Skip to main content

Hidup Hanya Sekali, Maka Menulislah!

Sastrawan Indonesia Pramoedya Ananta Toer dan Hamka tidak akan melegenda namanya bila ia tidak menulis. JK Rowling tidak akan menjadi wanita terkaya di dunia kalau ia tidak menulis Harry Potter. Habiburrahman El Shirazy dan Andrea Hirata tidak akan terkenal kalau tidak menulis. Demikian juga penulis-penulis lainnya. Tentu saja, apa yang mereka dapatkan (kekayaan, popularitas, kebahagiaan, dll) tidak bakal terwujud bila sejak muda mereka tidak berkarya. Terus dan terus. Konsisten dan keseriusan itulah yang menyebabkan mereka menjadi penulis dunia.

Nah, untuk Anda FAMili, apa sih yang memotivasi Anda menulis atau ingin jadi penulis?

Berikut jawaban FAMili:

Yang memotivasi saya ingin jadi penulis, sederhana saja, FAM. Hidup cuma sekali, cuma bentar lagi. Apa sih yang perlu dicari kalau bukan kebahagiaan yang sebenar-benarnya bahagia? Dunia akhirat. Hanya dengan memberi manfaat kepada orang banyak, itu yang membuat saya bisa bahagia. Sekecil apa pun manfaat yang saya beri, dan kepada siapa pun manfaat itu saya berikan. Salah satunya ya melalui tulisan. Itu sebabnya saya ingin sekali jadi penulis. Penulis yang bermanfaat.  ~Wahyu Prihartini, IDFAM1240U

Supaya dapat pahala dan ridho Ilahi. Yang lainnya isya Allah ngikut. Kalau gak ngikut juga sekurang-kurangnya masih punya dua hal di atas. ~Irwan Hasan, Padangpanjang

Motivasi saya menulis adalah sebagai hiburan bagi mereka yang lelah. Toh, seniman adalah seorang manusia abstrak dengan potensi tiada berbatas, apalagi penulis. Di tangannyalah imajinasi bercahaya dan berpendar menjadi ratusan bayangan warna yang mewarnai dunia dengan imajinasinya. Mengubah racun menjadi madu dan anggur. Bagi saya melihat orang lain menikmati dan mengapresiasi karya saya adalah imbalan dan upah tak bernilai. Penyair adalah cinta yang mengalir. ~Kharis Dwi

Sederhana... Saya hanya ingin memberi kenangan hidup, ataupun berbagi kisah, hal, pengalaman, dan beberapa ilmu yang saya tahu. Setidaknya, dengan menulis, saya punya nostalgia dan manfaat untuk diri saya pribadi, dan mungkin orang di sekitar saya. Saya berpikir, bahwa dengan menulis, saya bisa belajar mengevaluasi diri. ~Fitria Fadilah Sihaekyu
Ingin meninggalkan jejak bagi anak-cucu dan menjadi bagian dari perubahan. Tanpa menulis, kita akan tenggelam dan dunia pun tak akan melihat. Lewat tulisan, buah pikir akan terus tersimpan sepanjang masa. ~Ken Hanggara, FAM801M-Surabaya

Dari kecil sudah suka menulis, karena terbiasa membaca, dulu senang membaca majalah Bobo, Mentari, dan Aku Anak Sholeh. Setelah remaja, membaca berbagai majalah, buku dan novel. Alangkah sayangnya jika tulisan-tulisan yang saya baca hanya mengendap di otak saya, itulah yang memotivasi saya menulis, karena amalan yang tak kan pernah putus hingga raga tak di dunia adalah ILMU. Dan, menulis adalah salah satu cara untuk menebarkannya, insya Allah, amin. ~Hanum Hiyanumz, FAM 1285U

Sebuah tulisan bisa melahirkan ribuan makna yang terkadang tak bisa terucap oleh kata-kata, mewakili rasa. Sebuah tulisan tak kenal usia dan rupa, hakikatnya sebuah tulisan dapat menjadikan pembaca 'ikut' dalam tiap liku cerita yang kita tulis. Menjadi seorang penulis adalah impian saya sejak kecil, karena dengan menulis kita bisa dikenal dan diterima. Sebuah tulisan yang dapat membangun jiwa bagi siapa saja yang membacanya akan menghasilkan pahala yang tiada habisnya meski kita telah tiada. Sebuah tulisan adalah sedekah jariyah yang Allah sendirilah yang dapat menghitung jumlahnya. Sebagaimana Abul Hasan bin Abi Jaradah yang menulis dengan khat-nya kitab-kitab berharga sebanyak 3 lemari, seperti Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari yang mampu menulis 40 halaman kitab setiap harinya, seperti Imam Nawawi dan Imam Al Ghazali yang selama hidupnya telah menulis puluhan buku dan seperti Abu Bakar Al Anbari yang sakit karena seringnya membaca dan yang membawanya pada kematian, Beliau selalu membaca setiap pekannya sebanyak 10.000 lembar. Subhanallah! Begitu DAHSYATnya menulis! Begitu HEBATnya membaca! Itulah yang menjadi motivasi saya yang berkaca dari bebarapa tokoh inspiratif yang abadi bersama karyanya. Sederhana saja, sebuah tulisan tidak akan pernah sia-sia walaupun hanya 1 baris! ~Nisvya Suci Nindyastomo

Dakwah bilQalam. Seperti dalam Alquran dikatakan, "Nun. Walqalami malaa yasturuun”. ~Ubay Elgharibight

Menulis adalah memerdekakan diri. Bisa menjadi apa pun yang kita mau dalam tulisan kita. Menjelajah ruang dan waktu tanpa batas, membagikan pengalaman pada semua orang. ~Mia Mutiara, IDFAM 1229U, Kuningan Jawa Barat

Dengan menulis membuat kita memiliki dunia kita sendiri dan menciptakannya. Menulis berarti mengikat ilmu dari kealpaan dan membagi manfaatnya. ~Farida Meyda Westlifer

Kamu adalah apa yang aku tulis. Aku adalah apa yang tak pernah kamu baca. ~Vivid Habib

Berawal dari apa yang dilihat, dirasa dan didengar. Sebagai makhluk sosial ada rasa ketidakpuasan, tidak pas dan tidak setuju akan sesuatu hal. Atau malah sebaliknya, puas, senang, bahagia, dan setuju. Nah, dari berbagai perasaan itu mengalirlah tulisan-tulisan sebagai perwujudan rasa itu juga sebagai pengganti lisan yang sulit terucapkan. ~Dedi Saeful Anwar, IDFAM 1196U Cianjur

Salah satu kalimat dari Al-Hadits: "Hidup adalah perjuangan, perjuangan adalah pengorbanan. Tidak mau berkorban jangan berjuang, tidak mau berjuang berhentilah hidup!” Juga kalimat Imam Syafii, “Kenikmatan hidup terletak pada kerja keras.
Bahkan Ibu saya sering mengatakan, "Berusahalah sejak kecil. Kita hidup hanya sementara. Untuk apa hidup jika hanya disia-siakan. Saat itulah, aku teringat ketika aku mati, maka aku tidak akan bisa menulis lagi. ~Arinny Fharahma

[www.famindonesia.com]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…