• Info Terkini

    Monday, May 13, 2013

    Ulasan Cerpen “Haji untuk Bapak dan Ibu” Karya Anisa Wijayanti (FAMili Ciamis)

    Cerpen yang ditulis Anisa Wijayanti ini bercerita tentang kebiasaan di sebuah kampung, PNS yang berangkat haji dengan uang pensiun. Naima, bocah yang ingin ayah ibunya juga berangkat haji dengan uang pensiun. Menurut Naima, uang pensiun ayah sebagai seorang guru PNS pasti banyak dan cukup untuk berangkat haji kedua orangtuanya. Naima ingin ayahnya seperti ayah Citra, teman sebangkunya, yang berangkat haji.

    Ayah menyambut keinginan Naima untuk mendaftar haji dengan uang pensiunnya. Gadis kecil itu merasa senang dan mulai sesumbar kepada teman-temannya bahwa orangtuanya akan segera berangkat haji. Tapi apa yang terjadi? Uang pensiun yang diterima ayah Naima tidaklah cukup untuk mendaftar haji dua orang. Akhirnya ayah memutuskan uang itu digunakan sebagai modal usaha dan keuntungan ditabung untuk berangkat berdua, bersama ibu Naima. Namun, lagi-lagi gagal, karena ayah Naima tertipu dan semua uang lenyap. Naima sedih sekali, namun ia berjanji nanti ia yang akan memberangkatkan ayah-ibunya menunaikan ibadah haji.

    Cerpen “Haji untuk Bapak dan Ibu” ide cerita yang sederhana namun menarik. Diambil dari sebuah tradisi di Indonesia yang berangkat haji setelah menerima dana pensiun. Penulis mampu menceritakan hal yang sederhana menjadi konflik rumit—yang sepintas tampak sederhana. Menandakan bahwa masyarakat Indonesia yang memimpikan ibadah haji sebagai suatu barang mewah yang sulit sekali di jangkau, meski sudah tua dan pensiun. Inilah gambaran betapa mahalnya “berhaji” di Indonesia.

    Namun, masih ditemukan kesalahan penulisan yang berhubungan dengan penggunaan huruf kapital, terutama pada dialog yang menggunakan kata sapaan. Seperti “ Insyaallah ya nak,…” seharusnya ditulia “Insya Allah ya, Nak,…” (perhatikan juga tulisan asing yang seharusnya dicetak miring).

    Untuk penulis, teruslah menulis. Teruslah gali ide-ide sederhana yang ada di sekitar kita menjadi tulisan yang baik dan luar biasa. Agar tulisan semakin tajam, selain menulis juga diperlukan membaca. Membaca buku, membaca alam ataupun membaca lingkungan sosial. Tetap semangat, ya?

    Salam santun, salam karya.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Haji untuk Bapak dan Ibu

    Oleh: Anisa Wijayanti (FAM1020U)

    “Bu, aku pulang!” terlihat Naima tergopoh-gopoh menuju rumah.“Jangan terburu-buru begitu, kok gak bilang salam?” kata ibunya dari dalam rumah.“Eh, iya Assalamualaikum bu!” ucap Naima polos. “Waalaykumsalam,” ucap ibunya. Naima kemudian membuka sepatu, memasuki rumah dan mencium tangan ibunya yang semakin tua dimakan usia. Ibu yang sedang memasak mencium kening anaknya dengan lembut. Tergesa-gesa Naima bercerita bahwa orang tua dari teman sebangkunya yaitu Citra akan segera naik haji tahun ini. Naima kembali mengungkapkan keinginannya agar bapak dan ibu segera naik haji setelah pensiun. Meski masih kelas dua sekolah dasar, Naima tahu bahwa saat bapak pensiun bapak akan mendapatkan uang pensiun yang menurutnya akan cukup untuk pergi haji. Hal ini memang sudah biasa terjadi pada orang-orang di kampungnya yang bekerja sebagai PNS seperti bapaknya Naima. Dahulu, Pak Tohir pensiunan kepala sekolah juga pergi haji beberapa tahun setelah pensiun. Naimah memang masih sekolah dasar, tapi bapaknya telah berusia hampir enam puluh tahun. Naima terlahir dari pasangan yang baru mendapatkan anak di usia senja. Bapaknya seorang guru sekolah dasar di kampungnya sementara ibunya adalah ibu rumah tangga.

    Sesaat kemudian bapak pulang. Naima menghampiri bapak dan kembali mengutarakan keinginannya agar bapak pergi haji saat pensiun. Naima tahu bahwa bapak akan segera pensiun. Mendengar keinginan putrinya yang mulia bapak hanya tersenyum. “Insyaallah ya nak, bapak akan menerima uang pensiun bulan depan,” ucapnya.

    Saat-saat yang ditunggu Naima tiba, bulan ini bapak akan menerima uang pensiunnya. Di sekolah Naima sudah bercerita pada teman-temannya bahwa bapak dan ibunya akan naik haji setelah bapak pensiun. Teman-temannya menyambut cerita itu dengan antusias. Sementara itu bapak tampak murung di kantor. Uang pensiunnya ternyata 30 juta rupiah saja tak akan cukup untuk pergi haji bersama ibu.

    Di rumah, Naimah telah menunggu dengan ceria tapi bapak datang dengan wajah yang murung dan bercerita bahwa uang yang diterimanya tidak cukup untuk pergi haji bersama ibu. Bapak berencana untuk menjadikan uang pensiun sebagai modal usaha agar uangnya cukup.

    Di sekolah. “Naima, kapan bapakmu berangkat haji?” kata Bunga teman sekelasnya. “Aku tidak tahu, kata bapak uangnya tidak cukup,” Naimah menjawab dengan muka merunduk.“Huu,..makanya jadi orang jangan suka pamer. Kenyataannya orang tuamu gagal pergi haji, kan?” Anak-anak satu kelas menertawakan dan mengejek Naima. Naima terdiam menahan tangis, “Cit, orang tuaku gagal pergi haji, aku malu pada teman-teman,” ucapnya. “Sudahlah, jangan dengarkan mereka. Lebih baik kamu doakan orang tuamu supaya mereka bisa naik haji,”Citra menenangkan. “Mungkin aku yang salah karena pamer kepada teman-temanku. Aku bercerita seperti itu karena aku yakin dan sangat senang sekali ketika mendengar bapak pensiun,” ungkapnya. Citra memeluk Naima dan menenangkannya.

    Menatap langit-langit kamar yang sempit, bapak termenung memikirkan ajakan Bang Madun untuk menjadikan uang pensiunnya sebagai modal usaha. Terbayang semua keuntungan yang akan didapatkan jika dia menginvestasikan uangnya. Cukup untuk dia dan istrinya pergi haji. Keinginan untuk bisa pergi haji begitu kuat di hati bapak hingga tanpa pikir panjang bapak memutuskan untuk menginvestasikan uangnya.

    Beberapa bulan setelah bapak menyetorkan semua uang pensiunnya keuntungannya begitu terasa hingga pada bulan keenam, Bang Madun menghilang. Bapak mencari Bang Madun tapi ternyata Bang Madun kabur bersama uang yang bapak berikan. Bapak bersama para korban yang lain melaporkannya ke Polisi tapi tak ada hasil yang jelas.

    Bapak datang ke rumah dengan lemas. Ditemuinya ibu sambil terisak. “Bu, kita kena tipu. Uang yang kita berikan kepada Madun dibawa kabur. Kita berdua tidak bisa pergi haji sekarang.” Mendengar ucapan bapaknya, Naima segera menghampiri kedua orang tuanya. “Apa? Jadi semua uang pensiun bapak hilang?” ibu berkata sambil terisak. “Iya bu, maafkan bapak bu. bapak ceroboh,” ucap bapak penuh sesal. Tanpa berkata-kata Naima memeluk kedua orang tuanya. Tubuhnya terasa lemas, keinginannya agar orang tuanya pergi haji pupus sudah. Pelan dia bangkit dan menghapus air mata ibu dan bapak yang termenung di hadapannya. “Bapak dan ibu tenang saja. Naima janji akan menjadi anak yang rajin dan pandai. Naima akan terus bersekolah sampai sukses. Nanti. Naima yang akan cari uang untuk bapak dan ibu pergi haji. Bapak dan ibu sabar ya, tunggu Naima besar,” ucap Naima dengan yakin. Bapak tersenyum mendengar ucapan anak berusia delapan tahun itu. Kehilangan uang yang besar memang menyakitkan. Tapi dihadapannya, masih ada harta yang begitu berharga yang harus bapak jaga yakni Naima. Dalam hati Naima berdoa, semoga Allah mengabulkan apa yang telah dia janjikan kepada kedua orang tuanya. Menghajikan kedua orang tua menjadi cita-cita besar Naima kini. Mulai sekarang, dia harus lebih rajin lagi belajar. Agar semua janjinya bisa dia tepati.

    [www.famindonesia.com]



    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Haji untuk Bapak dan Ibu” Karya Anisa Wijayanti (FAMili Ciamis) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top