• Info Terkini

    Friday, April 26, 2013

    Ulasan Nukilan Novel “Sapporo di Langit Itu” Karya Puji Dandelion (FAMili Cilegon)

    Ada yang menarik dari potongan novel berjudul “Sapporo di Langit Itu”, yaitu mengenai tokoh utamanya yang bernama Ayumi. Banyak cerita baik melalui cerpen ataupun novel yang telah dibuat. Meski demikian, karya fiksi seperti itu masih banyak diminati. Salah satu penyebabnya adalah karya yang baru, utamanya yang laris biasanya memiliki kebaruan, baik dari segi cerita maupun cara penyajian. Inilah yang FAM temukan dalam potongan novel ini.

    Diceritakan, Ayumi memiliki kebiasaan yang cukup aneh, yaitu menonjok orang yang bau. Ia sering kali refleks ketika ada siapa pun yang mengeluarkan bau yang tidak sedap. Ayumi adalah orang yang sangat menjaga kebersihan. Dan keunikan inilah yang membuat kisah ini menjadi menarik.

    Hanya saja, masih banyak perbaikan yang mesti dilakukan oleh penulis agar kualitas karya yang dihasilkan semakin enak untuk dinikmati. Penulis cukup baik dalam menulis, namun kurang halus dalam menyajikan kisah. Halus di sini adalah cara penulis merangkai setiap adegan menjadi suatu alur cerita yang utuh, yang dirasa masih kurang. Ibarat jalan, masih terdapat lubang dan gundukan tanah sehingga pengendara kurang lancar ketika melintasinya. Nah, kisah ini pun demikian. Meski bagus, tapi pembawaannya kurang bisa membawa pembaca secara nyaman menikmati keseluruhan isi cerita.

    Ada kesan terburu-buru dalam menyambungkan tiap ‘scene’ yang ada. Atau bisa jadi titik tolak penghubungnya kurang tepat sehingga masih menyisakan sedikit jarak.

    Untuk EYD, masih ditemukan beberapa kesalahan seperti penulisan kata ‘di’ yang berfungsi sebagai awalan. Seharusnya ketika kata ‘di’ diikuti kata tempat penulisannya dipisah.

    Secara keseluruhan cerita ini bagus. FAM berharap penulis terus berlatih agar kualitas karya yang dihasilkan ke depan semakin bagus. Tetap semangat dan terus berkarya.

    Salam santun, salam karya.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT KARYA PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    SAPPORO DI LANGIT ITU

    Oleh: Puji dandelion

    Rintik-rintik air dari langit mengguyur deras kota Hokkaido yang akan memasuki musim semi sebentar lagi. Hujan. rmungkin bagi sebagian orang sangatlah menyenangkan, namun tidak bagiku. Karena bagiku hanya satu kata untuk hujan yaitu kotor. Ya, karena dengan adanya hujan, jalan-jalan akan menjadi becek dan sangat kotor kemana-kemana. Mengotori motor ataupun mobil-mobil yang sedang berlalu lalang, lalu motor dan mobil yang melaju itu pun akan mengotori para pejalan-pejalan kaki yang sedang santainya menikmati perjalanan. Itulah menurut pikiranku, ketika hujan selalu deras berdatangan di bumi ini.

    Aku adalah seorang anak perempuan yang sangat anti kotor, boleh dibilang hidupku sangatlah higienis. Sedikit pun aku tak mau mendapati diriku kotor dan rumahku bersarang dengan debu. Maka hari-hariku pun selalu dipenuhi dengan segala bersih-bersih, baik itu untuk membersihkan diriku sendiri maupun bersih-bersih kamar beserta seluruh ruangan yang ada di dalam rumahku. Sehingga tak heran kalau aku pun sangat disukai oleh guru-guru dan juga teman-temanku, bagaimana tidak karena setiap aku melihat ada yang kotor sedikit saja, maka dengan refleks aku pun langsung membersihkannya. Namun, yang lebih menyedihkan adalah aku juga tidak bisa mencium aroma bau yang tak sedap, karena jika itu terjadi maka orang yang tercium baunya itu pasti akan langsung aku tonjok tanpa bisa dicegah, hehe. Sebenarnya itu sangatlah menyiksa diriku. Dalam diriku, aku ingin sekali bisa berubah, namun usahaku selalu sia-sia. Itu semua berawal dari sewaktu kecil, dulu aku pernah tercebur di selokan yang penuh dengan lumpur dan baunya sangat menyiksa serta hujan pada waktu itu sedang turun dengan derasnya, ketika aku pulang sekolah bersama teman-temanku kami hujan-hujanan sambil bercanda-canda, lalu tak sengaja aku pun tercebur ke selokan. Setelah dibersihkan bau selokan itu tidak mau hilang sampai berminggu-minggu, dan akhirnya aku pun membenci hujan juga kotoran yang membuat diriku menjadi bau.

    “Ayu.. Ayumi.. kamu sedang apa? Sudah siap belum, sudah jam setengah tujuh, nanti kamu terlambat sekolah? Teriak ibuku dari kejauhan.

    “Iya, sebentar lagi Bu,” jawabku. “Baiklah semua sudah siap, hanya tinggal memakai sarung tangan dan memakai masker wajah saja,” tapi sungguh menyebalkan, aku baru ingat kalau sepedaku sedang rusak, remnya blong tidak tahu kenapa. Terpaksa hari ini aku harus menggunakan angkutan umum.

    Kini aku sudah berada di halte bus, dan menunggu bus membuatku harus berhati-hati karena tentu saja aku harus berbaur dengan banyak orang yang juga sama-sama menunggu bus, pun ketika di dalam bus aku juga harus berhati-hati, jangan sampai aku terkena atau berdesak-desakan dengan orang-orang yang berkeringat, iih membayangkannya saja itu sudah membuatku merinding.

    Bus yang kutunggu-tunggu itupun akhirnya datang juga, ah senang rasanya. Aku ingin duduk dibangku bus paling depan dan tak ingin berada di tengah-tengah ataupun di belakang, karena sudah pasti bau-bau keringat mereka akan tercium lebih jelas dan itu akan membuatku mual-mual menghirupnya. Ah dan aku ingin bisa segera sampai di sekolah. Namun bayanganku segera tertepiskan karena sebelum aku sempat duduk dibangku pilihanku, orang-orang yang berada disamping kiri kananku langsung menerobos masuk ke dalam sambil berdesak-desakan dan aku pun terdesak ke belakang, sialnya setelah aku berhasil masuk ke dalam, tak ada satupun bangku kosong yang tersisa untukku. Aah… bagaimana ini? sungguh, tak sesuai dengan harapanku. Kini bangku paling depan tak bisa kuraih, bahkan bangku paling belakang pun tak satu pun tersisa untukku. Ingin rasanya aku turun saja, tapi tidak mungkin aku sudah terlambat. Dan akhirnya, kini disinilah aku menggantung pada pegangan-pegangan bus yang berada di atas. Penderitaanku tak berhenti sampai di situ saja, karena di tengah-tengah perjalanan, laju bus tiba-tiba bergoleng dan aku pun menjadi oleng dan menubruk seseorang, aku mengangkat wajah dan kulihat seseorang laki-laki berada di hadapanku. Aku sungguh terkejut, baru kali ini aku berdekatan dengan seorang laki-laki. Namun sebelum semuanya menjadi indah dan menyenangkan untukku, aku pun langsung menonjoknya saat itu juga. Semua yang berada di dalam bus pun terpana melihatku, tak terkecuali supir bus yang masih berkonsentrasi melihat jalan.

    ***

    “Apa..? Jadi laki-laki yang tidak kamu kenal itu langsung kamu tonjok Ayumi?”

    “Iya,” aku hanya bisa menjawab dengan anggukkan.

    “Hanya karena, kamu tidak tahan mencium bau keringatnya?” Tanya Riri lagi.

    “Iya, habis mau bagaimana lagi. Sebenarnya aku juga tidak mau melakukan itu Ri, tapi entah kenapa tangan ini langsung refleks bergerak,” kilahku.

    “Itu bukan refleks namanya, tapi memang sudah menjadi kebiasaanmu,” omel Riri dan aku hanya bisa menunduk. Dalam hati aku pun hanya bisa bergumam; ya habis mau bagaimana lagi, aku tidak bisa mengendalikannya sih, ratapku.

    ***

    Aku berjalan dengan langkah gontai, kutundukkan badan dan kepalaku ke bawah, malas rasanya mengangkat ke atas. Dan pulang sekolah ini aku memutuskan untuk berjalan kaki saja. Aku tidak mau insiden tadi pagi itu bisa terulang kembali. Berdesak-desakan di dalam bus, lalu aku menabrak seseorang, dan setelah itu tanpa sadar aku langsung menonjoknya. Aah… sudahlah aku tak mau mengingat kejadian itu lagi. Sungguh memalukan.

    Aku sudah sampai di depan rumahku. Dengan badan dan kepala yang masih menunduk, dengan malas tanganku membuka pintu pagar. Tapi sepertinya bukan pagar yang aku pegang, melainkan… aah... aku… aku memegang sebuah tangan, tangan siapa ini? aku angkat kepalaku, dan hampir saja aku menjerit dibuatnya. Ini… inikan cowok yang aku tonjok tadi pagi, huwaaah… kenapa dia bisa berada disini? Dan penampilannya, lebih buruk dari yang tadi pagi. Iiih… jorok.

    “Hai, kamu kan cewek yang tadi pagi sudah menonjokku?” tanyanya.

    “Eh, kamu.. kamu.. masih mengingatnya.”

    “Ya tentu, ini bekasnya saja masih ada,” jawabnya sambil memperlihatkan bekas yang masih berada di wajahnya.

    “Lalu.. lalu kenapa kamu bisa berada disini?”

    “Aku ingin bertemu dengan bapak Matsumoto pemilik rumah ini, ah… apakah kamu putrinya?” tebaknya.

    “Iy.. iya betul.”

    ***

    “Apa? Jadi maksud Ayah, dalam beberapa hari ini, orang ini akan tinggal di rumah kita?” jeritku.

    “Iya, memangnya kenapa?” Tanya ayah tanpa ada rasa keberatan.

    “Tapi.. tapi dia kan orang asing Yah, bagaimana mungkin, bukankah Ayah selalu mengajarkan kepadaku agar tidak boleh dekat-dekat dengan seorang cowok, apalagi cowok yang tidak dikenal,” protesku.

    “Siapa bilang dia orang asing,” jawab ayah.

    “Heh… bukan orang asing,” kataku tak percaya.

    Lalu kurasakan handuk mengenai kepalaku, “Iya, aku ini adalah Kakak sepupumu Ayumi. Jadi kamu harus memanggilku kakak sekarang,” katanya sambil melemparkan handuk ke kepalaku hingga menutupi seluruh mukaku.

    “Aaah… ini kan handukku? kamu jorok sekali sih, kenapa kamu memakai handukku,” teriakku.

    “Wah, gomenasai. Aku kira itu handuk untuk siapa saja,” jawabnya tanpa merasa bersalah.

    Mendengar jawaban seperti itu, langsung kulemparkan lagi handukku ke mukanya, “pakai lagi saja, aku sudah tidak butuh,” kataku sambil berlalu.

    Begitukah sepupuku? aku tidak menyangka kalau aku bisa punya sepupu yang jorok seperti itu.

    “Ayumi, sini bantu mama membawakan makanan untuk makan malam kita,” teriak ibu dari dapur.

    “Ah.. iya baik bu.”

    Dari kamar aku langsung keluar dan membantu ibu, malam ini ibuku membuat masakan yang menurutku ‘wah’ sekali, sepertinya ini makan malam untuk menyambut kedatangan si sepupuku yang jorok itu. Tapi, kenapa sayur paprika tetap masih dihidangkan, aku kan tidak suka paprika. Ibu bagaimana sih, pasti sengaja membuat ini agar aku bisa memakannya, biar saja walaupun di depan sepupuku yang baru aku kenal itu, aku tetap tidak mau memakannya. Huh aku mendengus sebal.

    “Wah Tante, makanannya enak-enak sekali,” tanya sepupuku.

    “Iya, inikan khusus untuk menyambut kedatanganmu Kazu,” jawab ibuku.

    “Benarkah? Wah doumo arigatou,” ucapnya senang.

    “Ittadakimasu,” kata kami serempak, dan setelah itu kami langsung menikmati hidangan di depan kami dengan lahapnya, kecuali aku yang sangat tak berselera karena makananku sengaja sudah dicampur paprika oleh ibuku sedari tadi, lalu aku menoleh kearah ibu dan ibu hanya mengedipkan matanya, sebal. Aku sudah dikerjai oleh ibu. Sampai yang lain sudah selesai menghabiskan makanannya, hanya aku saja yang masih menyisakannya.

    “Ayumi, kenapa makananmu tidak dihabiskan?” Tanya sepupuku ‘si jorok’ itu.

    “Tidak kenapa-kenapa, aku hanya tidak suka papri..” kataku dan sebelum aku melanjutkan ucapanku, sepupuku yang jorok itu dengan cepatnya memakan semua makananku.

    “Aaah… Kamu itu kok jorok sekali sih, masa makanan bekas orang lain langsung kamu makan begitu saja,” teriakku, ya ampun aku benar-benar tidak menyangka bisa punya sepupu seperti dia. Dan sepertinya aku lebih enak memanggilnya ‘si jorok’ dari pada harus memanggil namanya yang menurutku terlalu keren untuk orang jorok seperti dia ‘Kazunari Ninomiya’ dengan nama keluarga yang sama denganku ‘Kazunari Ayumi’ bisa-bisanya aku bisa satu keluarga dengannya.

    Dan aku baru tahu, kalau aku memiliki sepupu yang tinggalnya sangat jauh denganku. Hari ini dia baru pulang lagi ke Jepang setelah waktu kecilnya tinggal di negeri orang, dia tinggal di Indonesia bersama ayah dan ibunya yang menetap di Indonesia. Aku tidak tahu Indonesia, aku hanya tahu dari buku-buku sejarah saja. Bahwa dulu kakek dan nenek moyangku pernah menjajah negeri itu dengan begitu lamanya, dan sekarang kami orang-orang jepang sangat bersalah kepada orang Indonesia, sehingga kami pun sangat menghormati orang-orang Indonesia ketika mereka berada disini dan Riri adalah temanku yang asli dari Indonesia. Senang berteman dengan Riri, orangnya sangat baik dan ramah juga tegas. Sehingga berteman dengannya sangatlah menyenangkan, dia pun sering bercerita tentang Negara Indonesia kepadaku. Kebalikan dengan Ka Kazu atau si jorok itu, Riri dan sekeluarganya pindah ke Jepang karena ayahnya ada pekerjaan di Jepang, sehingga mereka sekeluarga pun akhirnya pindah, dan jadilah Riri satu sekolah denganku.

    ***

    Selesai makan malam yang menurutku tidak menyenangkan itu, kuputuskan untuk langsung tiduran saja, malas rasanya berkumpul di ruang keluarga. Apalagi kalau harus berkumpul dengan orang yang jorok itu. Kurebahkan tubuhku di kasur, rasa pegal dan lemas rasanya berkumpul menjadi satu, entah kenapa seharian ini aku selalu bertemu dengan sesuatu yang jorok-jorok, dari mulai berangkat sekolah, pulang dan sekarang di rumah. Aah... ingin teriak rasanya, sebenarnya aku juga lelah dengan sifat higienisku ini, kalau begini terus bagaimana hidupku ke depannya, lalu bagaimana kalau aku punya suami nanti dan suamiku itu tak sedap baunya oleh penciuman hidungku ini, masa dia langsung aku tonjok sih, lalu bagaimana juga dengan anakku… ketika dia buang air kecil atau buang air besar, tidak mungkin kan aku memukul anakku sendiri? Ya Tuhan, sungguh aku jadi sedih, kenapa aku bisa seperti ini, aku juga ingin bisa hidup normal seperti teman-temanku yang lainnya, tidak merasa terganggu oleh sifatku yang terlalu higienis seperti ini.

    “Aku sudah tahu semuanya,” kata seseorang di belakangku. Aku langsung bangun dan menoleh ke arah suara itu. si jorok itu, ngapain sih dia ke kamarku.

    “Aku sudah dengar semua cerita tentangmu, pantas saja pagi tadi kamu langsung menonjokku tanpa sebab, ternyata itu semua karena penciumanmu yang terlalu tajam dan sangat peka terhadap segala sesuatu yang berbau dan kotor,” jelasnya dengan panjang lebar.

    “Lalu, memangnya kenapa?” jawabku dengan ketus.

    “Apakah kamu tidak risih dengan sifat terlalu higienismu itu Ayumi? Untung saja, pagi tadi yang ditonjok itu adalah aku, lalu bagaimana kalau dengan orang yang sifatnya kasar, kamu pasti akan dibalasnya,” jawabnya membuat hatiku sangat tertusuk, hatiku sakit dicampur rasa keinginanku untuk membenarkan semua perkataannya, namun aku pun sakit karena sudah dikatakan seperti itu, apakah aku juga mau dengan sifatku yang terlalu higienis ini, aku juga sedih. Tapi dia tidak mengerti, dia bukan aku.

    “Aku mengerti, kamu juga pasti tidak ingin terus-terusan seperti itu, bukan?” jawabnya mantap seolah-olah seperti mengetahui isi hatiku, kali ini aku tak bisa berbicara banyak.

    “Aku bisa membuatmu agar bisa berubah, apakah kamu mau?” tanyanya, membuatku jadi senang mendengarnya, namun tak bisa kutunjukkan, kesenangan ini hanya ada di dalam hatiku saja. Namun aku tak bisa untuk tidak mengatakannya.

    “Ba… bagaimana caranya,” jawabku dengan tergagap.

    Lalu ia hanya tersenyum dan berkata, “besok kalau kau sudah siap, akan aku tunjukkan kepadamu bagaimana caranya, sekarang kau tidur saja dulu dan pikirkanlah dengan baik-baik, oyasumi,” katanya sambil berlalu meninggalkanku dengan sejuta pemikiran.

    ***

    Pagi ini, aku memutuskan untuk menyetujui tawarannya. Setelah bumi ‘Sunrise Nippon’ diguyur dengan hujan deras pagi ini. Tekadku sudah mantap untuk mau merubah sifatku. Kulihat dia sedang duduk-duduk santai ketika aku mendekatinya.

    “Aku menyetujui tawaranmu, lalu bagaimana caranya agar kau bisa merubahku?” tanyaku langsung to the point.

    “Ok, baiklah kalau begitu, Ayo kita keluar,” jawabnya sambil langsung menarik lenganku. Aku refleks, aku langsung melepaskannya lagi. Selama ini aku tidak pernah dipegang oleh siapapun terutama laki-laki, kecuali ayahku. Walaupun Kazu adalah sepupuku, tapi dia kan jorok.

    “Tunggu, kita mau kemana?” tanyaku.

    “Kita akan keluar,” jawabnya simple.

    “Loh kok keluar? Katanya kamu mau membantuku untuk merubah sifatku?” jawabku penuh dengan tanda tanya.

    “Iya, ini aku mau membantumu berubah,” jawabnya mantap.

    “Tapi kenapa harus keluar? Sekarang kan baru selesai hujan, pasti jalanan kotor dan becek sekali, aku tidak mau,” jawabku tak kalah mantap.

    “Baik kalau begitu, berarti selamanya kamu tidak akan pernah bisa berubah,” katanya dengan tajam.

    “Baiklah, aku mau,” jawabku dengan lemas, akhirnya aku pun menyetujuinya.

    “Tapi sebelum keluar aku mau mengambil mantelku dulu, lalu aku pun harus memakai master, juga sepatu anti air,” izinku.

    “Jangan, kau tidak boleh memakai semua itu. Sudah ayo kita langsung pergi saja,” lagi-lagi dia langsung menarik lenganku, namun aku sudah tidak bisa menolaknya lagi. Dengan berat hati aku pun menurutinya.

    Sebelumnya, aku tak pernah keluar tanpa mantel, masker dan juga sepatu anti airku. Tapi kali ini, aku keluar hanya menggunakan baju seadanya serta sandal sehingga kakiku pun menjadi basah dan becek karenanya.

    “Aaah tuh kan kakiku menjadi basah,” aku langsung menjerit di depannya, namun dia tak peduli hanya memberikan senyuman ejekan dan langsung berjalan lagi dengan cueknya.

    Aku merengut.

    Apanya yang mau membantu, sedari tadi dia hanya mengajakku berjalan-jalan saja. Kalau seperti ini saja sih, aku sendiri juga bisa.

    Tapi sepertinya aku jadi biasa-biasa saja dengan sandalku yang basah ini, biasanya kan aku tak tahan dan langsung segera mencucinya, namun kali ini tidak… apakah aku sudah bisa berubah? tanyaku dalam hati.

    Sedikit demi sedikit aku pun mulai menikmati perjalanan ini. kulihat kota Hokkaido dengan suasana desanya yang menyejukkan, jauh dari segala kebisingan kota Tokyo yang penuh keramaian. Hokkaido adalah salah satu dari beberapa pulau besar dari kepulauan Jepang, letaknya paling utara. Ciri khas kota ini adalah jalan-jalannya yang tersusun rapi bagaikan papan catur. Jalan utama yang membelah kota adalah jalan Oodori Koen, di mana setiap bulan februari berlangsung akan diadakan festival salju sapporo yang menarik banyak pengunjung setiap tahunnya. Kami pun terhenti dihamparan bunga dandelion yang indah bermekaran, sekarang sudah mau memasuki musim semi sehingga bunga-bunga dandelion dan bunga sakura akan indah bermekaran di sepanjang perjalanan. Indahnya menunggu musim semi tiba. Aku pun menghirup udara segar setelah hujan reda, entah kenapa aku jadi menyukainya. Hujan membuat udara menjadi tambah bersih dan segar. Jalanan kotor dan becek sudah tak kupikirkan lagi, karena yang paling penting adalah udara bersih untuk pernafasan. Nafas membutuhkan oksigen yang baik, dan lingkungan segarlah yang dapat membantu kita mendapatkan itu semua.

    “Ka Kazu... Ka Kazu…” aku mendengar seseorang tengah memanggil Kazu, eh bukan si jorok itu maksudku.

    “Yuki… kamu sedang apa disini? Apakah rumahmu di dekat sini juga?” Tanya Ka Kazu ‘si jorok’ itu.

    “Iya, benar ka.. Yuki tinggal di dekat sini, Yuki sedang bermain bersama Ibu dan Kakak. Itu dia Ibu dan Kakak Yuki,” jawabnya. Membuatku heran, sejak kapan ‘si jorok’ ini bisa punya kenalan.

    “Ini Bu, Ka Kazu yang sudah Yuki ceritakan kemarin.. dialah yang telah menolong Kazu,” ceritanya dengan sangat riang. Membuatku jadi berpikir lagi, oh jadi kemarin dia habis menolong anak kecil ya? hem.. baik juga si jorok ini.

    “Wah, terima kasih ya nak Kazu sudah mau menolong anak ibu, kalau tidak ada nak Kazu mungkin Yuki sudah tertabrak oleh mobil itu,” terang ibu Yuki sambil menitikkan airmatanya.

     “Tidak apa-apa bu, sama-sama. Saya juga tidak sanggup kalau melihat ada anak kecil yang hampir tertabrak mobil, lalu saya tidak melakukan apa-apa. Jadi apapun resikonya pasti akan saya lakukan demi menolong sesama,” ucapnya dengan sok bijaksana, namun kali ini entah kenapa aku sangat menyukai sikapnya dan aku baru tahu kalau ternyata pakaiannya yang penuh dengan lumpur kemarin itu, karena dia telah menolong seseorang, sungguh baik hati sekali Ka Kazu, lalu bagaimana jika kemarin aku yang berada di posisi dia, apakah mungkin aku dengan sigap dapat menolong anak kecil itu? aku saja sangat takut dengan hujan dan becek, sungguh aku tidak tahu bagaimana kejadiannya jika aku yang berada di posisi waktu itu. Ka Kazu kamu memang benar-benar cowok yang baik hati, aku… aku… jadi kagum padamu. Senang rasanya kamu bisa menjadi saudara sepupuku.

    ***

    Hari ini entah kenapa badanku rasanya lemas sekali, kepalaku serasa berkunang-kunang. Sejak jalan-jalan kemarin, malamnya aku langsung merasakan panas dingin yang sangat menjalar ke seluruh tubuhku, badanku serasa melayang-layang di angkasa hampa udara, lemas dan tak bertenaga. Dan pagi ini, aku tak bisa bangun dari tempat tidur, lemah sekali rasanya tubuh ini. Ingin kulawan kelemahan ini namun Ibu melarangku untuk banyak bergerak, mungkin beliau tahu kalau sekarang aku sedang sakit. Kulihat Ayah, Ibu, dan juga… Ka Kazu sangat mencemaskanku, ah Ka Kazu… kini sedikit demi sedikit aku sudah bisa mengenalmu, panggilan si jorok untukmu kini sudah kuhapuskan.

    Malam ini, lagi-lagi aku menggigil kedinginan padahal cuaca saat ini sedang panas, kepalaku terasa pening sekali membuatku jadi mual-mual, seharian ini sudah banyak makanan yang aku tumpahkan dari dalam perutku. kenapa dengan penyakit panas dingin ini, kenapa membuatku lemah sekali. Beberapa detik kemudian aku pun langsung tak sadarkan diri.

    ***

    Hangat, sentuhan ini membuatku terasa nyaman, dan bau ini sepertinya aku sangat mengenalnya. Namun, kenapa aku merasa tak terganggu. Aku sungguh merasa tentram. Sentuhan ini, membuatku hangat dan tak mengigil kedinginan walaupun kepalaku masih terasa pening, tapi sentuhan ini benar-benar membuatku merasa nyaman dan aku tak ingin melepaskannya.

    “Om, Tante… maaf karena saya, Ayumi menjadi sakit seperti ini. Ayumi memang tidak bisa kalau terkena kotor dan hujan-hujanan, hujan kemarin sepertinya sudah membuat Ayumi panas dingin, walaupun kemarin hujan sudah berhenti namun hawa dinginnya masih dapat merasuk ke dalam tubuh, apalagi kemarin Ayumi tak memakai mantelnya. Jadi lebih baik, saya pergi saja dari sini. Kebetulan pengumuman penerimaan mahasiswa sudah dikabarkan, jadi saya akan langsung menge-kos saja di Tokyo.”

    “Tidak apa-apa Kazu, kami merasa tidak terbebani dengan adanya dirimu. Kami justru bersyukur Kazu mau menetap beberapa hari disini dan itu pun kami maksudkan agar Ayumi bisa lebih banyak belajar darimu.”

    Kudengar samar-samar suara ayah diseberang sana.

    “Terima kasih Om, Tante atas kebaikannya. Namun sepertinya saya masih belum berhasil untuk membantu Ayumi bisa keluar dari kebiasaannya yang higienis itu, hingga membuatnya menjadi sakit. Saya mohon pamit saja sekarang.”

    Lagi-lagi kudengar samar-samar seseorang sedang berbicara.

    “Tidak mau menunggu sampai Ayumi bangun terlebih dahulu Kazu,” Tanya ibu.

     “Tidak usah Tante, tolong titip salam saja kepada Ayumi nanti.”

    Suara siapakah itu? sepertinya aku mendengar suara yang membuatku terasa nyaman, dan hangat. Namun, kehangatan ini sepertinya telah menghilang dari tubuhku. Aku ingin meraihnya lagi, aku ingin mendapatinya lagi.

    ***

    “Ayumi, kamu sudah sadar nak,” Tanya Ibuku. Dan aku langsung melihat sekelilingku. Hampa, tak ada wajah yang aku cari. Aku hanya mendapati ibu di sampingku juga ayah.

    Pening kepalaku sudah tidak terlalu terasa, mungkin karena tidurku yang sangat lama. “Apakah ibu dan ayah selalu berada di sampingku saat aku tertidur,” tanyaku.

    “Tidak, justru semenjak kamu tertidur, selalu Kazu yang menemanimu. Dia merasa bersalah kepadamu Ayumi, karena gara-gara dia kamu menjadi sakit seperti ini. Oleh karena itu, tadi pagi-pagi sekali dia langsung pamit pergi dari rumah ini dan hanya menitipkan salam kepadamu,” jawab ibuku membuatku hanya bisa terpaku di tempat tidurku.

     “Apa?” Aku sungguh kaget mendengarnya. “Kemana Ka Kazu pergi yah?”

    “Ada apa memangnya Ayumi?” ayah bertanya dengan khawatir.

    “Tidak, Ayumi hanya ingin mengejar Ka Kazu yah, Ayumi ingin bertemu dengannya dan mengucapkan sesuatu yang dari kemarin ingin Ayumi sampaikan namun belum sempat Ayumi utarakan,” kataku mantap.

    “Tentang apa Ayumi,” selidik ibu dan ayahku.

    Namun itu tak perlu aku jawab, mereka juga pasti akan tahu.

    “Naik apa Ka Kazu pergi ke Tokyo yah?” tanyaku sambil bangun dari tempat tidur dan segera berlalu, tak ada waktu untuk berusaha berbenah diri saat ini pikiranku bukan lagi kepada mantel dan masker wajah kalau mau pergi. Sekarang sudah berbeda, aku harus segera berangkat sebelum Ka Kazu benar-benar pergi dari hadapanku.

    “Kalau tidak salah, dia bilang mau naik kereta ke Tokyo,” kata ayah dengan cepat.

    “Baik yah, terima kasih. Ayumi pergi dulu, ittekimasu,” kataku sambil berlari.

    “Itterashai,” jawab ayah dan ibu bersamaan.

    ***

    Aku menyapu sekeliling stasiun kereta yang penuh dengan kesesakan orang-orang yang akan menaiki kereta shinkansen, tak kulihat sedikitpun hawa-hawa Ka Kazu dan batang hidungnya, aku mulai gelisah, dimana Ka Kazu?

    Kulihat kereta shinkansen arah Tokyo baru akan datang, aku senang setidaknya Ka Kazu masih berada di sekitar sini, akan aku telusuri lebh jauh lagi. Namun jalan stasiun ini tak selengang yang aku kira, semakin aku masuk ke dalam semakin aku pun mulai terdesak oleh kerumunan orang-orang, semakin aku kuat memaksa aku pun semakin terdorong ke belakang seperti ketika aku naik bus waktu itu. Airmataku tumpah, aku sudah menyerah mungkin untuk saat ini aku takkan bisa bertemu dengan Ka Kazu. Kulihat kereta yang menuju arah Tokyo sedikit lagi akan segera menghilang dari hadapanku. Aku hanya bisa lemas memandangnya.

    Namun kudengar sebuah teriakan dari arah depanku, seseorang dari pintu kereta shinkansen memanggilku, “Ayumi, sedang apa kamu disana?” tanyanya sambil beradu dengan mesin shinkansen yang tengah melaju cepat, tak kusia-siakan lagi kesempatan ini. Aku hanya ingin mengucapkan kata itu.

    “Ka Kazu… Arigatou gozaimasu…,” kataku sambil berteriak, entahlah Ka Kazu mendengarnya atau tidak, namun akhirnya rasa terima kasihku ini sudah tersampaikan dengan baik, angin sampaikanlah dengan lembut di telinganya, salju sapporo datanglah dengan cepat agar aku bisa bertemu dengannya lagi, “nanti ketika festival salju sapporo, kita datang kesini lagi ya,” tanya Ka Kazu, kuingat dengan sangat baik tawarannya waktu itu.

    Aku pun melangkah dengan senang bersama hujan yang kini datang mengguyur kota Hokkaido dengan derasnya. (*)

    Istilah-istilah
    * Gomenasai: Maaf
    * Doumo arigatou: Terima kasih banyak
    * Ittadikimasu: Selamat makan
    * Oyasumi: Selamat tidur
    * Ittekimasu: Aku pergi
    * Itterashai: Hati-hati di jalan
    * Arigatou gozaimasu: Terima kasih banyak

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Nukilan Novel “Sapporo di Langit Itu” Karya Puji Dandelion (FAMili Cilegon) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top