Skip to main content

Ulasan Puisi “Jembatan Surga” Karya Mia Mutiara (FAMili Kuningan)

Puisi “Jembatan Surga” buah karya Mia Mutiara ini dipersembahkan untuk anak-anaknya. Mia Mutiara begitu mencintai buah hatinya sehingga menyebutnya sebagai “permata hati”.

Ia mengenang hari saat anak-anaknya itu pertama menghirup udara bebas. Ia masih terbayang tangisan mereka saat terlahir dari rahimnya. Betapa besar pengorbanan seorang ibu saat melahirkan seorang anak yang sedikit mereda setelah mendengar tangisan bayi itu. Ini dapat dirasakan di dalam bait berikut ini:

Para permata hatiku
Enam belas, dua belas, delapan tahun yang lalu
Kalian hirup udara bumi untuk kali pertama
Aku dengar tangis-tangis membahana
Membasuh tubuh dan jiwaku yang lelah bertaruh nyawa


Penulis puisi ini masih mengingat hari di mana ksatria kecilnya bernyanyi seolah pangeran yang bernyanyi untuk calon permaisurinya. Tak hanya itu, penulis juga mengingat putrinya yang wajah cantiknya bagai malaikat. Yang lainnya terasa begitu menggemaskan. Detail dan dalam sekali Mia Mutiara mengungkap pengalaman bersama buah hatinya dalam bahasa yang sederhana. Cobalah kita baca kata-kata di dalam bait berikut ini:

Enambelas tahun
Ksatriaku jalani hari-hari berteman melodi dan nada
Mengalunkan suara bak pangeran di atas pentas irama
Dua belas tahun
Wajah cantikmu mengantarkan keremajaanmu
Dari peri kecil menjadi malaikat elok
Delapan tahun
Menggemaskan betul tingkahmu
Aku tak bisa marah bila kau berulah
Karena selalu kau peluk aku dengan manjamu


Akhirnya, ia mengakhiri puisi ini dengan bait berikut ini, yang melukiskan betapa indah, betapa bahagia dirinya bersama dengan buah hatinya, ibarat jembatan surganya.

Aduhai…
Indahnya hari-hariku
Bersama para mutiaraku
Jembatan surgaku


Secara bahasa, walau pilihan diksinya sederhana, minim dari kesalahan. Semoga Mia terus meningkatkan kemampuan menulisnya, terus dan terus.

Salam santun, salam karya.

TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

[BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]


JEMBATAN SURGA

Mia Mutiara
IDFAM 1229U-Kuningan

Para permata hatiku
Enam belas, dua belas, delapan tahun yang lalu
Kalian hirup udara bumi untuk kali pertama
Aku dengar tangis-tangis membahana
Membasuh tubuh dan jiwaku yang lelah bertaruh nyawa

Enambelas tahun
Ksatriaku jalani hari-hari berteman melodi dan nada
Mengalunkan suara bak pangeran di atas pentas irama
Dua belas tahun
Wajah cantikmu mengantarkan keremajaanmu
Dari peri kecil menjadi malaikat elok
Delapan tahun
Menggemaskan betul tingkahmu
Aku tak bisa marah bila kau berulah
Karena selalu kau peluk aku dengan manjamu

Aduhai…
Indahnya hari-hariku
Bersama para mutiaraku
Jembatan surgaku

*untuk anak-anakku tersayang

[www.famindonesia.com]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…