• Info Terkini

    Friday, May 24, 2013

    [Resensi Buku] Menghidupkan Empati yang Hampir Mati

    Judul: Kunang-Kunang di Sarang Tikus
    Jenis: Kumpulan Cerpen
    Penulis: Zakiyah Sabdosih, dkk.
    Tebal: 195 halaman
    Dimensi: 20cm x 13cm x 1cm
    Harga: Rp45.000,-
    ISBN: 978-602-7956-11-7


    “Kunang-Kunang di Sarang Tikus” terpilih menjadi judul buku yang mewakili 20 karya pemenang lomba Cipta Cerpen yang diadakan FAM Publishing tempo lalu. Para pengisi buku ini memang belum menjadi penulis terkenal seantero jagat raya. Mereka hanyalah sekumpulan manusia yang berusaha ‘tuk menjadi seonggok daging penyemai manfaat. Memagut ranah dakwah melalui rentetan kalimat sederhana.

    Di bagian pertama, kita akan disuguhi sebuah cerpen berjudul “Tentang Bayangan Sebuah Pohon yang Jatuh di Sungai Keruh dan Seseorang yang Ingin Menjadi Bayangan Sebuah Pohon yang Jatuh di Sungai Keruh”. Judulnya memang terlalu panjang. Tetapi, cerpen itulah yang dinobatkan sebagai juara ke-1 kategori Mahasiswa/Umum. Baru saja kubaca cerpen pertama, buku ini telah sukses membuatku terkesima dan berdecak kagum akan kepiawaian penulisnya dalam merangkai kata-kata. Pilihan katanya yang begitu istimewa, namun tetap mudah dicerna, membuatku ingin terus menelusuri belantara kisahnya.

    “Dari tempat tubuhku mengapung, aku melihat orang-orang harus berlatih terlebih dahulu untuk bisa tertawa dengan benar. Sebab tawa telah menjadi kemewahan yang langka. Seperti makanan yang hanya ada pada hari raya. Menjadi terbiasa membuat mereka lupa, bahwa setiap hari mereka selalu tidur siang pada luka yang sama. Seperti ketika mereka membuang sampah ke dalam sungai ini, tapi juga sekaligus minum air dari sini. Ironi.”(Halaman 12)

    Harganya sempat membuatku kecewa karena kurang sesuai dengan uang saku pelajar. Namun, semua itu seketika akan terobati bila kita telah mencicipi cita rasa dari tiap goresan tinta yang telah ditorehkan para pendekar aksara dalam buku ini.

    Dengan buku antologi ini, temukan untaian hikmah yang akan mengobati katarak di mata hati kita mengenai sekelumit elegi yang selama ini sering kita lupakan. Kemiskinan, orang terlantar, dan anak jalanan. Mengubah paradigma dan persepsi kita akan orang-orang yang—mungkin—ada di sekeliling kita. Memupuk rasa empati dan peduli. Membuat mata terbuka lebar tentang dunia dan perjuangan kehidupan. Membersihkan relung hati dari segala ketidakpedulian kepada sesama insani.

    Hikmah yang dihidangkan dari setiap cerpen dalam buku ini berbeda-beda. Sungguh menyegarkan, layaknya es campur. Ada kisah yang menceritakan pahitnya hidup, kerja keras, kesuksesan, mensyukuri segalanya, sebuah pencapaian, hingga segulung kesedihan, dan pelecehan terhadap orang-orang yang lemah tak berdaya. Cerita-ceritanya sungguh menarik, kerapkali sukses membuat pembaca bergidik. Walaupun terdapat satu-dua cerpen yang terdengar klise. Akan tetapi, semua telah diselipkan secara apik pada tiap lembar yang tercetak. Cerpen dengan alur yang tak disangka-sangka pun banyak menghiasi tiap sisi antologi ini. Kaget dan tercengang akan kita rasakan saat menyisiri tiap deretan huruf yang berjajar rapi memenuhi sang buku.

    Penerapan dakwah bil qalam pun sudah diterapkan. Begitulah. Selain menghibur, antologi ini sarat akan pesan-pesan islami yang membuat kita ingat pada Ilahi. Bagaimana caranya agar kemiskinan tak menyeret kita ke dalam lembah kekafiran. Semua tersirat dalam tiap penggalan cerpen yang ditumpahkan penulis dengan gayanya tersendiri.

    Melalui buku antologi ini juga, kita akan diajak untuk menjelajah berbagai pengalaman kelam saudara-saudara di sekeliling kita. Menyingkap suatu fakta yang akan menyuburkan kesadaran, betapa kita jauh lebih beruntung.

    Di balik indahnya ukiran pelajaran yang tertuang dalam buku ini, masih ada sedikit kesalahan dalam pengetikan, contoh “sabagai” yang seharusnya “sebagai” (halaman 100). Juga ada beberapa kata berbahasa asing ataupun bahasa daerah yang tidak mencantumkan keterangan/penjelasan. EYD yang digunakan dalam buku ini pun belum dikemas dengan sempurna, yakni karena adanya beberapa kesalahan dalam peletakan tanda koma. Misalnya pada halaman 168 pada kutipan berikut. “Iya saya mengerti Bu, tapi kenapa harus menjual ...” yang seharusnya ditulis, “Iya, saya mengerti, Bu, tapi kenapa harus menjual...” Penempatan tanda baca pada posisi yang tepat tentu akan menambah kenyamanan para penikmat bacaan. Kendati demikian, semua itu tampaknya tidak terlalu menjadi kendala yang berarti—menurutku. Pendaran kepuasan akan tetap terpancar manakala kita membongkar isi buku ini. Bahasa asingnya pun hanyalah kata-kata yang sudah terbiasa menggelitik gendang telinga kita.

    Penggunaan kertas ringan, membuat kita tak kerepotan jikalau mau membawanya kemana-mana. Sangat cocok ‘tuk menemani perjalanan karena takkan menambah beban. Layout bukunya pun menarik, tidak berlebihan, dan nyaman dibaca. Semua itu membuat pembaca tak akan bosan untuk meniti setiap rengkahan nilai kehidupan yang tersaji dengan embusan aroma religi yang tercium dalam tiap bait kisah-kisahnya. Antologi ini sangat direkomendasikan bagi Anda para pejuang kehidupan yang hobi menyelami lautan literasi. Cocok juga rasanya ‘tuk dijadikan hadiah bagi orang yang kita sayangi. Bermanfaat sekali. Terutama bagi kita yang terkadang lupa akan nikmat yang telah kita terima dari Sang Pencipta—Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

    Persensi:
    SALMA HUMAIRA
    Bandung
    Email: humaira.salma@yahoo.co.id

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: [Resensi Buku] Menghidupkan Empati yang Hampir Mati Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top