Skip to main content

Ulasan Cerpen “Sejuta Ukhuwah Saat Iftor Jama’i Karya Arif Hifzul (FAMili Medan)

Cerpen ini bercerita tentang persahabatan tokoh aku dengan teman-teman kampusnya. Cerita berkisar tentang kegiatan mereka saat Iftor jama’i (buka puasa bersama). Ketika mereka menggoda Heryan dengan perempuan yang digambarkan “setengah jadi”, tapi tidak ditemukan konflik dalam cerita. Tulisan begitu datar, dan berakhir dengan mereka pulang ke kos masing-masing.

Banyak didapati kelemahan dalam tulisan ini. Di antaranya adalah :

Tokoh Hendri yang tiba-tiba muncul bergantian dengan Heryan (yang benar, Hendri atau Heryan?).

Penulisan di naskah asli tidak menggunakan paragraf. Penulis tidak menggunakan kaidah EYD dan masih menggunakan bahasa lokal yang membingungkan pembaca: “Abisnya orang antum lama kali akh. Udah lapar kami akh. Tapi udah kami pesan kok punya orang antum” dan kata “mengopeni” (membingungkan, bukan?).

Gunakan huruf kapital pada tempatnya.

Gunakan kalimat efektif dan hindari kata sapaan yang berulang-ulang. Apalagi penulis menggunakan kata “antum” dan “akhi” yang seharusnya dicetak miring (bahasa asing). 

Hindari nama tokoh yang mirip, penulis membuat nama tokoh yang nyaris sama (Heryan, Eryan, Sakhyan, Zulyan, Isyan). Dengan kemiripan nama ini, pembaca akan bingung.

Tulisan “liat” seharusnya ditulis “lihat”.

Kepada penulis, banyaklah membaca buku-buku berkualitas dan pelajari kaidah dan gaya bahasa yang baik. Dengan banyak membaca, kita akan lebih memahami hakikat tulisan yang sebenarnya.

Teruslah berlatih, karena menulis membutuhkan latihan yang terus menerus. Mata pena, ibarat mata pisau yang harus diasah terus menerus agar semakin tajam. Proses panjang harus dilewati jika ingin menghasilkan tulisan yang baik dan berkualitas. FAM tetap memberikan apresiasi bahwa penulis telah berhasil menulis sebuah cerpen hingga akhir cerita, walau harus diperbaiki kembali sesuai catatan FAM di atas.

Oke, terus menulis, ya? Tetap semangat! Salam santun, salam karya.

TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

[BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

Sejuta Ukhuwah Saat Iftor Jama’i 

Oleh: Arif Hifzul (FAM 865M)

Ba’da Zuhur kulihat awan sudah mendung, aku bergegas untuk pergi ke kos Eryan. Hari ini kami akan Iftor Jama’i(read: berbuka puasa bersama). Lima menit aku tiba di kos Eryan, berhubung kosku dengannya tidak berapa jauh. Segera aku ketok kamar kosnya.

“Assalamu’alaikum Akhi”, sapaku dari luar kamar

“Wa’alaikum Salam”, jawab Eryan dari dalam dan segera membukakan pintu kamarnya

“Wah, antum rupanya Ar, ayo masuk ke kamarku”, Eryanpun mengajakku kemarnya.

Akupun masuk kekamar kosnya. Sedikit rapi, dalam hatiku. Sepertinya temanku yang satu ini telah membereskan kamarnya. Langsung aku rebahkan tubuhku diatas kasur yang sedikit pekat warna seprainya. Maklum Ikhwan pikirku.

Awan yang tadinya sudah mendung, lama kelamaan tak kuasa menahan beratnya bongkahan yang dipikulnya, kini meneteskan air sedikit demi sedikit. Pecikiran air yang membentuk gerimis itu lama kelamaan menjadi hujan lebat. Di ruangan yang sederhana itu dengan luas 3x3 m yang didalamnya terdapat sebuah lemari pakaian dan meja belajar dihiasi pakaian yang menggelantung di sudut sudut ruangan dan ditemani nyanyian gemercikan hujan lebat itu, membuat kami terlena untuk tidur sejenak. Suara Azan Asharpun berkumandang, kami bangun namun derasnya hujan yang kami liat dibalik jendela kamar, membuat kami hanya sholat dikos. Berhubung ruangan yang kurang luas itu, kami pun sholat nafsi-nafsi.

“Akh, antum yang sholat duluan ya” usul Eryan kepadaku.

“Ya akhi...” jawabku dengan menganggukkan kepala

Aku segera mengambil air wudhu dan segera sholat Ashar. Setelah kami selesai sholat, aku mengeluarkan laptopku yang telah lowbat dan mengecasnya kembali. Dan dia pun meminta izin ke kamar mandi untuk mencuci pakaian.

Tak berapa lama, suara kendaraan berhenti di depan kos Eryan.

“Assalamu’alaikum Akhi”, jawab seseorang dari luar

“Wa’alaikum Salam”, jawabku. (Sepertinya itu Sakhyan pikirku).

Dan begitu aku membuka pintu, dan ternyata benar Sakhyan. Ku liat senyuman ukhuwah yang terlukis dari dirinya.

“Silahkan masuk Akhi...” akupun menyuruhnya masuk

“Antum dari Kos akh?”, tanyaku memulai pembicaraan

“Iya akh, tapi kita kan mau Iftor Jama’i”’, jelasnya

“Iya akh,” singkatku

“Mana Eryan akh?, tanyanya kepadaku.

“Itu lagi nyuci di belakang akh”, balasku.

“Ya udah, antum istirahat aja dulu”, usulku kepadanya.

“Iya akh, ana manggil Eryan dulu ya, ada yang mau bilang”, jawabnya.

“Ok”, singkatku.

Sakhyanpun kebelakang memanggil Eryan dan ditemuinya Eryan sedang mencuci pakaian. Berhubung Eryan masih lajang, diapun mengerjakan semuanya dengan sendiri.

Merekapun masuk ke kamar, ternyata Sakhyan ingin memulangkan uang yang dipinjamnya kemarin. Tak berapa lama kamipun membuka pembicaraan.

“Yang lain udah di sms akh?”, tanya Sakhyan kepadaku.

“Banyak yang gak bisa akhi. Oy, tadi si Zulyan sms ke an, katanya jadi atau tidak Iftornya”, jawabku

“Terus antum jawab?”, tanyanya kembali.

“Jadi akh, ana bilang kumpul diMasjid, tapi gak dibalasnya lagi akh”, jawabku kembali.

“Oh ya sudah, berarti ada enam orang yang bisa”, jawabnya.

“Iya akh, ntar kita sms lagi si Zulyan”, tambahku.

Jampun menunjukkan pukul setengah 6, tiba-tiba Heryan dan Isyanpun datang di kos Eryan. Sesuai kesepkatan kami untuk pergi kesebuah tempat wisata kuliner, yang tak jauh dari kos Eryan. Namun, kami masih menunggu Zulyan untuk datang. Tapi, karena tidak ada balasan akhirnya kamipun menunggu magrib dulu di kos.

“Akh, ana pulang dulu ya”, kata Sakhyan memecahkan kesunyian

“Gak sama-sama aja kita kesana akh”, tanya Eryan kepada Isyan.

“Ana ntar nyusul akh, ana mandi dulu”, jawabnya.

“Oh, ya sudah”, jawab kami

Namun ketika Sakhyan mau keluar kamar. Akupun memanggilnya.

“Bentar akh, ana ikut antum ya?”, tanyaku pada Sakhyan.

“Boleh akhi”, jawabnya

“Ngapain antum ke tempat Sakhyan akh?”, tanya Isyan kepadaku.

“Ana mau minta copyan E-booknya Sakhyan dulu”, jawabku senyum.

Kami pun segera balik ke rumah Sakhyan. Dantiba di ruamh, terdapat ibunya Sakhyan dengan keponakan-keponakannya. Akupun masuk ke kamarnya dan menunggu waktu Azan maghrib.

Azan maghribpun tiba, segera kami membatalkan puasa dan langsung ke Masjid terdekat.

Sebenarnya hujan masih sedikit lebat, namun kami pergi ke Masjid saja. Luar biasa akhi yang satu ini, senyumku dalam hati.

Ba’da maghrib, kami tidak langsung ke tempat lokasi. Sakhyan meminta izin untuk mandi sebentar. Handphonku berdering, kuliat satu sms masuk ke inboxku. Ternyata dari Heryan yang menanyakan kami.

“Assalamu’alaikum Akh, orang antum udah dimana?” tanyanya kepadaku.

“Masih ditempat Sakhyan akh”, jawabku

“Oh, kami sudah di tempat ya Akhi”, balasnya

“Ok akh”, balasku kembali

“Kami pesan duluan ya akhi. Orang antum mau pesan apa?”, tanyanya kembali melalui sms.

“Samakan aja sama orang antum akhi”, balasku kembali.

Tak berapa lama Sakhyanpun selesai mandi,dan segera mengenakan pakaian.

Dan kamipun langsung meluncur ke tempat lokasi yang tak jauh dari tempatnya.

Kami  tiba, dan kuliat mereka hampir selesai makan. Ternyata mereka sudah lapar menunggu kami.

“Orang antum kok makan duluan”, tanyaku.

“Abisnya orang antum lama kali akh. Udah lapar kami akh. Tapi udah kami pesan kok punya orang antum”, jawab Heryan.

“Oh ya sudah Syukran ya Akhi”, jawabku kepadanya.

Tak berapa lama makanan yang telah dipesan oleh mereka pun tiba. Satu porsi Nasi+Ayam Penyet+Nasi Tambah+TST+Air mineral pun menghiasi meja kami. Aku yang sebenarnya juga sudah lapar, langsung saja mencomot dada ayam penyet itu. Pembicaraanpun berlangsung disela-sela makan kami.

“Akh, antum tahu ada kejadian tadi disini”, kata Eryan kepadaku.

“Kejadian apa akh?”, tanyaku heran

“Tadi akh Hendri di lirik cowok jadi-jadian”, jawabnya cengengesan

“Maksudnya?” tanyaku lebih heran

“Iya, tadi ada seseorang yang menatap Hendri begitu tajam”, lanjutnya

“Siapa akh?”, tanyaku penasaran

“Itu-itu, yang buat sambal Ayam penyetnya”, lanjutnya lagi dengan mengarahkan tangannya ke objek yang dituju.

 “Yang mana akh, ana gak lihat”, jawabku lagi

“Yang itu loh akhi”, lanjutnya lagi.

“Astagfirullah, yang itu akh?”, tangankupun menuju seseorang yang memakai kaos hijau.

“Iya akhi, tadi diliat-liatinnya aja si Heryan. Kayaknya suka banget dia sama Heryan.” Lanjutnya dengan senyum.

Kamipun tertawa bersama-sama. Kulihat Heryan dengan menggelengkan kepalanya tanda merananya dia bersama kami.

“Betulkah itu akhi?’, tanyaku kepadanya

“Gak lo akhi, si Eryan aja yang aneh-aneh”, cetusnya

“Mentang-mentanglah kekasih antum udah pulang kampung, terus antum selingkuh dengan yang lain”, celetuk Eryan padanya

“Antum ini ntah apa-apa saja”, celotehnya

“Ntah ni si Heryan, udah bela-belain pulkam dia tuk minta restu sama Orangtuanya”, ledekku.

“Aich, gak la ya”, jawab Heryan

Disela-sela istirahat, kamipun membuat leluconaan dengan menuliskan nomor Handphone Heryan ke selembar Tissu dengan berlambangkan hati dan senyuman dibawah nomor Handphonenya. Kami tertawa terbahak-bahak, dan mengiyakan usul Eryan. Namun kami liat raut wajah Hendri yang bete banget,  kamipun menggagalkan rencana itu. Setengah jam setelah kami makan, segera Heryan membayarnya di Loket. Berhubung ada 3 orang diantara kami yang cair beasiswa, aku dan Eryanpun dibayari mereka. Dipersimpangan tempat keluar lokasi itu, kamipun sejenak melihat ke arah perempuan setengah jadi yang melihat Heryan tadi. Kuliat dia masih disitu dengan melirik-melirik kami juga. Kamipun seketika mengeluarkan gelagak tawa kami kepada Heryan. Heryan dengan cepatnya berjalan tanpa mengopeni kami.

Segera kami tiba di Masjid, dan mengambil air Wudhu dan Sholat Jama’ah bersama.  Selesai sholat kamipun keluar Masjid dan menunggu Angkot yang ingin kami naiki.

Disela-sela menunggu Angkot yang lewat, kembali kami ledek Heryan dengan leluconan dan canda yang riang. Kami mengusulkan untuk menyebarluaskan kisah pengalaman kami dikampus. Dan akhirnya, kamipun berpisah dengan Angkot yang berbeda tuk kembali ke kos kami masing-masing.


Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…