• Info Terkini

    Thursday, May 2, 2013

    Ulasan Cerpen “Luka Istimewa” Karya Nida ‘Ufairah (FAMili Batusangkar)

    Cerpen berjudul ‘Luka Istimewa’ ini bisa dibilang hanya menghadirkan dua sosok saja dalam ceritanya yaitu Nando dan Yoora, meskipun ada nama lain yang juga disebut. Penulis sepertinya mencoba memunculkan konflik dari dialog antar kedua tokoh, juga ungkapan perasaan baik yang tersembunyi maupun yang telah diucapkan oleh masing-masing karakter.

    Alur cerita tidak begitu buruk, juga tidak begitu baik. FAM menilai jalan cerita standar-standar saja. Dari segi teknik penulisan cukup bagus meski masih banyak kesalahan di beberapa tempat. Setidaknya akan lebih baik jika penulis melakukan proses editing terlebih dahulu setelah selesai menulis agar tidak terjadi kesalahan ketik yang tidak perlu. Jangan lupa perhatikan EYD. Kata “ngga’’ akan lebih bagus jika ditulis “nggak” atau “tidak”.

    Masukan untuk penulis, juga siapa saja yang suka menulis cerita berbentuk cerpen atau novel, cerita yang bagus itu biasanya hanya memuat dua hal. Kalau tidak teknik menulisnya yang bagus, ya ceritanya yang bagus. Maka, jika belum bisa menguasai teknik menulis yang bagus, kita bisa mengambil alternatif kedua dengan mendesain cerita yang bagus. Buat cerita yang tidak umum, menarik, dan cari sudut pandang yang berbeda. Ini memang perlu proses latihan terus menerus.

    FAM berharap penulis terus berlatih agar kualitas karya yang dihasilkan semakin baik.  Tetap semangat dan teruslah berkarya.

    Salam santun, salam aktif!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    “LUKA ISTIMEWA”

    Oleh: Nida ‘Ufairah

    “Nando, maaf aku harus pergi. Aku mohon jangan pernah mencariku lagi, karena sampai kapanpun aku tak akan pernah kembali untuk menemuimu. Tolong lupakan aku, ini demi kebaikan kita dan juga keluargaku. Andaipun aku kembali, aku tak akan menemuimu karena kamu bukanlah orang yang tepat. Aku harus melanjujtkan hidupku, Ndo. Aku ingin melihat bundaku bahagia jika aku tak bersanding denganmu. Maaf.”

    Pesan singkat dari Yoora benar-benar membuatku tertunduk lesu. Pesan itu sungguh membuatku harus melupakan semua kebahagiaan yang baru aku dapatkan kemarin. Cerita tentang esok, lusa, dan hari-hari setelah itu mulai menghantui perasaan ini. Kemana aku harus bersandar? Aku tak punya siapa-siapa lagi di kota ini, Ra. Aku telah bisa bertahan hidup karena cinta yang kau beri dan kasih sayang yang keluargamu titipkan.

    “Tapi kenapa, Ra? Hendak kau bawa kemana cintaku? Aku tuh ngga’ punya keluarga di sini, please, Ra! Aku masih butuh kamu di sini. Ra, aku mohon jangan pergi!”

    “Maaf, Ndo. Aku ngga’ bisa. Kebahagiaan bundaku lebih penting dari pada harus memperjuangkan cinta kita yang tak tahu di mana akan bermuara. Apakah di pelaminan atau hanya akan meninggalkan luka?  Aku harus menyambung hidupku, Ndo. Aku sudah besar, ngga’ mungkin terus menggantungkan hidup dan kuliahku dari gajinya bunda sebagai PNS golongan rendah. Biarlah kuliahku tertunda. Sekarang aku benar-benar berada di jalan terendah dalam hidupku, dan tak ada lagi tempat untukku selain ke atas, mencari secercah harapan hidup.”

    Yoora membalas smsku. Sepertinya dia benar-benar tak mengharapkan kehadiranku lagi.

    “ Tidak, Ra. Aku pasti akan menemuimu. Aku akan menjemput cintamu kembali. Itu janjiku, Ra. Terimaksih atas luka yang kau beri. Suatu saat aku akan buktikan luka ini menjadi sesuatu yang mampu merubah hidupku. Sekarang pergilah bersama impianmu dan laki-laki yang bunda pilih untukmu, tapi ingat, Ra, aku ngg’ akan membiarkan cintaku selamanya dimiliki orang lain.”

    Setelah merenungi makna dari kata-kata yang Yoora kirim, segera aku membalasnya, menghiba agar dia tak benar-benar meinggalkanku. Namun aku tak ingin terlihat begitu lemah. Ya… aku harus kuat, karena aku laki-laki. Tapi, ini pasti hanya lelucon dia menjelang hari ulang tahunku. Dalam hening, aku mencoba menghibur diriku sendiri. Namun keheningan pun tak mampu merubah tekad Yoora untuk pergi.

    ***

    Sore ini benar-benar kelabu. Aku sungguh tak mampu menepis gurat kesedihan itu. Berulang kali aku ditegur oleh Pak Ridwan, pemilik rumah makan Padang yang terkenal, tempat aku bekerja. Namun teguran itu seolah tiada artinya. Aku malah pergi mengasingkan diri, jauh dari keramaian yang telah mengintai rumah makan milik Pak Ridwan. Aku bahkan tak peduli jikalau aku harus diberhentikan dari sini. Yang aku butuh sekarang hanya Yoora.

    Mencoba menghibur diri, menikmati setiap hembusan angin yang dengan penuh kelembutan menegelus wajah muramku. Dan waktu perlahan melemparkanku pada peristiwa beberapa bulan yang lalu. Saat bunga-bunga cinta sedang tumbuh merekah dan bersemi di hatiku. Bunga itu mendapat tetesan-tetesan embun yang begitu menyejukkan tatkala kau mengatakan kau juga mencintaiku. Kau rela hidup seadanya asal bersama denganku. Meski aku tahu, kata-katamu teralu sulit untuk untuk dipercaya. Aku tahu wanita, tidak akan mungkin rela hidup bersama hanya dengan bermodalkan cinta. Namun, apapun itu, aku sangat bahagia karena kau telah menjadi milikku, kau telah menjadi kekasihku. Aku rela menunggumu menamatkan pendidikan sarjana, meski butuh 3 tahun lagi untukku terus bersabar menyirami benih-benih cinta yang kita tanam, agar ia tetap subur dan terus berkembang.

    Hari-hariku berlalu dengan cepat. Aku tak pernah sadar bahwa aku telah jauh terjatuh ke dalam cintamu. Padahal aku tak tahu bagaimana rupamu. Aku pernah mendengar suaramu pertama kali ketika sepupuku yang saat itu menjadi kekasihmu, menelfonku untuk memperkenalkanmu denganku. Dan sekarang aku telah menggantikan posisinya di hatimu. Aku belum pernah melihat manis senyummu. Namun aku begitu percaya bahwa sekeping hati yang kau punya, suatu saat akan menjadi milikku, dalam dunia nyata. Aku tak pernah mengeluh dengan jauhnya jarak yang harus kutempuh agar pesan cintaku sampai kepadamu, agar telfonku dapat kau terima. Meski jarak pulau Jawa dan Sumatera membentang luas dan siap-siap untuk menenggelamkan cinta kita kedalam samudra diantara keduanya. Yang aku tahu, pertemuan telah menanti kedatangan kita untuk mengukir kebahagiaan.

    “ Ra, tolong aku. Aku sudah ngga kuat lagi tinggal dirumah ini. Papa semakin pelit dengan kasih sayang setelah ia bisa dapatin pengganti mama. Ra, aku kasihan sama adikku, Nanda, yang tiap hari selalu diacuhkan oleh Mama tiriku dan bahkan keberadaanku sendiri sudah dianggap mati dirumah ini, tolong carikan kerja untukku ya, Ra, please!”.

     Aku menghiba kepada Yoora. Aku memintanya agar mencarikanku pekerjaan yang bisa mengeluarkan aku dari masalah ini. Setelah aku punya cukup uang, aku akan menjemput Nanda untuk tinggal bersamaku. Aku akan merawat adikku satu-satunya.

    “ Iya, Ndo. Aku pasti akan bantu kamu. Nanti aku akan minta tolong sama Bundaku, semoga Bunda mau bantuin kita ya. Karena apapun yang kamu punya saat ini adalah investasi masa depan kita, dan aku akan membantumu menanam kebahagiaan untuk hidup kita kelak”

    “ Thanks, Ra. Semoga selamnya kita akan bersama. Sebentar lagi aku akan menjemput cintamu ke Pulau Sumatera. Aku akan tinggalin kuliahku di Jakarta, aku akan melupakan keluargaku untuk sejenak. Aku akan segera punya keluarga baru, karena keluargamu akan menjadi keluargaku juga”

    “Hihi.. aku juga ngga sabar nunggu kamu datang”

    Tawa Yoora telah memberikan setitik harapan untukku memulai hidup baru. Tawanya juga yang telah mengakhiri perbincangan kami lewat telepon malam ini.

    Yoora, gadis pemilik suara lembut itu pernah terluka oleh Ade, sepupuku. Tenang, Ra, aku akan menjahit luka yang menganga itu. Dan tak akan kubiarkan Ade melukaimu kembali. Aku ingin membuka celah dihatimu untuk menabur cinta. Kita akan bersama, Ra.

    Hari ini aku telah berada di Pulau tempat Yoora dilahirkan, Sumatera.. Hidupku akan menjadi bagian sejarah di kota ini, Bukit Tinggi. Di sini aku kakn menemui cintaku. Merajut mimpi bersama orang yang aku sayang. Aku langsung meminta Yoora untuk menjemputku di terminal Aur Kuning. Aku akan segera melihat pujaan hatiku.

    Yoora, ternyata hatimu memang secantik parasmu. Kau begitu baik, aku jadi malu karena harus bersanding dengan bidadari sepertimu. Hatiku terus bergumam dan memuji kecantikan Yoora. Allah, dia memang kesempurnaan yang akan melengkapi hidupku.

    Bunda Yoora memberiku pekerjaan, menjadi seorang pelayan disebuah rumah makan terkenal di Kota Padang. Aku harus rela berjauhan lagi dengan Yoora. Ah… tak mengapa, ini hanya sementara sampai aku berhasil mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk mempersuntingmu, Ra. Aku bergumam sambil tersenyum sendiri membayangkan jika suatu saat nanti Yoora benar-benar akan menjadi milikku, menjadi isteriku yang sah.

    “Nando, kok malah bengong sih? Kita harus segera sampai rumah sebelum hujan marah dengan kedatanganmu ke sini.”

    “Kamu kalau lagi kesel gitu tambah manis ya, Ra”

    Yang dipuji hanya mampu tersenyum simpul. Meskipun langit gelap dengan mendungya yang senantiasa bergelayut, namun langkah mereka tetep beriring bahagia.

    ***

    Hujan yang tiba-tiba mengguyur tubuhku, menyadarkanku dari lamunan tentang Yoora. Kulihat jam tangan sudah menunjukkan pukul 06:14 menit sore. Magrib akan segera menjelang. Aku langsung bergegas menuju mushala di sebelah kanan resto yang memang disediakan untuk pelanggan dan karyawan. Meskipun kaki ini terasa berat. Namun aku harus siap menerima semua ini dengan berat hati.

    Berhari-hari aku mogok kerja tanpa alasan yang jelas. Berulang kali Pak Ridwan menghubungiku, tapi aku tetap acuh. Aku benar-benar lemah tanpamu, Ra. Aku benar-benar tak perduli lagi dengan siapapun dan apapun. Aku hanya akan mempedulikan semuanya jika kamu pulang dan peduli dengan keadaanku, Ra.

      Sampai pada suatu hari Pak Ridwan mendatangiku ke rumah kontrakanku. Sepertinya beliau merasa kehilangan sosok periang sepertiku. Rasanya beliau juga tak ingin kehilangan seorang pekerja keras sepertiku, rumah makan beliau masih membutuhkan tenagaku. Pak Ridwan memintaku untuk terbuka dan menceritakan apa yang sedang merenggut semangatku. Dengan ketidakrelaan aku harus menceritakn masalah ini pada Pak Ridwan, meski aku tahu ini adalah aib yang sangat memalukan untuk seorang laki-laki sepertiku. Tapi aku berharap Pak Ridwan adalah orang yang tepat untuk berbagi.

    Aku telah berkisah tentang hidupku, hidup Yoora dan keluarganya. Tentang mengapa aku bisa terdampar jauh ke Pulau ini. Tentang cinta dan harapan Yoora yang penuh dengan kepalsuan. Tentang bundanya yang harus rela menjanda demi merintis kebahgiaan bersama anaknya tapi suaminya yang tidak bertanggung jawab itu.

    “Nando, tidak selamanya apa yang kita inginkan dan rencanakan selalu tepat sasaran, menjadi kenyataan yang selalu kita impikan kedatangannya. Cobalah untuk besar hati menerimanya. Materi itu hanya akan menyilaukan pandangan orang tuanya sesaat. Bundanya Yoora hanya tak ingin melihat putri kesayangannya merasakan hal yang sama dengannya. Ditinggal pergi suaminya entah kemana, tanpa meninggalkan harta yang dapat digunakan untuk biaya pendidikan Yoora dan adiknya. Nah, keadaan seperti ini memang selalu memaksa seorang ibu untuk melepas anaknya mencari penghidupan sendiri, dan mencarikan anaknya jodoh yang dirasa cocok untuknya. Percayalah, kalau dia memang jodohmu, kau akan dapat dengan mudah menjemputnya dengan terus berikhtiar dan bekerja keras. Buktikan bahwa kamu bisa merebut hati Bundanya”

    Pak Ridwan menasehatiku panjang lebar. Terlihat sosok kebapakan dari dirinya. Aku masih tertegun dengan kata-katanya, sampai aku tak sadar beliau telah meninggalkanku sendiri bersam lamunan. Perjuangan yang begitu sulit, desahku. Hanya untuk mendapat sekeping hati, aku juga harus mendapatkan kepingan hati yang lain, hati Bunda, demi cintanya Yoora.

    Aku mencoba mencerna kata-kata itu. Apa yang bisa aku berikan untuk hidupku dan Nanda, jika aku di sini menjadi orang yang sangat lemah. Aku bahkan tak sanggup menjadi laki-laki yang mampu mengayomi diriku sendiri.

    Ra, aku tak akan marah dengan keputusanmu melupakanku. Aku rela kamu hidup bersama laki-laki yang Bunda pilihkan untukmu saat ini. Terima kasih telah memberiku luka, tahukah kau? Luka ini begitu istimewa untukku. Dengan luka ini aku akan terus berpacu menjadi orang yang lebih baik. Aku akan buktikan bahwa aku sanggup menjadi seperti keinginanmu dan bundamu. Suatu saat kamu akan menyadari bahwa akulah sebenarnya orang yang kamu cari. Aku tahu kamu pasti akan kembali ke kota kelahiranmu untuk menyelesaikan Strata Satu yang rela kau tinggalkan hanya untuk mengacuhkanku. Ra, aku tak sabar menunggu kedatanganmu menghapus luka yang begitu istimewa ini. Entah sampai kapan aku juga tak tahu.

    Sumber gambar: Google.com

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Luka Istimewa” Karya Nida ‘Ufairah (FAMili Batusangkar) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top