• Info Terkini

    Sunday, May 19, 2013

    Ulasan Cerpen Karya Maula Amjad (FAMili Surakarta)

    FAM Indonesia menerima cerpen tanpa judul karya Maula Amjad, FAMili Surakarta. Cerpen ini bercerita tentang situasi sebuh perang. Ada dua kubu antara pemerintah dan pemberontak. Seorang pilot pemula, tentara pemerintah. Bersusah payah mendapatkan izin mengendarai E-est. Walau akhirnya ia mendapat izin karena jaminan Kapten Dylan yang yakin akan kemampuannya mengendarai E-est  mengimbangi pasukan Blue bird dari kubu pemberontak.

    Pada suatu waktu senggang, sang pilot ke luar dari camp ingin mengetahui suasana di luar. Karena selama ini, camp latihan benar-benar telah memenjarakannya. Ternyata, bergabung dengan pengungsi membuat nyawanya terancam. Karena ia berada dalam dua kubu, antara pengungsi miskin yang benci pemerintah dan pemberontak. Dalam situasi genting, seseorang menolongnya dengan sigap dan baku tembak pun terjadi dengan sengit. Sang pilot keheranan dengan kemampuan tempur sang penolong yang mumpuni. Dan, sang penolong itu adalah  Blue bird,  pasukan pemberontak musuh pemerintah.

    Tidak banyak penulis yang mampu menulis cerita dengan latar belakang suasana perang. Penulis  cerpen ini mampu menyajikannya dengan baik.  Dengan dialog yang singkat dan padat. Namun kesalahan penulisan masih banyak ditemukan. Seperti “tau” yang seharusnya ditulis “tahu”. Kemudian, perhatikan pula penggunaan huruf kapital. Selain itu, ada baiknya penulis memilih judul yang tepat untuk cerpen ini. Judul yang tepat dan “nyambung” sehingga ada kaitan antara judul dan isi. Tetapi cerpen ini tidak berjudul.

    Untuk penulis, teruslah menulis. Goreskan pena dengan ide-ide kreatif yang tertuang dalam sebuah fiksi. Penulis bisa menggunakan tema cerita dalam negeri dan banyak konflik yang ada di dalamnya. Goreslah penamu agar semakin tajam seperti mengasah mata pisau. Jangan lupa melakukan editing setiap kali selesai menulis. Dengan demikian, kesalahan-kesalahan kecil dapat diperbaiki sehingga hasil tulisan semakin baik dan memenuhi kaedah EYD.

    Tetap semangat, ya? Salam santun, salam karya.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    [?]

    Karya: Maula Amjad (IDFAM1505M)

    Tak bisa kubayangkan apa yang akan terjadi nanti. Bayangkan saja, ijin untuk mengendarai E-est pun belum aku kantongi secara resmi. Kapten  Dylan lah yang memaksa Kolonel Scar-face untuk memberiku ijin mengendarai E-est perdanaku. Meski kapten tau kalu itu menyalahi aturan. Karena biasanya kami masuk camp khusus selama 3 bulan untuk mendapat pelatihan dasar dan diadakan seleksi pilot E-est.

    Kolonel Scar-face itu julukannya, memiliki nama asli Greger Ingmar. Dia di juluki seperti itu karena mukanya yang penuh  luka sayatan terutama di mata kirinya. Kami hanya menjuluki itu di belakangnya, meskipun aku rasa dia juga tahu akan julukannya. Dia sendiri diberi tugas memimpin di District tujuh belas. Meski hanya berpangkat kolonel, tapi kemapuannya tidak kalah dengan para Jendral, karena sejatinya ia pernah hampir mendapat gelar Jendral, tapi ditolaknya. Entah mengapa ia menolaknya, kami tak tahu menahu alasannya.

    Sedangkan, Kapten Dylan sang Serigala penjaga sektor X-03-09 menamai pasukannya dengan Wolf-fang. Nama yang sangat biasa, tapi bagi Kapten Dylan, serigala adalah sahabatnya, ia besar di daerah dekat kutub. Serigala yang awalnya ditakuti menjadi sahabatnya, yah karena kejadian yang tidak mengenakkan, tukas kapten ketika berbincang denganku di atap menara pengawas sektor X-03 lima malam yang lalu.

    “sudah kukatakan, pemula tetap pemula. Prosedur diciptakan untuk dituruti, dan masih bisa kita kembangkan untuk mencari pilot yang handal. KAU PAHAM?” Bentak Scare-face sambil menggebrak meja di kalimat terakhirnya. Entah mengapa aku jadi merasa bersalah.

    “Kolonel, dia adalah pemula, tapi aku melihat kemampuannya yang sesungguhnya. Hampir mengimbangi Blue-bird itu sudah bagus. Lagi pula itu E-est seri v.0.09.1. versi lama dan itu juga sudah jadi milikku.” Kapten membelaku dengan penuh ketenangan. Ah... kapten memang terkenal akan ketenangannya. Dan menurutku, bukan pangkat yang menentukan kemampuan menjadi pilot ataupun kemampuan menggunakan senjata. Terbukti Blue-bird yang notabene hanya seorang warga biasa, mampu menjadi salah satu ujung tombak tentara pemberontak. Terdengar percakapan dalam ruangan itu dimulai lagi.

    “ck... kau beruntung diberi ijin membeli barang itu. Ijin tak akan berlaku lain kali...”

    “tidak ada lain kali kolonel.” Sela kapten. “lain waktu kau akan melihat pilot E-est yang handal.” Terlihat sekali kolonel tak mengucap kata-kata lagi. “permisi kolonel.”

    Klek terdengar suara pintu terbuka. “kau masih di sini nak?” tanya kapten setelah membuka pintu ruangan kolonel. Aku hanya bisa mengangguk lemas dalam posisiku yang menunduk saat itu. “tak perlu merasa bersalah nak.” Seolah kapten mengucapkan itu karena tau apa yang tergores dalam wajahku. Sambil mengusap rambutku dia berkata “kau akan menjadi pilot yang handal. Di sisi mana kau akan menjadi hebat siapa yang tau.” Di sisi mana? Apa maksudnya? Kalimat itu sungguh mengganggu pikiranku. Bahkan membuatku tidak bisa tidur malam itu di bilik tiga sektor X-03. Bilik tiga merupakan tempat tidur bagi kami para pemula yang masih teramat pemula.

    Hari ini hari istirahat bagi kami pemula. Meski santai, kami tetap harus siap ketika keadaan darurat memanggil kami. Hari itu banyak dari kami yang bermain kartu, catur, atau ada juga yang melatih otot-otot mereka di gym. Aku sendiri? Masih bingung akan melakukan apa. Aku duduk di taman sambil merenung, apa yang akan aku lakukan di liburan yang hanya satu hari tepatnya 20 jam ini? Pagi itu cuaca di taman kantor sektor X-03 terhitung cukup nyaman. Mungkin ini karena aku lebih sering merasakan ruangan tertutup. Maklumlah, sebagai pemula, kami dilatih seakan-akan kami ini tahanan.

    Orang hebat itu orang yang tau lingkungan sekitar, yang paham dengan sekelilingnya.

    Entah kenapa kalimat itu terngiang kembali, kalimat yang lintarkan ibuku ketika memangkuku. Saat itu aku baru berumur lima tahun. Dan ibuku sendiri meninggal karena perang ini saat aku berumur enam tahun. Ah... aku bahkan tidak ingat wajah ibuku.

    Terbesit di benakku, mengapa aku tidak pergi keluar? Aku penasaran bagaimana kondisi di sini. Apakah sama dengan kondisi daerahku? Jujur saja, sebenarnya aku ini bukan putra district tujuh belas, aku ini dari district dua puluh dua, jauh di timur sana. Segera saja aku mengambil baju peberian ibuku di ulang tahunku yang kelima. Memang bukan baju mewah, tapi tetap saja, di district dua puluh dua baju itu sejelek apapun adalah berharga dan tak ada yang namanya baju untuk anak-anak, semua berukuran dewasa. Melihat kondisi itu juga bajuku sudah banyak yang sobek jadi itu adalah baju terbaikku saat ini.

    Aku berjalan jauh ke utara, entah ke mana tujuanku, yang penting ke utara ucapku memantapkan niatku lebih dalam ke dalam hati. Akhirnya setelah kurang lebih melangkah sejauh lima kilometer, ada sebuah camp pengungsian. Aku sejenak menyapu area tersebut dalam setengah putaran kepala. Tanpa tentara pengawas? Daerah siapa ini? Bukankah ini seharusnya masih dalam sektor X-03? Atau mungkin mereka membuat camp pengungsian sendiri? Siapa yang tahu.

    Tanpa berpikir panjang, dengan pakaian lusuhku ini, aku rasa aku sanggup membaur dengan mereka. Aku susuri camp itu, melihat kondisi mereka yang aku rasa lebih parah dari district dua puluh dua. Di sisi tengah camp yang didirikan atas kota yang telah luluh lantak ini ada pembagian jatah makanan. “ouh, pasti itu makanan lebih buruk dari penjara” gerutuku pelan sambil berjalan.

    Namanya juga membaur, akupun mengambil tempat dalam antrian. Saat itu aku tak tahu kalau ternyata jatah makanan itu sudah disesuaikan dengan jumlah para penghuni camp pengungsian ini. Dan ternyata ada saja berandalan di tengah penderitaan mereka. Dan tak menyangka juga, pentolan berandalan itu selalu mengambil jatah terakhir jatah terbanyak. Merasa jatahnya kurang, dia tak terima. Ia pun mulai menyusuri satu persatu melihat wajah mereka satu persatu. Deg seolah jantungku berhenti, apa dia hafal semua orang di sini? Tiba juga dia di depanku. Keringat dingin mengucur cukup deras, debar jantungku yang mengeras menyesakkan rongga pernapasanku waktu sedetik seolah menjadi lama sekali.

    Dalam kondisi seperti itu meski aku seorang tentara pemerintah bisa dipastikan kemampuan bertarungku, tapi statusku sebagai tentara pemerintah inilah yang akan membuatku mungkin dicabik-cabik di sini. Bagaimana tidak? Mereka hidup menderita, padahal mereka di bawah perlindungan pemerintah. Tak sanggup aku membayangkan betapa bencinya mereka terhadap pemerintah.

    Dalam beberapa milidetik di otakku berharap ada yang membantuku keluar dari masalah ini. Eh... tak kusangka, seseorang menghantam para berandalan ini hingga jatuh. Wah berani sekali dia, pentolan berandalan di hantam seperti itu? Gila! Batinku dalam satu detik yang berharga. Tak ambil detik ke lima sepeluh atau malah mengurus berandalan itu, tapi ia langsung menarik tanganku, membimbingku untuk berlari menjauhi mereka. “maaf sudah membawamu dalam masalah.” Ucapnya sambil berlari menarikku menjauhi mereka.

    Dor! Dor!  Dor! Mereka melepaskan tembakan. “what the... mereka punya senjata?” ungkapku secara spontan. Siapa menduga mereka yang menderita sampai memiliki senjata seperti ini. Dari mana asalnya? “kita bahas nanti... sekarang larilah.” Tangan kirinya masih memegang tangan kananku, dengan cekatan diambilnya pistol dari pinggangnya. Walther P99? Ah ini semua gila kan? Tak kusangka kehidupan mereka kejam seperti ini. Sembari hatiku masih tercengan melihat kenyataan ini, dia melepaskan tanganku serambi berkata “lari...jangan menoleh ke belakang. Paham?” aku pun mengangguk, entah apa yang merasukiku, aku patuh saja dengan yang dia katakan. Baku tembak pun terjadi, siapa juga yang tidak penasaran, seperti apa kemampuan menembak mereka? Ku tolehkan pandanganku ke belakang sambil terus berlari. Mataku pun terbelalak, melihat kemahiran anak yang kra-kira satu dua tahun lebih tua dariku ini.

    Kami pun terus berlari, hingga amunisi mereka habis. Pada ujung kota kami berhenti, duduk di atas reruntuhan tembok, kami mulai bercakap-cakap. Dengan nafas terengah-engah aku mulai bertanya, “gila! Dari mana mereka dapat senjata seperti itu?” “kau orang baru ya? Inilah kehidupan di zona bebas, bukan zona pemerintah bukan juga milik pemberontak.” Tukas dengan senyum di wajahnya. “kenapa kau pasang muka seperti itu? Tapi ku akui, kau hebat sekali tadi.” Sanjungku jujur dari hati kecilku. “sepertinya aku harus menjelaskan semuanya padamu nak” ucapnya tanpa ekspresi, yang membuatku tak sanggup menimpali ucapannya yang sok tadi.

    Dengar nak, aku diutus pasukan pemberontak untuk mengawasi wilayah ini, apakah kami akan mengambil daerah ini sebagai wilayah atau tidak. Tak berbeda dengan pemerintah, kami juga menghidupi mereka semampu kami, dan mengusahakan lebih layak dari yang ini. Dengar dan perhatikan... aku percaya padamu, aku tahu kau tak bermulut besar, jadi jangan sampai mereka tahu tentang apa yang aku lakukan. Dan terakhir nak... aku Blue-bird. Jangan lupakan itu. Aku percaya padamu.

    Ucapannya masih bergema di kepalaku. Yang paling mengejutkanku dan membuat aku harus mengatur gejolak di dadaku adalah ketika dia menyebut dirinya Blue-bird. Shit! Aku bahkan mengepalkan jemariku kuat-kuat menahan diri untuk melindungi nyawaku. Aku pun mulai berpikir, apa itu tujuan mereka melakukan penyerangan kemarin? Agar tentara sektor X-03 tak lebih mendekati daerah tadi. “argh!!!” teriakku di tengah malam di bilik tiga yang membuat temanku yang tidur di bawahku terbangun. “come on dude... what the fuck time is it?” bentak temanku dengan nada kasar. Yah aku tau aku seharusnya sudah tidur, esok telah menantiku untuk kembali beraktivitas kembali.

    Karena tidur larut malam, aku terlambar bangun. Waah... ini derita bagi kami, terlambat bangun kami mendapat hukuman yang paling membosankan pakai kalimat sekali banget biar seolah berlebihan dan menyangatkan. Bukan hukuman lari, push-up dan hukuman fisik lainnya, tapi membersihkan E-est yang berjumlah dua puluh buah. Bayangkan, betapa lelahnya membersihkan robot setinggi kurang lebih tiga puluh kaki itu.


    Sumber gambar: Google.com

    [www.famindonesia.com]




    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen Karya Maula Amjad (FAMili Surakarta) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top