• Info Terkini

    Saturday, May 18, 2013

    [Resensi Buku] Tanpa Cinta, Hidup Tak Akan Hidup

    Judul buku: Pesona Odapus
    Penulis: 25 Penulis Cerpen Indonesia
    Kategori: Kumpulan Cerpen
    Penerbit: FAM Publishing
    ISBN: 978-602-18971-4-0
    Cetakan: I, Oktober 2012
    Tebal: 222 halaman
    Harga: Rp43.400,-


    Benarlah sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa cinta adalah anugerah yang tiada ternilai harganya. Tanpa cinta, hidup tak akan hidup. Dengan cinta, segala yang tak mungkin menjadi semudah membalik telapak tangan. Anggaplah suatu pencapaian adalah sebuah puncak gunung dengan tebing terjal yang mengandung marabahaya. Maka, adakalanya kita merasa optimis berlebih, sanggup melawan kekejaman alam bahkan dengan tanpa bekal peralatan atau ilmu yang memadai. Tak peduli apa pun itu, langkah tetap bulat untuk mendaki. Namun ada saatnya pula tubuh kita akan terasa goyah, cemas, dan takut kalau-kalau pijakan yang tadinya setia mengantar tiba-tiba berkhianat. Jiwa mendadak diliputi kebimbangan hingga berpikir "Apakah aku sanggup?" Ini adalah ketidakstabilan yang terjadi secara wajar. Siapa pun pasti pernah mengalami pasang surut macam ini. Akan tetapi, dengan cinta, agaknya semangat yang terpupuk akan sukar dibodohi. Ia akan terus melaju sampai ke tahap di mana diri sendiri terpukau lantaran kekuatan yang terkandung di dalamnya. Ibarat kata, cinta mengandung sihir yang membuat seorang yang lemah dapat memindahkan gunung besar.

    Dalam buku Kumpulan Cerpen "Pesona Odapus", 25 penulis muda Indonesia ini berusaha meracik serpihan cinta sarat makna, yang mereka tangkap dalam berbagai segi kehidupan, untuk dituangkan ke dalam lembar-lembar aksara dengan tidak mengabaikan nilai-nilai dakwah di dalamnya.

    Lihatlah cerpen berjudul "Pesona Odapus" karya Dartia Utari, yang juga dijadikan judul buku ini. Cerpen ini mengisahkan tentang seorang pemuda yang menderita penyakit berat namun tetap tegar menikmati apa yang telah digariskan untuknya. Betapa cobaan tidaklah lepas dari hidup setiap anak manusia. Namun seberat apa pun diri memandang permasalahan, sungguhlah pasti akan ada jalan keluar. Tuhan tidaklah memberi ujian di luar batas kemampuan makhlukNya.

    Sementara itu, "Ketika Dua Hati Terpisah" karya Putri Anggreni, melukiskan tentang cinta seorang anak pada ibu kandungnya tak pernah lepas dari hati, meski bertahun lamanya raga mereka terpisah. Begitu pun sebaliknya. Kondisi ekonomi yang tak menentu membuat mereka rela terpaut jarak demi masa depan sang anak. Namun, belum juga kerinduan terbayar, pertemuan kedua mereka tak pernah terwujud. Takdir merenggut nyawa salah satu darinya.

    Ma'arifa Akasyah dalam cerpennya yang berjudul "Laring Pembela, Nyanyian Ruh Merkurius", melalui beberapa analogi cerdas dan menyentuh, menyuguhkan keindahan sebuah perjuangan seorang anak dalam dekapan kasih sayang ibunya. Entah penyakit apa yang membuatnya terus bertahan dalam ketidakmungkinan. Hingga akhirnya air mata pun menjadi ujung dari kisah mereka.

    "Cermin Retak"-nya Emma Kaze menyampaikan pelajaran, bahwa kebahagiaan sejati tak pernah didapat dari kesenangan sesaat. Hancurnya rumah tangga sebuah keluarga kecil, berdampak pada hubungan gelap seorang wanita dengan lelaki misterius. Semua itu semata demi tujuan jaminan hidup orang-orang yang dicintai. Namun sayangnya, segala yang tak berdiri pada tempatnya memang tak pernah menang. Akhir yang pahit akan menjadi warna kelabu bagi para pelaku yang berani mempermainkan cinta.

    Cerpen yang paling menarik adalah "Buncah Dakwah Dua Amanah" karya Nur Syamsudin. Penulis mengusung tema yang mungkin jarang terlintas di benak kita. Ini tentang amanah, sekecil apa pun itu, kelak pasti akan dipertanggungjawabkan. Politik yang kerap kali dibalut aroma busuk akan ketidakberpihakan pada rakyat kecil, terkadang membuat sebagian manusia buta. Sejatinya seorang pemimpin yang benar adalah mereka yang mampu merasakan air mata tanah yang dipijaknya. Saling berlomba merebut jabatan bukanlah sesuatu yang menyenangkan, karena dengan begitu, denting waktu pembuktian akan memeluk jiwa hingga kematian menjemput. Beruntunglah jika tindakan telah benar, namun akan sangat merugi jika hanya memasrahkan diri pada nafsu duniawi.

    Kemudian cerpen "Jalan Cahaya" karya Moch. Satrio Welang, sungguh ditulis dengan sepenuh jiwa. Siapa pun yang membaca cerita ini dengan hati, maka akan dapat menyaring makna cinta yang sebenarnya. Kita akan dibuat menangis sekaligus bergidik. Ditulis dengan gaya sastra yang kental dengan balutan ragam tragedi dalam hidup seorang pemuda, penulis mampu membawa kita mengarungi kepahitan dan ketidakadilan yang tokoh utama alami. Hidup seakan dalam penjara yang tak pernah lepas dari jalan buntu. Itulah yang kita rasakan. Gaya bahasa dalam cerpen ini hampir mirip tulisan-tulisan fiksi karya jurnalis Libanon, Hanan al-Shaykh. Dengan sangat berani dan gamblang, penulis sukses mendeskripsikan satu persatu kegetiran dan keterpurukan, secara detail, menjadi sebuah pelajaran berharga yang dapat kita petik.

    "Cinta di Langit Gaza" (Befaldo Angga), "Anak Sang Nelayan" (Rendra Pirani), dan "Demi Aku" (Abi Yazid Bastomi), menuturkan tentang cinta bertabur perjuangan dengan metode penyampaian sederhana namun memikat. Cerpen-cerpen lain pun tak kalah indahnya. Dari sebuah kata 'cinta', melalui 25 judul kisah ini, para penulis mampu menjangkau lingkaran dakwah yang cukup luas dan mengandung nilai-nilai pencerahan di dalamnya. Hanya saja, terdapat beberapa kekurangan dalam buku ini. Pertama, dari segi cerita dan pengemasan yang baik hingga menoreh kesan di hati pembaca. Seperti dalam cerpen "Maaf, Kita Harus Putus" (Arif Hifzul), "Cinta di Negeri Kangguru" (Hasan Asyhari), "Penjara Cinta" (Ahmad Saadillah), "Keputusan" (Salmizul Fitria), "Ukiran Namamu, Arina" (Najla Al-Faiq), dan "Senja yang Mengantar Impianku" (Wardatul Adawiyah). Penulis punya maksud dan ide yang hebat di balik penulisan cerpen-cerpen tersebut, namun kurang bisa menjadikannya sesuatu yang menggigit. Penulisan cerita yang terkesan datar dan apa adanya, tanpa naik-turunnya gelombang perasaan ataupun memerhatikan konflik yang tak biasa, membuat kisah-kisah mereka serasa hambar, kurang menggetarkan, dan sedikit membosankan. Namun, biar bagaimanapun, tidak ada yang sempurna di dunia ini dan karya-karya tersebut layak mendapat apresiasi karena tetap menyelipkan nilai dakwah di dalamnya.

    Kekurangan kedua buku ini adalah dari segi EYD. Sebenarnya nyaris tak ada kesalahan pada EYD. Hanya ada beberapa saja dan itu masih dalam batas wajar. Di antaranya yang saya temukan adalah pada halaman 180 (cerpen "Jalan Peta Saksi Cinta" oleh Rahmat Herdiansyah), yakni pada dialog: "Ya, sangat perlu sekali Nak." Mestinya dialog tersebut tertulis dengan: "Ya, sangat perlu sekali, Nak." (perhatikan tanda koma). Juga pada halaman 135 (cerpen "Buah Hati" oleh Nadia Regina Martanti), yakni pada dialog yang 'terus bersambung' tanpa tanda titik (.) meski pada akhir kalimat sekalipun. Antara kalimat satu dan kalimat berikut di dalam sebuah dialog terhubung oleh tanda koma (,). Ini mengurangi kenyamanan membaca. Pada cerpen "Memori Sore Terindah" (Ken Hanggara) ditemukan beberapa kata yang terpotong menjadi dua, disebabkan oleh kesalahan editing atau layout, yakni "me-nyambar", "hi-dup", "ber-beda", dan "ber-korban". Serta pada halaman 169 (cerpen "Keputusan" oleh Salmizul Fitria), yaitu pada dialog percakapan via SMS yang tertulis dengan singkatan. Alangkah baiknya jika diketik sesuai dengan EYD agar tidak mengurangi keindahan cerpen.

    Kekurangan ketiga adalah pada desain sampul yang kurang menarik, tidak kreatif, dan monoton. Kadang, pepatah yang benar tidaklah selalu benar dalam kenyataan yang ada. Memang, menilai sesuatu hanya dari tampilan luarnya saja tak dapat dijadikan patokan baik-buruknya kualitas yang tersimpan di sana. Hendaklah kita tak menilai sesuatu dari kulitnya. Namun, siapa pun pasti akan setuju jika dikatakan bahwa keindahan sampul sebuah buku dapat mengundang seseorang yang tadinya acuh menjadi ingin tahu, yang tadinya tak peduli menjadi penasaran, serta yang tadinya tak berminat menjadi ingin memiliki. Tak dapat dipungkiri, sampul bagaikan ujung tombak pertama bagi sebuah buku. Sampul adalah modal utama untuk mencuri hati. Seperti dalam formasi grup band, sampul laiknya sosok vokalis. Ialah yang pertama kali bersentuhan dengan publik. Tanpa daya tarik sampul, sangat kecil kemungkinan buku akan menuai perhatian banyak orang. Bagaimana seseorang ingin mengenal buku tersebut, sementara kesan yang ditawarkan ketika pandangan pertama sudah tak menarik hati? Hal semacam ini sangatlah disayangkan.

    Namun, meski demikian, dengan segala kekurangan yang ada, buku ini tetaplah menjadi sesuatu yang istimewa. Menurut saya, secara keseluruhan, kisah-kisah yang ada dalam buku ini mewakili cinta sejati, sarat pesan moral, serta mengusung kasih sayang yang bukan pada umumnya. Di sanalah letak keindahan itu. Cinta yang sesungguhnya bukanlah berasal dari bualan tak masuk akal atau tebaran harta melimpah yang tiada henti. Melainkan tulus dari hati terdalam manusia yang tak mengharap balasan banyak namun ikhlas untuk memberi. Kita akan belajar, tentang bagaimana memaknai cinta serta apa inti dari cinta itu sendiri. Cinta bukanlah sesuatu yang dapat dibeli. Cinta adalah anugerah yang jika kita mampu menangkap, maka hujan badai akan terasa teduh dan panas terik pun akan menjelma sejuk.

    Tampilan fisik buku ini pun baik. Perpaduan rapi antara jenis kertas dan huruf yang nyaman di mata, membuat pembaca tak mudah bosan menyelami indahnya energi cinta yang terselip di setiap lembarnya. Buku ini sangat direkomendasikan bagi Anda para pecinta sastra, serta dapat menjadi pelengkap perpustakaan pribadi atau kado untuk orang terdekat. Lebih dari itu, buku ini memberi warna tersendiri bagi dunia literasi, dengan penyampaian cinta bernilai dakwah. Sungguh bermanfaat, terlebih bagi mereka yang mencari jawaban dari pertanyaan: "Di manakah sisa-sisa cinta yang telah lenyap dari dalam jiwaku?"

    Peresensi:
    KEN HANGGARA
    FAM801M-Sby
    E-mail: kenzohang@yahoo.co.id
    Blog: http://kenhanggara.blogspot.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: [Resensi Buku] Tanpa Cinta, Hidup Tak Akan Hidup Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top