• Info Terkini

    Friday, May 3, 2013

    [Resensi Buku] Perjuangan Tak Pernah Berakhir Walau Raga Telah Tiada

    Judul Buku: Jembatan Merah
    Kategori: Kumpulan Cerpen
    Penulis: 36 Penulis Cerpen
    Penerbit: FAM Publishing
    Cetakan: I, April, 2013
    Tebal: 325 halaman
    ISBN: 978-602-7956-10-0


    Perjuangan akan selalu menunggu kita di depan sana, siapa yang dapat bertahan dialah yang memenangkannya. Ya, sebagaimana kisah di dalam buku kumpulan cerpen ‘Jembatan Merah’ ini. Banyak sekali perjuangan-perjuangan yang dapat kita contoh, baik perjuangan dalam meraih hidup, semangat meraih cita-cita, dan semangat dalam memperjuangkan mana yang baik dan mana yang buruk. Begitu banyak nilai-nilai moral yang bisa kita ambil sebagai inspirasi untuk perjuangan-perjuangan kita dikemudian hari nanti. Membacanya membuat kita banyak mengetahui sejarah-sejarah di masa lalu, beberapa penulis pun dapat menggambarkan sebuah perjuangan yang sangat luar biasa, meskipun berupa fiktif namun kekuatan ceritanya dapat membuat kita terinspirasi dengan perjuangan yang tak kenal lelah.

    Dalam buku kumpulan cerpen ini, penulis dapat meramu dengan sangat baik tentang apa artinya perjuangan, impian, harapan dan apa artinya semangat untuk meraih kehidupan dan cita-cita mereka dengan baik. Saya pun sangat tertarik untuk mereferensikan dan membagi-bagi menurut pandangan saya kumpulan cerpen ini ke dalam beberapa kelompok penilaian saya, yaitu contoh dalam meraih hidup bisa kita ambil pada beberapa cerpen yang berjudul: ‘Tembang, Pelarian Jiwa yang Terpenjara, Telur, Sepasang Kaki yang Indah, Pelangi Satu Warna, Janji Alisya, Aku Masih Ingin Hidup, Si Anak Kuli, Kabar dari Seberang”, dan beberapa lagi yang lainnya.’

    Kemudian contoh dalam semangat meraih cita-cita, bisa kita petik pada cerpen yang berjudul: “Aku, Fahni El Badri, Jembatan Asa Asri, Toga untuk Amak, Ketahuilan untuk Itu Aku Tersenyum, Amak Doakan Aku Hingga Metropolitan, Peluh Lara”, dan juga beberapa yang lainnya. Lalu perjuangan dalam menentukan manakah yang baik dan yang buruk kita bisa ambil pada contoh-contoh cerpen yang berjudul: “Pencarian Muara Cinta, Kamera di Pont de la Concorde, Serpihan Mimpi, Pudarnya Kejora”, serta cerpen-cerpen yang lainnya.

    Namun, segalanya yang bagus belum tentu bagus dan segalanya yang indah belum tentu itu indah. Seperti halnya pada kata-kata dalam buku ‘Jembatan Merah’ ini, betapa banyak sekali saya mendapati kata-kata yang salah dalam penulisan EYD nya. Tidak hanya satu atau dua kata, namun hampir keseluruhan dalam buku ini di tiap cerpennya memiliki kesalahan EYD. Tentu, itu menunjukkan bahwa cerpen di buku ini dirampungkan tidak dengan baik atau secara cermat. Bahkan pembaca mungkin akan sedikit tertawa ketika mendapati sebuah Negara yang biasanya kita sebut dengan ‘Perancis’, namun di dalam cerpen yang berjudul ‘Kamera di Pont De la Concorde’ entah kenapa Negara ‘Perancis’ itu berubah kata menjadi ‘Pemancis’. Mungkin sampai di sini, pembaca masih mengira kalau kata ‘Pemancis’ itu hanya ada kesalahan ketik pada satu kalimat saja, selanjutnya akan benar untuk kalimat-kalimat selanjutnya. Namun ketika kita semakin membaca jauh ke dalam lagi, Negara ‘Perancis’ itu selalu saja di ketik dengan kata ‘Pemancis’. Tentu itu akan memancing pembaca untuk terus tersenyum bahkan tertawa dibuatnya, dan membuat pembaca jadi menerka-nerka, sebenarnya Negara Pemancis itu memang benar-benar ada atau tidak ya? atau mungkin dari kitanya yang memang belum pernah mengetahui Negara itu dan ataukah si penulis cerpen ini yang memang tidak bisa membedakan mana huruf ‘r’ dan yang mana huruf ‘m’, karena sampai di akhir cerita untuk kata Negara Perancis itu selalu diketik ‘Pemancis’ bukannya ‘Perancis’. (pada halaman 124 – 133).

    Lalu pada cerpen ‘Kamera di Pont De la Concorde’ juga terdapat kesalahan pada pangkat angka seperti 1, 2, 3 dan seterusnya yang diletakkan di atas kata di pojok kanan atas (yang biasanya itu untuk menandakan bahwa akan ada catatan kaki di bawahnya), namun setelah dilihat di bagian bawah cerita atau di akhir cerita, keterangan untuk catatan kaki itu tidak ada sama sekali, sehingga ketika membacanya tentu membuat pembaca jadi merasa terganggu, sebenarnya untuk apa meletakkan angka kecil di atas kata itu? Contohnya pada kalimat: ‘2 Desember 1852 yang lalu Namoleon III1 (bahkan di sini pun saya sempat menerka-nerka, apakah kata yang betul itu Namoleon ataukah Napoleon ataukah memang dari saya yang kurang tahu tentang nama Namoleon itu?) Baiklah, terlepas dari ketidaktahuan saya itu, yang akan saya bahas lebih di sini adalah tentang penandaan angka satu pada pojok kanan atas tersebut, bukankah itu digunakan untuk sebuah keterangan? Lalu akan dijelaskan di bagian bawah cerita atau mungkin diterangkan di akhir cerita, sehingga pembaca akan lebih tahu jelasnya lagi tentang maksud kata atau tulisan tersebut. (Pada halaman 124). Lalu kesalahan penandaan kedua pun dilakukan pada kalimat: ‘Sebagai presiden di kekaisaran Pemancis2’, dan juga pada kalimat: ‘Tanpa perlawanan dari lelaki ini, si gadis yang jelita ini membawanya melewati gang-gang kecil di kota Pawis3.’ Nah seharusnya penggunaan angka-angka kecil di atas itu digunakan untuk membuat kata itu lebih diterangkan kembali, namun di bagian bawah maupun akhir tak juga saya temukan keterangan-keterangan itu.

    Lalu terdapat kesalahan EYD pada kata-kata seperti ini: ‘Bordering seharusnya ditulis berdering, pada kalimat ‘handphone bututku bordering’ (hal. 16), lalu pebelajar seharusnya ditulis pelajar (hal. 22), berunyi seharusnya berbunyi (hal. 24), kanget seharusnya kaget (hal.38), menembus seharusnya menebus, pada kalimat ‘menembus hutang’ (hal. 39), bagiamana seharusnya bagaimana (hal. 60), tongat seharusnya tongkat (hal. 77), dahyat seharusnya dahsyat (hal.84), ludes seharusnya habis (hal. 127), iklas seharusnya ikhlas (hal. 139), pavorit seharusnya favorit (hal.189), mengedor-gedo seharusnya menggedor-gedor (hal. 189), terhadapa seharusnya terhadap (hal. 200), memanejeri seharusnya mengatur (hal. 215), meyekolahkan seharusnya menyekolahkan (hal. 227), lemabran-lembarannya seharusnya lembaran-lembarannya (hal. 228), dan lain-lain. Serta kesalahan-kesalahan penempatan untuk penulisan ‘di’ pada kata ‘di tutup, di benak, di awasi, di balik’ yang seharusnya ditulis dengan benar menjadi ‘ditutup, dibenak, diawasi, dibalik’, dan kesalahan-kesalahan juga terjadi pada penulisan kata ‘ku’ yang seharusnya ditulis secara berdekatan atau disambung, contohnya: ‘ku punya seharusnya ditulis kupunya, ku telan seharusnya kutelan, ku dengar seharusnya kudengar, ku kira seharusnya kukira, ku awali seharusnya kuawali’, dan lain-lainnya yang tak bisa disebutkan satu persatu secara detail.

    Namun terlepas dari itu semua, buku kumpulan cerpen ‘Jembatan Merah’ ini mampu mengguggah serta menginspirasi kita semua, bahwa perjuangan itu tak akan pernah berhenti sampai kapan pun, meski raga kita telah berakhir, meski orang-orang yang kita sayang tak bisa berada di sisi kita lagi, namun bukan berarti itu akan mematahkan semangat kita untuk tetap terus berjuang, justru ada atau dengan tidak adanya kita. Hidup itu akan terus berlanjut, siapa yang bertahan itulah sang pemenang. Seperti pada kutipan cerpen yang berjudul Janji Alisya, ‘Kalau Allah sudah menentukan takdir, takkan ada yang bisa menghalanginya. Sekalipun itu binatang yang tak ada harganya di mata kita, namun tetap berharga di mata Tuhan. Hidup itu memang penuh kejutan yang tak terduga, perjuangan hidup akan terus berlanjut seiring bertambahnya umur manusia di dunia ini.’ Jadi, selama kita masih hidup di dunia ini, janganlah kita menyerah dan berputus asa, karena yakin begitu banyak hidayah-hidayah dan berkah dari Allah yang sudah dipersiapkan untuk kita dikemudian hari nanti. Oleh karena itu, siapa yang mampu bertahan ialah sang pemenang, ialah sang pejuang tangguh di hadapan Allah, yang takkan pernah lelah untuk terus berjuang karena hidup itu memang penuh dengan perjuangan. Dan siapa yang berhasil melewatinya dengan penuh kesabaran serta keikhlasan maka bersiaplah untuk bisa bertemu denganNya, insyallah nanti bertemu di surgaNya kelak. Insyallah. Amin, amin ya Rabbal a’alamin.

    Dan yang terakhir, aku sangat merekomendasikan buku ini untuk kalian semuanya. Ayo mari milikilah buku perjuangan yang sangat hebat ini, siapa tahu kalianlah sang pemenangnya, sang pejuang tangguh yang berikutnya di hadapan Allah dan juga di dunia ini. Amin.

    Peresensi:
    PUJI DANDELION
    FAM1055M, Cilegon
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: [Resensi Buku] Perjuangan Tak Pernah Berakhir Walau Raga Telah Tiada Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top