Skip to main content

Buku Cerpen “Agar-Agar” Karya Mia Mutiara

Agar-agar adalah sejenis makanan yang tampilannya cantik, memikat selera, namun rapuh dan tidak bertahan lama di udara terbuka. Penulis memakainya sebagai gaya bahasa metafora, untuk menunjukkan sisi kehidupan penulis yang sepanjang perjalanannya penuh dengan kerapuhan, kebimbangan, sebelum akhirnya mendapat hidayah dari Yang Maha Kuasa.

Seperti cerpen Agar-Agar (1 dan 2),  Matahari Yang Enggan Terbit, Sepuluh Rumah, yang mewakili sebagian kecil lika-liku penulis dalam mendapatkan hidayah. Sedangkan cerpen Gerbang Surga, Aku Bukanlah Hanya Aku (1 dan 2), Let’s Dream and Make it Happen, Semua yang Terakhir darimu, Masih Adakah Masa Depan untukku, diambil dari mimpi dan kisah nyata yang memotivasi penulis untuk lebih semangat menjalani kehidupan.

Selebihnya adalah cerpen yang pernah dimuat di antologi (Di Tiap Detikmu), cerpen yang pernah diikutsertakan dalam lomba cerpen FAM (Asih dan Melia, Pangeran Kotak Kayu), dan cerpen-cerpen yang diangkat dari berbagai pengalaman lainnya.

Buku kumpulan cerpen Agar-Agar ini memuat 23 cerpen. Keseluruhannya adalah fiksi, namun beberapa di antaranya diangkat dari pengalaman pribadi dan kisah nyata yang terjadi di lingkungan penulis.

***

Tidak ada formula yang berlebihan menulis sebuah cerpen selain menuliskannya lalu mendramatisir konflik layaknya hidup di alam nyata. Lewat buku Agar-Agar ini Mia Mutiara berhasil memadukan alam nyata dengan alam imajinasi.

~Muhammad Subhan, Ketum FAM Indonesia

Banyak pesan Ilahiah di dalam buku cerpen ini. Mia Mutiara bukan sekadar menulis cerita, tetapi ia menyampaikan pesan-pesan dakwah lewat diksi yang dia pilih dan enak dibaca.

~Aliya Nurlaela, Sekjen FAM Indonesia

[Info pemesanan dan penerbitan buku hubungi Call Centre 0812 5982 1511, atau lewat email: forumaktifmenulis@yahoo.com]


Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…