditulis “pikir”. Kesalahan lain ditemukan pada penulisan huruf kapital, “profesor Win” seharusnya ditulis “Profesor Win” karena gelar yang diikuti nama. Begitu pula dengan kata sapaan pada kalimat langsung. Penggunaan EYD harus benar-benar diperhatikan.

    Kepada penulis, teruslah menulis agar tulisan semakin bagus. Dengan sering menulis maka pena akan terasah semakin tajam dan tulisan tentu semakin berkualitas. Pada saat menulis, tepiskan dahulu masalah EYD. Pada saat tulisan utuh sudah selesai, baru kemudian lakukan editing dengan baik. Dengan demikian, kesalahan penulisan dapat diminimalisir. Tetap semangat ya?

    Salam santun, salam karya.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Déjà vu
    Oleh: Hanna Zakiyya

    “Kletak.. Teng, tok, kletak, jess, jess” Bunyi sebuah mesin penggerus sebesar lemari bersahutan dengan ayakan raksasa mengeluarkan suara gaduh. Jarum jam baru  menunjukkan pukul tiga pagi, tapi tidak menghalangi awak laboratorium memulai kegiatannya. Semua tak lagi membutuhkan tenaga manusia, hanya logam-logam tua saling bersenggolan dibantu beberapa bahan polimer yang menggerakan alat-alat itu. Sesekali jemari asing menuntun beberapa tombol hingga menyala. Lalu paginya akan kembali seperti biasa, duduk menghadap ke kiblat membaca baris demi baris ayat dari kitab kecil yang tak pernah absen bersamanya. Dan senandung pagi akan berakhir ketika adzan berkumandang, pemuda itu akan menyudahinya dengan sujud khusyuknya.

    Pagi mulai merambat ketika Awan masih sibuk dengan raket dan bola tenisnya. Permainan pagi ini cukup membanjiri sekujur tubuhnya, terkumpul sudah pil-pil semangat baru untuk 24 jam kedepan. Saatnya kembali bergumul dengan serbuk-serbuk halus Alumina di laboratorium.

    “Makasih ya mas Pram, besok kita cari permainan baru.” Awan berkata sambil tersenyum kearah Pramono, seorang teknisi laboratorium yang kerap kali direpotkan dengan masalah teknis penelitian Awan. Dihulurkannya sebungkus nasi kuning yang memang sengaja ia pesan dua porsi.

    “Lumayan ni mas, buat ganjel. Enak lho buatan ibu Cece kantin.”

    “Oalah mas, saya dikasih juga toh. Makasih lho mas ya, tapi kok ya bisa sepagi ini mas?! Emang bu Cece udah buka jam segini.”

    “Mas Pram, mas Pram. Udah terang kayak gini kok masih dibilang pagi. Ini udah jam setengah delan Mas.”

    “Lho iya?! Mati aku, kunci ruangan profesor Win harus segera dibuka kalau begitu. Semalam dititip ke aku soalnya. Misi yo mas ya, aku tak ngecek dulu. Makasih lho buat nasi kuningnya.” Logat Pram yang kental, gamblang menjelaskan asal usulnya.

    Awan menarik nafas dalam, seakan tak mau kehilangan segarnya udara pagi yang tergolong langka, ditengah kota dengan total penduduk mencapai 12 juta jiwa ini. Seperti tidak mau kalah dengan jutaan kendaraan yang menghembuskan karbon monoksida, paru-paru tipis 12 juta manusia ini juga berpacu memompakan udara yang entah masih mengandung oksigen murni, entah tidak. Begitulah hidup di ibukota, bahkan untuk sekedar bernafaspun kau perlu hati-hati.

    Bola mata pemuda itu bergerak lincah, memperhatikan hijau dedaunan yang masih basah dibungkus embun. Disisi lain bermeter-meter lahan berlapis beton telah mengkudeta daerah resapan air, hanya beberapa sudut hijau saja yang masih tersisa. Begitulah kota mengharuskan beton dan semen menjadi landasan, lalu serta merta melupakan sifat aliran air dan akhirnya banjir akan menerkam setiap sudut kota ini ketika musim penghujan mulai menyapa.

    Tapi tak apalah, keadaan ini justru akan memacu kesadaran manusia-manusia kota untuk lebih giat bekerja. Karena musim penghujan bisa saja menjadi waktunya hibernasi, jika tak ada lagi jalan beton yang terlihat atau hanya genangan air sepinggul orang dewasa yang bisa kau tapaki. Walaupun kenyataannya tak sedramatis itu, cukuplah fikiran menjadi perisai kita dari berbagai prasangka terhadap kreator-kreator landasan beton itu. Cukuplah fikiran yang akan mengingatkan kita bahwa mereka selalu punya alasan untuk setiap inci beton yang mereka tanamkan.

    Lima belas menit berlalu dengan tafakur segala macam kejadian pagi, Awan bangkit dari duduknya. Kembali berjalan kearah laboratorium dan mulai mengusahakan apa yang telah ia mulai. Penelitian ini harus segera selesai, jika ia ingin terdaftar menjadi salah satu kandidat doktor yang diwisuda semester mendatang.

    “Wan, aku punya mahasiswi kandidat master yang tema penelitiannya enggak jauh beda sama yang kamu lagi teliti. Kalian gabung aja ya?! Lumayan lho Wan mahasiswi bukan mahasiswa.” Suara profesor Win memburu daun telinga Awan, ketika pemuda itu baru saja sampai di bingkai pintu laboratorium. Yang ditanya hanya tersenyum tawar.

    “Saya sih, terserah prof saja prof. Enak enggak enak urusan nanti. Eh masih single enggak prof?” Awam mulai mencoba bergurau, dan keduanya terbahak.

    “Kalau soal itu nanti saya teliti dulu.” Sahut profesor Win menimpali. “Sudah! Kau bersih-bersih sana! Ini kok jadi mahasiswa petakilan banget, saya saja sudah rapi. Nah kamu masih busuk bau ketek. Nanti mahasiswi saya bisa-bisa kabur ngeliat kamu dari jarak 10 meter.” Tambah professor Win yang disambut kembali ketawa terbahak ketiganya termasuk ketawa Pram yang ternyata dari tadi menguping percakapan mereka.

    “Mba Fatira lho mesti, prof ?! Kalau aku benar ya mas ya, mbaknya lho baik banget, santun orangnya.”

    “Fatira?! Kayak pernah dengar ?!”

    Obrolan pagi itu berakhir dengan sebuah nama, Fatira, seseorang yang mungkin saja pernah ada dalam kenangan seorang Awan.

    ***

    Fatira melangkah pelan menuju pintu yang dicat dengan warna coklat muda. Dibelakang pintu itu, Fatira tau telah ada yang menunggu. Sepasang mata beralis hampir dominan putih yang ditenggeri kaca mata milik profesor Win menggeliat, memperhatikan gagang pintu sambil mempersilahkan seseorang di luar sana untuk segera menemuinya.

    “Masuk Tira….” Suara profesor Win, yang sudah tau siapa yang mencarinya, ramah.

    “Pagi, prof ! Saya mau memberikan proposal saya.”

    “Sini! Oh ya, kebetulan ada mahasiswa kandidat doktor yang sedang meneliti topik yang sama, kamu mau, kalau kalian bekerja sama. Ya semacam mutualisme saja.” Profesor Win mengulurkan tangan sambil menjelaskan.

    “Justru bagus prof saya jadi ada teman diskusi, kalau boleh tahu nama beliau siapa ya prof?” Fatira menanggapi dengan nada ceria.

    “Ha ah, tidak usah sebut beliau, dia itu masih muda sekitar empat atau lima tahun diatas kamu, cari saja dibawah yang namanya Awan. Tanya saja sama Pram, mungkin kalian bisa mulai diskusi siang ini.”

    “Oh begitu prof, baiklah saya permisi dulu.”

    “Semoga klop ya. Saya periksa dulu ini, nanti saya hubungi via email, lain kali softcopy saja ya nak. Sayang kertasnya.” Profesor Win mengakhiri percakapannya sambil mengacung-acungkan proposal milik Fatira.

    Fatira beranjak menuju laboratorium, belum banyak orang di ruangan seluas setengah lapangan bola itu. Hanya sekitar tiga atau empat orang dan dari semuanya cuma Pramono yang telah dikenal Fatira. Dihampirinya lelaki berlogat jawa itu.

    “Pagi mas Pram, sibuk banget kayaknya.”

    “Eh mba Fatira, pasti lagi nyariin mas Awan ya?! Tapi mas Awannya lagi keluar tu mba, kalo enggak salah ada sampel yang harus dibeli atau gimana gitu.” Pram menjelaskan tanpa harus mendengar pertanyaan dari Fatira.

    “Lho kok tau mas, aku lagi nyariin mas Awan?!”

    “Yaiya aku.” Pram menjawab ringkas sambil memamerkan senyumannya.

    “Ya.., gimana ya mas, aku juga harus sampai bogor nih jam 10. Aku titip nomorku aja ya, nanti tolong dikabarin ya mas Pram.”

    “Oke mba, nanti tak kabari kalo mas Awannya sudah di Lab lagi. Apa ndak sekalian mau nomornya mas Awan toh, biar lebih gampang.”

    “Oh iya, boleh deh mas. Makasi banyak ya mas Pram.”

    Sesaat setelah menyalin nomor yang diberikan Pram, Fatira berbalik dan tiba-tiba saja matanya menangkap bayangan sesuatu, buku yang seperti Ia kenal entah dimana. Buku bersampul lusuh bewarna biru tua itu bertuliskan ‘Ikhwal Tuhan dalam beberapa agama.’ Rasanya pernah membaca kata-kata itu, tapi dimana. Fatira mengangkat buku lusuh didepannya dan mulai membalik halaman demi halaman, namun tidak menemukan apa yang ia cari.

    ***

    Kereta kelas ekonomi merayap cepat diatas rel yang mengkilap oleh sentuhan sinar matahari. Tubuh Fatira terguncang-guncang kecil karena gerakan kurang mulus rangkaian gerbong panjang itu. Sudah bukan rahasia bahwa setiap pagi akan sangat susah menemukan kereta dengan sedikit saja celah kosong. Berjubel-jubel penumpang akan menyesaki badan kereta, bahkan bagi beberapa penumpang yang tidak dapat memaksa masuk, atap kereta bisa menjadi pilihan. Ada pula yang menantang adrenalin dengan bergelantungan di lokomotif kereta. Namun bagi Fatira kereta adalah kendaraan yang paling banyak memberi pelajaran. Ladang syukur yang paling mudah berbuah.

    Menaiki kereta pagi berarti bertemu semua orang dengan segala macam kepentingan, dan berkumpul dalam satu ruangan. Mulai dari yang berpakaian rapi ala eksekutif muda, yang mungkin saja ketinggalan kereta berkelas sebelumnya, sampai pada pedagang kaki lima, pedagang ayam, pengemis dan jangan lupa ada beberapa jenis pengamen sebagai hiburan. Fatira selalu menemukan syukurnya membludak sesaat setelah turun dari gerbong kereta.

    Langkahnya kali ini mengarah pada sebuah pasar tumpah, tidak jauh dari stasiun Bogor. Sudah menjadi kebiasaan perempuan muda itu, mendatangi anak-anak gelandangan dan pengemis hanya untuk sekedar bercanda bersama mereka, atau sekedar mengelus pipi-pipi kusut bocah-bocah lusuh itu ketika pagi datang. Tak banyak yang iya bawa, sesekali ada beberapa batang coklat, permen atau terkadang semangkok besar es krim yang di belinya di pinggir jalan sebelum menemui mereka.

    Kegiatan ini awalnya memang terasa tidak realistis, namun artikel-artikel koran tiga tahun lalu benar-benar mengubah fikirannya. Koran hari itu bercerita tentang perubahan sikap anak-anak yang tidak pernah mengecap kasih sayang, dimana mereka berpotensi paling besar menjadi lakon-lakon kriminal. Artikel itulah yang akhirnya memanggil hati seorang Fatira untuk mencoba berbagi kasih sayang. Fatira hanya mampu sekedar berharap bahwa mungkin kegiatan ini bisa sedikit menekan jumlah kasus kriminal kelak. Walaupun gadis berkerudung itu, melakoni kegiatan rutin mingguannya ini hanya seorang diri.

    Dulu pernah sekali, seorang pemuda yang kira-kira tiga tahun lebih tua dari Fatira secara kebetulan mengikuti ritual paginya. Sebenarnya pemuda itu tidak pernah berniat membututi Fatira, ia hanya ingin sekedar mengembalikan buku mereka yang tertukar. Pemuda itu mengaku bernama Jaya.

    “Sering pagi-pagi, berbagi apel disini?!” Fatira terkejut mendengar suara maskulin tepat di belakang telinganya.

    “Kang Jaya ngikutin saya?! Saya enggak suka lho diikutin.”

    “Eh jangan salah sangka dulu mba, saya cuma mau balikin ini! Nih kemaren yang ketukar ternyata belum kita tukar lagi.” Pemuda berambut gondrong sebahu itu, menyodorkan sebuah buku bersampul biru tua bertuliskan ‘La tahzan for muslimah’ ke arah Fatira.

    “Eh maaf, tapi Kang saya enggak bawa bukunya.” Fatira bangkit dari jongkoknya sambil menarik buku itu dari tangan Jaya.

    “Tadinya mau saya balikin di stasiun, eh mbanya keburu naik ya sudah saya ikut naik, taunya susah banget nyari orang dalam kereta pagi. Jadi deh saya sampai kesini. Maaf kalau si mba merasa dibuntutin mah.” Jaya yang mengaku orang Sunda mulai mengeluarkan logat sundanya.

    “Iya enggak apa-apa, tapi bukunya kang Jaya gimana? Saya minta nomornya deh.”

    Keduanya bertukar nomor hari itu, Fatira menulis ‘Jaya Filsafat’ di daftar kontaknya dan pemuda itu menulis ‘Gadis Apel’. Ternyata pagi menahan mereka lebih lama. Keduanya kembali dengan kereta yang sama, namun kali ini sudah banyak ruang kosong yang tersisa. Siang sudah merambat, panas mentari membakar kulit dan kereta mulai lengket karena berbagai macam peluh bercampur aduk.

    “Kenapa mba, suka naik kereta?” Jaya bertanya lugas pada lawan bicaranya, namun belum sempat Fatira menjawab ia sudah bicara lagi.

    “Buat saya, kereta begitu memusingkan. Maklum saya agak fobia keramaian, kereta tidak praktis, karena toh saya tidak bisa langsung sampai ditempat yang saya tuju begitu turun kereta. Saya pikir motor lebih praktis.”

    “Semua punya alasan sendiri-sendiri kang, mungkin buat kang Jaya motor memang lebih baik karena alasan yang kang Jaya katakan tadi. Tapi buat aku makna dari sebuah perjalanan bukan cuma sampai di tempat tujuan, tapi juga apa yang dapat kita tarik dari sepenggal potret kehidupan di sana.  Buatku kereta adalah ladang syukurku, aku selalu menemukan alasan untuk bersyukur dari atas kereta ini Kang.” Fatira menjelaskan alasannya memilih kereta sebagai angkutan favoritnya.

    “Halah, itu karena kamu lagi enggak buru-buru aja mba. Coba yang kamu tuju itu keadaan darurat pasti kamu tidak akan melirik kereta.” Jaya menanggapi

    “Bukan alasan, jika aku memang harus sampai pada waktu tertentu, enggak ada salahnya beranjak lebih pagi. Atau kalau memang keadaan mengharuskan naik kendaraan lain, ya kenapa tidak. Yang penting itu stigma bahwa ‘perjalanan bukan berakhir dikata sampai’ harus tetap jadi panduan saya. Kalau kang Jaya bisa melihat dari kaca mata saya, kang Jaya pasti ngerti kok.”

    “Walah ngeliat dari kaca mata kumaha mba, orang mbanya nteu pake kacamata.” Jaya memancing gurauan, mencoba mengalihkan pembicaraan.

    Perjalanan mereka berakhir di peron yang sama, keduanya sama-sama turun lewat pintu yang sama pula, namun dengan rasa syukur yang berbeda. Dan tak dapat dipungkiri Jaya melupakan ketakutan pada keramaiannya dan sebersit syukur menginap di rongga hatinya. Ada yang janggal pagi itu, buku yang tadi ingin sekali Jaya kembalikan malah kembali terbawa. Beruntung keduanya sudah bertukar kontak, hingga ia tidak perlu bersusah-susah mencari sosok gadis apel berkerudung hijau itu.

    ***

    Fatira baru menyadari kereta telah berhenti di stasiun tujuannya ketika nada dering sebuah SMS menyadarkannya dari lamunan. Beruntung kereta belum kembali merayap maju saat Fatira beranjak turun. Pas sekali pesan singkat itu dari Pramono, mengabarkan bahwa Awan sudah kembali berada di Laboratorium. Tidak langsung dibalasnya pesan Pramono, namun mata licinnya mencari-cari  nomor  lain yang tadi pagi ia dapat dari Pramono, tapi nihil.

    ‘Mungkin belum sempat tersimpan tadi pagi.’ Fikirnya dan segera meminta Pramono mengirimkan ulang sambil menyelipkan ucapan terima kasih.

    Sesaat kemudian, telepon genggam mungilnya kembali berdering. Ada sederet nomor telepon disana. Tanpa menunggu lama, diarahkannya kursor milik benda mungil itu ke arah angka lalu menekan tombol hijau. Nada sambung mulai terdengar, ketika Fatira tidak dapat menyembunyikan keterkejutan saat menemukan sebuah nama tertulis di layar telepon gengamnya ‘Jaya Filsafat’. Diputuskannya segera sambungan telepon itu dan bergegas kembali menuju kampus.

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Déjà vu” Karya Hanna Zakiya (FAMili Depok) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top