• Info Terkini

    Tuesday, May 28, 2013

    Ide Menulis Bisa Datang dari Mana Saja

    FAMili, ide menulis bisa kita dapat dari mana saja. Termasuk dari judul buku-buku cerpen terbitan FAM Publishing. Dari puluhan buku yang telah diterbitkan FAM Publishing, hingga saat ini sudah terbit 17 buku cerpen. Saya tergerak merangkai judul-judul buku tersebut untuk yang kedua kalinya, menjadi cerita singkat sederhana. Sekadar mengasah kemampuan menulis. Tulisan berhuruf kapital dalam cerita di bawah adalah judul-judul buku cerpen tersebut.

    Serpihan Luka

    Sosok tegap itu telah berdiri di hadapanku. Sosok yang tak asing lagi. Ini bukan kehadirannya untuk pertama kali. Entah yang ke berapa kali. Kali ini, aku demikian gembira. Tak pernah kusangka, ia akan hadir kembali menemuiku. Setelah sekian lama terpisahkan oleh waktu dan kenyataan pahit yang membentang di hadapan. Seakan tak ada celah untuk bertemu dengannya lagi.

    Senyumku lebih mengembang dari biasanya. Jantung berdegup kencang. Mata berbinar lebih terang dari sebelumnya. Ah cinta, memang selalu menawarkan keindahan. Meski cinta juga selalu setia menyediakan kantung-kantung air mata. Kali ini, berharap air mata bahagia yang akan menetes seiring asaku yang kembali terajut. Kulihat setangkai bunga elok itu di tangannya. Dihias pita ungu yang menjuntai. Semakin berdebar saja, membayangkan aku berdiri di hadapannya, menerima bunga itu yang telah berpindah  ke tanganku. Lalu, kalimat yang bisa melambungkan ke angkasa akan meluncur lembut dari lisannya. Itu saat yang paling kunanti.

    Ia menoleh ke arahku, seikat bunga elok FLAMBOYAN SENJA menggodaku untuk segera meraihnya. Ah, kelopak ungu itu, membuatku tak kuasa ingin memilikinya. Senyumnya masih seperti dulu. “UNTUK SUMARNI DARI SUPARMAN,” ujarnya mengagetkanku. Apa?? Bunga itu untuk Sumarni?

    Aku terdiam. Hilang sudah semangatku. Kenyataan pahit dulu, terulang kembali. PIGURA RETAK, seretak hatiku yang terluka. BINTANG REDUP di hatiku kian nyata. Aku tak melihat lagi CERMIN CAHAYA menawarkan gambarnya yang memesona, saat sebelum sakit aneh menimpaku. Ya sakit aneh. Sakit yang dikenal masih langka. Penyakit Lupus. Namun, ketika sakit itu pertama kali menimpaku, kau berkata dengan lantang, “dirimu elok dalam PESONA ODAPUS.” Membuatku terharu dan yakin, kau tak akan berpindah ke lain hati.

    Dulu, dulu sekali. Kau selalu membisikkan “JOGJA OH JOGJA.” Di kota itulah pertama kali kita berjumpa. Kota yang selalu menawarkan makanan khasnya berupa gudeg. Banyak orang berbondong-bondong membeli gudeg Jogja. Tapi kau? Justru mengajakku menikmati AGAR-AGAR di sudut jalan Malioboro. Kau bercerita tentang  Aisyah. Seorang anak yang tetap semangat berangkat sekolah meski harus memakai sandal aus dan seragam yang kebesaran. Kau bercerita dengan penuh semangat dan sedikit memaksaku membaca bukunya yang berjudul, “JALAN SETAPAK AISYAH.”

    Sungguh, aku merindukan saat-saat MERAJUT ASAP bersamamu. Aku mohon, JANGAN PUDARKAN SEMANGATKU. Jangan biarkan hatiku terpenjara luka, ibarat HATI TUKANG SAPU DALAM JURANG. Apalagi kau seakan menganggapku seorang KLEPTOMANIA. Sungguh, tak ada yang kuambil darimu kecuali cintamu saja dan ingat, aku bukan Kleptomania cinta. Ingat itu! Kaulah yang telah nyata-nyata berpaling dariku. Memang, kini pasti tak ada lagi yang terlihat elok di matamu. Di tempatkan dalam wadah apa pun, tetap tak menarik. Ibarat KUNANG-KUNANG DI SARANG TIKUS, meskipun ia bercahaya dan menerangi orang terdekatnya, namun sarang Tikus tempatnya bersemayam, menjadi tak sedap untuk dipandang. Mungkin seperti itulah diriku di matamu kini.

    Baiklah, aku bergumam untuk menitipkan pesan pada SAYAP JIBRIL, “semoga kau bahagia dengan pilihanmu.” Tampaknya, aku tak berminat lagi bersua denganmu di dunia nyata. Cinta itu telah menorehkan banyak luka. Beginilah jika cinta tumbuh tak sesuai aturanNya. Cinta yang kita bangun hanya memandang keelokkan raga semata. Ketika keelokan itu terenggut karena takdirNya, cinta itu pun menguap bak jemuran yang mengering. Cinta itu tak tersisa sedikitpun. Meski aku berharap, bisa menantimu di JEMBATAN MERAH dan kita mengikat janji untuk membangun mahligai kasih suci di bawah keridhaanNya. Tapi, tak mungkin. Hatimu kini, telah berlabuh pada Sumarni. Terima kasih atas cinta yang telah kau sematkan selama ini, meski harus berujung kepedihan yang dalam. Aku ikhlas melepasmu. Biarlah, FESBUK yang akan menjadi penghubungku mengetahui kabarmu di sana.

    Selamat jalan Suparman...

    Salam santun, salam karya.

    Aliya Nurlela

    *) Pengurus Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia

    **) Tulisan dengan huruf kapital dan dihitamkan adalah beberapa judul buku terbitan FAM Publishing, Divisi Penerbitan FAM Indonesia


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ide Menulis Bisa Datang dari Mana Saja Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top