Skip to main content

Profil Anggota FAM Indonesia: Guy Le Fleur (Riau)

Guy Le Fleur adalah nama pena dari Aidil Zulkhan Eed. Setiap orang yang mendengar nama Guy Le Fleur selalu bertanya, “Anda France?” atau “Itu nama asli?” Nama  Guy Le Fleur,  ia gunakan karena terinspirasi dari penulis cerpenis terkenal Prancis, yang lahir 5 Agustus 1850 yakni ‘Guy De Maupassant’. Nama tersebut baru digunakan setelah bergabung dengan komunitas FAM Indonesia. Sebelumnya, ia mengunakan nama pena ‘Lydia Nahkluz’ dalam setiap tulisan lepasnya di koran lokal. Nama ini sebenarnya merupakan  kebalikan nama aslinya.

Lahir di kota Trubuk Bengkalis, Kecamatan Bengkalis, Riau pada tanggal 9 Maret 1968. Alamat asal adalah Desa Wonosari, Kelurahan RT 01/RW 05 Kecamatan  Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Propinsi Riau  Daratan. Pernah kuliah di UNRI Pekanbaru pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) tahun 1988, Jurusan Bahasa Inggris, tapi akhirnya menyelesaikan kuliahya di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Kautsar Bengkalis tahun 2008.

Ia telah lama mengenal dunia tulis menulis semenjak sekolah menengah atas (SMA Negeri 1 Bengkalis), tapi hanya sebagai pembaca/peminat sastra di kota kediamannya. Tapi baru beberapa tahun terakhir ini ia menekuninya secara otodidak sebagai penulis freelance di koran lokal.  

Ia  pernah memenangi beberapa perlombaan  di antaranya, pemenang lomba lukis tahun 2006 tingkat mahasiswa se Kabupaten Bengkalis, pemenang ketiga lomba esei/karya ilmiah Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Bengkalis tahun 2009, serta pemenang kedua lomba karya ilmiah di Kantor Badan Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Bengkalis tahun 2012, 

Dulu sebelum mengenal FAM Indonesia ia ragu untuk menekuni dunia tulis menulis karena selalu muncul keraguan di pikiran apakah ia bisa menjadi seorang penulis, mengingat usianya sudah tak muda lagi. Namun setelah ia mengenal FAM Indonesia, dan resmi menjadi anggota pada tanggal 5 Januari 2013, ia merasa memiliki semangat dan keluarga baru yang siap membantu untuk mewujudkan mimpinya sebagai penulis, meski katanya terlambat. Kini ia sedang dalam proses mempersiapkan buku pertama kumpulan cerpen, puisi dan novel. Ia mengantongi IDFAM13000U Bengkalis, Riau. Untuk pertemanan bisa dihubungi di  FB zulkhanaidil@yahoo.com, Hp: 085374515709.

[www.famindonesia.com]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…