Skip to main content

Update Nama Peserta Lomba Menulis Resensi Buku FAM Indonesia

1. Wahyu Prihartini (Pasuruan)
Meresensi Buku: “Flamboyan Senja” karya Aliya Nurlela
Judul Resensi: “Ketika Problema Datang Menyapa, Hanya Allah Sandaran yang Nyata”

2. Hanum Anggraini Azkawati (Sidoarjo)
Meresensi Buku: Untuk Sumarni dari Suparman karya 25 Cerpenis Indonesia
Judul Resensi: “Sentuhan Cinta Bernilai Dakwah Terbalut dalam Setiap Kisah”

3. Eka Susanti (Padang Panjang)
Meresensi Buku: “Cermin Cahaya” karya Nur Syamsudin
Judul Resensi: Cahaya Allah Tak Akan Pernah Padam

4. Ade Ubaidil (Cilegon, Banten)
Meresensi Buku: “Kidung Pengelana” Hujan karya Denni Meilizon
Judul Resensi: Menilai Buku dari Kualitas, Bukan Sekadar Popularitas”

5. Ken Hanggara (Surabaya)
Meresensi Buku: “Fesbuk” karya Muhammad Subhan & Aliya Nurlela
Judul Resensi: Menapaki Jalan Hidup dengan Keikhlasan

6. Muhammad Abrar (Padang)
Meresensi Buku: Kejora yang Setia Berpijar karya 50 Penyair Muda Indonesia
Judul Resensi: Memaknai Makna Perjuangan Seorang Pahlawan

7. Najla Al-Faiq (Malang)
Meresensi Buku: “Dermaga Batu” karya Ken Hanggara
Judul Resensi: Kharisma Dermaga Batu

8. Puji Dandelion (Cilegon)
Meresensi Buku: “Flamboyan Senja” karya Aliya Nurlela
Judul Resensi: Flamboyan Senja, Flamboyan Bertasbih

9. Hasan Asyhari (Padangpanjang)
Meresensi Buku: “Pesona Odapus” karya 25 Cerpenis Indonesia
Judul Resensi: Butiran Cinta dalam Genggaman Dakwah

10. Hasan Asyhari (Padangpanjang)
Meresensi Buku: “Bukittinggi Ambo di Siko” karya 39 Penyair Nusantara
Judul Resensi: Bukittinggi dalam Alunan Kata

11. Eka Susanti (Padangpanjang)
Meresensi Buku: “Ijab Kabul Pengantin” karya Hafney Maulana
Judul Resensi: Kehidupan dalam Rangkulan Puisi

12. Abi Yazid Bastomi (Nganjuk)
Meresensi Buku: “Pesona Odapus”, karya 25 Cerpenis Indonesia
Judul Resensi: Bukan Cinta Biasa

13. Steve Agusta (Jakarta)
Meresensi Buku: “Flamboyan Senja” karya Aliya Nurlela
Judul Resensi: Menyatukan Ide dan Realita

14. Muhammad Abrar (Padang)
Meresensi Buku: “Bukittinggi Ambo di Siko”, karya 39 Penyair Nusantara
Judul Resensi: Bukittinggi, Setapak Tanah Surga

15. Hanum Anggraini Azkawati (Sidoarjo)
Meresensi Buku: “Membungkus Mimpi” karya Muhammad Syofyan Arif, dkk
Judul Resensi: Mimpi-Mimpi yang Bertebaran Lewat Sepucuk Surat

16. Rohyuli (Serang)
Meresensi Buku: “Kidung Pengelana Hujan” karya Denni Meilizon
Judul Resensi: Berdakwah Lewat Tulisan yang Indah

17. Ken Hanggara (Surabaya)
Meresensi Buku: “Kemarau Kemarin” karya Aditya Surya Nugraha
Judul Resensi: Serupa Panggung Kehidupan

18. Fia Fauziah Rahman (Depok)
Meresensi Buku: “Membungkus Mimpi”, 43 Pucuk Surat Pilihan
Judul Resensi: Menuangkan Impian di Sepucuk Surat

19. Robi Andika Amsar (Lombok Timur)
Meresensi Buku: “Flamboyan Senja” karya Aliya Nurlela
Judul Resensi: Ada yang Berujar Tak Sadar, “Subhanallah”

FAMili, tulisan resensi siapa yang menyusul?

Salam santun, salam karya.

FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

Catatan:
Syarat dan Ketentuan Lomba Menulis Resensi Buku silakan dibaca di (klik) http://www.famindonesia.com/2013/03/lomba-menulis-resensi-buku-terbitan-fam.html

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…