• Info Terkini

    Friday, May 17, 2013

    [Resensi Buku] Menelusuri Berbagai Timeline Kehidupan Melalui “Fesbuk”

    Judul Buku: Fesbuk
    Penulis: Muhammad Subhan & Aliya Nurlela
    Kategori: Kumpulan Cerpen
    Penerbit: FAM Publishing
    ISBN: 978-602-17404-8-4
    Cetakan: I, Februari 2013
    Tebal: xi + 127 halaman
    Harga: Rp38.000,-


    Siapa yang tidak tahu facebook?

    Sejak diluncurkan pertama kali pada 4 Februari 2004 oleh Mark Zuckerberg, sekarang, hampir semua orang memiliki akun facebook. Sosial media inilah yang berjasa dalam mempertemukan Muhammad Subhan, seorang jurnalis berdarah Aceh-Minang, dengan Aliya Nurlela, perempuan kelahiran Ciamis yang sejak kecil suka menulis. Facebook menjadi wadah bagi mereka untuk berinteraksi, berdiskusi seputar dunia kepenulisan, saling bertukar karya, hingga akhirnya meretas “Fesbuk” mereka sendiri.

    “Fesbuk” ini adalah sebuah buku kumpulan cerpen yang dibuat oleh Muhammad Subhan dan Aliya Nurlela selama hidup mereka dan menjadi benih kelahiran sebuah wadah kepenulisan Nasional bernama Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Seperti yang akan kita temukan dalam sebuah timeline facebook, membaca buku ini seperti menyaksikan sendiri serangkaian realita kehidupan yang tersusun apik dalam balutan kisah 12 cerita pendek dengan tema dan nuansa berbeda-beda.

    Cerpen “Fesbuk” karya Aliya Nurlela, misalnya. Di sini, penulis dengan cerdas menggunakan facebook sebagai point of view. Sebagaimana manusia, facebook di sini bisa berbicara dan menilai dirinya sendiri. Meskipun ada misi dan pesan moral yang ingin disampaikan, cerpen ini tidak terkesan menggurui. Kekurangan cerpen ini mungkin terdapat pada paragraf-paragrafnya yang padat dan panjang, dan karena tidak ada dialog sama sekali, cerpen ini terkesan agak datar.

    Berikut kutipannya:

    Aku pun tak berharap mereka berlebihan menyanjungku hingga jatuh pada pengkultusan. Memujaku melebihi Tuhan. Atau terlena menggunakanku hingga melalaikan perintah Tuhan-Nya(…) (hlm. 48-49).

    Masih menggunakan point of view yang tidak biasa, “Darah, Oh, Darah!” karya Muhammad Subhan mengajak kita untuk mendengar dialog antara Akar, Kerikil, Pasir, dan teman-temannya. Melalui cerpen ini, penulis mencoba  menyampaikan pesan perdamaian agar tidak ada lagi pertumpahan darah di bumi. Cerpen ini—entah mengapa—sedikit-banyak mengingatkan saya akan Tetralogi Buru: “Bumi Manusia”-nya Pramoedya Ananta Toer. Bedanya, “Bumi Manusia” sedikit lebih kontroversial dan, tentu saja, lebih terasa sentuhan romannya.

    Berbicara tentang roman, kita juga dapat menemukan beberapa kisah percintaan dalam buku ini. “Cerita Tentang Senja di Pantai Padang” karya Muhammad Subhan, misalnya. Sebuah kisah tentang seorang perempuan tua yang menghabiskan sisa hidupnya di sebuah pondok mungil yang menghadap ke laut—menitipkan cintanya (seorang lelaki pelaut) pada senja—yang digambarkan dengan bahasa puitis yang khas dan diksi yang indah. Sebuah kisah yang memberikan pesan kesetiaan bagi pembacanya.

    Tak kalah menarik, ada sebuah kisah mengharukan dengan twist ending yang sangat tidak terduga  antara seorang kakak dan adiknya sendiri dalam “Selamanya Aishiteru” karya Aliya Nurlela. Selain itu, ada juga kisah cinta yang tak terbalas, cinta terpendam, dan cinta terlarang yang tragis dalam cerpen “Terpenjara Luka”, “Rinai di Matamu, Aliya”, dan “Tukang Cerita”. Berbeda dengan cerita-cerita cinta lainnya, dengan bahasa yang santun dan nuansa islami yang cukup kental, cerpen-cerpen tersebut banyak memberikan kita pelajaran tentang arti cinta yang sesungguhnya.

    Cerpen-cerpen yang menceritakan tentang perjuangan dan realita kehidupan seperti “Bell’s Palsy”, “Nei”, dan “Suatu Hari di Masjid Rumah Sakit” juga tak kalah menarik dan sarat akan pesan moral. Bahkan, satu di antaranya—“Bell’s Palsy”—masih sangat membekas di benak saya. Sebuah kisah nyata penulisnya sendiri yang sangat inspiratif. Membuat saya bersyukur atas kesehatan yang saya miliki.

    Cerpen inspiratif lainnya datang bersama “Kupu-Kupu di Ruang Tamu”. Dalam cerpen yang hanya terdiri dari empat halaman itu, Muhammad Subhan dengan cerdas mengungkapkan kritik sosial tentang permasalahan politik yang carut-marut di Indonesia dengan menggunakan kupu-kupu sebagai metafora. Masih belum puas? Tenang! Masih ada “Lelaki Majnun” yang akan menemani kalian. Cerpen ini bercerita tentang seorang lelaki miskin dan kurang waras yang kelakuannya acap kali menggemparkan kampungnya. Bagaimanakah nasib lelaki malang ini akhirnya? Hmm … cerpen bergaya satir ini memang sangat tepat diletakkan sebagai kisah penutup. Membuat pembaca berpikir, “Kumpulan cerpen ini merupakan paket komplet dan saya beruntung telah membacanya.”

    Secara keseluruhan, cerpen-cerpen dalam buku ini berhasil membuat saya terhanyut menelusuri berbagai timeline kehidupan manusia yang begitu beragam. Baik Muhammad Subhan maupun Aliya Nurlela mampu menjaga ritme cerita sehingga pembaca tidak bosan dengan alur cerita yang mudah ditebak. Gaya bercerita Muhammad Subhan yang cenderung naratif dan penuh imajinasi seakan menyatu dan melengkapi gaya bercerita Aliya Nurlela yang lebih kaya akan letupan-letupan emosi para tokohnya.

    Terlepas dari isi, bentuk fisik buku ini lumayan bagus dan membuat pembaca nyaman. Cover buku cukup artistik. Nuansa ungu yang dominan, mengingatkan saya akan kumpulan cerpen “Flamboyan Senja” karya Aliya Nurlela. Layout buku ini pun tidak akan membuat pembaca lelah dan memutuskan untuk berhenti membaca di tengah cerita. Meskipun, saya berpikir font-nya masih terlalu kecil dan jarak footer-nya terlampau jauh sehingga masih banyak bagian kosong yang tidak terpakai.

    Penulisan EyD dan sistematika penulisan sudah baik, hampir tanpa cacat. Meskipun, beberapa kesalahan kecil masih bisa ditemukan pada penulisan “didalamnya” yang seharusnya “di dalamnya” (hlm. 97), “S1nya” yang seharusnya “S1-nya” (107), dan “mengijinkanmu” yang seharusnya “mengizinkanmu” (110). Yang cukup membuat saya bingung adalah penulisan nama penyakit pada cerpen pertama. Pada judul tertulis “Bells’Palsy” sedangkan sepanjang cerita (1-15) tertulis “Bell’s Palsy”. Terdapat juga beberapa kesalahan teknis seperti pergantian kalimat yang tidak diberi spasi (4, alinea ke-2) atau penulisan singkatan umum seperti SMS yang tidak menggunakan huruf kapital (12, alinea ke-2).

    Terlepas dari semua itu, buku ini adalah salah satu bacaan bernas dan berkualitas dengan banyak pesan moral di dalamnya. Kisah tentang perjuangan hidup, pencarian cinta yang hakiki, dan problematika sosial yang terkadang berakhir bahagia, menyedihkan ataupun getir dapat kita nikmati semudah  membaca status facebook teman-teman kita. Ditulis dengan gaya mereka masing-masing, Muhammad Subhan dan Aliya Nurlela berhasil menerbitkan suatu karya yang luar biasa! Buku ini sangat recommended bagi semua kalangan, baik para pembaca maupun penikmat sastra di Indonesia.

    Jadi, tunggu apa lagi? Buruan-beli-sekarang-juga!

    Peresensi:
    MUHAMMAD RIYAN ANDRIANUS
    FAM 1026M-Jakarta
    E-mail: callmeryanzoo@gmail.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: [Resensi Buku] Menelusuri Berbagai Timeline Kehidupan Melalui “Fesbuk” Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top