• Info Terkini

    Monday, May 13, 2013

    [Resensi Buku] Mari Bertasbih Bersama Semut, Sampah, Cacing dan Flamboyan di Senja Hari

    Judul Buku: Flamboyan Senja
    Kategori Buku: Kumpulan Cerpen
    Penulis: Aliya Nurlela
    Penerbit: FAM Publishing
    Cetakan: I, Desember 2012
    Jumlah Halaman: 139 halaman
    ISBN: 978-602-17143-5-5
    Harga: Rp 38.000,-


    Saat kita membaca buku tentu yang diharapkan adalah dapat melahap isi yang terkandung di dalamnya dengan nikmat. Tak ubahnya pada sebuah makanan yang terbungkus, bila kita membuka dan isinya mengundang selera tentu akan menambah nafsu makan, kemudian menghasilkan kenikmatan dan diharapkan mampu mendatangkan energi baru.

    Demikian pula saat membaca Buku Cerpen Flamboyan Senja karya Aliya Nurlela. Buku yang terdiri dari sepuluh buah cerpen ini, sangat bernas dan penuh gizi bagi siapa pun yang membacanya. Sebuah buku yang menampilkan ketegasan dan pendirian yang teguh di balik kelembutan seorang wanita. Dalam alur cerita di tiap cerpen, penulis buku ini berhasil membawa suasana hati pembacanya, menikmati gaya bahasa ‘metamorfosis’nya yang hidup, seperti pada cerpen pertama yang dijadikan judul buku ini ‘Flamboyan Senja’, kita akan menemukan kalimat berikut ini …Tak terasa tangan ini meremas keras rumput-rumput kecil di sebelahku. Andai mereka dapat bersuara pasti sudah menjerit kesakitan. Atau dalam kalimat ini: ….Aku melampiaskan kemarahan pada selembar kain tak berdosa. Ia pasrah menerima makian demi makian yang terlontar dari mulut labil ini. Hingga nasib buruknya berakhir ketika mataku terpejam dalam kelelahan.

    Alur ketegangan terekam pada cerpen yang berjudul Geu Saram, selain judul yang menimbulkan rasa penasaran (karena menggunakan bahasa Asing/Korea) penulis pun berhasil membuat pikiran pembaca mengira-ngira Apa/Siapa Geu Saram itu? Walaupun diending cerita tampak terasa klise. Melalui dua judul cerpen di awal buku ini, saya kira pembaca sudah cukup disuguhi dengan sajian menu yang lengkap. Renyah, ringan, lugas namun bernas dan mengandung pesan moral yang sangat dalam.

    Selanjutnya dalam ’Impian yang Terhapus’ di dalamnya terdapat kisah perjuangan seorang wanita yang mendambakan mimpi, namun bertahun-tahun lamanya impian itu tak kunjung hadir, hingga dia tergolek di meja operasi. Wanita itu hanya bertemankan air mata. Beralih pada kisah ‘Tak Ada Keranjang di Matanya’ yang bercerita tentang kekaguman seorang gadis pada sosok ayahnya yang begitu penuh perhatian dan kasih sayang, juga setia pada keluarganya. Hingga gadis itu menemukan pasangan hidup yang ia dambakan seperti sosok almarhum ayahnya. Kemudian di pertengahan buku ini pembaca akan disuguhkan pada ketegangan ‘Air Mata Lelaki’ yang diawali dengan paragraf pembuka yang langsung menyuguhkan konflik. Hampir sepanjang cerpen ini terasa penuh teka-teki. Dan pembaca akan menemukan jawaban kisah cerpen kelima ini pada empat paragraf terakhir.

    Pada lima cerpen terakhir pembaca akan disuguhi beragam tema yang diangkat oleh penulisnya. Menurut hemat saya Penulis kelahiran Ciamis yang sudah suka menulis sejak kecil ini, sangat peduli dan peka terhadap kehidupan alam sekitarnya. Di bagian ini para pembaca akan menemukan beberapa cerita yang seolah-olah bermain teka-teki. Pada cerpen ‘Pekat ‘baru akan menemukan jawaban dari teka-teki itu setelah melangkah pada paragraf ke-12!

    Sementara sifat dan tabiat yang sering merugikan dan tidak patut dicontoh kita dapat menemukannya pada kisah ‘Benalu ‘ yang mengisahkan jatuh bangunnya seseorang dalam mencari pekerjaan di tengah kehidupan yang kejam dan tidak berpihak kepada orang yang terhimpit ekonomi. Hingga kisah pilu seorang wanita yang menantikan pujaan hati pada rangkaian cerita ‘Bulan Merindu’. Kisah ini akan mengoyak perasaan pembacanya namun sekaligus memberikan vitamin semangat disaat kita menghadapi ketakberdayaan.

    Saat menikmati kisah pada cerpen ke-sembilan berjudul ‘Tak Mencintai Bukan Berarti Membenci’ saya teringat kisah Rico de Coro karya penulis Dee ‘Dewi Lestari’ dalam ‘Filosofi Kopi, Kumpulan Cerpen dan Prosa Satu Dekade’. Dalam hal ini bukan ada kemiripan cerita atau tema cerita, namun kisah tokohnya yang merasa takut dan jijik pada makhluk ciptaanNya. Pada cerpen ‘Tak Mencintai Bukan Berarti Membenci’ mengisahkan makhluk yang bernama cacing. Makhluk berwujud hitam mengkilat licin namun selalu berjalan santun. Sementara dalan Rico de Coro mengisahkan seekor kecoa yang jatuh cinta pada seorang manusia, gadis penakut dan suka menjerit karena jijik saat melihat kecoak.

    Ada hal yang menarik dalam buku ini selain isinya yang sarat dengan pesan moral. Buku yang ditutup dengan cerpen terakhir (ke-sepuluh) dengan berjudul ‘Kelopak Flamboyan Itu Bertasbih’. Cerpen ini menjadi sebuah jawaban di balik lahirnya buku yang indah dan sarat makna ini. Penulis yang kini tinggal di Kediri, Jawa Timur ini menuturkan dalam “Catatan/Dokumen” sebuah media sosial bahwa cerpen terakhir ini adalah kumpulan dari status yang pernah dia tulis dan di-posting di Facebook yang berjudul ‘Berawal dari Tulisan Status di Dinding Akun Facebook pada tanggal 6 April 2013 pukul 20:29  tertera seperti berikut ini:

    ….“Ternyata, status di dinding akun facebook juga bisa menjadi ide untuk menulis berikutnya. Ketika saya menulis Buku Cerpen“Flamboyan Senja” target jumlah cerpen yang saya patok, harus 10 cerpen. Ketika sembilan cerpen telah terpenuhi, belum ada ide sedikit pun untuk menulis cerpen yang kesepuluh. Wah, jika dipaksakan 9 cerpen juga akan terlihat tipis setelah jadi buku. Sementara cerpen-cerpen lama, tak ada yang berkenan di hati untuk dimasukkan dalam buku cerpen ini.…

    …, ketika tak ada ide menuliskan cerita apa pun juga, terlintaslah dalam benak untuk membongkar status harian di dinding facebook dari mulai Juli hingga Oktober 2012 dan yap, saya susun tulisan-tulisan pendek tersebut”.

    Dengan cerpen terakhir itu semakin menegaskan bahwa penulis ini sangat kreatif dan mampu membaca peluang setiap momen/kejadian yang dialaminya. Indikatornya bisa terlihat dari rangkaian kalimat dalam beberapa status tersebut mengalir indah dan menggambarkan beragam peristiwa dalam kehidupan nyata. Seperti yang tertangkap dalam tulisan tentang hakikat cinta, mengajak tersenyum penuh semangat, duka yang terselip, membenci keputusasaan, hingga menceritakan makhluk hidup yang memiliki tatanan hidup yang menakjubkan yaitu semut dalam hal menyelami keagungan hasil ciptaanNya.

    Secara keseluruhan konflik dalam setiap cerpen ini mampu mengajak pembaca menebak-nebak, ke mana arah cerita ini. Hal ini menjadi pelengkap keberhasilan penulisnya dalam merangkai kalimat yang runtut dan mengalir. Penggunaan diksi yang baik dan tepat sesuai dengan setiap tema pada keseluruhan cerpen. Bahasa tutur yang jernih dan memikat pada setiap paragraf, yang bertabur gaya bahasa personifikasi menambah lezat kisah di setiap cerpen, hingga mampu memikat pembacanya.

    Selain itu hal menarik lainnya sekaligus menjadi kelebihan buku ini adalah bukan hanya pada tampilannya saja yang menawan. Melalui desain kover yang indah berwarna ungu dan jingga yang mewakili suasana senja (sangat pas dengan judul). Namun ada hal yang sedikit kurang pas dalam ilustrasi gambar di dalam buku ini. Pada beberapa halaman buku ini ada gambar bunga mawar. Akan pas seandainya menggunakan gambar bunga Flamboyan yang lebih sesuai dengan judul bukunya.

    Namun, sebuah pepatah mengatakan ‘Tiada gading yang tak retak’. Demikian halnya dengan buku ini. Selain menampilkan kelebihan dan keindahannya, di dalam buku ini terdapat beberapa hal yang sedikit mengganggu. Pada beberapa pemenggalan kata yang kurang tepat seperti pada kata pus-ing (hal. 13), sen-yum (17), deng-an (19), ber-ontak, meng-agumi (21), kekon-yolan (22). Kemudian beberapa penulisan kata yang kurang pas seperti pada kata merancau (hal. 24) yang seharusnya meracau. Kata terjerembab (hal. 41) menurut kaidah EYD seharusnya terjerembap. Juga kata penolakkan (hal 51) yang seharusnya penolakan. Tentu saja hal ini patut dimaklumi karena mungkin saja pada saat editing terlewat.

    Namun demikian, secara keseluruhan buku ini berkesan nyaman untuk dibaca. Mengenai beberapa kesalahan dalam editing yang jumlahnya hanya sedikit tentu tidak akan mengurangi keindahan buku ini. Dan semoga untuk cetakan selanjutnya harap menjadi masukan dan kritikan yang membangun demi kesempurnaan buku ini dan segi kenyaman bagi pembacanya. Terlepas dari itu semua, peresensi sangat merekomendasikan bagi siapapun yang memiliki minat baca terlebih pada karya-karya sastra, maka buku ini sangat pantas untuk menjadi bagian dari koleksi penikmat sastra. Buku ini pantas menjadi bagian dari rak perpustakaan di setiap elemen. Baik di perpustakaan sekolah, perpustakaan rumah, atau di perpustakaan lembaga lainnya.

    Demikian resensi buku ini, semoga bermanfaat dan dapat menjadi sebuah referensi yang positif. Selamat memburu buku ini dan nikmatilah keelokan Flamboyan Senja!

    Salam Santun, Salam Karya.

    DEDI SAEFUL ANWAR

    ID FAM 1196U-Cianjur
    E-Mail: diefansa@yahoo.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: [Resensi Buku] Mari Bertasbih Bersama Semut, Sampah, Cacing dan Flamboyan di Senja Hari Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top