• Info Terkini

    Wednesday, April 24, 2013

    Ulasan Cerpen “Mencari Tuhan yang Hilang: Langkah Tak Berjejak” Karya Zuraidah Ulfah (FAMili Batubara, Sumatera Utara)

    Intan kecewa dengan situasi rumah tangga kedua orangtuanya yang harus bercerai. Mau tidak mau, Intan harus ikut ayah dan berpisah dari mama. Suasana baru, sekolah baru malah membuatnya semakin tak nyaman, apalagi teman-teman yang tak peduli dan tak bersahabat. Kekecewaan akan takdir membuat Intan menyalahkan Tuhan. Intan menganggap Tuhan tidak adil memperlakukannnya, meletakkannya pada garis duka yang dalam. Intan meninggalkan sujud dan mulai mati rasa. Akhirnya, dalam keterpurukan, Intan justru merasakan indahnya persahabatan. Sahabatnya, Tiara, mimpi dan langkah kaki misterius yang tak meninggalkan jejak telah membuka hatinya, bahwa Allah masih sangat menyayanginya.

    Cerpen “Mencari Tuhan yang Hilang: Langkah Tak Berjejak” yang ditulis Zuraidah Ulfah, sangat menarik. Penulis mampu menyajikan tulisan dengan bahasa yang baik dengan ide yang menarik pula. Penulis mampu menyelipkan sedikit misteri di dalamnya, membuat pembaca ingin cepat menyelesaikan bacaan karena rasa penasaran.

    Namun ada beberapa kelemahan dalam penulisan karena banyak terdapat kesalahan pengetikan (dapat dibaca pada naskah asli). Sebaiknya penulis melakukan editing setelah selesai menulis, sehingga kesalahan tidak terjadi. Sebaik apa pun tulisan, jadi “cacat” karena kesalahan tersebut. Walau cerita sangat menarik, tapi jadi terkesan ditulis oleh penulis yang amatir.

    Saran lain untuk penulis, jangan menggunakan tanda (©©©) pada setiap alinea (terdapat pada awal cerita). Gunakan batas tersebut pada satu episode cerita, misalnya sebelum alinea tentang Intan yang mengalami mimpi aneh. Selain itu, perhatikan pula peletakan tanda baca. Tanda titik pada kalimat langsung digunakan sebelum tanda kutip (“) pada akhir kalimat, seperti: “….hamba-Mu ini takut ya Rabb”. Seharusnya ditulis “hambaMu ini takut ya Rabb.”

    Untuk penulis Zuraidah Ulfah, teruslah menulis. Gali lebih dalam lagi ide-ide cerita menarik, dapat pula diberi bumbu misteri yang elegan dan tidak murahan. Semakin sering Anda menulis, maka pena akan semakin tajam. Jangan lupa selalu melakukan editing pada setiap tulisan, ya? Salam karya, salam santun, salam semangat.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    MENCARI TUHAN YANG HILANG: LANGKAH TAK BERJEJAK

    Zuraidah Ulfah

    Mendung menyapa. Tak lama petir bersahut- sahutan bersama hujan yang mengucur deras. Mungkin berduka atas keadaanku saat ini. Atau mungkin marah karena diriku yang belum bias meenrima keputusan ayah. Ayah berencana memindahkanku ke sekolah baru setelah bercerai dengan mama.

    Mama tak berkomentar apapun sesaat setlah aku berpamitan padanya. Mata sendunya menyiratkan duka dan kecewa yang teramat dalam. Mengiris hati siapapun yang memandangnya. Tentu saja termasuk aku yang kini berhadapan dengannya.

    “ Intan akan sering berkunjung ma “ kataku kala itu.

    Ia hanya menyimpulkan senyum untuk sejenak. Lantas kembali larut dalam raut datar bersama kerutan kecil di wajahnya. Hmm… ia terlihat lebih tua. Sepintas kulihat embun tersemburat di matanya. Oh… mama. Aku tahu hatimu terluka saat ini.

    ©©©

    Keadaanku tak berjalan mulus. Sekolah baru bukan berarti juga teman baru. Hingga jam pelajaran berakhir, tak ada satu pun siswa di kelasku yang terlihat bersikap baik dengan kehadiranku di tengah- tengah mereka.

    Bahkan hari pertamaku di sekolah justru menjadi pintu gerbang kisah baru yang lebih buruk. Lebih menyeramkan. Rina, anak manja yang merasa paling berkuasa di kelas selalu menyudutkanku. Belum lagi anak itu, sejak tadi dia selalu memandangkan dengan tatapan sembilu.

    ©©©

    “ Intan bu, Intan. Saya lihat dia yang melempar “ tuduhan Rina menyerangku.

    Aku hanya diam tak bereaksi. Ksli ini Rina menulis sesuatu di selmbar kertas dan melemparnya kea rah bu guru yang sedang menulis di depan kelas. Yang ku tahu ibu guru marah padaku dan aku pun berakhir di ruang BP.
       
    Semenjak aku pindah ke sekolah baru, aku jadi lebih pendiam. Dibuat bagaimana pun aku tak perduli.

    ©©©

    Aku kecewa. Aku kecewa pada ayah dan mama yang tega menhancurkan duniaku. Menghancurkan sejuta kenangan manis yang pernah terajut dalam keluarga kami. Aku kecewa pa Tuhan yang tak adil dalam menakar takdirku. Meretakkan kalbuku hingga aku mati rasa.

    Aku jarang mengunjungi mama. Ayah tidak mengizinkanku pergi. Sikapnya sekarang begitu dingin. Ia tidak pernah lagi bertanya tentang sekolahku atau bagaimana keadaanku. Ia lebih sering berkutat dengan tugas kantornya. Terkadang ia juga lembur. Tinggal lagi aku sendiri di sini menangis dalam sepi.

    Katanya Tuhan tidak pernah membiarkan hamba- Nya menangis. Katanya Tuhan tak pernah meninggalkan hamba- Nya. Katanya Tuhan tidak akan menguji hamba- Nya melebihi batas kemampuannya. Kurasa itu bualan. Hanya dogma yang diajarkan agama.

    Dahulu orang mengenalku sebgai Intan yang manis. Intan yang disayang banyak orang. Anak berprestasi dengan akhlak yang berbudi. Tapi, lihatlah kini. Bahkan aku tak pernah lagi menyapa Tuhan dalam sujudku.

    ©©©

    Dingin. Aku tak tahu suhu ruangan ini. Belum lama kau berada dalam ruangan ini. Aku pun tak tahu mengapa aku berada di sini. Seperti sebuah kamar. Konteks minimalis, tapi tetap elegan. Warna biru berpadu dengan warna purih melapisi setiap sudut kamar ini. Semua barang tertata dengan rapi. Cantik memang, tapi aku merasa takut berada di sini. Penerangannya tidak begitu baik. Cahaya lampu seakan kian redup. Selintas kulihat seorang wanita tengah duduk tertunduk dan memegang sesuatu. Samar- samar kulihat ia mengenakan mukenah. Tak lama kemudian lamat- lamatku dengar lantunan ayat suci Al- Qur’an mengalun lembut. Syahdu menenangkan jiwaku yang gundah. Seketika menghapus rasa takut yang mengiringiku. Kudekati ia perlahan. Kusentuh bahunya. Aku begitu penasaran. Aku ingin tahu siapa dia. Ia menoleh dan berbalik melihatku. Ternyata…

    “Astaghfirullah… Wajahnya tak ada! ”.

    Aku mundur perlahan untuk berusaha pergi menjauhinya. Siap untuk berlari. Ia mengikutiku. Mengikuti ke arah mana pun kaiku pergi. Aku semakin takut.

    “Kamu mau apa? “ tanyaku spontan.

    Ia lantas berhenti berjalan. Tiba- tiba wajahnya bergerak. Bergumul menjadi satu seperti adonan. Membentuk lengkap alat indera. Kini wajahnya telah utuh. Bahkan aku seolah mengenalnya. Wajahnya tak asing. Benar, dia anak itu. Anak yang memandangku dengan tatapan sembilu. Ia cantik dan tersenyum padaku. Aku pun turut membalas senyummu. Senang rasanya. Namun, wajahnya kembali bergerak. Kali ini mengerikan. Wajahnya penuh luka berdarah. Aku mencoba berlari untuk menghindarinya. Aku tak sanggup melihat ke arahnya lagi. Tapi kakiku bagaikan terpaku. Tenggorokkanku tercekat. Aku tak bias bersuara untuk meminta pertolongan. Aku bingung. Fikiranku teraduk-aduk. Aku tak bias melihat apa- apa lagi. Semuanya berubah gelap. Dan brukkkk…. Aku jatuh.

    Aku mengusap- usap mata. Mencoba menggamit kesadaran penuh. Kulihat sekeliling. Ini kamarku. Benar- benar kamarku. Aku berusaha mengingat- ingat apa yang terjadi. Aku sudah bisa berbicara ternyata tadi hanya mimpi.

    “Apa arti mimpiku tadi ya? “ bisikku dalam hati.

    ©©©

    Sudah dua bulan berlalu masih dengan suasana yang kurang menyenagkan. Rina semakin menjadi – jadi dengan tingkahnya. Pernah suatu kali aku ke toilet lalu ia mengurungku. Nasibku sungguh buruk ketika itu terjadi. Aku terkunci dan tak seorang pun yang menyadari bahwa aku tak lagi kembali ke kelas. Tak ada teman yang mencariku. Huuuh… Ah iya, aku lupa. Aku tidak punya seorang pun teman di sini.

    Aku berteriak semampuku. Tapi tak juga ada yang membantu.

    “Brengsek… Gua akan bales li, Rina “. Aku berteriak seperti orang kesetanan. “ Setelah gua keluar dari sini, habis lu gua buat “.

    Pada dasarnya tidak seorang pun yang dapat aku salahkan. Aku terus menjerit dan tak urung jua menggerutu terhadap kondisiku. Mungkin aku memang hanya membuang- buang energi. Harus bagaimana lagi? mungkin memang hanya itu yang dapat aku lakuakan saat ini.

    Selang beberapa waktu kemudian terdengar derap langkah. Sreekk… Srekkk… Langkah itu berhenti tepat di depan toilet wanita tampat aku dikurung. Aku memanggilnya dan berharap ia mau membantuku.

    Pintu toilet terbuka. “ Terima kasih “ kataku sambil tersenyum.

    Seketika aku terdiam. Tak kutemukan seorang pun di depan toilet wanita. Bahkan masih lekat kuingat bahwa langkah kakinya belum beranjak pergi ketika pintu toilet terbuka. Tapi kemana dia sekarang?

    Aku berusaha berani kali ini. Kepalaku mendongak. Kulayangkan pandanganku ke sekeliling sekolah. Sekolah sudah berakhir sejak tiga jam lalu. Sekarang sudah pukul lima sore.

    “Aneh… Biasanya jam segini masih banyak siswa yang ikut kegiatan sore atau mungkin les “.

    Aku segera ke kelas untuk mengambil tasku. Aku ingin segera pulang dan meregangkan otot- otot tubuhku. Untuk meluapkan penat hari ini dan melupakan sejenak peristiwa yang baru saja menimpaku. Tapi tentu saja bukan termasuk melupakan dendamku pada Rina. Ia wanita kejam. Aku akan membalasnya. Aku akan sangat membuatnya menyesal telah berbuat hal ini padaku.

    Aku telah berada beberapa meter dari gerbang sekolah. Gerbang sekolah kami terbagi dua. Pertama, gerbang yang akan aku lewati sekarang. Paad gerbang ini terdapat meja piket dengan sebuah bangku. Tempat markas guru yang bertugas setiap harinya. Kedua, gerbang utama. Gerbang yang berdekatan dengan jalan besar.

    Sreekkk…. Sreekkk…

    Aku mendengarnya lagi. Langkah itu. Langkah kaki tak berjejak. Apa dia menungguku? Tapi apa tujuannya jika memang menungguku? . Kini aku tak berani lagi lanjut melangkah. Aku sangat takut. Hawa dingin menyergap tubuhku. Suasana menjadi begitu kelam.

    Sreeekkk…

    Vunyi bangku bergeser. Aku yakin itu bunyi bangku yang berada di meja piket. Aku berjal;an mundur masuk ke sekolah lagi. Aku hendak kembali ke kelas untuk bersembunyi. Siap menangis sejadi- jadinya, sendirian di sekolah yang sepi bersama ketakutan yang kian meningkat.

    “Allah…” lirihku dalam hati. Tanpa kusadari masih ada nama itu di ingatanku. Kini aku berfikir, sebenarnya siapa yang tersesat? Aku atau Allah ? Siapa yang pergi? Allah yang pergi ataukah aku yang menjauh? Kenapa di saat akau sendiri aku baru merasa membutuhkan- Nya?

    Di luar, mentari semakin surut. Menyembunyikan dirinya malu- malu. Siluet senja mulai menghampiri. Hari semakin gelap. Maghrib akan segera tiba.

    Aku masih menagis. Dunia seperti hendak runtuh. Hawa dingin terus- menerus menelesikku. Peluh bercucuran menghujani tubuhku. Deg… Deg… Jantungku berpacu kian cepat dan cepat. Semakin cepat. Dadaku sesak.

    Sreekkk… Sreekk…

    Langkah itu lagi. Ia bergerak melangkah ke arah tempat keberadaanku. Aku benar- benar takut.

    “Allah, tolong aku. Hamba- Mu ini takut ya Rabb “. Doaku terus mengalir seiring mendekatnya langkah itu. Tinggal sebenatar lagi. Langkahnya telah dekat. Sangat dekat. Makin dekat dan…

    Ia berhenti tepa di depan kelas. Kini aku pasrah. Apapun yang terjadi biarlah. Mungkin memang sampai di sini. Sekelabat bayangan orang tuaku menari – nari dalam benakku. Aku harap orang tuaku akan akan bahagia dengan cara dan aturan mereka.

    Pintu dibuka. Sesosok makhluk masuk. Ia mendekatiku. Aku tertunduk. Membenamkan diriku tak sanggup melihat. Aku terkejut. Aku mencoba mengangkat wajahku untuk melihatnya.

    “Tiara! “ sentakku.

    Ia tersenyum. Manis sekali. Wajahnya teduh. Ia adalah anak itu. Anak yang menatapku denagn sembilu. Seorang wanita yang masuk dalam mimpiku. Berdiri tepat di depanku seperti malaikat.

    “Setelah jam istirahat, aku tidak melihatmu masuk kelas. Bahkan pulang sekolah pun kamu tidak ada. Aku khawatir. Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke sini untuk mencarimu “ katanya menjelaskan padaku masih dengan senyum yang mengembang.

    “Ayo kita pulang Tan.”

    “Terima kasih.”

    ©©©

    Setelah hari itu aku mulai membangkitkan kesadaranku. Belajar berani membela diriku di saat berhadapan dengan Rina. Aku tidak dendam seperti perkataanku tempo hari. Hanya mengingatkan. Tidak dengan kekerasan.

    Sekarang Tiara menjadi sahabatku. Aku sering teringat dengan hari pertamaku di sekolah ini. Respon kerasnya padaku masa itu sungguh bertimbal balik dengan Tiara yang beriringan hampi setiap hari denganku. Hingga suatu hari aku memberanikan diri bertanya padanya perihal rasa pensaranku.

    “Itu caraku menyambutmu. Aku hanya sedikit jahil. Eh… ternyata caraku salah ya. Aku malah jahat padamu. Membuatmu justru merasa tidak memiliki teman. Maaf ya! “.

    Tuhan itu punya cara yang indah. Tanpa kuduga rencana- Nya sebelumnya, ayah dan mamaku hendak rujuk lagi. Tak disangka- sangka. Ayah yang acuh ternayat berusaha mengutuhkan kembali keluaraga kami. Aku menyesal atas sikapku yang sempat menjauhi dan mengabaikan- Nya. Membuat sekian banayk praduga buruk tentang- Nya. Menganggapnya hilang dan aku pun tergesa- gesa mencarinya dalam diamku. Mencari keadilan- Nya. Meskipun aku belum tahu siapa pemilik langkah itu, tapi aku percaya batuan- Nya.

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Mencari Tuhan yang Hilang: Langkah Tak Berjejak” Karya Zuraidah Ulfah (FAMili Batubara, Sumatera Utara) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top