• Info Terkini

    Wednesday, May 1, 2013

    [Resensi Buku] Kenangan Surat-menyurat yang Merangkai Mimpi-Mimpi yang Memesona

    Judul Buku: Membungkus Mimpi
    Kategori: Kumpulan Surat
    Penulis: Muhammad Sofyan Arif, dkk
    Penerbit : FAM Publishing
    Cetakan: I, April 2013
    Tebal: xii +197 halaman
    ISBN:  978-602-7956-03-2


    Kemajuan teknologi telah melenyapkan tradisi surat-menyurat yang sudah dianggap tidak praktis karena memakan waktu yang cukup lama. Manusia modern lebih tertarik menggunakan sms, email, facebook, twitter, bbm, dan lain sebagainya. Alasannya, selain tidak repot, fasilitas canggih ini seakan menjawab keinginan komunikasi jaman terkini yang membutuhkan kecepatan, ketepatan, serta keterjangkauan dari segi biaya.

    “Membungkus Mimpi”, sebuah buku yang dikemas dengan apik dalam bentuk surat- menyurat ini seakan menuntun para pembaca untuk bernostalgia sejenak mengenang masa-masa sebelum kecanggihan komunikasi elektronik merebak. Bukan hanya itu, pembaca akan diajak terbang menari merasakan sensasi berbeda melalui kacamata dunia setiap kali membuka lembaran demi lembarannya.

    Terdiri dari 43 pucuk surat pilihan, buku keroyokan bersama ini berawal dari kegigihan semangat para peserta lomba surat bulanan bertema “Di Negara Itu Impianku Berlabuh” yang diadakan FAM Indonesia. Beragam kejutan indah mewarnai kumpulan surat ini. Lihat bagaimana masing-masing penulisnya merangkaikan mimpi-mimpi mereka. Dasyat. Khas bahasa surat. Permainan diksi yang anggun. Mendayu-dayu. Mengalir memesona. Penuh harapan. Menggugah simpati. Bahkan, sarat hikmah dan perenungan.

    Tengok saja pucuk surat milik pemenang pertama, Muhammad Sofyan Arif, yang memilih Korea Selatan sebagai pelabuhan mimpinya. Salah satu petikan berikut ini menunjukkan ciri khas bahasa surat serta permainan  diksi yang anggun. “Inspirasi dan ide yang dulunya tertahan dalam diri, tanpa bisa tertuliskan karena tiada berani menuliskannya. Namun semua itu terkikis ketika berjumpa dengan websitemu, FAM”.

    Keistimewaan lainnya terletak pada maksud isi surat tersebut. Penulis mengatakan, “Korea Selatan menjadi negara yang menarik bagi saya dan di sana saya akan mewujudkan mimpi ini, FAM. Penduduk yang beragama Islam sangat minoritas sekali. Tidak lebih dari 1 persen. Namun di sana sangat menjunjung tinggi rasa kemanusiaan, kekeluargaan dan terasa jauh dari kesenjangan sosial”.

    Pada bagian yang lain, “Mengantri sudah menjadi hal yang terbiasa bagi penduduk Korea Selatan. Bukan hanya mengantri ketika ingin menaiki kendaraan umum, namun ketika memasuki toilet pun mereka akan mengantri”. Dan, yang terakhir perhatikan cuplikan berikut ini, “Mereka juga selalu menjaga wanita, mereka tidak akan bersiul jika ada wanita yang lewat. Karena mereka mempunyai aturan siapa yang menggoda akan dipenjarakan. Jadi wanita merasa dilindungi dan merasa aman. FAM, saya rindu negeriku seperti itu. Peradaban dimana toleransi dan jiwa sosial kembali ditegakkan. Gotong royong dan rasa sopan santun kembali menghiasi negeri kami tercinta”.

    Di sini tersirat jelas sekali ada letupan semangat, optimisme, harapan, serta kekecewaan sekaligus perenungan mengenai gambaran negeri Indonesia yang ada saat ini. Sekalipun penulis memilih Korea Selatan sebagai tujuan mimpinya, toh tetap saja jiwa nasionalismenya masih kental terasa.

    Hal yang sama juga banyak terlihat pada pucuk surat lainnya. Bahkan, ada sensasi yang lebih spektakuler lagi seperti ingin menulis novel, membuka lapangan pekerjaan, sampai mendirikan cabang FAM di negara impian masing-masing penulis. Yang semuanya itu bertujuan untuk menyebarkan benih-benih kebaikan.

    Sesuatu yang berbeda bisa pembaca perhatikan lewat surat pemenang kedua yang berjudul, “Arab Saudi Negeri yang Dilimpahi Berbagai Keistimewaan”. Ada harapan murni dan tulus di sini. Muhammad Abrar bertekad untuk berkarya sebaik-baiknya demi mewujudkan keinginannya bisa memberangkatkan kedua orangtuanya pergi haji. Sebuah kemurnian cinta lainnya bisa pembaca intip di halaman 82 surat pilihan ke 17 milik Nuren Zen (Nur Aini) yang mempunyai niat suci untuk terjun menjadi relawan di Palestina.

    Adapun peringkat tiga teratas negara yang paling banyak diminati untuk dijadikan pelabuhan mimpi para penulis di buku yang penuh dengan harapan dan motivasi ini adalah Indonesia, Arab Saudi, dan Jepang. Selebihnya yaitu Italia, Finlandia, Rusia, Australia, Inggris, Singapura, Jerman, Mesir, India, Spanyol, Nepal, dan Brunei Darussalam.

    Nah, berbicara negara impian, angan sebagian besar  pembaca akan terpancing untuk mengembara jauh meninggalkan tanah air. Lalu, mengapa ada penulis yang menetapkan Indonesia sebagai negara tujuan? Tidakkah mengherankan? Tentu saja tidak!

    Surat pemenang ketiga yang ditulis dengan apik dan lugas oleh Steve Agusta bisa dijadikan acuan perwakilan guna menjawab keheranan tersebut. Mengapa ia ingin menambatkan tali bahtera mimpinya pada pelabuhan ”Indonesia Baru”? Ini dia jawabannya, “Lebih dari sekadar rasa yang datang dan pergi tak bisa diprediksi, kekeluargaan yang diwariskan kepada kita bukanlah mimpi, tetapi tradisi yang perlu dijaga dan dilestarikan. Mari kita bermimpi agar tradisi khas kita, ”kekeluargaan”, terus terawat”.

    Penuturan penulis mengungkapkan sebuah perenungan untuk menyadarkan kembali betapa  warisan nenek moyang berupa rasa kekeluargaan sangat berharga. Sayang, nilai-nilainya mulai berkurang seiring perkembangan jaman. Penulis ingin menghidupkan lagi tradisi leluhur tersebut dengan menyulam “Indonesia Baru”. Demikianlah pesan yang hendak disampaikan

    Kelebihan buku “Membungkus Mimpi” ini terletak dari bertebarannya point plus yang mewarnai sekaligus menguatkan makna goresan akan penyajian di dalamnya. Layak dijadikan tambahan koleksi perpustakaan di rumah maupun sekolah-sekolah. Atau, sebagai hadiah untuk keluarga dan sahabat yang berulang tahun pun sangat berkesan. Inilah sebongkah karya cantik yang menghadirkan sentuhan nostalgia yang berisi tentang doa, harapan, impian, keyakinan, keindahan, kebersamaan, kepedulian, cinta kasih, dan pastinya… memperoleh keuntungan lainnya karena ada info penting, sejarah, dan pengetahuan yang berlimpah bagi siapa saja yang menikmatinya.  

    Namun, berbicara tentang kelebihan, tidak seimbang rasanya jika tidak membahas sisi kekurangannya. Sedikit menganggu kenyaman mata adalah mengenai pengetikan, penulisan EYD, dan tanda baca yang masih terdapat kesalahan.

    Kemudian, sebuah surat pilihan ke 34 halaman 146 karya Hidayatul Hasanah cukup mengundang tanda tanya. Pada bagian judul seharusnya ditulis Surat #34 : Indonesia (Gelombang Tsunami tak Menghancurkan Masjid Baiturrahman), bukannya Aceh : (Gelombang Tsunami tak Menghancurkan Masjid Baiturrahman). Apalagi sepanjang cerita yang mengalir hingga tamat rupanya penulis luput menuliskan nama negara yang dimaksud. Meskipun ketika menemukan kata “Aceh”, pembaca langsung paham kalau negara yang sedang dibicarakan adalah Indonesia. Namun, akan lebih sempurna lagi jikalau penulis menuturkan bahwasanya ia ingin mewujudkan mimpinya di tanah kelahirannya sendiri, Indonesia, khususnya di Kota Aceh. Sebab sesuai tema yang diusung dalam kumpulan surat ini yaitu, “Di Negara Itu Impianku Berlabuh.”

    Soal cover buku untuk pemilihan warnanya sudah bagus. Merah menyala, menunjukkan tekad yang kuat dan keberanian untuk meraih mimpi. Sangat cocok dengan tema yang diangkat. Hanya saja akan lebih menarik lagi seandainya cover depannya dilatarbelangi beragam gambar yang memunculkan icon dari negara tersebut. Seperti monas, menara pisa, taj mahal, onta, kangguru, dan lain sebagainya.

    Namun, terlepas dari itu semua, secara keseluruhan buku ini sudah baik. Mengingat kita hanyalah manusia biasa. Tidak luput dari kesalahan dan kekurangan. Kesempurnaan hanyalah miik Allah SWT semata.

    Nah, ingin menyusuri lorong-lorong dunia sambil memotret setiap lekukan keunikannya? Atau… tergoda sekali untuk menggali imajinasi seraya melebarkan sayap pengharapan dan menambah wawasan?  Jangan ragu-ragu! Miliki buku “Membungkus Mimpi” ini… segera!

    Peresensi :
    INTAN DEWI
    ID FAM 982U, JAKARTA TIMUR
    Email: Intandewi251@yahoo.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: [Resensi Buku] Kenangan Surat-menyurat yang Merangkai Mimpi-Mimpi yang Memesona Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top