• Info Terkini

    Sunday, May 26, 2013

    [Resensi Buku] Denyut Waktu dalam Puisi

    Judul buku: Ijab Kabul Pengantin
    Penulis: Hafney Maulana
    Penerbit: FAM Publishing
    Cetakan: Pertama, Agustus 2012
    Tebal: 94 halaman
    ISBN: 978-602-98158-8-7


    Puisi—sama halnya dengan karya fiksi yang lain—bisa bercerita tentang apa saja dan tentang siapa saja. Puisi adalah luapan perasaan. Ia lahir dari renungan pengarangnya tentang kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Puisi yang bermakna adalah puisi yang tidak hanya indah dari segi bahasa, namun juga mampu menyentak para pembaca dengan pesan-pesan moral yang terkandung di dalamnya.

    “Ijab Kabul Pengantin “karya Hafney Maulana adalah buku kumpulan puisi yang memenuhi kedua kriteria tersebut. Buku ini memuat puisi-puisi yang indah dari segi bahasa dan juga mengandung banyak pesan moral di dalamnya.

    “Ijab Kabul Pengantin” adalah buku kumpulan puisi tunggal keempat karya Hafney Maulana. Sebelumnya, penyair kelahiran Riau tahun 1965 ini telah menghasilkan buku kumpulan puisi berjudul “Usia yang Tertinggal" (1996), “Jejak-jejak Waktu” (2005), dan “Mengutip Makna Tamasya Purba” (2005). Selain keempat buku tersebut, eksistensi kepenyairan Hafney juga ditunjukkan dengan banyaknya mengikuti pertemuan sastra tingkat nasional dan pemuatan puisi-puisinya di berbagai media massa lokal maupun nasional, serta berbagai antologi bersama.

    Ijab Kabul Pengantin berisi 72 puisi Hafney yang dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu “Seruling Jiwa” yang berisi 44 puisi dan “Risalah Takdir” yang berisi 28 puisi. Puisi-puisi Hafney dalam buku ini sebagian besar berbicara tentang waktu. Secara umum Hafney menggambarkan bahwa suatu saat denyut waktu akan berhenti, karena hidup ini hanya sementara. Gambaran tersebut misalnya terdapat dalam puisi yang berjudul “Kasidah Waktu” (hlm. 28), “Ada Keranda” (hlm. 30), “Perjalanan Sunyi” (hlm. 36), dan “Pesan Kepada Anakku” (hlm. 47). Keempat puisi tersebut mengingatkan kita untuk tidak terikat dengan kehidupan dunia yang fana, seperti yang dituliskan Hafney dalam bait pertama puisi “Pesan Kepada Anakku”, sebagai berikut: “Anakku, jika kau dewasa/jangan berdiri di atas kesombongan/karena dunia hanya selintas/maka kau pun/hanya melintas” (hlm. 47).

    Waktu dalam puisi-puisi Hafney adalah rangkaian perjalanan hidup yang dialami tokoh-tokoh dalam puisinya. Pada buku yang praktis dibawa ke mana-mana ini, kita akan menemui puisi-puisi Hafney yang sugestif. Melalui kritik sosialnya yang halus serta pengingat-pengingatnya yang tidak terkesan menggurui, puisi-puisi Hafney mampu mengajak pembaca untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

    Membaca “Ijab Kabul Pengantin” kita akan merasakan nuansa religius yang sangat kental mewarnai puisi-puisi Hafney di buku ini. Setiap puisinya adalah sebuah kesadaran tentang liku-liku kehidupan, kebesaran Tuhan, dan tentang apa yang semestinya kita lakukan dalam kehidupan yang berbatas waktu ini. Puisi-puisi Hafney memiliki kekuatan untuk membangkitkan jiwa kerohanian pembaca yang selama ini mungkin terlena oleh urusan duniawi. Pada puisi berjudul “Seruling Jiwa”, misalnya. Puisi ini mengingatkan kita bahwa tidak ada tempat yang lebih baik untuk mengadu selain kepada Sang Maha Pencipta, tempat kita semua akan kembali. Pada bait kedua, Hafney menulis: “seruling jiwa mengantarkan-Mu/dalam jarak nadiku/di mana hidup dan matiku/bagi-Mu/dan dalam tahyat pun/kupungut nama-Mu/satu demi satu” (hlm. 19).

    Puisi-puisi dalam buku ini disajikan dengan gaya bahasa yang indah. Penyair begitu piawai dalam mengolah kata menjadi baris-baris yang memukau. Daya imajinasi penyair yang begitu tinggi juga membuat puisi-puisi dalam buku ini sangat menantang untuk dibaca dan dituntaskan.

    Puisi-puisi Hafney dalam buku ini tidak hanya berbicara tentang kehidupan yang fana. Ia juga berbicara tentang perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu, tentang mimpi-mimpi yang kandas dan yang harus diperjuangkan, tentang regenerasi, dan juga tentang kesepian. Semuanya dihadirkan Hafney dengan penuh penghayatan, sehingga kedalaman makna puisi-puisinya begitu terasa pada setiap baris dan bait-baitnya. Sayangnya, pada beberapa puisi Hafney yang hanya memiliki tiga hingga lima baris, kedalaman makna tersebut kurang berhasil dibangun penyair.

    “Ijab Kabul Pengantin” adalah judul buku yang diambil dari salah satu judul puisi di dalamnya. Perpaduan antara judul buku yang unik dan desain sampul yang artistik menambah nilai lebih pada buku ini. Buku dengan dominasi warna abu-abu ini juga dilengkapi dengan pengantar singkat dari penyair yang berbicara tentang kepelikan sekaligus kebermaknaan puisi (hlm. 9-11). Pada sampul belakang buku, juga terdapat sebuah puisi Hafney yang telah diterjemahkan Helen Creese ke dalam bahasa Inggris.

    Meskipun memiliki banyak kelebihan, buku ini juga tidak luput dari kekurangan. Kekurangan pertama dalam buku ini adalah tidak dicantumkannya tanggal penulisan puisi. Padahal, waktu penulisan yang dicantumkan di akhir puisi dapat membantu pembaca untuk mengenali perjalanan kepenyairan Hafney dari tahun ke tahun, sehingga dapat mengetahui corak puisi yang ditulis Hafney pada waktu tertentu. Apalagi, Hafney telah puluhan tahun bergelut dengan dunia kepenulisan puisi.

    Kekurangan kedua dalam buku ini, yaitu banyak kata yang dihadirkan berulang-ulang sebanyak belasan hingga puluhan kali dalam puisi yang berbeda. Misalnya, penyair menuliskan kata “malam” pada dua puluh puisinya. Kata tersebut terus dihadirkan dalam dua puluh puisi yang berbeda. Begitupula kata “sepi” yang dihadirkan ke dalam empat belas puisi, kata “sunyi” pada dua belas puisi, kata “mawar” pada sebelas puisi, dan sebagainya. Penggunaan diksi yang selalu diulang-ulang tersebut akan membuat pikiran dan imajinasi pembaca sedikit terganggu, karena merasa seolah-olah belum beranjak dari puisi yang dibaca sebelumnya. Selain itu, pembaca juga akan mudah bosan, karena kurangnya kejutan dalam pemilihan kata.

    Namun, lepas dari sedikit kekurangan tersebut, buku kumpulan puisi ini sangat layak untuk Anda miliki. Buku ini mengandung banyak pesan moral yang akan menyentak nurani kita untuk lebih mawas diri. Puisi-puisi Hafney mengajak kita untuk menghargai dan mensyukuri denyut waktu yang masih diberikan Tuhan kepada kita. Sisa usia adalah waktu untuk terus beribadah, mewujudkan mimpi-mimpi tanpa mengenal putus asa, serta belajar untuk ikhlas menerima takdir yang telah ditetapkan oleh Tuhan.

    Peresensi:
    SUSI SUSANTI IDRIS
    FAM899M-Kendari
    Email: susiidris97@yahoo.com

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: [Resensi Buku] Denyut Waktu dalam Puisi Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top