Skip to main content

Buku Cerpen "Jalan Setapak Aisyah" Karya Ken Hanggara

Lelaki itu memandangi punggung Aisyah dari kejauhan. Anak semata wayangnya ini berangkat ke sekolah dengan tas belacu, sandal aus, serta seragam pramuka yang kebesaran. Seorang tetangga kemudian menghampiri, memberitahu kalau ada pekerjaan bagus di dekat kantor kelurahan. Namun saat akan berangkat menuju 'metropolitan' untuk pekerjaan barunya, dadanya bertambah sakit.

Selama ini Aisyah tak tahu perihal penyakitnya. Ia tak ingin kenyataan menjatuhkan semangat Aisyah. Jantungnya seakan berhenti bergerak. Ia tak jadi berangkat. Melihat jejak sandal anaknya di ambang pintu, ia merasa sangat bersalah. Tubuhnya lemah tak berdaya. Walau demikian, ia tak mau menyerah begitu saja. Teringat olehnya keinginan lama yang belum terpenuhi.

***

Ken Hanggara sangat produktif menulis fiksi; prosa dan puisi. Buku cerpen ini karya tunggalnya yang kedua, terbit di FAM Publishing. Modal yang kuat untuk menjadi sastrawan Indonesia di masa depan.

~Muhammad Subhan, Ketum FAM Indonesia

Cara berkisah Ken Hanggara sangat khas. Itu terlihat dari sejumlah cerpen dalam buku ini. Kisah-kisah yang menggungah.

~Aliya Nurlela, Sekjen FAM Indonesia

Jalan Setapak Aisyah' bercerita tentang kehidupan. Ceritanya mengalir, seakan kita berada di dalamnya. Buku yang direkomendasikan untuk para pecinta cerpen.

~Satria Nova, Penulis Buku Jendela Hati: Catatan Nurani Seorang Muslim

Cerpen-cerpen dalam buku ini begitu menyentuh. Ditulis dengan bahasa yang apik, mengalir, santun, serta menyuguhkan beragam cerita kehidupan yang acapkali berlumur kepedihan. Buku yang sangat layak dibaca agar kita senantiasa ingat untuk bersyukur dan tidak mudah mengeluh pada ujian yang menerpa. Sebab di luar sana begitu banyak yang lebih menderita.

~Ririn R.A, Penulis Buku Love & Life Undercover

[Info Pemesanan dan Penerbitan Buku Hubungi Call Centre FAM 0812 5982 1511 atau via email: forumaktifmenulis@yahoo.com]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…