• Info Terkini

    Wednesday, May 8, 2013

    Ulasan Cerpen “Aphelium Relationship” (Kesetiaan Sang Matahari) Karya Ma’arifa Akasya (FAM Kendal)

    Cerpen “Aphelium Relationship” menceritakan tokoh Aku, yang harus berpisah dengan kekasihnya Nova dalam kurun waktu yang lama. Nova harus berangkat ke Jepang untuk menuntut ilmu, dan Aku berjanji untuk menunggunya dalam kesetiaan. LDR (Aku menyebutnya Aphelium Relationship) memang menyiksa, menciptakan kamuflase hitam yang membuat hati selalu bertanya curiga. Apatah lagi Nova yang menjawab putus-putus saja setiap sms yang dikirim Aku. Nova adalah matahari, yang akhirnya membuktikan kesetiaannya ibarat aphelium yang selalu ada bersama perihelium. Nova akhirnya meminang Aku dengan fakula, yang berarti mukena suci seperti awan, yang gelap dalam berarti menutup aurat.

    Cerpen yang ditulis Ma’arifa Akasyah cukup menarik dan ditulis dengan cukup cerdas. Penulis mampu menuang ilmu pengetahuan ke dalam sebuah fiksi melalui perumpamaan suatu hubungan. Tidak semua penulis mampu menulis dengan cara seperti ini dan ada baiknya ini dijadikan ciri khas tulisan Ma’arifa Akasyah. Cerpen ini juga menggunakan dialog yang pendek-pendek  saja, tapi mampu mewakili dari hati tokoh cerita yang paling dalam.

    Namun sayang, masih terdapat kesalahan penulisan. Dalam akhir sebuah dialog, penulis meletakkan tanda titik (.) dan koma (,) secara bersamaan. Contoh pada kalimat “sedikit saja(.”, ) seharusnya cukup ditulis “sedikit saja(,)”. Dan ini ditemukan pada setiap akhir kalimat dialog antara Aku dan Nova.  Hendaknya penulis melakukan editing berdasarkan kaedah EYD, sehingga sebuah naskah cerpen yang bagus tidak terlihat “cacat”.

    Baiklah, Ma’arifa Akasyah. Teruslah menulis dan asah penamu agar semakin tajam. Jangan lupa untuk melakukan editing ulang pada naskah tulisanmu agar hasilnya maksimal. Ketika menulis dan menuangkan ide dalam cerita, abaikan dulu kesempurnaan EYD agar tak menjadi beban ketika menulis. Tapi setelah semua naskah selesai ditulis, maka lakukanlah editing dengan maksimal. Tetap semangat, ya?

    Salam santun, salam karya.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Aphelium Relationship
    (Kesetiaan Sang Matahari)

    Karya: Ma’arifa akasyah

    “Mabruk ya, Nov. Aku salah seorang yang paling bangga melihatmu.”, jemari kanan ku ulurkan dan disambut baik oleh Nova. Senyum dari bibir berkumis tipisnya begitu memikat. Enggan ku lewatkan. Tapi segera ku tepis, saat aku dipaksa mengerti kehendaknya untuk berjuang di jalan Allah, tholabul ‘ilmi.

    “Allahu yubarik fih. Terima kasih. Doakan aku, ya.”, timpalnya dengan mata yang aku mendapat kenyamanan darinya. Ia punya mata yang begitu bersinar dalam keteduhan. Memancarkan kemilau yang membuat pupilku tak lagi berakomodasi. Sikapnya yang hangat pula pada semua orang. Sungguh membelengguku dalam kekaguman. Aku menyebutnya ‘matahari’, seperti namanya, Nova. Atau bahkan, supernova.

    “Insya Allah.”, jawabku. Senyum paksa yang ku torehkan untuk menyamarkan kegelisahan atas keterbatasan kemampuanku.

    Aku usahakan mataku tak memancarkan kekhawatiran apapun apalagi berbuih. Aku hendak Nova berangkat dalam kenyamanan dan keikhlasan semua orang di kehidupannya.

    “Jangan sedih, empat sampai lima tahun lagi, aku akan datang.”, kata-kata itu menyejukkan sekaligus menghentakku. Sejuk dirasa saat ia mencoba menggaris kesetiaan atas ikatan ini. Tapi...

    “Empat-lima tahun? Sekitar seribu empat ratus sampai hampir dua ribu hari.”, batinku risau.

    Ia sibuk dengan tas punggung hitamnya. Mencari sesuatu yang aku tak mengerti.

    “Iya, aku akan menulisnya di buku catatanku.”, timpalku yang tak ia tanggapi. Sejenak aku diam, tak ingin mengganggu konsentrasinya yang agak menyepelekanku.

    “Negeri matahari terbit memang jauh. Dekatkan aku padamu dengan benda kecil ini.”, tangannya menyodorkan setangkai bunga matahari kertas yang lucu.

    “Kamu belajar origami dulu?”, tanyaku dengan tertawa kecil.

    “Sedikit saja.”, ia masih menungguku mengambilnya. Hendak segera ku ambil memang.

    “Hmm, mengambil bunga itu dengan segera adalah menyegerakan kerelaan hati melepas Nova.”, pikirku. Maka, aku mengurungkan niat.

    “Cinta yang tipis dan sederhana ini, semoga abadi takkan layu.”, ucapnya meletakkan bunga itu di telapakku. Aku hanya mengamini yang ia hempaskan lewat angin. Ya, kertas memang tipis tapi takkan layu.

    Aku menggenggamnya erat. Bukan hanya untuk melegakan pembuatnya, tapi karena aku akan segera menjadikannya sebagai manifestasi Nova. Benda kecil yang bakal mentransfer kerinduanku padanya.

    “Kita miliki medan magnet sekuat sunspot milik matahari. Bintik hitam, warna paling gelap, ia menangkap dan menyerap cahaya paling bagus.”, ia tutup pertemuan terakhir ini dengan kata-kata sederhana yang merenggutku dalam kebahagiaan yang berselimut awan. Ya, awan yang ku harap tak menutup cahaya Nova untuk sampai padaku.

    ***

    Hingar itu terasa lirih. Ramai menjelma jadi sepi. Aku cuma hendak sendiri dalam memori. Menekuk lutut dan memandang syahdu origami orange bergradasi kuning di hadapanku. Ingatan memikatku tentang seorang bersahaja. Nova yang terpisah denganku pada jarak teramat jauh antara Jepang dan Indonesia.

    Aku menyebutnya, aphelium relationship. Ya, mirip dengan Long Distance Relationship (LDR). Namun, jika LDR adalah pacaran jarak jauh, maka aphelium relationship ini adalah jarak ‘terjauh’ antara Nova dan aku. Seperti aphelium, masa sebuah planet berada di titik terjauh dari matahari. Setelah ini, aku berharap kita dekat dan bersatu lagi.

    Aku cukup pekat dalam penantian. Berharap rindu prominensku tersembur tinggi dan menyentuhnya, seperti jilatan api di matahari itu. Tapi nampaknya, masih beratus kilometer untuk sampai pada Nova. Ia hanya mampu ku pendam dalam kenangan kerdilku. Apalagi, Nova disibukkan dengan kehidupannya.

    Aku hendak meraih ponsel, mengiriminya pesan singkat sebagai ungkapan kerinduanku. Juga mengabarkan bahwa aku masih menunggu matahari untuk pulang dari negaranya. Namun (lagi-lagi) aku mengurungkan niat. Tak sampai hati jikalau pesanku malah mengganggu dan membuatnya tak nyaman.

    Beberapa kali belakangan ini pun Nova tak membalas pesanku suatu apa. Padahal, bunga kertas lipat ini pun tak bisa menerjemahkan bahasa Nova untuk ia terka dan sampaikan padaku sebagai balasan atas pesanku. Mereka diam dan tak berbicara apapun.

    “Sibuk apa, Nov?”, akhirnya rasa ini mencuat tanpa kesabaran. Aku mencoba menerjemahkan sendiri bahasa hati padanya, tanpa melalui origami ini.

    Balasan Nova tak kunjung datang. Aku mengerti dan (mungkin) ia takkan menanggapi. Hening kembali suasana pikiranku yang terancam berburuk sangka.

    “Ya sudah, hubungi aku kalau ada waktu luang.”, beginilah perempuan berbahasa. Memancing rasa tanggap kekasihnya dengan berpura-pura mengalah.

    Nova sunyi. Terlalu pendiam untuk mendiamkanku seperti ini. Hening yang lama...sekali.

    “Kesibukanku seperti biasa. Banyak tugas yang harus ku kerjakan.”, balasan yang tak terlalu bagus jika melihat penantianku.

    “Kebanyakan LDR tak bertahan lama. Apalagi aphelium. Melainkan jika kau mengerti keberadaanku berdua dengan bunga.”

    “Pahamilah! Aku disini berjuang untuk merajut layar yang akan ku pasang di perahu masa depan kita.”, ia sama sekali tak seirus menanggapi.

    “Ada sesuatu ya? Bicarakan saja! Aku telah mencoba mengikatku pada bunga matahari. Tapi kalau kau tak mau terbit, bagaimana aku bisa hidup?”, tanyaku pada pesan panjang. Aku berharap Nova akan menanggapi serius tanpa main-main lagi.

    “Aku akan pulang di masanya. Di titik perihelium (terdekat) kita, 3 Januari beberapa tahun mendatang. Tunggu aku dalam kesetiaan.”

    Kini aku yang diam. Aku tahu cara Nova berbicara tentang hati. Semoga saja, benar. Aku percaya padanya.

    “Baiklah. Masih lama tapi tak begitu panjang.”, balasku dengan senyum di akhir pesan. Aku kehabisan kata-kata untuk terus mengganggunya.

    ***

    Hari ini, hari yang Nova janjikan padaku. Dengan dua paket nasi goreng dan teh hangat lesehan untuk makan malam. Inilah Nova, mengistimewakanku dengan cara sederhana.

    “Tahukah kamu tentang fakula?”, pertanyaan yang aneh jika terlontar saat makan malam bersama. Tapi entah, analog apa lagi yang ia jadikan satu bersama kata ‘fakula’ ini?

    “Di momen seindah ini, kamu masih bahas pelajaran yang aku dapat lima tahun lalu?”, jawabku dengan pertanyaan.

    “Aku yakin kamu bukan pelupa.”, katanya mendesakku. Baiklah, aku angkat bicara.

    “Fakula itu awan hidrogen seperti benang gelap di permukaan matahari dan mempunyai medan magnet yang kuat, kalau tidak salah.”, timpalku terbata.

    “Aku hendak meminangmu dengan fakula.”, katanya pelan.

    “Fakula?”, aku sungguh tak mengerti.

    “Ya. Mukena suci seperti awan, yang gelap dalam arti menutup aurat. Sebagai pengikat hubungan kita agar semakin kuat.”, jelasnya.

    Aku menatapnya dalam cahaya yang kalah terang. (lagi-lagi) matanya tak pernah redup.

    “Aku kira...kita akan seperti kebanyakan pasangan LDR lain.”, kataku.

    “Kalau ada aphelium, ada pula perihelium. Takdir Allah akan menyatukan dua hati yang diridhoinya, meski sejauh apapun keduanya dipisahkan.”, timpalnya dengan kata-kata sederhana yang mampu menebarkan benih bunga di perasaanku.

    “Iya. Dan akhiri penjauhan ini. Sudah, setelah ini kita dekat saja secara abadi.”, tambahku.

    “Selama kita saling percaya dan setia. Semoga.”

    “Kamu mengajarkanku akan sebuah kesetiaan matahari di masa perputarannya.”, balasku. Nova hanya mengangguk pelan. Menyudutkan kedua piring dan gelas kami. Esok kita akan bertemu lagi di depan orang tuaku.

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Aphelium Relationship” (Kesetiaan Sang Matahari) Karya Ma’arifa Akasya (FAM Kendal) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top