• Info Terkini

    Saturday, May 4, 2013

    Ulasan Cerpen “Hijab Diri” Karya Hidayatul Hasanah (FAMili Surakarta)

    Kali ini FAM mengulas cerpen yang berjudul “Hijab Diri” yang bercerita tentang cinta yang dirasakan oleh tokoh utama. To the point saja, dari segi teknik penulisan cukup bagus. Bahasa lumayan mengalir sehingga cukup enak untuk dibaca.

    Soal EYD tidak ada masalah yang berarti. Namun dari segi cerita terkesan klise dan tergolong mainstream. Sebenarnya pesan yang coba disampaikan bagus, hanya saja pengemasannya masih kurang.

    Apa yang penulis kisahkan sama halnya dengan sinetron yang ada adegan orang jahat, lalu ia ditegur ustad dan dinasehati, lantas menjadi baik. Penulis harus banyak belajar menulis sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Walau demikian, karya yang dituliskannya tentu saja tetap bernilai.

    Semoga ke depan karya yang dihasilkan semakin bagus. Tetap semangat dan terus berkarya.

    Salam santun, salam karya.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Hijab Diri

    Karya: Hidayatul Hasanah

    Denyut jantungku terasa berdetak semakin kencang. Padahal aku tidak melakukan olahraga berlari ataupun hal lain yang membutuhkan energi ekstra. Aku hanya berjalan. Namun, ketika tatapan mata ini bertemu dengan sosok yang spesial. Denyut jantungku berubah menjadi tidak beraturan. Berkali-kali aku mengatur nafas. Rasanya amazing bisa bertemu dengan orang yang sangat menawan. Tampan, anak OSIS, jago basket dan pintar dalam pelajaran. Sempurna. Kata itu yang pantas untuk melukiskan sosoknya.

    “Ya Allah, aku tidak mengira bisa satu sekolahan lagi bersamanya. Temanku satu kelas ketika SMP dulu. Cowok yang banyak penggemar. Apakah aku ditakdirkan untuk selalu suka dia?.”

    ***

    Setiap kali dia lewat, senyumku selalu mengembang. Melihatnya berjalan di depan kelasku, aku tidak henti-hentinya untuk terus mengikuti kemana arah dia berjalan.  Hingga mataku hanya melihat dinding putih yang menghalangi pandanganku. Ingin rasanya menyingkirkan dinding tersebut. Supaya pandanganku tidak terhenti.

    “Hida!.” Sodokan temanku tepat mengenai lengan kiriku.

    “Aw… kira-kira dong. Kenapa sih, Ya?” tengokku dengan memegang lengan kananku.

    “Tuh lihat! Di papan tulis. Pagi-pagi sudah ngelamun. Kayak orang gak berpendidikan aja. Pantas saja kamu selalu dapat nilai jelek-jelek. Orang sekolahmu aja gak bener.”

    Aku tidak mempedulikan ucapan-ucapannya yang menyakitkan. Dia sudah terkenal dengan sebutan sipahit lidah. Orang yang suka berbicara menyakitkan orang lain. Bila aku tanggapi, bisa-bisa aku tidak masuk sekolah keesokan harinya. Dia ahli karate. Siapapun yang berani berulah, pasti akan dipukulnya hingga memar. Kursiku kuangkat sedikit menjauhi tempat duduknya. Supaya tidak mendengar celoteh Tya dengan jelas. Pusing kepala mendengarkan gunjingan yang terlontar. Segala apapun di matanya adalah salah. 

    “Oh, my God. Dia berjalan lagi melewati kelasku. Memang kelasku strategis. Hingga berulangkali dia bolak-balik.” Mataku terpana melihatnya. Kepalaku yang pening dengan pelajaran Fisika seakan tersiram air es. Dingin dan segar. Aku dapat sekejap melupakan hitung-menghitung rumus fisika yang sulit untuk dicerna dan dipahami. Berulangkali aku tanya Tya yang ada justru dibentak. Nasib yang malang duduk dengan orang yang berwatak keras bagaikan harimau. Siapapun menjadi sasaran untuk dilahapnya. Bukan menjadi teman yang siap membantu kapanpun, ini justru mengancam ketenangan hidup. Giliran dia yang tidak bisa, siap-siap aja pekerjaan yang berhasil aku kerjakan menjadi sasaran untuk direbutnya. Rasanya, sungguh tidak adil.

    Jarum jam terus berputar. Berjalan menuju pergantian hari dan bulan. Tidak terasa aku sudah satu semester di SMA. Seiring berjalannya waktu, ternyata mampu mengubah kebiasaan Tya yang bengal menjadi sosok lain. Dia sekarang menjadi muslimah. Rajin mentoring dan mengikuti kajian rutin setiap jumat pagi. Teduh rasanya melihatnya. Ditambah dengan balutan yang sempurna. Sangat cantik. Tidak ada lagi kata yang menyakitkan. Sungguh, dia sangat anggun. Berbeda denganku yang masih seperti dulu. Tidak ada perubahan sama sekali. Seakan waktu tidak memberikan bias apa-apa padaku.

    Perasaan yang bergejolak ini tidak mudah untuk untuk pudar dan sirna. Walaupun, hari telah berganti. Sosoknya selalu membuatku kagum. Bahkan, sekarang aku lebih berani untuk menyapanya dan mengajaknya untuk bercanda tawa. Gayung bersambut. Dia pun memberikan harapan, seolah dia juga suka kepadaku. Hatiku berbunga-bunga. Aku sangat menantikan dia mengatakan cintanya kepadaku.

    “Jangan-jangan kamu suka sama dia?” tanya Tya seketika.

    Pipiku merah merona dibuatnya. Degup jantungku seakan-akan semakin memburu. Aku bingung, antara mau jujur atau menyembunyikan perasaanku. Ketakutanku kalau jujur, aku akan mati kutu dibuatnya. Petuah yang panjang pasti akan dilayangkan untukku. Dengan dalil yang membuatku ngeri mendengarnya. Gelengan kepalaku seakan menjawab pertanyaan dia.

    “Dia itu mungkin banyak ceweknya. Kemarin aku lihat dia duduk berdua sama anak kelas A. Lama banget. Dari mulai aku mau mentoring sampai sudah selesai dia masih berduaan. Sekitar tiga hari yang lalu aku lihat dia boncengan sama temennya satu kelas. Tiara kalau gak salah namanya. Kebetulan lewat depan rumahku.” Dia menghela nafas panjang. Seakan muncul kekecewaan yang mendalam. “Dia itu orang yang pintar. Aku akui itu. Namun, dia masih suka mengikuti tren yang menyesatkan?”

    “Maksudmu, apa?” kerutan pada dahiku menandakan betapa aku terkejut dengan ucapan Tya.

    “Dia masih terjebak dalam pacaran. Padahal sudah jelas, Allah tidak mengijinkan untuk berzina.”

    Aku semakin tidak paham apa yang diucapkan Tya.

    “Zina itu tidak hanya perilaku laki-laki dan perempuan seperti suami istri. Itu adalah zina terberat. Ada zina-zina lain yang tanpa kita sadari kadang kala mengiring kepada zina yang besar itu tadi. Seperti halnya zinanya mata ketika mata terus melotot kearahnya, zina pikiran untuk selalu memikirkannya, zinanya tangan ketika memegang, zinanya kaki ketika melangkah untuk menemuinya dan masih banyak zina-zina kecil lainnya. Aku sangat menyayangkan perilakunya yang seperti itu. Kamu tahu Da, mereka yang pacaran itu yang dicari hanyalah kesenangan semata. Mereka tidak berpikir jangka panjang. Mereka mau untuk dipegang-pegang. Dipeluk bahkan kadang ada yang sampai berciuman. Padahal belum tentu dia akan menjadi suaminya. Rugi sekali bukan yang jadi perempuan.”

    “Iya Ya, apa yang kamu ucapkan benar. Aku juga sadar akan pentingnya kita menjaga diri. Bukan menjadi jajanan pasar yang bebas untuk dipegang-pegang. Namun, gak jadi dibeli. Rugikan jajanannya. Sama hal bagi perempuan yang sudah dipegang-pegang rugi juga kalau habis itu harus ditinggalkan. Padahal siapa yang bisa menjamin orang yang dianggapnya setia akan tetap selalu mendampinginya. Bisa jadi berbelok arah kepada yang lebih cantik dan kaya.”

    “Nah, itu kamu tahu. Jujur selama ini aku memperhatikanmu. Aku tahu, kamu mulai suka sama Danur. Kekhawatiranku kamu akan menjadi perempuan yang ikut tergelincir dalam jalan yang tidak diridhoi. Dan aku tidak menginginkan itu. Bersabarlah. Rasa cinta yang kamu punyai adalah fitrah. Namun tidak seperti itu cara melampiaskannya. Fokuslah pada sekolah dan organisasi yang kamu geluti. Semua yang aku ucapkan, bukan karena aku sok suci. Tapi, aku yakin suatu saat nanti aku akan mendapatkan seseorang yang benar-benar istimewa. Kalau sekarang, tugasku hanyalah membahagiakan orang tua. Belum waktunya untuk mendapatkan kasih sayang selain dari orang tua.”

    Aku terhenyak dengan ucapan Tya. Pegangan pada tangannya kupererat. Senyum simpul menghiasi wajahnya.

    “Terima kasih Tya, kamu telah menyadarkanku. Tidak sepantasnya aku mendekat pada kesesatan. Bismillah, aku akan memilih jalan yang benar. Jalan yang diridhoi Allah.”

    Kupeluk erat tubuhnya.

    Sumber gambar: google.com

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Hijab Diri” Karya Hidayatul Hasanah (FAMili Surakarta) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top